Cerita Cinta Masa SMA

Cerita Cinta Masa SMA
Bab 38 Memanfaatkan keadaan


__ADS_3

Nisa berjalan gugup menuju sekolahnya. Semalam ia sulit tertidur membuatnya bangun kesiangan. Pukul setengah tujuh pagi tepat saat Nisa turun dari angkot yang ditumpanginya.


Nisa membalikan badannya lagi, berharap ada seserang yang ia kenal dari arah belakang agar bisa ikut menumpang ke sekolah.


"Azaaammm" teriak Nisa kencang tangannya melambai-lambai semangat berharap seseorang yang dipanggilnya bisa melihat dari kaca spion mobil yang ditumpanginya.


Beruntung pendengaran Azam masih tajam, ia segera menghentikan mobilnya pas didepan Nisa.


"Kenapa?" tanyanya cuek.


Nisa hanya memamerkan senyum manis miliknya, berharap Azam peka.


"Apaan sih? lo mau pamer kalo lo udah berubah jadi gila makannya senyum-senyum sendiri?"


"Enggak kok Zam, Nisa masih waras" ucap Nisa pelan berusaha bersabar untuk tidak mendaprat Azam.


"Gue enggak lagi salah dengerkan?"


"Enggak, emang apanya yang salah? Nisa balik bertanya tidak mengerti.


"Sama ucapan lo barusan, kenapa lo jadi lemah lembut gini?"


"Oh itu enggak kok, walaupun hasil sidang kemaren memutuskan kalo lo emang fix budeg dari pada gue, tapi gue jamin seratus persen dikali seratus kalo lo enggak salah denger"


"Lo udah insyaf?"


"Emang lo pikir gue pelaku kriminal?" cecar Nisa yang mulai meradang.


"Tumben lo ngomong manis banget, coba aja kayak gini setiap hari pasti adem hati gue" Celetuk Azam berharap.


"Nisa kan emang udah manis dari dulu, emang Azam enggak sadar?" jelas Nisa lembut.


"Iya, gue aja udah jadi penderita diabet semenjak ada lo"


Nisa tersenyum paksa mendengar penuturan Azam, ingin sekali mencakar muka Azam saat ini.


"Kenapa manggil gue?" tanya Azam langsung ke topik pembicaraan.


"Cuma manggil aja, enggak boleh yah" seru Nisa lirih. Ia memasang wajah sendu, sebanarnya dia ingin menumpang ke dalam mobil Azam tetapi setelah melihat raut sengak diwajah Azam membuatnya urung.


"Gue kira lo kangen sama gue"


"Iya nih udah lama kan kita enggak ketemu" Nisa tersenyum tanggung memegang perutnya, kalimat yang ia lontarkan membuatnya mulai sendiri.


"Wiih serius?" Azam menyadari baru sehari mereka tidak bertemu karena hari libur nasional.


"Iya, gue duluan yah udah mau telat nih" Nisa melancar aksi pertamanya.


"Kenapa enggak bareng gue aja?" tawar Azam yang masih ingin mengobrol dengan Nisa. Yess Nisa berseru riang dalam hati berhasil memancing Azam.Ia sendiri sebenarnya gengsi untuk meminta tumpangan kepada Azam takut jika lelaki itu baper padanya.


"Nisa beneran boleh numpang sampe kesekolah?" Nisa mengulai pernyataan Azam, Ia memasang wajah se cute mungkin untuk meluluhkan Azam agar yakin memberinya tumpangan mengingat dirinya yang jarang akur dengan Azam.


"Kenapa cuma sampe kesekolah? sampe KUA sekalian juga boleh"


"Engga perlu Zam makasih, nanti yang dateng bukannya Pak penghulu malah Pak Jay" jawab Nisa sambil memberi penekanan pada kata Pak Jay.

__ADS_1


Azam menelan ludah, mendengar nama Pak Jay disebut membuat bulu kuduknya berdiri. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi jika terlambat maka mereka harus siap menerima hukuman spesial dari Pak Jay. Seorang guru bahasa inggris yang juga menjabat sebagi Waka Kesiswaan.


"Ya udah buruan masuk"


"Okey dengan senang hati" Nisa membuka pelan pintu bagian belakang mobil Azam. Dalam hati ia tertawa puas telah berhasil menyumpal mulut Azam.


"Btw lo hari ini beda banget" ucap Azam ia melirik Nisa seklilas.


"Beda kenapa?"


"Ya beda aja, lo berubah jadi kalem "


"Hahhhhaha" Nisa meledakan tawanya.


"Ya jelaslah ada maunya" seru Nisa lantang tidak peduli keheranan diwajah Azam.


"Maksud lo?"


"Itu karena gue mau numpang sama lo, kalo enggak juga gue ogah sok kalem sama lo" ungkap Nisa jujur tidak ingin bersandiwara palsu lebih lama. Dia lebih menyukai menjadi dirinya sendiri.


"Sial, jadi lo cuma mau manfaatin gue?"


