
Tak terasa sudah hampir tiga jam mereka berkumpul. Waktu menunjukan pukul 7 malam.
"Kita pamit pulang dulu yah" ucap Yola mewakili teman-temannya.
"Makasi ya udah mau jengukin gue." jawab Nisa sambil tersenyum.
"Sama-sama" ucap mereka serempak, lalu mengantri berpamitan.
"Gue pulang dulu, kalo kangen telpon aja siap siaga 24 jam"
"Uwu, saingan dong opertor seluler" ledek Nisa.
"La buruan dong gantian" seru Icha yang berdiri di belakang Yola menunggu giliran menyalami Nisa.
Yola mendengus pelan, lalu beranjak pergi.
"Syafakillah Bee" Icha tersenyum manis, lalu berlalu.
Nisa mengangguk hangat, ikut tersenyum.
"Banyakin istirahat jangan lupa makan yang banyak" Filla menyalami Nisa singkat, lalu tersenyum tipis.
Zen mendorong Aldo maju mendekati Nisa.
"Lo duluan" bisik Zen
"Lo aja deh" tolak Aldo gugup.
"Payah lo" Zen mengeser tubuh Aldo.
"Balik dulu Nis, kalo ada apa-apa kabari abang Aldo aja. Gue sibuk nggak punya waktu ngurusin orang susah"
"Sialan" Nisa menjitak kepala Zen.
"Aww" Zen berkelit menghindari jitakan kedua dari Nisa. Kini giliran Fian yang menyalami Nisa.
"Sering-sering sakit biar gue makan gratis"
"Astagfirullah, temen nggak ada akhlak" Nisa mendorong Fian maju tanpa membalas jabatan tangannya.
"Ckkk sombong nian awak" celetuk Fian melengos pergi.
"Biarin sombong asal sama monyet"
"Nisa mah bokek kalo mau dapet gratisan noh sama bos nya langsung" sambung Azam mengingat Yola yang mentraktir semua makanan pesanan mereka, membuat Nisa melototkan matanya.
Yola tertawa kecil,
"Guenya yang ogah sama dia" protesnya.
"Hahaha kayaknya lo sekarang bukan playboy lagi tapi sad boy" ucap Zen menepuk pelan pundak Fian.
"Ganteng udah, baik udah, tajir udah masih aja ditolak" Fian mengerucutkan bibirnya, memasang puppy eyes.
"Jangan ngaku ganteng kalo ditolak sebelum bertindak" ejek Ardan menambahi.
"Kompak bener nge bully gue. Inget kata pak Ustadz nggak boleh menindas orang ganteng nanti masuk neraka" sangkal Fian membela diri.
"Ayok cepet pulang keburu malem nih" ucap Yola mengingatkan.
"Gue pulang bukan ngilang jangan cari yang baru" Bisik Ardan lalu bersalaman singkat. Nisa terpaku ditempatnya mencerna kalimat Zen lamat-lamat.
Azam menatap Aldo sebentar bertanya melalui tatapan mata siapa yang hendak dulu berpamitan. Aldo mematung ditempat, kakinya terasa dilem ke bumi.
Zen menggeleng-gelengkan kepala saat Azam lebih dulu maju "Sumpah gue nggak bisa bayangin dulu mereka kencan kek gimana, cuma ndeketin aja Aldo udah grogi. Apa lagi yang lain-lain" batin Zen gemas dengan tingakh Aldo.
"Nis" Azam mengibaskan tangannya didepan wajah Nisa yang tampak melamun.
"Ehh..i..ya" Nisa terbata sadar dari lamunannya.
"Jaga kesehatan biar nggak sakit. Jaga hati jangan mau disakiti lagi. Jaga diri karena musuh dalam selimut bertebaran dimana-mana. Jaga daya tahan tubuh biar kuat menerima kenyataan" Azam mengelus puncak kepala Nisa, menatapnya serius.
Nisa mengangguk,
"Thanks"
Aldo gugup mendakati Nisa, jantungnya berdetak cepat dua kali lipat dari biasanya. Aldo terdiam beberapa saat, membuat suasana dramatis.
