Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 51


__ADS_3

Nisa mengerjap-ngerjapkan matanya merasa silau karena sinar matahari pagi menyeruak masuk melalui jendela kaca yang sudah terbuka lebar.


"Ya ampun Ma, udah tua tapi masih belum pikun" Nisa mendengus kasar, siapa lagi jika bukan Mamanya yang membuka tirai jendela kamarnya setiap hari sepagi ini?. Setiap hari tanpa absen satu pun.


"Cara paling savage buat bangunin orang yak begini nih" Nisa menguap lebar, dengan malas bangkit berdiri.


Nisa menutup kasar tirai kamarnya. Lalu kembali merebahkan dirinya. Sinar matahari yang menerobos masuk membuatnya risih.


"Mau bangun males, mau tidur lagi juga susah"


Nisa mengambil ponsel di nakas samping tempat tidurnya, menyalakan paket datanya. Getaran panjang terdengar mengalun merdu, bukan sebuah panggilan melainkan spam chat dari Zen yang mengomel sepanjang malam.


Nisa menggelengkan kepalanya membaca pesan Zen,


"Biasa juga orang mah ngedamprat pake semua nama binatang di bonbin kenapa sekarang berubah pake segala jenis demit?"


Zen: [Eh Mak lampir lo tega banget sih sama


gue


[Dasar tante kunti nggak punya hati]


[Apa bener buto ijo bener-bener buta? makanya lo sampe nggak bisa bedain nama orang, coba lo cek lagi nomer siapa yang lo kasi ke gue😤😤]


[ Kayaknya tuyul lebih pinter dari pada lo, dia aja nggak pernah salah masuk ke rumah orang kaya, masa lo cuma ngasih nomer aja bisa salah?]


[Jin tomang bales dong ]


["Gue butuh penjelas dari lo yang, kuyang]


[Lo belum berubah jadi pocongkan? tangan lo masih bebas bergerak tanpa kain kafan kan? bales dong chat gue]


[Atau lo lagi sibuk menjadi wewe gombel yang berkenala mencari bocil sampe lo nggak ada waktu buat bales chat gue?]


[Awas lo, gue bejek-bejek sampe jadi suster ngesot besok]


[ Jangan lupa bersyukur hari ini]


Nisa tersenyum kecil membaca peisan chat tnerakhir dari Zen yang berupa quotes itu,


"Alhamdulillah, terima kasih atas nikmat yang Kau berikan Ya Rabb. Semoga engkau mempermudah segala urusanku dan membimbing ku menjadi manusia yang lebih baik hari ini,Aamiin"


Nisa lalu menggeser dua kali layar ponselnya, melihat riwayat panggilan.


30 panggilan suara tak terjawab


"Cinta itu nggak semudah itu ferguso, lo harus sabar buat melewati ujian, harus kuat mental, harus tahan banting buat berjuang, harus berhati baja agar tidak mudah goyah untuk mendua"


Nisa meletakan kembali ponselnya pada nakas samping tempat tidurnya. Ia melangkah malas menuju kamar mandi.


Waktu menunjukan pukul sebelas siang saat Nisa berjalan gontai menuju ke ruang makan. Nisa membawa sepiring nasi goreng dan es teh saat kembali kamarnya. Ia menyalakan lap top miliknya di meja belajar, membuka film drakor yang sudah Ia download.


Tanpa terasa tiga jam telah berlalu, Nisa menguap lebar. Matanya terasa berat namun sulit untuk terlelap. Ia memilih untuk membuka akun sosmednya mencari kabar ter update hari ini. Perlahan Nisa memejamkan matanya, Ia tertidur hingga sore hari.


Tok..tok..tok..


Sari mengetuk pintu kamar Nisa saat langit sudah berubah warnan menjadi orange.


"Nisa" Sari menerobos masuk ke dalam kamar Nisa yang tidak terkunci.


"Hmmm" Nisa bergumam malas menyahuti panggilan Mamanya. Sari mengusap dadanya melihat Nisa yang masih bergelung dibawah selimutnya.


"Bangun Nisa" seru Sari menarik paksa selimut Nisa.


"Apa sih Ma" Nisa tampak keberatan membuka kelopak matanya.


"Udah sore Nis, kamu nggak mau JJS?" tanya Sari sambil mengguncang tubuh Nisa agar mau bangun.


"Enggak"


"Ya udah buruan mandi nanti malming lho" goda Sari.


"Terus?" tanya Nisa tidak peduli.


" Emang nggak mau malem mingguan?"


"Males ih, nanti dikira saingan sama orang pacaran yang lagi kencan" sanggah Nisa.


"Hadeh, makanya gih cari pacar betah banget jomblo mulu"


"Nggak ah, nanti ribet enak rebahan kok" Nisa menegakan tubuhnya.


"Kamu mah emang kebo" celetuk Sari mulai kesal.


