Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
54


__ADS_3

Roda waktu terus berputar dari siang menjadi malam. Bulan sabit menyembul dari balik awan. Bintang gemintang bertaburan di angkasa. Satu detik berlalu sampai menjadi menit.


Waktu terus berjalan maju hingga menit telah berubah menjadi hitungan jam. Entah pada menit ke berapa, langit telah yang semula cerah kini telah berubah menjadi gumpalan awan mendung.


Ribuan titik air dari langit menghunjam luruh ke bumi bersamaan hawa dingin yang berhembus menyebar ke segala penjuru arah mata Angin.


Nisa susah payah menarik selimutnya hingga atas dadanya ditengah kantuk yang melanda, mengusir dingin yang menggelayuti pori-pori kulitnya.


Pukul 00.00.


Satu hari telah terlewati lagi membuka lembaran baru. Tanpa terasa, enam jam telah terlampaui, membuat jam wekker berwarna pink dengan bentuk boneka bear berdering nyaring.


"Hoammm" Nisa menguap lebar, membuang selimut sembarang arah. Nisa meraba nakas disamping tempat tidurnya, mencari ponselnya.


"Nisa" panggil sari nyaring, membuat ponsel yang dipegang Nisa hampir jatuh karena tubuhnya tersentah kaget.


"Iya Ma, Nisa udah bangun"


Sari memutar gagang pintu kamar Nisa, menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Astaga Nisa" seru Sari yang melihat Nisa masih menggunakan baju tidurnya, Ia pun mendekati Nisa.


"Kenapa Ma?"


"Kapan si kamu bisa berubah Nisa" Sari menjewer telinga Sari.


" Emang kamu nggak malu kalo pacar kamu tau sifat males kamu yang pangkat kuadrat itu hah" omel panjang lebar tanpa iba pada Nisa yang mengerang kesakitan.


"Aduh sakit Ma" ucap Nisa memelas.


"Lepasin dong"


"Biarin, biar tau rasa" ucap Sari sambil melepas jewerannya.


"Aduh Mama, harusnya Mama ngucapin met pagi sayang bukan malah marah marah nggak jelas gini" Nisa mengusap ngusap telinganya yang terasa panas.


"Iiih Mama kok jahat banget si sama Nisa, emang Nisa salah apa?" tanya Nisa tidak mengerti.


"Kamu nggak tau salah kamu apa?"


Nisa menggeleng pelan.


"Salah kamu jam segini belum bangun Nisa"


"Loh kan emang Nisa biasa bangun jam segini?" ucap Nisa semakin bingung.


"Hih, itu cuma berlaku waktu kamu jomblo dulu, kalo sekarang kamu udah punya pacar kamu harus bangun pagi. Kan nggak enak kalo dia jemput tapi kamu malah masih ileran"


"Ya ampun Ma, sampe sekarang juga Nisa masih jadi jojoba"


"Kamu yakin?, terus yang nungguin dibawah siapa " omel Sari.


"Hah? emang siapa?" ucap Nisa balik bertanya.


"Hadehh, Abang ganteng kamu tuh udah jemput kamu"


"Apah?" Nisa melototkan matanya, terkejut.


"Masih muda aja udah budeg, gimana tuanya" seru Sari kesal.


"Buruan gih ganti baju pake seragam sekolahnya, kasian kalau dia telat ke sekolah gara-gara lama nungguin kamu"


"Mandi dulu lah" sanggah Nisa.


"Ganti baju aja Nisa"


"Risih Ma, lengket nih"


"Ya udah terserah kamu, tapi awas aja yah kalo babamg Izam sampe telat, Mama potong uang jajan kamu" Ancam Sari.


"Lha? gimana ceritanya?" protes Nisa.

__ADS_1


"ehem..hem.." Sari berdehem sebagai intro untuk memulai ceritanya.


"Mama mau nyanyi apa cerita sih? pake intro segala" cibir Nisa yang sudah tidak sabar.


"Jadi gini ceritanya, kamu tuh kalo mandi lama. Kamu tau sudah pukul berapa sekarang?"