__ADS_1
"Aldo emang bener dulu benaran pernah pacaran sama Nisa?" tanya Zen berbisik pada Fian yang berdiri disebelahnya.
"Nggak tau, gue juga nggak yakin" balas Fian berbisik.
"Ketemu mantan aja udah kek ketemu setan. Berubah jadi orang gagu, gimana besok kalo ke penghulu? pingsan duluan kali yak" tambah Zen yang mulai jengah.
Aldo menarik nafas dalam-dalam, memberanikan diri.
"Gue pulang dulu yah" pamit Aldo sambil tersenyum simpul.
"Iya" Nisa balas tersenyum.
"Yuk pulang" Aldo bernafas lega telah menyapaikan ucapan pamitnya dengan lancar. Ia merangkul bahu Fian menuntun keluar ruangan.
"Kita pulang dulu Nis byee" ucap Yola berpamitan untuk terakhir kalinya.
"Byee" Nisa melambaikan tangannya, memgantar para tamunya sampai di pintu rumahnya.
"Ya ampun" Nisa tergesa menutup pintu saat semuanya telah menghilang dari pagar rumahnya. Ia teringat dengan Mamanya yang belum pulang bekerja.
Nisa dengan kilat menaiki tangga, berlari menuju kamarnya. Ia langsung mengecek ponselnya yang tertinggal diranjang saat berkumpul dengan teman-temannya diruang tamu.
"Maaf Nisa, Mama pulang agak larut hari ini. Kamu baik-baik dirumah yah".
"Alhamdulillah" Nisa bersyukur Mamanya baik-baik saja, buktinya beliau masih memberi kabar.
Nisa menghempaskan tubuhnya diranjang, melempat ponselnya ke sembarang arah ketika melihat tidak ada notif apa pun.
"Terus gue ngapain dong?" tanya Nisa pada dirinya sambil mengetuk-ngetuk dahinya dengan jari telunjuk, mencari inspirasi untuk mengisi kegabutan yang melandanya.
"Aha gue tau" seru Nisa bangkit dari rebahannya, melangkah menuju dapur mengambil kotak bekal yang diberikan Azam.
"Saatnya memanjakan mata" Nisa menyalakan lap topnya, mencari film drakor koleksinya. Ia menekan menu play, kemudian mengambil posisi tidur tengkurap diganjal bantal pada lehernya.
Nisa mengambil potongan brownis nya, menggigit kecil.
"Enak" Nisa dengan lahap memasukan sisa gigitan brownis nya ke dalam mulut.
beberapa menit berlalu, Nisa menyingkirkan kotak bekal dengan isi yang tinggal separuh diatas nakas. Ia ingin fokus menonton saat film tengah mencapai konflik.
"Aww" Nisa meringis sakit, perutnya terasa mules. Ia tergesa berlari ke kamar mandi.
"Gila sakit banget" Nisa berjalan tertatih keluar dari toilet. Namun sialnya perutnya memberontak agar dirinya dibawa kembali kedalam toilet.
"Gue kan cuma makan brownies kok bisa bikin melilit" gerutu Nisa sambil jongkok dikloset.
"Sejak kapan makanan manis bikin diare sih?" ucap Nisa yang kini telah keluar lagi dari toilet. Ia buru-buru mencari kotak obat dikamarnya, mengambil obat diare lalu meminumnya.
Nisa mengambil ponselnya menghubungi seseorang yang untuk meminta pertanggung jawaban.
"Zam becanda lo nggak lucu ih" seru Nisa sebal sambil memegangi perutnya tak kala panggilan selularnya telah tersambungm
"Hah apaan si" tanya Azam bingung.
"Lo kasih tambahan pangan apa ke brownis itu?"
"Nggak gue tambahin apa-apa, emang kenapa?"
"Ngaku aja deh"
"Cuma gue kasi sedikit cinta kok"
"Pantes" sungut Nisa.
"Kenapa? enak?"
