
Sesampainya di rumah Nisa.
"Thanks yah" ucap Nisa sembari memberikan helmnya kepada Zen.
"Iya sama-sama".
Nisa mengerutkan keningnya melihat Zen yang masih diam ditempatnya.
"Mau mampir?" tanya Nisa ragu.
"Hmm bolehkah?" balas Zen sedikit malu-malu.
"Enggak"
Zen menggelembungkan pipinya, kecewa.
"Ya boleh lah" tutur Nisa sambil tertawa, sejak kapan Zen jadi baperan gini sih?
Yess, Zen berseru girang dari atas motornya.
Nisa semakin keheranan dengan sikap Zen yang tampak berbeda itu.
"Gue pikir karena belum gue bayar makanya lo enggak mau pergi"
"Dih su'udzon amat lo, Gue ikhlas kok Nis nganterin lo" sahut Zen sedikit kesal, namun masih bisa mengontrol kesabaraanya. Ia tidak ingin rencananya hancur berantakan.
"Ayok masuk" Nisa membuka pintu rumahnya, mempersilakan Zen masuk.
"Maaaaa" teriak Nisa memanggil Sari.
"Mama" ulangnya lagi.
"Iya Nisa" seru Sari ikut berteriak juga dari halaman depan.
"Nisa pulang Nih"
"Iya tau, Mama juga udah denger suara cempreng kamu" balas Sari
"Iiih Mama, liat dong Nisa bawa apa" sahut Nisa menahan tawa.
Mendengar itu Sari langsung bergegas menemui Nisa.
Perasaan Zen mendadak menjadi tidak enak saat melihat Nisa yang tidak membawa apa pun ditangannya. Lo pikir gue barang lo bawa-bawa? batin Zen was-was saat Nisa berteriak memanggil Mamanya. Anaknya aja udah bobrok apa lagi emaknya? mau jadi apa gue. Zen mendesah gusar, berulangkali mengusap dadanya menenangkan.
"Mau minum apa?"
"Terserah lo Nis"
"Pantat lo lagi bisulan?" cecar Nisa yang melihat Zen masih berdiri didekat sofa.
"Enggak kok"
"Terus ngapain lo masih berdiri disitu? nggak biasa duduk disofa mahal?" Nisa berdecak kesal melihat tingkah Zen yang tampak seperti anak TK apa-apa harus disuruh terlebih dahulu.
"Lo kan belum nyuruh gue duduk"
"Tinggal duduk aja kenapa? enggak ada yang ngelarang juga" timpal Nisa yang jengah melihat Zen terlalu banyak basa-basi.
Zen menurut, dari pada meladeni ocehan Nisa yang ada nanti darah tingginya naik.
"Lo mau minum apa?" Nisa mengulangi lagi pertanyaannya.
"Terserah"
"Nanti gue kasih air comberan emang mau?"
"Ya ampun Nis, yang manusiawi dikit lah"
"Kan lo bilang terserah, dirumah gue nggak ada yang namanya minuman terserah"
"Apa aja yang biasa lo minum"
"Emmm gue biasa minum kopi sih" papar Nisa dengan mengedipkan sebelah matanya. Mengingat Zen yang menyandang sebagai penderita sakit maag, tentu sangat pantang sekali meminum kopi.
"Lo sengaja mau ngebunuh gue?"timpal Zen dengan wajah cemberut.
Tawa Nisa seketika pecah,
"Makanya jangan banyak basa-basi" ucap Nisa lalu melenggang pergi, langakahnya tertunda saat melihat Sari yang berjalan mengarah padanya.
"Ada apa Nis?" tanya Sari ketika sudah sampai diruang tengah.
"Tuh Nisa bawain calon mantu" celetuk Nisa.
"Bening banget Nis cari dimana?" ujar Sari sambil mencolek perut Nisa berbisik.
__ADS_1
"Nemu dijalan mah, kasian katanya tiga hari belum makan"
"Ngaco kamu Nis, orang cakep begitu masa iya anak jalanan" sanggah Sari tidak percaya.