"Sana buruan mandi, nanti kalo ada yang apel emang nggak malu masih bau iler?"


"Iya iya Mama" Nisa berjalan gontai menuju kamar mandi. Setelah selesai, ia berganti dengan baju tidurnya.


Matahari telah kembali ke peraduaannya, malam telah hadir lagi mengisi rantai waktu.


Drtttt


Nisa menghentikan aktivitasnya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Nisa bergegas membuka pesan masuk itu.


[Hay Nis, nanti malem dinner yuk]


Nisa: [ GUE SIBUK]


Nisa membanting ponsel kasar saat membaca nama pengirim pesan tersebut.


"Ehmm.. Ada yang nyariin kamu Nis" ucap Sari yang kini telah berdiri diambang pintu kamar Nisa.


"Siapa Ma?" tanya Nisa penasaran.


Deg jantung Nisa berdegup kencang,


" jangan-jangan Aldo nekat datang ke rumah gue" Nisa segera bangkit dari duduknya.


"Namanya Azam"


Azam?" Nisa mengerem langkah kakinya, matanya melotot mendengar jawaban Sari.


Sari mengedikan bahunya, berlalu dari kamar Nisa.

__ADS_1


Azam mengerutkan keningnya melihat Nisa yang tergesa menuruni anak tangga.


"Kangen ya bund" ucap Azam menggoda.


"Lo ngapain disini?" Nisa menghembuskan nafas lega saat melihat benar Azam yang datang.


"Mau apel lo lah " desis Azam kesal dengan pertanyaan Nisa.


"Ooo tapi gue maunya anggur"


"Jahat banget lo Nis" Azam mendesah kecewa.


Nisa mencubit hidung mancung Azam,


"Gitu aja ngambek" ucap Nisa sambil tersenyum kecil.


Azam mengerucutkan bibirnya melihat wajah menyebalkan Nisa lantas duduk didekatnya.


"Ngapain masih berdiri? takut grogi duduk deket gue?"


"Enggak kok cuma takut ketularan panu lo aja" jawab Azam mengejek.


"Kurang ajar lo" Nisa mencubit perut Azam.


"Aduhh...duh ampun Nis" pekik Azam kesakitan. Nisa menghentikan aksinya, Ia tersenyum puas penuh kemenangan.


"Btw, ada perlu apa lo kesini?" tanya Nisa kembali serius.


"Gue mau ngajak lo pergi keluar, mau nggak?"


Nisa tampak berpikir menimbang sesuatu.


"Okey, gue siap-siap dulu yah" pamit Nisa pergi menuju kamarnya. Ia berjaga-jaga jika nanti Aldo nekat datang, lebih baik Ia kabur duluan.


"Yes" Azam berseru girang mendengar persetujuan Nisa, tinjunya mengepal diudara.


Sepuluh menit menunggu, Nisa kini telah menemui Azam lagi.


"Nggak sabar lo yah mau kencan sama gue?" ucap Azam, sepuluh menit termasuk waktu yang singkat untuk berdandan.


Nisa berdecak kesal,


"PD banget lo" Nisa melenggang pergi melewati Azam.


"Mau kemana nih?" tanya Azam saat berhasil menyusul Nisa yang sudah berada di mobilnya.


"Terserah"


"Kafe yok" tawar Azam.


"Gue masih kenyang" tolak Nisa.


"Mau ketaman kota?"


"Gue lagi males ngemis"


"Kalo nonton gimana?"


"Bosen" jujur Nisa.


"Ya terserah kan lo yang ngajak keluar" ucap Nisa santai.


"Ya udah ke tamkot aja" Azam perlahan melajukan mobilnya.


" Mau ngapain sih?


"Tadi lo bilang terserah gue"


"Iya gue tau, tapi mo ngapain kesana"


"Liat orang pacaran" ketus Azam menahan emosinya.


"Yaelah kurang kerjaan banget lo"


"Ya duduk santai lah menikmati malam berdua biar syahdu"


"Emang dirumah lo lagi siang sampe harus jauh-jauh ke tamkot cuma buat menikmati malam?"


"Lo nggak bisa romantis dikit apah"


"Siapa lo harus gue romantisin"


"Ayang beb" ujar Azam penuh keyakinan.


"Ngimpi lo ketinggian"


"Nggak papah dong, pepatah aja mengatakan bermimpi lah setinggi langit"


"Serah deh capek gue ngomong sama lo" Nisa membuang tatapan kearah samping hatinya masih gundah memikirkan Aldo.


"Lo nggak mau turun?" suara Azam mengagetkan Nisa.


"Udah sampe?" Nisa balik bertanya.


Azan mencubit kedua pipi Nisa gemas,


"Awwww" Nisa mencoba melepaskan cubitan


Azam.