"Enak banget sampe bikin mules" Nisa pun menutup teleponnya, isi didalam perutnya bergejolak tak karuan ingin dikeluarkan.
"Astaga perut gue" Nisa meringis menahan sakit. Seusainya, Ia kembali menghubungi Azam.
"Nis lo kenapa?" tanya Azam panik dari setelah panggilan telepon dimatikan sebelah pihak.
"Perut gue mules nj*r"
"Kok bisa?"
"Gara-gara brownis lo tuh"
__ADS_1
"Itu makanan bukan dari gue, tapi dari Aldo" jujur Azam tak mau disalahkan.
"Jangan lempar batu sembunyi tangan.Tadi lo nggak bilang gitu" ucap Nisa kesal.
"Serius Nis. Tadi Aldo ke kelas nitip kotak bekal ke Filla. Dan Ia nyuruh gue buat ngasih ke elo" papar Azam menjelaskan.
"Perut gue rasanya nano-nano nih"
"Udah minum obat?"
"Udah, tapi belum ngefek"
"Emang lo ga ada makan yang lain?"
"Enggak ada, gue lagi rebahan di kamar sambil makan tuh brownis, habis itu perut gue melilit"
"Apa jangan-jangan ini ulah Filla?" gumam Azam pada dirinya sendiri.
"Heh jangn nuduh sembarangan" seru Nisa cepat yang mendengar gumaman Azam.
"Lo aja nuduh gue seenak jidat lo"
"Tapi nggak mungkin dong Filla" ucap Nisa tak percaya.
"Emang lo lupa? dia aja tega ngehajar lo. Apa lagi cuma ngeracunin lo kecil mah buat dia"
"Tapi...masa iya Filla? nggak mungkin dia tega sama temen sendiri"
"Iya emang temen, temen laknat"
"Jangan su'udzon Zam. Lo nggak punya bukti apa-apa"
"Bukannya nggak punya tapi belum. Gue yakin ini ulah manusia ular itu". Tandas Azam..
"Itu brownis masih ada?"
"Masih lah, gue baru makan enam potong aja udah melilit"
"Bagus, besok lo bawa sisanya ke sekolah"
"Mau buat apa?"
"Mau gue jadiin barang bukti"
"Gimana caranya?"
"Kepo lo"
"Zam jangan aneh-aneh" ucap Nisa khawatir.
"Santai aja "
"Udah deh lupain aja gue nggak papa kok" sahut Nisa was-was pada Azam yang pasti tidak tinggal diam.
"Enggak bisa gitu dong. Ini udah tindak krimimal harus diproses secara hukum"
"Astaga Zam ini cuma masalah sepele lagian lo nggak punya bukti apa-apa" seru Nisa panik.
"Lo tenang aja. Ngapain lo mikirin Filla"
"Zam dia temen gue, gue nggak mungkin diem aja lo ngelakuin sesuatu ke dia"
"Aduh Nis, jangan sibuk khawatirin orang lain. Pikirin diri lo sendiri. Siapin mental lo biar siap menerima kenyataan, saat tau siapa sesungguhnya orang yang lo sebut temen itu"
Nisa mengigit bibir, ragu terhadap asumsi Azam.
"Gue saranin lo besarin hati lo mulai sekarang"
Nisa menghela nafas tidak mau ambil pusing.
"Gue tidur dulu yah, udah malem" ucap Nisa lirih seolah mengantuk.
"Iya. Selamat tidur. Good night and have a nice dreams. Love you Bee" Azam pun mengakhiri sambungan teleponnya.
Nisa merebahkan tubuhnya diranjang. Matanya terpejam rapat merasakan berbagai kecambuk perasaan yang menghampirinya. Antara percaya dan ragu dengan ucapan Azam. Sebenarnya Ia tak ingin memperpanjang masalah namun Nisa sendiri juga penasaran.
"Apa mungkin Filla tega ngelakuin ini ke gue? tapi kenapa?". Nisa mengusap wajah menyingkirkan pikiran negatifnya.
__ADS_1