
"Lo mau turun nggak?"
Nisa tersentak kaget, pikirannya sedang melayang jauh diangkasa, mencari inspirasi trik licik balas dendam.
"Bukain gue pintu"
"Apa? gue nggak salah denger?"
"Enggak, bukain gue pintu" teriak nisa tepat di lubang telingan Zen, Sontak emmebuat si empu telinga mengelus daun telinga yang terkena letusan bom atom.
"Masih belum denger? apa perlu gue ulangi lagi?" tawar nisa sembari menaikan turunkan alisnya.
"Udah cukup, gue denger kok" ucapnya bergegas turun lebih dahulu, melangkah malas membukakan pintu untuk Nisa.
Nisa tersenyum puas, ia menurunkan kedua kakinya.
"Eh lo mau kemana?"
"Mau masuk lah, acara udah mau dimulai"
Nisa mengulurkan tangan kanannya.
"Ini apa?" ucapnya tidak mengerti arti uluran tangan Nisa.
"Lo nggak peka banget sih jadi orang" seru Nisa kesal kesan romantis yang hendak dibangunnya mendadak runtuh karena kepolosan temannya.
"Gue bukan paranormal, mana tau maksud lo apaan"
"Gandeng tangan gue" jelas Nisa dengan sabar.
"Idih ogah" sergahnya cepat.
"Yakin lo nggak mau? harusnya lo bersyukur bisa menggandeng bidadari" Ucap Nisa Percaya diri.
"Bersyukur apanya? yang ada gue jadi bahan bullyan teman-teman yang lain"
"Jelaslah lah lo harus berayukur. Selama satu abad lo hidup enggak pernah kan lo gandeng cewek, harusnya lo berterima kasih karena gue kasih kesempatan" ejek Nisa sambil tersenyum miring.
"Mending gue jalan sendiri dari pada harus gandengan sama mak lampir kayak lo"
"Jadi lo lebih milih nyium high heels gue dari pada gandeng tangan gue?" Nisa pura pura melepas sandalnya.
"Iya okey" ucapnya sambil menahan gerakan Nisa yang hendak melepas high heels nya.
Nisa menarik kasar tangan temannya. Menggandengnya, lalu berjalan tenang diantara tatapan puluhan pasang mata.
__ADS_1
Nisa tak peduli, ia dengan percaya diri melangkah mendekati. Semakin lama tidak hanya tatapan mata yang mengarah untuknya, tetapi bisiskan-bisikan kecil juga tertuju padanya. Hal itu membuatnya risih.
"Mereka ngapain sih liatian gue kayak gitu? emang ada yang salah sama penampilan gue?" tanya Nisa penasaran.
"Enggak ada yang salah sama lo, mungkin mereka kagum sama lo"
"Maksudnya?"
"Ya iya lah disiang bolong begini ada bidadari lewat" ucapnya meledek Nisa.Tak ayal cubitan mendarat keras dipinggangnya.
"Awww sakit nyet"
"Gue tanya serius"
"Mereka ngliatin apa sih? emang mereka pikir gue nggak risih diliatin?" taanya Nisa lagi.
" Ya liatin elo lah, udah sadar diliatin ngapain masih tanya?"
"Maksud gue, apa yang mereka liatin dari gue?! mereka juga bisik-bisik gitu, bisikin apa coba?"
"Kalo lo denger mereka bisik, ngapain masih nanya juga?
"Mata lo nggak rabun kan? lo bisa liat mereka lagi bisik-bisik kan?"
"Liat lah, mata gue masih normal"
"Ya mana gue tau tante Nisa yang super cantik tapi cerewetnya kuadrat. Gue aja jalan bareng sama lo, kalo lo nggak denger gue juga lah"
"Tau ah, males ngomong sama lo"
"Ya udah gue juga males ngomong sama mak lampir" balasnya sambil berlari menghindari amukan Nisa.
Nisa berusaha mengejarnya, ia berlari secepat kilat. High heels yang dipakainya tidak menghalangi langkah kakinya, emosinya memberinya kekuatan lebih.
Nisa menarik kerah bajunya, membuat seseorang yang berlari mendadak berhenti.
"Ampun Nis" ucapnya memelas, merasakan kekuatan tarikan dikerah bajunya begitu kuat.
