
Ujian Mata pelajaran jam pertama telah usai waktunya istirahat.
"Kantin yuk gaes" ajak Filla bersemangat.
Yola mengangguk setuju.
"Gas..gas ...gas" Icha ikut bangkit berdiri, bersiap pergi.
Nisa menurut dalam diam, Ia rindu untuk bertemu Azam. Ada rasa penyesalan saat Ia tak jujur tentang hubungannya pada Yola. Ia juga merasa bersalah dengan Azam, berharap semoga Azam tak mendengarnya.
Nisa menarik rambutnya pelan, merasakan lelah pada hati dan pikirannya. Hatinya tak tenang sebelum memastikan Azam baik-baik saja.
"Gue traktir lo semua hari ini" imbuh Filla seraya mempin jalan keluar kelas.
"Wih udah cair nih" sahut Yola mengekor dibelakang Filla.
"Yoi" jawab Filla ceria.
Sesampainya dikantin.
"Fil pesenin sekalian yah" perintah Yola enteng.
"Iya tuh, kalo mau buat baik jangan tanggung-tanggung" tambah Icha mengompori.
Filla menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya. Kebahagiaan yang di rasakannya tak akan luntur dengan lelahnya mengantri makanan.
"Kayak biasa aja yah, biar nggak ribet" tutur Filla.
Icha dan Yola kompak mengangguk.
Nisa sibuk menopang dagunya ketika indera penglihatannya tak menemukan sosok Azam di kantin.
"Apa dia lagi belajar yah?" batin Nisa mencoba berpikir positif.
"Yank kok gue di tinggalin?" gerutu Zen yang tiba-tiba muncul di sebelah Icha.
"Maaf aku lupa" jawab Icha merasa bersalah. Hubungannya masih berhitung hari, membuatnya belum terbiasa dengan keberadaan Zen. Sehingga jika dia tak berada di dekatnya Icha merasa biasa saja.
Zen mengangguk-angguk tak mempermasalahkan.
"Oke"
"Ciee...so sweet" ledek Yola dengan bertopang dagu, cengar cengir melihat pasangan baru dihadapannya.
"Biasa aja kali" cerca Nisa yang gabut menunggu Azam tak kunjung muncul.
"Syirik banget lo bund" sahut Zen tak terima. Sampai sekarang Ia masih menyimpan dendam kesumat pada Nisa yang telah menyasarkannya pada nomer telepon tak dikenal dulu.
"Woy Zen main ngacir aja lo" teriak Fian menepuk punggung Zen keras.
Zen memajukan tubuhnya ke depan, kaget dengan hadiah tak terduga dari Fian.
"Abis lo lama banget" elak Zen.
"Ceilah, sabar dikit napa. Aldo nih lemot banget beresin alat tulisnya" jelas Fian tak mau disalahkan.
Aldo menjitak kepala Fian
__ADS_1
"Ardan tuh, kelamaan nali sepatunya" sanggah Aldo.
"Ngomong aja udah rindu sama yang beb" goda Ardan ikut nimbrung.
Suasana meja menjadi ramai karena kedatangan geng sompak.
Filla yang baru datang membawa pesanan makanan terkejut senang melihat Aldo bergabung dimejanya.
"Hay Al" sapa Filla ramah.
Aldo tersenyum hangat membalas sapaan Filla.
"Ehmm perasaan kita datengnya bertiga" sindir Ardan.
Filla menyorot Ardan tajam.
"Cih, maaf gue kenal" sinis Filla dalam hati.
"Apa ini yang dinamakan bidadari tanpa sayap" ucap Fian tersenyum genit ke arah Filla.
Filla tertawa kecil, jiwanya melayang ke langit ke tujuh.
"Bidadari berhati iblis kali" imbuh Ardan tanpa dosa.
Filla menjengitkan bibirnya, sekuat tenaga menahan tangannya agar tak menyiram mulut berbisa Ardan dengn jus jeruk dinampannya.
Yola memegang perutnya, mencegah mulutya agar tak meledakan tawa.
"Ehm dedek cacing laper Fil" lerai Yola agar tidak semakin memanas.
