Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 47


__ADS_3

Nisa berjalan gontai menuju perpustakaan. Ia menolehkan badannya saat merasa ada yang mengikutinya dari belakang.


"Gue tau lo ngefans sama gue, tapi ngapain sih ngikutin gue juga" cecar Nisa saat melihat Ardan yang hanya berjarak satu langkah dibelakangnya.


"GR banget lo, orang gue cuma mau ke perpus. Lagian disiang bolong begini siapa juga yang mau ngefans sama mak lampir kayak lo" sanggah Ardan mengejek Nisa.


"Dih sok-sokan jadi haters, emang bener yah haters sama fans beda tipis".


"Bergarap banget lo gue mau jadi fans lo? naksir lo ya sama gue?" serang Ardan balik.


"hahahah gue naksir sama lo? emang lo nggak punya cermin dirumah? sadar diri dikit dong"


"Gue juga udah sadar diri kok, lo mana mau naksir cowok ganteng kayak gue selera lo kan yang cupu-cupu kayak Aldo" ledek Ardan.


"What the hell?" umpat Nisa ketus.


Ardan tertawa puas saat melihat rona merah dari wajah Nisa.


"Lo tadi pasti nguping kan? makanya lo tau gue mau ke perpus terus lo jadi lo ikut-ikutan pergi ke sini?"


"Buat apa gue nguping suara lo aja kayak gledek enggak perlu nguping juga semua orang pasti denger"


"kayaknya telinga lo konslet deh, suara emas kayak gini lo samain gledek apa perlu gue temenin ke dokter THT?" cerca Nisa pedas. Ia menatap Ardan sinis melampiaskan kekesalanya yang Ia tahan sejak berada dikantin.


"Dari pada lo temenin ke dokter THT mending lo temenin gue ke pelaminan, bosen nih jomblo mulu" ucap Ardan sambil menaikan satu alisnya.


"Gue? ke pelaminan sama lo? tunggu dulu sampe popularitas cowok didunia punah baru gue mau"


"Justru kalo cowok didunia ini udah punah, gue nggak bakal mau sama lo. Udah pasti bakal banyak pilihan cewek cantik yang baik dan kalem ngapain gue harus pilih yang bobrok kayak elo"


"Songong banget lo, jadi nyesel gue" ucap Nisa lalu melenggang pergi memasuki perpustakaan.


"Emang lo pikir cuma lo doang yang bisa sombong? Seorang Ardan Mulia Dana juga bisa kali, meski nantinya nama sama sikap gue nggak sinkron lagi" seru Ardan lantas memasuki pintu masuk yang sama dengan Nisa.


Suasana keramaian diluar sana berganti menjadi sepi senyap saat memasuki area perpustakaan.


Ardan mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan mencari tempat duduk yang masih kosong. Namun sialnya hanya tersisa satu kursi disudut perpus. Ardan melangkah ragu mendekati kursi tersebut. Nyalinya sedikit menciut saat tatapan tajam seorang perempuan mengarah padanya.


"Ck..ck.ck..emang lo nggak bisa yah, semenit aja jauh dari gue. Sumpah gue udah bosen banget liat muka lo" Nisa berdecak kesal saat seseorang dengan santai menarik kursi didekatnya.


"Iya nih. Lo itu ibarat matahari, kalo gue jauh dari lo nanti yang menghangatkan hati gue siapa?"


"Lo kalo mau belajar gombalin cewek, please jangan sama gue"


"Kenapa? lo enggak trasngender kan sampe harus takut dibilang gay karena gue gombalin"


"Emang kalo gue baper lo mau tanggung jawab?" tantang Nisa.


"Emang lo udah move on?"


"kok lo nyebelin?" Nisa mengerucutkan bibirnya. Harapannya untuk menghapus kemesraan Aldo dan Filla pupus, Ardan dengan bangga mengingatkan kembali ingatannya.


"Btw nyai pelet lo siapa sih kok bisa bikin gue kesemsem sama lo. Susah banget buat jauh dari lo rasanya tuh separuh nyawa gue melayang kalo lo pergi" tanya Ardan tiba-tiba.


"Oh ya?" seru Nisa dengan mata berbinar-binar mengabaikan kalimat pertama dari Ardan.


"Iya. Karena lo adalah nyawa gue, aku tanpa mu bagaikan orang mati suri"


"Emm So sweet" Ucap Nisa dengan nada manja.


"Gue jadi berharap semoga aja buat kedepannya saat gue pergi enggak cuma separuh nyawa lo yang melayang tapi seutuhnya" imbuh Nisa dengan tulus.


"Itu sama aja lo doain gue mati Nis" sungut Ardan.


"Enggak afdol lho kalo melakukan sesuatu cuma setengah-setengah harus sepenuhnya biar totalitas"

__ADS_1


"Gue mundur teratur"


"Bagus deh" seru Nisa seraya bangkit dari duduknya.


"Lo mau kemana?"


"Mau balik ke kelas"


"Nisa, jangan pergi dong aku nggak bisa hidup tanpa mu" cegah Ardan.


"Lo yakin?"


"yakin" jawab Ardan sambil menatap Nisa serius.


"Okey, nanti gue kirimin karangan bunga ke rumah lo"


"Buat apaan Nis?"


"Nanti kalo lo sewaktu-waktu bundir, gue udah siap melayat"


"Nis gue masih hidup" Tubuh Ardan memdadak terasa lemas mendengar penuturan pedas dari mulut Nisa.


