Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 101


__ADS_3

Filla mengusap dahinya yang berkeringat, sudah 15 menit menunggu angkutan umum namun tak kunjung datang. Suasana sepi membuatnya jengah, Ia menopang dagunya sembari mengawasi arah datangnya angkot.


Filla menggelembungkan pipinya, panas matahari semakin terik membakar kulitnya. Ia memutuskan berjalan menyusuri jalanan dengan langkah gontai.


Azam memang tidak memberinya hukuman apa pun. Namun Ia melaporkan pada kedua orang tuanya.


Semenjak kejadian kemarin orang tuanya mencabut semua fasilitas yang diberikan. Seperti motor bebek kesayangannya dan memotong uang sakunya hingga 50%.


Tidak hanya itu, Filla teramcam akan di titipkan pada neneknya yang tinggal di Semarang agar ada yang mengawasinya karena kedua orang tuanya sibuk berbisnis di luar kota dan liar negeri.


Filla mendesah berat. Nasibnya sungguh malang. Semua temannya menjauhinya, bahkan kekasihnya entah dimana rimbanya.


"Alhamdulillah" ucap Filla berbinar saat melihat sebuah angkot yang akan melintasinya. Filla melambaikan tangannya agat angkot itu berhenti.


"Eh neng cantik mau kemana neng?" tanya sang kenek tersenyum genit.


Filla memaksakan senyumnya. Dalam hatinya bergidik jijik melihat tatapan mesum dari sang kenek.


Belum lagi si supir yang cengar cengir tak jelas menatap Filla dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


"Maaf banga saya salah angkot" ucap Filla sopan. Ia pun memutar tubuhnya tak jadi naik.


"Eits, tunggu dulu neng" balas sang kenek menarik tangan Filla.


Filla tersentak kaget, ia berkelit kesamping lantas menghentak kencang gengaman tangannya.


"Maaf bang saya buru-buru" tanya Filla mencoba meredam emosinya. Ia tak mau memancing keributan.


"Mau kemana biar abang anter" sahutnya mencolek dagu Filla. Filla menepis kasar sang kenek. Lantas melengos pergi.


"Cih sombong banget lo jadi cewek" serunya menarik tangan Filla hingga terhempas ke badan angkut.


Filla semakin meradang, sepertinya manusia di depannya tak bisa di ajak bicara baik-baik.


Filla mendorong sekuat tenaga tubuh si kenek yang akan menghimpitnya hingga terjungkal ke aspal.


"Sialan lo" umpatnya memegangi lengannya yang berdarah tergesrek aspal.


Filla tak peduli, ia berlari sekilat mungkin. Kemana kah ia harus melangkah, jalanan sepi dari kendaraan yang lewat.


Mungkin hanya satu dua, itu pun melaju dengan kecepatan tinggi sehingga tak sempat dimintai tolong. Filla menahan tangisnya yang hendak pecah, inikah yang dirasakan Nisa malam itu? mengapa karma cepat sekali berbalik ke dirinya.


Filla menoleh sekilas, tampak si kenek susah payah bangkit dan sang supir gusar memutar angkotnya bersiap mengejar Filla.


Filla mengigit bibirnya, nafasnya tersenggal hebat. Kemana Ia harus bersembunyi, mungkinkah Ia bertahan.


Angkut yang tadi dihentikannya tampak mengebut mengejar dirinya. Ia sekuat tenaga mempercepat langkahnya.


Diliriknya kanan kirinya, bersyukur ada mini market berjalan 5 meter darinya diseberang jalan.


Filla gusar menyebrang, semoga Tuhan berbaik hati melindunginya. Tepat setelah menyeberang angkutan yang mengejarnya berhenti di depan posisinya berada.


Filla menarik kasar gagang pintu kaca mini market. Ia memegangi dadanya yang berdetak kencang dua kali lipat dari biasanya.


Filla melirik ke belakang lagi, ia tersenyum lega saat sang kenek tak berani masuk ke mini market tempat dirinya berada. Ia menatap miris sang kenek yang sepertinya sedang mengumpati dirinya yang berhasil kabur.

__ADS_1


Sang kasir melihat Filla terheran heran. Filla tersenyum tipis membalas tatapan sang kasir. Ia melangkah kakinya ke sembarang arah ke dalam mimi market agar tak dicurigai sang kasir.


Filla duduk jongkok di deretan peralatan produk bayi. Lututnya terasa lemas. Ia ingin berselonjoran namun takut dikira orang gila.


Air matanya menetes tanpa terasa. Penyesalan pada Nisa memnyeruak kuat dibenaknya.


Filla refleks bangkit saat pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang. Ia menjauh beberapa langkah, menjaga jarak dengan orang yang mengagetkannya.


"Aldo?" tanya Filla terkejut. Tetapi Ia bersyukur bukan kenek genit yang menghampirinya.


