
Pukul 05.00, jam wekker dinakas samping tempat tidur berdering nyaring.
Kriiiiing.....kriiiing...Kriiiingg
Entah sudah yang ke berapa kali jam berwarna pink itu berbunyi, membangunkan pemiliknya yang bebal bangun.
"Aaah brisik banget ***" ucap Nisa dongkol sebab mimpi indahnya telah terputus. Ia segera mematikan alarmnya, matanya sekilas melirik jarum jam.
"Masih pagi, tidur lagi aja dah" Ia pun menarik kembali selimutnya.
"Eeh tapi tunggu, cek notif dari doi dulu". Nisa meraba-raba ranjang sebelahnya yang kosong, mencari ponsel miliknya. Mata bundarnya membuka sempurna saat tak melihat notif apa pun yang di WhatsApp nya
"Anj*y ngilang kemana tuh anak". Baru saja digenggam, kini benda pipih itu telah melayang diudara beberapa detik sebelum jatuh lagi diranjang.
Nisa memejamkan matanya lagi, namun sayangnya rasa kantuknya telah menguap entah kemana.
"Sial, ngantuk lagi dong" rengek Nisa mempererat pelukannya ditubuh gendut boneka beruang pinky nya.
"Okey gue bangun" Nisa menegakan badannya setelah beberapa menit tak kunjung terlelap, mau tak mau ia pun mengalah bangun. Nisa mendengus kecil menuju kamar mandi. Membuka pakaian dengan malas. Walaupun mandi air hangat, hawa dingin tetap menyergap kulitnya saat ia usai mandi.
"Huuh dingin syekali" Nisa bergegas mempercepat gerakannya memakai baju, tak ingin mati membeku. Hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk Nisa bersiap-siap, Ia kini tengah menenteng tas punggungnya, berjalan menuju meja makan untuk sarapan.
"Pagi Ma" sapa Nisa basa-basi, menarik kursi kosong yanng berada didepan Dian lantas mendudukinya.
"Ju gha" balas Dian singkat, mulutnya telah penuh dengan roti tawar.
"Tumben udah rapi" cibir Dian setelah menelan makanannya.
"Muji apa menghina nih" tanya Nisa memperjelas.
"Dua-duanya dong" ucap Dian nyengir kuda.
"Rakus banget"
"Heis, enggak dong kan kalo satu-satu aku sayang kamu" Cengiran dibibir Dian semakin lebar melihat Nisa yang mati gaya tak menyahuti.
"Pantesan aja gue jago mbaperin anak orang, ada turunannya toh" batin Nisa menyadari bakatnya. Tangannya dengan gesit memasukan pucuk tangkupan roti tawar ke dalam mulutnya.
"Kamu nggak lagi kesambet ngelindur kan Nis?"
Nisa berdecak pelan,
"Ya enggak lah, Nisa udah sadar seratus persen".
"Tapi Mama kurang yakin" Tiba-tiba Dian memicingkan matanya, lalu mencubit lengan Nisa.
"Awww" Nisa berteriak kencang, meluapkan rasa sakit sekaligus terkejutnya.
"Bgaus, berarti enggak mimpi" jawab Dian dengan tampang polos.
"Ya ampun, gue cubit balik dosa nggak" gumam Nisa yang hanya bisa diutarakan dalam hatinya.
"Maaf Nis, ucapan tanpa pembuktian sama saja omong kosong" jelas Dian dengan tenang melanjutkan sarapannya.
"Emang janji doi harus dibuktiin segala" cecar Nisa.
"Iya dong biar afdol"
__ADS_1
"Terserah lah" ucap Nisa menyerah.
"Becanda Nis jangan manyun gitu dong"
"B aja tuh" jawab Nisa cuek.
" A aja gimana?"
"A? A apa Ma?"
"Ayang Azam gitu"
"Enggak ada" tukas Nisa cepat.
"Ada ko...."
"Nisa berangkat dulu Ma" potong Nisa lebih duku membuka suara, Ia tak ingin perutnya mual karena menelan bualan Mamanya.
"Iya sudah, hati-hati dijalan" jawab Dian tak mencegah Nisa.
Nisa mengangguk pelan. "Assalammu'alaikum".
"Wa'alaikumsalam".
Nisa menghembuskan nafas lega, mengeluarkan motor dari garasi rumahnya. Perasaannya tak tenang, Ia ingin segera sampai ke sekolah. Azam, entah mengapa pikirannya selalu terpusat padanya. Seolah ada magnet yang menariknya masuk ke sisi terdalam lubuk hatinya.
Tanpa pemanasan lebih dulu, Nisa mulai melajukan motor maticnya membelah jalan raya. Tanpa sadar sebuah senyuman terukir dibibirnya tak kala mengingat dirinya yang akan segera bertemu.
"Aduh Nisa, kek orgil baru aja lo" ucap Nisa lirih pada dirinya sendiri. Ia pun menambah kecepatan lajunya, memangkas jarak ke sekolah sedekat mungkin. Rindu dihatinya kian menumpuk.