"Oh iya ini" Filla menurunkan makanan dan minuman dari nampan yang dibawanya.
"Oke siap" ucap Fian tak membantah.
"Mau makan apa?"
"Apa aja yang penting halal dan barokah" jawab Ardan mewakili teman-temanya.
"Sip, gue suka prinsip lo" Fian pun bergegas pergi.
"Mau?" tawar Icha pada Zen saat menerima jatah makanannya.
"Enggak"
"Kamu pasti laper"
"Maunya disuapin"
Icha tersenyum lembut "oke" Ia pun menyuapkan sepotong bakso ke dalam mulut Zen. Sontak para penghuni disekitar Icha terbatuk berjamaah.
"Uhukk..mata gue ternodai" ucap Ardan sembari menepuk-nepuk dadanya.
"Yang lagi bucin tolong kondisikan dong. Kaum jomblo kepanasan" sambung Aldo.
"Kayaknya nggak pernah aja lo Al" jawab Zen melirik Nisa melalui sudut matanya.
Nisa mengacungkan garpu ke depan wajah Zen
__ADS_1
"Nggak usah lirik-lirik gue" ancam Nisa galak.
Zen lekas membungkam mulutnya, tak berani berkutik.
Dahi Filla membentuk lipatan kecil mencerna ucapan Zen dan Nisa.
"Sellow Nis nanti darah tinggi lo kambuh" ucap Aldo menenangkan.
"Gue nggak ada riwayat sakit begituan"
"Tapi kalo sakit hati ada kan Nis" ledek Fian yang telah kembali dengan membawa senampan makanan dan minuman.
"Gue pikir kemarin lagi kambuh" imbuh Aldo.
"Nisa mendengus kesal, Pikirannya melayang pada Azam. Andai saja ada dia disini apa dia akan cemburu?.
Aldo menepuk jidatnya, Ia sampai lupa memberikan bungkusan yang dibawanya.
"Buat lo Nis"
"Apa?" tanya Nisa penasaran.
"Buka aja"
Tangan Nisa cekatan membuka kresek hitam ditangannya.
"Ini buat gue semua?" tanya Nisa girang menatap susu kotak yang beraneka rasa didepannya.
"Iya. Biar lo cepet sembuh" jawab Aldo seraya menarik kerah belakang Ardan yang hendak mengintip.
"Pelit lo bang" protes Ardan.
"Itu khusus buat Nisa"
Nisa tanpa sadar menyunggingkan senyumnya, Aldo sampai sekarang masih mengingat minuman favorit nya saat sedang sakit.
"Khusus mantan yah? nggak ada gitu khusus buat temen setia" celetuk Fian ikut protes.
Mata Filla terbelakak lebar. Kalimat yang terlontar dari mulut Fian sangat mencengangkan.
Nisa mencebikan bibirnya, selera makannya raib entah kemana.
"Gue mau belajar dulu, bye" pamit Nisa ketus.
Semuanya terdiam, tak ada yang menjawab. Fian melambatkan suapan baksonya, merasa bersalah.
Filla sibuk dengan pikirannya, bingung dengan kecambuk perasaannya.
Yola melahap cuek baksonya, dia sudah tahu sejak dulu. Tak ada yang amazing dengan fakta tersebut.
Nisa memelankan langkahnya, Ia menekan salivanya susah payah. Dirinya tak sengaja berpapasan dengan Azam di ambang pintu keluar kantin yang menatapnya dingin.
Azam yang ingin meminta penjelasan dari Nisa semula mencarinya dikelas, namun nihil. Ahirnya dia memutuskan untuk menyusul ke kantin.
Dirinya tiba saat Nisa tersenyum manis menerima bungkusan dari Aldo. Tubuh Azam membeku melihat senyuman tak biasa dari Nisa, pancaran matanya menandakan ada hal lain disana.
Entah lah, apa hanya karena rasa cemburu yang berlebihan atau memang Ia yang terlalu peka?.
__ADS_1
"Mungkin alasanmu tak menemui ku, ternyata ada yang lebih asyik makanya aku di skip"
Azam membalikani tubuhnya, berlama-lama disini hanya akan membuat hatinya luka.