Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 11 Keganjilan


__ADS_3

Tok..tok ..tok..


Filla mengetuk pintu kelasnya perlahan. Ia meremas rok abu abunya hingga kusut, hatinya berdetak cepat. Keterlambatan yang pertama kali disepanjang sejarah hidupnya.


Nasibnya sungguh sial hari ini, dimulai dari acara makan siang dikantinnya yang berakhir tragis, Kakinya yang sedikit nyeri sisa tertabrak badan besar Aldo, misinya yang gagal mendapat nomer Wa Aldo, yang berujung ditegur Pak KepSek. Penderitaannya tidak sampai disitu,sekarang ia harus berhadapan dengan Bu Mia, guru yang mengisi pembelajaran dikelasnya.


Bu Mia menghentikan aktivitasnya sejenak mendengar ketukan pintu. Semua siswanya pun mengalihkan perhatian mengarah pada pintu kelas yang dibuka dari luar. Tampak sesorang siswi melangkah mendekati Bu Mia, kegugupan tergambar jelas dari wajahnya.


"Maaf Bu saya terlambat" ucapnya dengan nada ketakutan.


Bu Mia tampak memperhatikannya sebentar.


"Dari mana saja kamu?"


" maaf Bu saya dari kamar mandi, kebetulan tadi banyak yang mengantri" Ucapnya Filla berbohong.


"Baiklah silahkan duduk dibangku mu". Tidak ada pilihan lain untuk Bu Mia kecuali mengizinkan Filla mengikuti mata pelajarannya. Keterlambatan Filla bukan murni kesalahnnya jika kamar mandi penuh mau bagaimana lagi kecuali bersabar mengantri. Memaksa masuk pun hanya akan membuat masalah.


"Baik Bu, terimakasih" Filla tersenyum cerah meski dalam hatinya merasa bersalah. Maafkan Filla ya Allah.


Nisa melirik Filla heran, Filla termasuk salah satu daftar manusia disiplin. Terasa ganjil jika terlambat.


Icha yang sudah menungu cemas sedari tadi langsung merecokinya dengan berbagai pertannyaan.


"Lo kemana aja si Fill? Lo nggak apa apakan? Tadi kan gue udah nawarin mau nemenin lo, kenapa tadi nolak sih".


"Gue nggak kenapa kenapa Icha, udah biasa aja"


"Nggak biasanya lo terlambat Filla, gue khawatir lo nyangkut dimana"


Filla tertawa lebar, sahabatnya tak pernah berubah, kecemasan sahabatnya tidak berkurang sedikitpun sejak dulu.


" Hehe lo tau aja" Fila tersenyum malu malu mengingat peristiwa besar bersama Aldo.


"Maksudnya?" Icha bertanya penasaran.


"Udah nanti gue jelasin, sekarang fokus dulu sama pelajaran kasian tuh Bu Mia lo kacangin"


"Oke, janji yah"


"Iya bawel"


"kok lo gitu sih?" Icha cemberut mendengar jawaban Filla perhatiannya bertepuk sebelah tangan.


"Iya iya janji Icha sayang" Filla mencubit kedua pipi Icha, gemas dengan tingkahnya yang sulit diajak becanda selalu serius.


"Oke"


"Ayo anak anak baca buku paket halaman 57, silahkan baca didalam hati" Suara menggelegar Bu Mia memenuhi ruang kelas. Ia pun ikut membaca buku panduan mengajarnya, memberikan ruang kebebasan untuk siswanya memahami sendiri.

__ADS_1


"Waktu kalian 30 menit, jika ada yang belum dipahami boleh mengajukan pertanyaan pada acara sesi tanya jawab nanti" imbunya lagi.


"Baik Bu".


Nisa mengawasi Bu Mia, jiwa keponya tidak tertahan, ia mencuri kesempatan untuk bisa bertanya pada Filla.


Bu Mia tampak fokus dengan bacaannya, kesempatan bagus untuk Nisa.


"Abis dari ngapain sih lo Fill?".


"Nanti aja deh gue ceritanya" Filla masih fokus dengan buku paketnya.


"Cuma jawab apa susahnya sih"


"Waktunya belum tepat Nis"


" lo tuh cuma cerita bukan ndongeng, nggak sampe sepuluh menit juga kelar" Nisa masih ngotot, jiwa keponya meronta ronta.


"Nanti aja pulang sekolah" Filla menolak menjawab sekarang. Meski pertemuannya dengan Aldo hanya berkisar sepuluh menit, yang bila diceritakan mungkin hanya cukup tiga menit. Tapi itu tidak menyenangkan.


Harus ada sedikit bumbu dalam ceritanya sebelum disajikan agar menarik. Filla masih memikirkan alur untuk bahan ceritanya, agar terkesan dramatis. Baginya, bertemu Aldo merupakan berita Hot, harus dibuat semenarik mungkin akan trending.


Nisa membalikan bukunya, melanjutkan membaca materi. Berdebat dengan Filla tidak ada gunanya dia bukan Icha yang mudah dirayu. Semakin dipaksa tidak akan membuat Filla luluh, justru malah mogok berbicara. Saat moodnya buruk Filla pasti akan diam seribu bahasa, menjadi tidak peduli dengan apa pun.


Yola menggelengkan kepalanya, Ia sama sekali tidak berminat dengan urusan orang lain, menurutnya tidak semua orang suka privasinya diusik, meski tak bisa dipungkiri ada spesies manusia yang justu akan blak blakan membuka aibnya. Toh jika memang terjadi sesuatu yang buruk, Filla pasti akan bercerita dengan sendirinya,bila mendesak untuk diceritakan. Nyatanya Filla masih bisa tersenyum ceria, jadi tak perlu diambil pusinglah.