Tak selang berapa lama Ia telah sampai disekolah, memakirkan motornya dengan rapi.
"Alhamdulilah nongol juga lo" seru Yola menyambut kedatangan Nisa dengan antusias. Ia menggandeng tangan Nisa masuk ke kelas dengan tergesa.
"Kenape? kangen lo sama gue?" ucap Nisa cuek.
"Aaaa kangen banget" jawab Yola dengan nada manja.
"Kangen ghibah bareng lo" sambung Yola jujur.
"Astaga, pagi-pagi udah ngajak maksiat" cerca Nisa cemberut.
"Hehe nggak gitu juga kali "
"Udah minggir gue mau duduk" Nisa melepaskan pegangan tangan Yola dijemarinya.
"Btw gue mau ngomong penting nih" ucap Yola dengan ada suara berubah serius, menahan gerakan Nisa yang hendak duduk.
Nisa Masih diposisi berdirinya Ia mengedarkan pandangannya menyapu sesisi kelas sembari menungu Yola bersuara.
"Ngomong apa" tanya Nisa cuek. Ia baru meletakan pantatnya dikursi bangku saat matanya tak menemukan sesuatu yang dicarinya, ada binar kegetiran yang terpancar dari sorot matanya.
"Lo kemarin ngapain sih sama Azam?"
"Kepo lo"
"Emang hehe" jawab Yola tanpa dosa.
__ADS_1
"Privasi"
"Yah sama temen kok gitu" desis Yola kecewa.
"Enggak semua masalah harus diumbar, ada kalanya juga perlu di simpan rapat. okey?"
"please dong kasi tau yah..yah" pinta Yola bersikukuh.
"Please kali ini aja ngerti"
Yola terdiam mengalah, Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga yang mengganggu penglihatannya. Mengamati Nisa dengan seksama.
"Lo kenapa Nis?"
"Nggak papa kok" Nisa menyandarkan tubuhnya yang terasa lemah tak bertulang.
"Kok lesu?"
"Ah enggak biasa aja"
"Lo belum makan?
"Udah"
"Ooo gue tau kenapa lo lemes gitu, pasti karna lo belum dapet asupan gombalan receh dari Azam kan?"
"Ya engak lah, apa hubungannya coba?" sahut Nisa tak terima. Ia mengambil buku paket asal, mengalihkan kegundahannya dengan belajar.
"Sellow dong sensi amat" Yola melipatkan tangannya didada ikut tersulut emosi.
"Ini nih yang namanya gejala rindu" sambungnya.
Nisa memasang ekspresi dingin, tak berselera menanggapi Yola. Ia kembali fokus pada materi dibuku paketnya.
"Gabut yah Nis" ledek Yola yang bersemangat menggoda Nisa membuatnya semakin kesal.
"Apaan si, bentar lagi UAS harus semangat belajar biar naik kelas" sanggah Nisa.
"Halah ulangan semester mah terlalu kecil buat otak lo yang lebih besar"
"Mana ada otak gue lebih gede, ukuran kepala kita aja sama"
"Gue tau pasti lo merasa kesepian kan? makanya pura-pura belajar buat pelampiasan. Padahal mah cuma buang kegabutan doang" tebak Yola panjang kali lebar tanpa jeda.
"Siapa sih yang gabut hah?"
"Ya elo lah, biasanya jam segini kan udah ada yang ngucapin met pagi sayang" timpal Yola dengan menirukan suara lebay Azam. Nisa memukul hampir saja memukul Yola dengan buku paket yang dibacanya, beruntung Ia masih memegang etika baik menghargai buku sebagai jembatan ilmu.
Atau kalo nggak pagi-pagi udah ada yang nanyain kabar, Aww so sweet" Yola menopang dagunya, bernostalgia dengan kebiasaan Azam yang rajin menyapa Nisa dengan gombalan.
"Ngawur aja kalo ngomong, gue lempar bom molotov baru tau rasa lo" ucap Nisa sebal dengan Yola yang terus menggodanya
"Ngawir tapi kok pipi lo merah?" Yola menaikan satu alisnya membuat Nisa salah tingkah. Nisa refleks memegang kedua pipinya.
"Cuma casingnya aja lo sok sebel, suak sewot cemberut padahal hatinya udah meleleh seperti mentega diwajan panas". Tawa Yolla membuncah, Ia sampai. harus menutup mulutnya agar air liurnya tidak muncrat.
Nisa melolotkan matanya tajam,
__ADS_1
"Bisa diem nggak?" tegas Nisa. Telinganya sejak tadi memanas mendengar ucapan Yola yang selalu dibenar kan hati kecilnya.
"Emang bener yah benci bisa jadi cinta" Yola menatap Nisa serius, menghentikan tawanya. Bukan karena kesal tak ditanggapi oleh Nisa, namun dadanya terasa sesak saat mengunngkapkan kalimatnya sendiri.