Nisa tak ingin memancing keributan ia melepaskan gengamannya ia berganti dengan menggandengnya lembut. Membuat seseorang disamping berjalan kalem.
"Apa mungkin mereka tau yah kalo gue nggak diundang?" tanya Nisa pada dirinya sendiri, meski lirih tapi masih bisa didengar orang lain.
"Maksunya?" tanyanya heran.
"Gue nggak diundang ke acara ultah Aldo" jawaban Nisa membuat Zen menepuk jidatnya tidak menyangka dengan tingkat kepercayaan diri Nisa yang tinggi sampai langit ke tujuh.
__ADS_1
"Kalo lo nggak diundang kenapa lo dateng?"
"Kan gue berangkat bareng lo,berarti gue dateng pake undangan atas nama lo lah"
"Nisa lo itu keterlaluan banget yah, lo nggak cuma nguras isi dompet gue tapi lo juga nguras harga diri gue" ucapnya sambil merapatkan giginya, merasa malu membawa seseorang yang tidak diundang datang ke pesta orang lain.
"Udah la nggak papa, hitung hitung lo kaaih surprise buatt Aldo"
"Tapi nggak gini juga caranya lo malu maluin gue tau nggak?" ucapnya kesal merasa dibodohi oleh Nisa. Ia menyapu kesuluruh penjuru ruangan mencari keberadaan teman temannya yang lain. Nasib baik berpihak padanya, hanya membutuhkan beberapa detik ia sudah melihat kedua sahabat karibnya, Ardan dan Fian yang tengah duduk disudut ruangan ditemani dua sosok perempuan disampingnya. Ia pun segera menghampirinya, di ikuti Nisa yang mengekor dibelakangnya.
"Hai bro" ucapnya begitu sampai didekat kedua temannya.
Nisa hanya diam, berdiri tegak ditempat persembunyiannya. Merasa cengo melihat dua perempuan yang sangat dikenalinya, Filla dan Icha. Sedangkan mereka berdua. Membalas tatapan Nisa dengan penuh takjub, tidak menyangka temannya akan senekat ini.
"Tumben lo telat" sindir Ardan, ia melirik sekilas pada nisa yang berdiri dibalik punggung Zen.
"Cewek lo?" godanya.
"Enak aja, bukan lah" sahut Zen cepat berharap teman temannya tidak membully nya karena berjalan dengan mak lampir.
"Sini duduk deket abang neng" Fian ikut menimpali menggoda Zen dan Nisa.
Nisa hanya mampu menatap tajam, ia tidak berselera menanggapi ocehan anggota geng somplak.
"Gimana gue nggak telat, gue kena imbas gara gara berangkat bareng sama si ratu tukang telat" elak Zen, ia memutar bola matanya melirik Nisa yang masih berdiri dibelakangnya.
"Duduk gih, nggak capek berdiri terus?"
Nia menurut dalam diam. Mengambil posisi diujung kursi panjang yang diduduki Fian dan Ardan serta kedua mantan temannya.
"Ehmm..hmm, perhatian banget lo bang"
"Sejak kapan lo berdua jadian?" Ardan menyahuti pertanyyan Fian. Ia menyipitkan matanya menatap meyelidik kerah Zen bergantian dengan Nisa.
"Dari jaman purba sampe lebaran monyet juga gue nggak bakal jadian sama mak lampir"
Nisa mencubit lengan Zen dengan keras, membuatnya mengaduh
"Aduuh sakit woi, lo suka banget nyubit" Zen menggulung kemeja yang dipakainya sampai siku, memeriksa lengannya.
Icha memperhatikan tingkah Zen yang terlihat cool di matanya.
Nisa mencebikan mulutnya, kesal dengn ulah Zen dan sahabatnya. Hendak pergi pun tidak memungkinkan baginya, ia tidak memiliki teman seorang pun yang bisa diajaknya berbincang.
Ia tidak ingin terlihat seperti orang hilang ditengah kerumunan Massa. Ia tidak yakin Filla dan Icha masih menganggapnya teman. Nyatanya mereka berdua tidak menyapanya sama sekali.
__ADS_1
"Gue ke toilet dulu yah?" pamit Nisa tanpa basa basi. Ia segera melenggang pergi tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya. Nisa tidak ingin berlama-lama. Ia ingin to the point. Menyerahkan buket bunga yang dibelinya pada Aldo lalu kembali pulang ke rumahnya.