"Lo bilang kalo nggak bisa hidup tanpa gue, jadi nanti sehabis pulang sekolah gue takut lo bundir kan nggak mungkin lo ngikut pulang kerumah gue" jelas Nisa dengan jujur.


"Yaelah gue cuma becanda"


"Gue maunya serius"


"Nanti gue seriusin lo tolak"


"Iya juga sih" Nisa nyengir kuda membenarkan pertanyaan Ardan.


"Gue tau lo lagi kesel sama Aldo, gue cuma mau ngehibur lo. Bair lo tau ada yang tulus nemenin lo disaat suka dan duka"


"Gue emang tahu, bukan tempe"


Nisa terdiam ditempatnya, tidak berniat menanggapi Ardan.


"Udah lo ngaku aja" desak Ardan.


"Enggak"


"kalo lo nggak cemburu kenapa lo jadi sensi gitu?"


"Nggak tau, gue cuma lagi bad mood aja" elak Nisa.


"Itu namanya lo cemburu" celetuk Ardan ikut kesal.


"Masa sih?"


"Iya kalo lo ngerasa kesel terus emosi bawaannya pengen marah-marah sampe mau makan orang itu apa lagi namanya kalo bukan cemburu Annisa" papar Ardan menjelaskan.


"Lo tau dari mana? emang lo udah pernah?" balas Nisa balik bertanya.


"Udah"


"Sama siapa?"


"Sama seseorang disamping kiri lo"


Nisa mengerutkan keningnya, Ia sadar tengah duduk paling sudut. Disebelahnya hanya ada kaca jendela yang menjadi pembatas dengan koridor perpustakaan.


Ardan mengangguk mantap menyakinkan Nisa untuk menoleh kesamping kirinya.


Nisa menurut, Ia menoleh kearah kirinya, namun Ia tidak menemukan siapa pun dari balik benda transparan tersebut. Ia hanya melihat kumpulan bunga dalam pot yang tertata rapi disepanjang pinggiran koridor perpustakaan.

__ADS_1


"Ar" panggil Nisa lirih.


"Iya?"


"Sejak kapan lo jadi sinting? lo cemburu sama bunga?" seru Nisa tidak yakin mengungkapkan apa yang dilihatnya.


"Bukan, bunga itu hanya benda yang lo lihat dari segi fisik mata lo. Coba lo lihat pake mata hati lo" pinta Ardan menuntut Nisa agar dapat melihat sosok yang berada disamping kirinya.


Nisa melihat dengan seksama apa yang berada diluar kaca jendela itu. Namun nihil, selain bunga Nisa hanya hanya mampu menangkap udara kosong disepanjang koridor.


"Gue bukan gadis Indigo Ar, kalo lo nyuruh gue buat liat cewek idaman lo gue nggak bisa" Seru Nisa menyerah.


Ardan memicingkan matanya,


"Maksud lo?"


"Gue pikir lo naksir tante Kunti" ucap Nisa polos. Nisa yang mengawasi dengan seksama sejak tadi tetap tidak melihat siapa pun diluar sana. Nisa mengira perempuan yang Ardan maksud adalah sebangsa makhlus halus, sehingga dia tidak bisa melihatnya.


Ardan mengalah, Ia menggenggam tangan Nisa. menuntunnya untuk meraba kaca disamping Nisa. Tangan Ardan berhenti tepat dimana Ia melihat posisi wajah perempuan yang Ia maksud.


"Lo liat baik-baik, disini ada cewek cantik yang lagi liatin lo" ucap Ardan meminta Nisa untuk melihat kedepan kaca.


Nisa fokus pada kaca didepannya, Ia masih tidak bisa melihat apa pun.


Ardan menunggu dengan sabar hasil pengamatan Nisa.


"Maksud lo apa sih Ar, gue nggak ngerti" ucap Nisa semakin bingung.


"Lo yakin nggak liat apa-apa?"


"Serius nggak ada apa-apa"


"Satu pun nggak ada?"


"Enggak, yang ada juga cuma pantulan diri gue" sahut Nisa cepat. Meski hanya tipis namun masih bisa terlihat dengan mata yang normal milik Nisa.


Ardan tersenyum manis menatap Nisa, akhirnya Nisa bisa menyadari keberadaan perempuan yang Ia maksud.


Nisa terbengong di tempatnya, balas menatap tidak percaya kepada Ardan.


Ardan mengangguk mantap.


Nisa dengan gugup menunjuk dirinya sendiri, mukutnya terasa sulit untuk mengucapkan sesuatu.


"Iya"


Deg, Nisa menelan salivanya susah payah. Jantungnya berdetak cepat tidak teratur.


Ardan mendorong kursinya kebelakang,


"Gue balik duluan Nis, jangan rindu sama gue. Kita cuma berjarak bukan berpisah" ucap Ardan seraya bangkit dari duduknya.


"Satu hal lagi, Semoga nanti malam sebelum lo terlelap gue berharap agar syair rindu yang gue lantunkan dalam bentuk doa bisa hinggap dan lo dekap"


Nisa merinding mendengar penuturan Ardan ditelinganya, Ia mampu merasakan makna mendalam dari kata-kata yang terdengar sederhana itu.


Nisa mengusap wajahnya gusar,


"Apa maksud ucapan Ardan barusan?"


"Arrrrgh" Nisa menggebrak meja didepannya dengan kepalan tangannya.


"Nggak mungkin kan Ardan suka sama gue?"


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2