"Udah turun yuk" Azam lebih dulu keluar dari mobilnya. Azam sedikit membungkuk saat Nisa keluar dari pintu yang dibuka olehnya.


"Aduh body guard gue baik banget sih" Nisa mengacak pucuk rambut Azam.


Mereka berdua lalu mencari kursi kosong dibangku taman.


Nisa mengambil posisi duduk paling ujung kursi, membuat Azam berdecak beran.


"Lo ngapain disini?"


"Mau duduk la"


"Kursi kosong masih banyak kenapa harus duduk disini" Nisa mengarahkan jari telunjuknya pada bangku didepannya yang masih kosong.

__ADS_1


"Karena gue suka duduk deket bareng lo, rasanya hati gue adem"


"Dasar modus" Nisa mendengus pelan.


"Nis lo mau nggak jadi pacar gue?" ucap Azam tiba-tiba.


Telinga Nisa mendadak terasa panas,


"Kenapa lo mau gue jadi pacar lo?"


"Karena gue suka sama lo" Azam menunduk saat mengucapkan kalimat itu, pipinya memanas membuat rona merah.


"Kenapa lo suka sama gue?" cecar Nisa lagi.


Azam terdiam, mati kutu harus menjawab apa.


" Apa karena gue cantik?"


"Enggak, mantan gue lebih cantik kok dari pada lo" jawab Azam sombong.


"Mantan aja lo banggain, pacar barunya juga biasa aja tuh" ledek Nisa.


"Apa karna gue manis?" tanya Nisa lagi.


"Gula lebih manis dari pada lo"


"Karena gue imut?"


"Imutan juga marmut"


"Ya udah lo sama marmut aja sono gih" Nisa mencebikan bibirnya.


"Enggak mau, kan gue maunya Annisa"


"Kasih alesan kenapa lo mau sama gue" ucap Nisa masih belum menyerah.


"Cinta itu nggak perlu alesan Nis, cinta itu dari hati buka dari mulut"


"Emang lo nggak bisa liat ketulusan dimata gue?" imbuh Azam.


Nisa mendekat ke arah Azam, mengamati dengan seksama kedua manik hitam pekat milik Azam.


"Kayaknya belek lo kegedean jadi gue ngggak bisa liat" ucap Nisa masih memandang lurus pada Azam dengan sorot mata serius


Azam mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Kayaknya mata lo rabun dekat makanya gambar lope-lope begini lo bilang belek" cerca Azam sambil melipatkan tangannya.


Tawa Nisa membuncah melihat ekpresi kesal Azam.


"Emang lo nggak punya perasaan gitu sama gue?"


Nisa menggeleng tegas.


"Sedikit pun?" Azam berusaha tegar mendengar penolakan savage Nisa.


Nisa menggeleng sekali lagi.


Azam mengembuskan nafasnya, menyerah.


"Tapi gue punya berjuta rasa"


"Apa?" Mata Azam berbinar secercah harapan menyeruak muncul dihatinya.


"Ada rasa jeruk, stowberry, mangga, apel, nanas, lo mau pilih yang mana?"


"Astaga Nis, bukan rasa itu yang gue mau"


"Terus rasa yang gimana?"


"sesuatu rasa yang ada dihati lo"


"Gimana gue mau punya rasa, hati aja gue nggak punya" Nisa tersenyum getir saat mengucapkan kalimat itu. Ada perasaan sesak yang memenuhi rongga dadanya.


Meski sedikit absurd, namun Azam mencoba memahami kalimat Nisa.


"Enggak semua laki-laki bajingan Nis "


"Gue tau kok, cuma gue nya aja kurang beruntung"


"Andai lo mau kasi kesempatan, gue bakal nunjukin ke lo kalo masih ada laki-laki tulus"


"Sayangnya ngebuka hati yang baru nggak semudah menggoreng tahu" Nisa sekuat tega menahan agar air matanya agar tidak terjatuh.


"Gue tau semau butuh proses dan gue bakal sabar menunggu"


"Jangan mau jadi orang bodoh karena menunggu sesuatu yang enggak pasti"


"Tapi gue yakin suatu saat pasti lo bisa nerima gue"


"Lo tau tempat pemberhentian bus?"


"Tau"


"Dimana?"


"Halte" jawab Azam bingung.


"Mungkin nggak bus numpang berhenti di stasiun?"


"Enggak mungkin lah"


" Sama kayak jawaban pertanyaan lo"


Azam terbungkam mendengar pernyataan Nisa bingung harus berkata apa lagi.


NB:


Like,vote, komen, rate, follow👌


Btw Author tadi abis bikin cerpen baru yang judulnya Rumah Hantu (Eaaa pamer dikit yak😄😄)


Buat kalian yang suka horor, mau dong sempetin mampir. Maaciw😘

__ADS_1


Salam dari Pujas🤓


__ADS_2