"Ya iya lah"


"Jadi lo nipu gue sama tampang polos lo?"


"Lo nya aja yang gampang banget dibodohin" jawab Nisa sengak muncul sifat aslinya yang bar-bar.


"hiks sungguh terlalu".Azam mengalihkan padangannya ke arah jalanan yang dilaluinya hatinya sedang hancur, ketulusannya dibalas dengan kepalsuan.


"Dih nggak sadar diri lo, gue sama lo aja gantengan gue" seru Azam menyombongkan diri.


"Itu karena gue belum oplas,coba aja kalo udah, beuhhh lo bakal naksir sama ketampanan gue"


"Emang lo mau trasngender?"


"Iya"


"jangan dong"


"Kenapa?"


"Nanti kita enggak bisa bersama"


"anj*r lo kira gue mau sama lo"


"Mau lah" seru Azam yakin. Ia menatap Nisa sekejap.


"Kenyataannya sekarang lo lagi sama gue kan?"


"Ini karena kepepet, GR banget lo" sanggah Nisa cepet.


"Engga papa deh, bisa jadi kan ini awal pertama kita untuk bersama? sekarang dan seterusnya"


"Lo ngelindur? Nisa menepuk pipi Azam agak keras "Gue bangunin deh kalo gitu"

__ADS_1


"Sakit pea" Azam mengeleus pelan bekas tamparan Nisa.


"Eh tunggu dulu" Nisa memberikan jeda ucapannya, serius mengamati wajh Azam.


"Astaga, ini seriusan elo Zam?" Nisa meraba-raba wajah Azam seolah baru sadar.


"Iya lah, kenapa? baru sadar kalo gue ganteng?"


"Enggak bukan gitu, gue pikir tadi arwah lo lagi gentayangan"


"Lo belum mati?" tanya Nisa lagi semaunya.


"Gue masih hidup, nyatanya lo masih hidup juga kan?"


"Apa bubungannya sama gue?" tanya Nisa heran.


"Kan gue sehidup semati sama lo"


"Gila siapa juga yang mati bareng lo, kalo mau mati ya mati aja jangan bawa-bawa gue"


"Gue kan mau se Surga sama lo, emang lo mau gue udah disurga lo masih susah didunia"


"Dih ogah, gue maunya satu surga sama calon imam gue"


"Jangan kebanyakan ngehalu " cerca Azam memutus senyuman diwajah Nisa.


"Biarin, soalnya relita nggak seindah ekpekstasi"


"Udah kita jalani aja dulu masalah jodoh itu urusan nanti" ujar Azam menyakinkan Nisa.


"Lo jalanin aja sendiri, gue masih bocil mau sekolah dulu" Nisa menyondongkan badanya bersiap untuk turun saat mobil Azam sudah tertata rapi di parkiran sekolah.


"Nisa masuk kelas dulu om, selamat menjalani takdir dengan calon jodoh" Ucap Nisa santai keluar pergi meninggalkan Azam.


"Sial" Azam merutuki Nisa dalam hati. Ia dengan sigap mengejar Nisa.


"Lo enggak mau berterima kasih sama gue?" Azam berusaha mensejajari langkah Nisa.


"Buat?"


"Gue udah kasi lo tumpangan dan ini balesan lo? ninggalin gue seenaknya" omel Azam sambil mengacak-acak puncak kepala Nisa.


"Lo sendiri kan yang nawarin? kenapa sekarang jadi ngemis terima kasih dari gue?"


Azam berdecak kesal,


"Dasar engga punya hati lo" serunya, Ia melangkah mendahului Nisa.


"Gimana gue mau punya hati, hati gue aja udah lo curi"


Azam mematung ditempatnya mencerna kalimat Nisa baik-baik, jiwanya seperti melayang diatas bunga- bunga. Nisa berhenti sebentar disamping Azam membisikan sesuatu,


"Tapi sayangnya lo engga berhasil, lo belum handal jadi maling, masih kelas teri" lanjut Nisa, kemudian tertawa keras melihat ekspresi down diwajah Azam. Meski dalam hati kecilnya Nisa tidak ingin berkata seenaknya dengan Azam namun fakta mengatakan bahwa Azam menyukai dirinya membuatnya harus berhati-hati dalam berbicara. Jika biasanya ia bercanda bebas dengan Zen atau Fian, tetapi kali ini dia harus mengontrol ucapannya jangan sampai membuat Azam semakin menyukainya


. Nisa sebenarnya tidak terlalu yakin dengan rasa yang Azam miliki, tetapi entah mengapa matanya selalu menangkap "sesuatu" dimatanya saat Azam memandangnya. Nisa menghembuskan nafasnya pelan semoga feelingnya keliru, dia tidak ingin ada seseorang yang membuka hati untuk dirinya sedangkan dirinya masih menutup hati untuk orang lain. Ingin dekat namun takut hanya cerita singkat yang didapat.

__ADS_1


__ADS_2