Sesi tanya jawab berlangsung, Yola tampak antusias bertanya banyak hal, berbeda dengan Nisa yang tampak tidak bersemangat. Pikirannya malah sibuk memikirkan Filla, sesuatu yang sangat sangat tidak penting, entah mengapa pikiran Nisa sempit sekali.


"Masih ada yang ingin ditanyakan?" tanya Bu Mia.


Sesaat semua siswa terdiam. melirik satu sama lain, memastikan tidak ada lagi yang hendak memberi pertanyaan.


"Tidak bu" jawab Azam sang ketua kelas mewaliki anak buahnya.


"Baiklah jika sudah tidak ada yang hendak bertanya lagi, Ibu akan menjawab pertanyaan kalian secara urut, dimulai dari pertanyaan Yola, karena dia yang pertama kali bertanya".


Beberapa menit kemudian. Bel tanda belajar mengajar telah usai, beberapa siswa yang mengantuk kembali sumringah.


"Masih ada beberapa pertanyaan yang belum dijawab, kita akan membahasnya minggu depan".


Semua murid Bu Mia kompak membereskan peralatan belajar mereka.


Nisa membereskan dengan kilat, Punggungnya sudah rindu kasur king miliknya.


Azam mengedarkan pandangan ke seisi kelas, teman temanya sudah duduk rapi. Sebagai ketua kelas ia bertugas memimpin doa.


"Berdoa dimulai".


Siswa Kelas X IPS 3 tampak khusyu berdoa.Tangannya menengadah, mereka menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Selesai" Ucap Azam mengakhiri.


Bu Mia mengucapkan salam lagu bergegas keluar.


"Assalammu'alaikum Wr.Wb, Selamat siang anak anak".


"Wa'alaikumsalam Wr.Wb, Siang Bu.


Semua siswa keluar, menyisakan Nisa dak empat sekawan ditambah Azam.


"La mau pulang bareng gue nggak?" Azam menawarkan tumpangan untuk Yola, ia tau Yola merupakan penumpung setia Angkutan umum.


"Emm.."


"Enggak gue sibuk". Belum sempat Yola menjawab Nisa sudah memotong cepat.


"Lo apa apaan sih Nis, kan gue yang diajak".


"Kita kan ada meeting siang ini Yola"


"Meeting apaan sih" Yola bingung ia merasa tidak memiliki janji dengan siapa pun.


"Lo lupa? tadi kan Filla telat masuk jadi kita harus mengintrograsi"


"Ya ampun Nisa, Enggak penting banget tau nggak" .


" Biarin aja Yola pulang duluan Nis, dia kan bukan manusia kepo kayak lo" ucap Filla.


"Sip, gue suka jawaban lo" Yola memberikan kiss bye untuk Filla, kemudian melangkah mendekati Azam.


Azam mengamati mahluk disekitarnya, menyimak perdebatan receh mereka.


"Lo jahat banget sih La, sesama teman kita harus peduli" Nisa menyudutkan Yola, sebenarnya dia tidak ridho jika Abang gantengnya pulang bersama Yola. Masa gue harus dapet bekasnya Yola, pikirnya.


"Jangan ngadi ngadi deh lo Nis, saran lo nggak bermutu" Yola bersikukuh hendak pulang.


Icha menopang dagu, menikmati pemandangan didepannya. Filla tak mau ambil peran, bisa bisa dia yang jadi sasaran empuk baco*an Nisa.


"Kita kan sahabat masa lo nggak mau ikutan meeting kita sih, nggak solid banget jadi temen".


"Meeting apaan sih Nis orang nggak penting begitu" Yola geregetan dibuat Nisa.


"Udah deh Zam lo pulang duluan aja gih, kita masih ada perlu nih" Nisa mengabaikan Yola, jika ia tidak bisa menahan Yola setidaknya ia harus bisa mengusir Azam.


Yola melotot ke arah Nisa. Harusnya yang berhak menolak Azam dirinya, bukan Nisa kan dia yang diajak Azam.


"Oke deh gue pulang duluan. Yola gue duluan yah" pamit Azam.


Azam tak keberatan dengan pengusiran Nisa, dia justru senang. Ia sempat melihat ekspresi tidak terima dari Nisa, apakah itu sebuah kode dari Nisa?. Semula ia hanya iseng mengajak pulang bersama Yola, ia ingin mengetes Nisa, ternyata reaksi Nisa seperti yang diharapkan olehnya. Meski sempat terpikir jika Nisa mengabaikannya, Azam tidak akan memepermasalahkannya. Yola juga tak kalah cantik dengan Nisa, mendapatkanya? jelas syukur Alhamdulillah.

__ADS_1


Nisa tersenyum puas, Yess 1:0.


Yola menghembuskan nafasnya, mengalah. Ia mencium aroma persaingan diantara dirinya dengan Nisa. Yola janji akan membuat perhitungan dengannya, entah itu cepat atau lambat.Tujuan utamanya bersekolah di SMA Nusa Bhakti, sekolah favorit di Kotanya adalah untuk belajar. Jika dalam persaingan cogan dia bisa memenangkannya,itu hanya bonus untuknya, selebihnya ia hanya ingin lulus sekolah dengan nilai memuaskan ia mempunyai cita cita Menjadi dokter.


__ADS_2