Nisa melirik jam wekker diatas nakasnya, pukul 06.00


"Bayangin kalo kamu mandi setengah jam, belum lagi kamu harus jadwal mapel hari ini, belum juga sarapan. kira-kira buat ngerjain itu semua butu waktu 50 menit. Itu artinya kamu bakal berangkat jam 06.50, begitu sampe disekolah kamu pasti udah telat"


"Terus hubungannya sama uang jajan Nisa yang dipotong apa Mama" ucap Nisa geram dengan penjelasan Mamanya yang bertele-tele.


"Nah kalo kalian telat, kan Mama nggak enak sama Azam dikira Mama nggak bisa didik anak dengan baik. Mau ditaruh dimana muka Mama?"


"Aduh Ma, kayaknya kalau Nisa telat itu bukan karena Nisa kelamaan mandi. Tapi karena dengerin cerita Mama yang panjang kali lebar dan nggak jelas" ucap Nisa lalu melenggang pergi ke kamar mandi.


Sari sontak menimpuk Nisa dengan bantal di dekatnya. Beruntung Nisa lebih dulu menutup pintu kamar mandinya.


Nisa berusaha secepat kilat menyelesaikan ritual mandinya, lalu dengan sigap menyiapkan jadwal pelajarannya, alhasil dalam waktu tiga puluh menit Nisa telah siap untuk berangkat ke sekolah. Ia pun bergegas turun ke bawah, menuju ruang tamu.


"Pagi Nis": sapa Azam hangat melihat kedaatangan Nisa.


Sari mengacungkan jempol ke arah Nisa, ancamanya berhasil. Nisa mendengus sebal melihat Mamanya yang tampak ceria berbincang dengan Azam.


"Pagi" ucap Nisa singkat. Ia sibuk melilitkan dasi di lehernya.


"Kita berangkat dulu Tan" pamit Azam sembari mencium punggung tanggan Sari.


"Hati-hati dijalan yah"


Azam mengangguk takzim, senyuman terkembang lebar dari bibirnya. Betapa beruntungnya jika bisa mendapat mertua seperti Sari, baik, ramah juga humble.


Nisa mengerucutkan bibirnya mendengar ucaoan Sari, Mamanya bahkan tidak menawarinya sarapan!!.


"Nisa belum sarapan Ma" bisik Nisa saat ikut berpamitan. Ia pun mencium punggung tangan Sari.


"Nanti Mama tambahin uang jajan kamu yah, buat sarapan" jawab Sari ikut berbisik.


Azam segera membukakan pintu, menyilakan Nisa masuk.


"Gue nanti turun di situ aja yah" ucap Nisa menunjuk tikungan di depan sana.


"Kenapa?"


"Bawel lo ah, udah turunin gue di sana aja"


"Gue nggak mungkin nurunin cewek di pinggir jalan"


"Ya kali lo mau turunin gue di tengah jalan?"


"Bukan gitu, lo boleh turun tapi nanti di sekolah"


"Lo kalo mau pansos jangan manfaatin gue dong"


"Siapa juga yang mau pansos? kegantengan gue aja udah viral sejak pertama gue daftar sekolah"


" Dih sombong amat lo bang, Inget diatas langit masih ada langit. Di kelas tetangga banyak kali yang gantengnya standar kayak lo"


"Sebelas dua belas lah, tapi sayangnya gue yang dua belas. Jadi masih gantengan gue"


"Jangan ngaku ganteng kalo masih jomblo"


"Gue tuh jomblo berkualitas, walaupun nggak punya pacar tapi banyak disukai pacar orang"


"OMG, emang tante girang udah punah yah? sampe pacar orang yang doyan sama lo?"


Azam berdecak kesal, gombalan aja lo jawab seriusan, giliran hati gue serius lo anggap permainan.


"Sekarang aja lo sombong, nanti pas yang punya pacar tau digebukin baru mampus "


"Udah stop turunin gue disini"

__ADS_1


"Nggak, gue turunin nanti kalo udah sampe di sekolah"


"Gue nggak mau jadi topik trending gosip di sekolahan gara-gara berangkat bareng beruang"


Azam seolah tuli, Ia terus melajukan mobilnya.


"Zam please dong turunin gue disini aja yah?" rengek Nisa saat mobil Azam nyaris sampai digeebang sekolah.


Azam menggeleng tegas.


