
Sore harinya, Yola berjalan gontai menuju ruang perawatan Ardan untuk bergantian dengan Nisa dan Azam yang sudah menjaganya dipagi hari.
Mereka bertiga telah sepakat untuk bergantian berjaga karena orang tua Ardan sedang berada di luar kota.
Saat itu tak sengaja ekor matanya menangkap sosok Icha bersama Zen, Fian, Aldo yang tengah berjalan beriringan menuju arah tempat dimana Ardan dirawat.
"Icha?" panggil Yola sedikit berteriak.
Icha membalikan tubuhnya, merasa terpanggil.
"Yola?" ucapnya sembari sedikit berlari ke arahnya.
"Lo ngapain disini?" tanya Yola sambil memeluk Icha. Hanya satu hari tak beretemu namun rasanya rindu.
"Ehem enggak cipika cipiki sekalian?" cerca Zen menggelengkan.
"O iya lupa" ucap Icha lantas mencium kedua pipi Yola bergantian.
"Gue lagi nyindir Cha bukan ngingetin
"Aish biarin dah, biar so sweet"
"Lebay"
Icha memajukan bibirnya, andaikan disini tidak banyak orang pasti dia sudah mencincang Zen.
"Emm La lo ngapain disini? bukannya Lo lagi sakit?" tanya Icha heran.
"Gue cuma kena demam biasa, gue mau jengukin Ardan"
"Lo tau dari mana kalo Ardan disini?" ucap Zen curiga.
"Ada deh, yuk jenguk bareng"
"Lo ada sesuatu sama Ardan?" tutur Aldo penasaran.
"Apaan sih, orang cuma temen"
"Temen tapi mesra?" celetuk Fian.
"Bukan, temen tapi menikah". serga Yola diserrai gelak tawa.
"Ish..diam-diam menghanyutkan lo". cecar Icha menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Buat apa pacaran diumbar lebih baik dalam diam tapi tau-tau undangan menyebar". ucap Yola seperti meledek Icha.
"Sip. Gue suka quotes lo" sahut Fian mengacungkan 2 jempolnya.
Mereka semuanya lantas beriringan menuju ruang rawat Ardan.
Yola membuka pintu perlahan, takut jika pasien didalam ruangan tersebut sedang beristirahat.
"Lho Nisa sama Azam kok disini?" tanya Icha kaget saat masuk.
__ADS_1
Nisa meringis lebar, bingung menjawab apa.
"Tadi pagi kebetulan kita lagi chattan terus bilang kalo dia juga lagi sakit. Yah gue inisiatif aja mau jengukin" tutur Nisa sedikit gugup. Tak biasanya dia berbohong.
"iya kan Ar?" lanjut Nisa meminta penguatan.
Ardan mengangguk singkat.
Ia tak ahli dalam bersilat lidah, lebih baik mengangguk agar perbincangan tak semakin rumit.
Gue diajak Nisa buat nemenin" timpal Azam cepat mencari aman sebelum ditanyai macam-macam.
"Sumpah ini aneh banget, kalian berjamaah nggak masuk terus sekarang malah kompak disini?". jelas Icha keheranan. Sontak semua mata tertuju pada Nisa, Yola, Ardan dan Azam secara bergantian.
"Iya nih, tapi kok Filla nggak ada?" imbuh Zen.
"Dia dari kemarin nggak bisa dihubungin, ads yang tau kenapa nggak?" imbuh Aldo penuh harap.
Nisa membisu ditempatnya, jantungnya mendadak berdegup kencang.
Yola dan Ardan melirik Azam sekilas, mereka berdua telah diberitahu sumber kekacauan sewaktu di rumah Nisa. Selebihnya mereka tidak dijelaskan secara detail tentang apa yang Azam lakukan hingga akhirnya Filla mau mengakuinya.
Semua mata kini menyorot Azam penuh tanda tanya, pasalnya Yola dan Ardan serta Nisa seolah menatap Azam seperti menuntut jawaban.
Azam menarik nafas, sadar menjadi pusat perhatian.
"Gue nggak tau" ucap Azam singkat. Sejak Ia memulangkan Filla dari markasnya ia tak lagi berhubungan dengan Filla.
"Ar lo kok bisa babak belur begini?" tanya Aldo memeriksa wajah Ardan dengan seksama.
Ia yakin Ardan bukan sakit biasa namun dikarenakan ada yang sengaja melukainya hingga masuk rumah saikit.