"Ya ampun Mama orang kayak gitu mah banyak dijalanan" balas Nisa tidak rela Mamanya mengecap Zen sebagai abang ganteng.
"Terus yang ganteng menurut kamu yang gimana? yang kayak Aldo?" Sari berusaha menahan tawanya saat mengucap nama Aldo, setaunya dirinya Aldo kan cupu.
"Ya iya lah" Nisa menutup mulutnya sendiri keceplosan berbicara.
"Kalo belum bisa move on jangan jadiin anak orang buat pelampiasan" tegur Sari tegas.
"Apaan si Ma, Nisa cuma temenan kok. Lagian Mama kan belum liat Aldo yang sekarang dia udah berubah Ma, uuuh kalo Mama liat pasti langsung deh klepek-klepek"
"Berubah jadi apa? superman apa power rangers?"
"Bukan, tapi berubah jadi mahkluk Tuhan yang paling sexy" seru Nisa sambil memegangi kedua pipinya membayangkan wajah tampan Aldo.
"Ehemm ehmm"
"Eh iya maaf Zen" Nisa menggaruk tengguknya yang tidak gatal, sedari tadi Ia asyik berbisik-bisik dengan Sari sampai melupakan keberadaan Zen.
"Mama buatin minum dulu yah" ucap Sari permisi ke belakang karena tidak ingin mengganggu.
"Makasi Ma" Nisa berbalik menuju sofa mengambil duduk didekat Zen.
Zen tersenyum hangat menatap kepergian Sari.
"Nis"
"iya?"
"Emmm gue mau bilang sesuatu"
"Apa?" tanya Nisa penasaran melihat Zen yang tampak gugup.
"Gue mau ngomong penting sama lo" jujur Zen sembari menunduk.
Nisa hampir saja tersedak salivanya,
"Apaan" serunya tidak sabar.
"Gue mau PDKT sama..."
"Jangan bilang kalo sama gue" potong Nisa cepat.
"Hah serius lo mau PDKT sama gue?"
"Ya enggak lah, lo dengerin gue dulu makanya" seru Zen disertai decakan kesal.
"Oke oke" Nisa menatap Zen takzim
"jadi gini, gue mau deketin seseorang yang gue suka"
"Terus apa hubungannya sama gue?"
"Ya gue mau minta saran lo lah"
"Emang menurut lo gue spesialis dokter cinta?"
"Ya bukan gitu, tapi gue mau minta tolong lo biar gue bisa deketin dia"
"Gue bukan mak comblang keles"
"Ayolah Nis bantuin gue kan dia temen deket lo"
"Dia? dia siapa?"
Zen terdiam sebentar seperti ragu mengatakan yang sebenarnya dengan Nisa.
"Dia siapa?"
"Emm tapi No bully yah?" Zen menunjukan jari kelingking sebagai isyarat janjim
"Iya" Nisa menautkan jari kelingkinya.
"Icha" Zen lirih menyebut namanya.
"Wait? lo bilang siapa? Icha?" mata Nisa terbelalak lebar, naman yang keluar sungguh diluar dugaannya.
Zen mengangguk mantap.
"Sumpah gue nggak bisa bayangin lo pacaran sama Icha" tawa Nisa kini sudah meledak.
"lo kan udah janji nggak nge bully"
__ADS_1
Nisa berusaha meredam tawanya.
"Coba lo bayangin kalo nanti lo jadian terus kencan ditaman, kayaknya jangkrik bakal lebih romantis dari pada lo berdua" Papar Nisa meledek.
"Lo jahat banget Nis"
"Lo aja pelit banget kalo ngomong apa lagi si Icha tuh, super irit pangkat kuadrat. Yang ada malah nanti cuma krik..krik...krik ..krik"
"Jadi nyesel gue cerita sama lo" Zen bangkit dari duduknya saat melihat Nisa yang masih tertawa tanpa henti.
"Mau kemana? Tante udah buatin minum nih" ucap Sari sambil meletakn dua gelas jus mangga dan beberapa camilan.
"Eh iya Tante, tadi punggung Zen encok Tan" jawab Zen asal. Ia pun memutar ndannya ke kiri dan kanan.