"Ya udah kalo lo nggak mau nurunin gue, gue bakal loncat"


Azam menoleh sekilas,


"Emang lo berani?" tantang Azam.


Nisa bergidik ngeri saat melihat lalu lalang kendaraan yang melintas sangat padat. Jika Ia nekat turun dengan paksa, itu sama saja dengan bunuh diri. Ia yakin, saat Ia loncat turun mungkin Ia akan terbebas dari Azam namun Ia tak yakin bisa bebas menikmati harinya. Lihatlah disampingnya banyak roda mobil dan kendaraan besar lainnya yang siap melindas tubuhnya jika Ia nekat.


Azam tersenyum tipis saat mellihat raut kesal pada wajah Nisa.


"Jangan dengerin ocehan para Fans gue yah, mereka kalo ngomong suka makan cabe rawit dulu soalnya makanya ikutan pedes"


"Gampang banget lo ngomongg, yang dinyinyir juga nanti gue bukan lo"


"Gue janji bakal nemenin lo disaat susah maupun senang"


"Makasi, tapi mending lo temenin gue pas susah aja, temen laknat gue udah banyak yang dateng pas gue seneng soalnya"


"Dih ogah"


"Oh ya udah jangan ngegas" ucap Nisa cuek. Ia segera bergegas turun saat mobil Azam. sudah mendarat rapi diparkiran sekolah.


"Thanks yah, btw gue nggak punya receh nih"


"Gue ikhlas kali nganterinnya" jawab Azam seraya mengacak pucuk rambut Nisa.


"Apaan sih lo, jadi berantakan nih" seru Nisa kesal.


"Nggak papah, masih tetep cantik kok"


"Gue tau" Nisa berjalan mendahului Azam, Ia risih dengan banyak pasang mata yang menatapnya.


"Kayaknya lo kurang cergep deh" seru Fian menyenggol lengan Aldo.


Aldo menatap tajam kepada Nisa dan Azam yanug melangkah pergi tanpa menyadari kehadirannya yang juga berada di parkiran. Tangannya terkepal kuat-kuat menahan gejolak emosi saat melihat Nisa turun dari mobil Azam.


"Tenang bro, jodoh nggak akan kemana-kemana" sahut Fian menepuk nepuk pundak Aldo menyemangati.


"Jodohnya emang nggak kemana, tapi tikungannya dimana-mana" balas Aldo ketus.


"Calm baby, cinta di tolak dukun bertindak" celetuk Fian.


"Okey, tapi lo jangan kemana-mana yah biar gue nggak kesusahan cari tumbal"


"Sialan lo" Fian meninju perut Aldo pelan.


"Makanya kalo ngasi saran yang bener" ucap Aldo menjitak kepala Fian. Keduanya kini meneruskan langkahnya menuju kelas.


Kriiing....kring....


Suara bel tanda masuk berbunyi nyaring. Tak selang berapa lama upacara dimulai. Para siswa SMA Nusa Bhakti terdiam, mengikuti upacara dengan khidmat dibawah mentari yang bersinar cerah. Barisan dibuat tiga baris berbanjar, Nisa berdiri di antara Icha dan Filla.


Nisa mengelap dahinya yang berkeringat dengan dasi yang dikenakannya. Ia bergegas hormat ke arah tiang bendera saat sang merah putih perlahan dikibarkan naik.


Nisa menaikan kedua alisnya saat Aldo berpindah posisi menjadi berdiri disampingnya, menggeser posisi Icha.


"Ngapain lo?" desis Nisa pelan. Filla sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan Aldo. Ia melirik sinis pada Nisa, rasa cemberu menyeruak memenuhi rongga dadanya.


"Berdiri" jawab Aldo berbisik, kemudian menunduk saat lagu mengheningkan cipta mengalun.


"Jangan sok jadi pahlawan kesiangan deh" seru Nisa sinis, Ia tau Aldo pasti sengaja bertukar tempat dengan Icha agar bisa menghalangi sinar matahari pagi yang menerpanya.

__ADS_1


Aldo hendak menyahuti, namun mulutnya terbungkam saat intrusksi untuk mengikuti pembacaan teks pancasila dari pemimpin upacara terdengar nyaring di tengah lapangan.


__ADS_2