Ardan lagi-lagi melirik Azam.
"Haruskan Ia jujur atau lebih baik menutupi semuanya?"
Sudut mata Yola mengamati gerak tubuh Azam. Ia juga menjadi was-was.
Sepi. Ardan masih mengunci mulutnya rapat. Semua keputusan seakan berada ditangan Azam.
Aldo sabar menunggu jawaban, mungkin sahabatnya masih trauma mengingat kejadian memilukan yang menimpa dirinya.
Azam samar-samar mengangguk. Mungkin ini saat yang tepat untuk membongkar kebrobokan Filla.
Ardan mengedipkan matanya, Ia sepemikiran dengan Azam. Nisa meremas jemarinya yang berkeringat dingin melihat gerak bibir Ardan yang akan menjelaskan segalanya.
Ardan menarik nafas dalam-dalam. Sungguh meski Ia terluka, namun dirinya tak tega untuk mengungkap kejahatan yang dilakukan Filla. Hubungan keduanya memang bisa dibilang jauh. Tetapi dihati Ardan yang paling dalam merasa iba akan nasib Filla selanjutnya jika Ia mengatakan yang sejujurnya.
"Kalian berdua ngapain sih saling lirik?". ucap Zen semakin tidak mengerti situasi yang terjadi.
Yola melotot pada Zen yang tampak tak sabaran.
"Eh gue salah ya?" balas Zen menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bisa diem dulu nggak?". ketus Yola seraya mengepalkan tangannya.
Zen refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan. Giginya terasa ngilu melihat kepalan tangan Yola.
"Lo serius mau tau gue kenapa Al?" tanya Ardan serius.
"I..iya, kenapa?" jawab Aldo.
"Lo punya riwayat sakit jantung nggak?"
"Enggak kok, gue sehat-sehat aja"
"Bagus deh, gue harap lo nggak pingsan kalo denger cerita gue"
"Okey, pasti orang yang nyerang lo ganas banget yakan?" terka Aldo.
Nisa membekap mulutnya yang hampir melepaskan suara tawa.
"Ganas begitu juga pacar lo" batin Nisa sekuat tenaga menahan tawa.
"Iya begitulah" jawab Ardan sekenanya.
"Emang siapa pelakunya?" tambah Fian penasaran.
"Dia adalah ....." Ardan menggantungkan kalimatnya sembari melirik Aldo.
"Si Al pelakunya?" potong Zen tak percaya.
"Bukan tapi pacarnya" sambung Azam tak ingin berbelit-belit.
"Apah?" ucap Fian dan Zen bersamaan.
icha membulatkan mata menyakinkan dirinya tak salah dengar.
"Lo becanda kan Zam?" ucap Aldo menyipitkan matanya.
"Gue serius Al" Azam mengeluarkan ponselnya. mencari rekaman percakapannya dengan Filla saat Ia menyekap dimarkasnya. Ia segera memutar dengan volume full agar jelas terdengar.
Aldo mendesah lirih, Ia menatap Ardan dengan ekpresi yang sulit diartikan. Raut wajahnya terlihat syok berat juga kecewa sekaligus malu.
"Gue kenal Filla udah lebih dari 14 tahun. Gue nggak nyangka Filla bisa sejahat itu". tutur Icha dengan mata berkaca-kaca. Sebagai sahabat Filla sejak kecil Ia masih tak menyangka sahabatnya bisa menjelma menjadi iblis hanya karena cinta.
"Gue nggak bisa bayangun reaksi kalo Tante Riri (Mama Aldo) tau kelajuan bejat calon mantunya" sahut Yola tersenyum getir. Mungkin dia nggak balal kasi restu sampai akhir hayat.
Aldo memandangi lantai rumah sakit dengan tatapan kosong.
"Good looking namun bad attitude" cibir Fian tersenyum sinis.
"Muka doang yang glowing tapi hati burik" lanjut Zen ikut menyinyir.
Nisa buru-buru menginjak kaki Zen yang berdiri disampingnya.
"Tolong jaga ucapan lo, disini ada hati yang perlu dijaga" tegas Nisa berbisik tepat ditelinga Zen. Dalam kasus ini Filla yang bersalah namun mengapa Aldo yang disudutkan?. Mereka hanya sepasang kekasih bukan pasutri tidak seharusnya Aldo yang menanggung beban kejulidan sahabatnya ini.
__ADS_1