"Lo kenapa Fil?" tanya Aldo cemas.


"Gue nggak papa kok Al" jawab Filla berbohong. Baru saja detak jantungnya kembali teratur, tapi kini malah berdegup kencang tak karuan.


"Gue tadi liat lo lari cepet banget. Lo kenapa?" tanya Aldo mendesak.


"Emm itu..em nggak papa" jawab Filla gugup.


"Ada yang jahatin lo?" terka Aldo


Filla menundukan kepalanya, kedua matanya mulai berair lagi.


Aldo mengankat dagu Filla.


"Gue anter lo pulang" ucapnya lembut menyeka kedua sudut mata Filla.


"Makasi, tapi gue bisa sendiri kok" tolak Filla hati-hati.


"Gue nggak mau lo kenapa-kenapa"


"Gue anter lo pulang" kukuh Aldo menarik tangan Filla.


"Al" Filla melepas pakas gengaman tangan Aldo.


"Kenapa?"


"Gue nggak mau Yola semakin benci sama gue" jawab Filla memelas. Ia sudah inyaf sekarang. Ia tak mau memancibg keributan dengan Yola.


"Dia udah maafin lo, lo nggak perlu taku"


"Gue nggak mau dia salah paham kaena lo nganter gue pulang"


"Yola udah pulang, dia nggak bakal tau"


"Gue tau, tapi gue nggak mau nikung sahabat gue sendiri" jelas Filla tetap menolak.


Walaupun dalam hatinya Filla kecewa karena Aldo telah bersama Yola, namun Filla belajar ikhlas. Ia tak ingin mempermasalahkan hubungan keduanya.


Aldo tampak berfikir keras sebentar. Sepertinya memang benar, Filla mendengar ucapannya tadi pagi.


"Fil gue sama Yola nggak jadian" tutur Aldo menjelaskan.


"Jangan bohongi gue Al, gue tau semuanya" cerca Filla tegas.


"Okey, gue yakin lo denger ucapan Ardan tadi pagi. Tapi itu cuma becanda, gue sama Yola sepupuan nggak mungkin kita pacaran"

__ADS_1


Filla menatap Aldo lekat, mencari kebohongan dikedua manik hitam milik Aldo.


"Gue serius, lo bisa tanya sama yang lainnya kalo masih ragu"


Filla memalingkan wajahnya. Kekecewaan melandanya. Mungkinkah Aldo akan memaafkan kesalahannya yang sudah melukai Yola? Apa yang harus apa yang akan dilakukannya sekarang. Masih adakah harapann agar keduanya bisa bersama lagi?.


"Gue anterin yah" ucap Aldo lembut. Filla masih membisu, Ia membiarkan Aldo menggandengnya erat keluar mini market.


Aldo membukan pintu untuk Filla. Suasana menjadi canggung saat Aldo duduk di kursi kemudi. Perlahan Ia melajukan kya.


"Lo mau makan dulu?" seru Aldo membuka suara.


Filla menggeleng pelan, ia masih sungkan bea rbincang dengan Aldo.


20 menit perjalanan tanpa percakapan, akhirnya smsobil Aldo sampai dengan selamat di depan rumah Fila.


"Makasi" ucap Filla bersiap turun sembari membalikan badannya.


"Tunggu" Aldo sigap memeluk Fiilla dari belakang.


"Lo nggak kangen sama gue?" tanya Aldo meletakan dagunya di atas pundak Filla.


"Mak..sud lo?" tanya Filla terbata. Hembusan nafas Aldo dilehernya membuat Ia merinding.


Aldo menggengam tangan Filla lantas menyimipannya pangkuan Filla.


"Udah 3 hari kita nggak saling kirim kabar, gue kangen sama lo"


Filla memiringkan kepalanya sedikit, memastikn Aldo serius bicara padanya.


"Gue minta maaf, nggak bisa dampingin lo disaat terpuruk. Jujur gue kecewa sama sikap lo"


"Gue salah Al, gue minta maaf" lirih Filla menatap memelas.


"Jangan diulangi lagi yah, gue janji akn jadi mili lo selamanya" bisik Aldo tepat ditelinga Filla.


Filla menganugguk tegas


"Gue janji nggak akan ngulangin hal bodoh itu lagi"


"Kita buka lembara baru" lanjut Aldo memandang Fila tulus.


"Makasih"


"Kembali kasih"


"Lo nggak marah lagi sama gue?"


"Gue cuma kecewa bukan benci. Setiap orang punya kesempatan kedua. Gue harap lo nggak ngecewain gue lagi"


Filla memutar badan seutuhnya menghadap Aldo.


"Gue janji" ucap filla memeluk Aldo erat.


Disaat dia mengikhlaskan semuanya, justru sesuatu itu sendiri datang kepadanya.

__ADS_1


Kita hanya perlu bersabar, dan yakinlah hal manis pasti akan kau raih nantinya.


__ADS_2