"Oh ya sudah, di minum dulu gih" Sari lantas melangkah pergi.
"Makasi Tan" seru Zen kembali duduk ditempatnya.
"Jangan-jangan lo baik sama gue selama ini karena lo mau deketin gue buat minta tolong sama gue?" terka Nisa blak-blakan.
Zen terpaku ditempatnya,
"Gue beneran ikhlas kok baik sama lo, tapi kalo gue udah baikin lo kan jadi enak kalo minta tolong" ucap Zen sambil meringis.
"Terus maksud lo sok romantis sama gue apa? mau jadiin gue kelinci percobaan lo?"
"Nis lo punya indra keenam yah? kok lo pinter banget si buat nebak pikiran orang?"
"Niat busuk lo baunya udah tercium dari radius seratus kilo meter, nggak perlu pake indra keenam atau ketujuh segala"
"Sorry Nis gue nggak bermaksud PHP in lo, tapi gue butuh pemanasan biar nanti gombalan gue nggak garing" Zen semakin salah tinggah mendapat tatapan galak milik Nisa.
"Btw lo baper nggak?" tanya Zen polos.
Nisa mengacungkan jari kelingkingnya.
"Baper kata lo? hati gue nggak semudah itu lo baperin. gombalan lo cuma nembus seujung kuku dihati gue" Nisa menjentikan ujung kuku jari kelingkingnya.
"Terus gimana?"
"Ya mana gue tau" jawab Nisa cuek.
"lo kan udah handal baperin orang, cowok cupu kayak Aldo aja bisa kemakan gombalan lo ajarin ghe dong" pinta Zen memelas.
"Temen sendiri lo katain cupu nanti gue aduin mampus lo"
"Yaelah emang Aldo kan dulu cupu udah jadi rahasia umum kali Nis"
"Dasar temen nggak ada akhlak"
"Bukan gitu Nis, gue cuma ngomong faktanya"
"Kalo lo mau baperin cewek nggak perlu lo belajar, Gunain hati lo bukan mulut. Ketulusan seseorang lelaki dilihat dari cara dia memperlakukan wanitanya bukan ucapan gombalannya"
"Iya Nis, gue sadar sekarang tugas gue cuma sebatas mencintai masalah dia mau nerima cinta gue apa enggak itu urusan dia"
"Bagus deh kalo lo ngerti, jangan jadi munafik dengan menjadi orang lain buat disukai orang . jadi diri sendiri gue yakin, seseorang yang tulus sayang sama lo pasti bakal nerima lo apa adanya"
"Iya Nis makasi yah"
"Tapi gue kasih saran, jangan cuma nyari yang sabar ngadepin sifat lo karena percuma sabar tapi mulutnya lemes. Cari yang bener-bener nerima lo apa adanya karena sejatinya yang menerima pasti enggak akan mengeluh apa lagi kekurangan lo diumbar didepan umum. Tapi dia yang menerima hanya akan mengeluh pada yang Maha Kuasa jadi aib lo tetep aman"
" Kalo gitu gue minta nomor teleponnya Icha aja" Zen menyodorkan Hp nya.
Nisa mengambil ponselnya sendiri, terbesit niat untuk menjaili Zen.
"Gue bacain ya nomornya?"
"Okey"
"08** 30** 23**
"Udah Nis, thanks"
"Sama-sama lo minum dulu gih"
Zen menurut meminum sampai habis.
"Gue pamit mau pulang dulu yah" seru Zen meletakan gelas kosongnya.
"Oke, gue anterin lo sampe depan"
Keduanya berjalan beriringan menuju beranda depan.
"Satu hal lagi yang perlu lo tau Zen, jadilah lelaki dewasa. Apapun masalahnya nanti kedepannya, tetap sabar jangan emosi. Cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan jangan ngeluh jangan pesimis tapi optimis. Semangat berjuang"
__ADS_1
Zen hanya mengangguk. Ia pun mulai melajukan motornya tanpa mencerna dengan baik kata-kata Nisa. Ia yakin Nisa sedang menyemangati tanpa ada hal "lainnya".