
"Minumlah, habiskan isi gelas itu dan permalukan dirimu perempuan kampung." Mi Young berkata dalam hati sambil mengawasi Joelin dengan senyuman jahat.
\\*
"Unni, lihat disana" O Sol menunjuk Mi Young yang berdekat mendekati Joelin.
Tanpa banyak kata, kedua gadis itu langsung memburu langkah, seolah mereka sama-sama paham bahwa Mi Young akan melakukan sesuatu yang buruk.
Joelin baru saja berencana ingin meminum jus yang diberikan gadis asing tadi, namun sebuah suara menghentikannya.
"Kakak ipar."
"O Sol?" Joelin mengalihkan pandangannya pada sang adik ipar. "Kenapa gadis itu selalu menempel pada O Sol?" gumam Joelin dalam hati, raut wajahnya kini berubah jadi dingin.
"Jangan meminumnya kakak ipar. Wanita iblis ini pasti sedang menjebakmu." ujar So Ran membuka pembicaraan.
"Menjebak katamu? bukannya kamu yang ingin merusak acara pernikahanku dengan menciptakan drama ini?" tanya Joelin dalam hati.
"Kakak ipar, percayalah pada So Ran unni." O Sol mencoba meraih gelas di tangan Joelin.
"Kakak ipar, jangan dengarkan mereka. Mereka memfitnahku." Mi Young mencoba membela diri, tak lupa dia juga memasang wajah sedih tak berdosa.
"Dasar wanita rubah.... cih..." So Ran berdecih tanda tak suka.
"Gadis ini betul-betul kasar. Seperti yang dikatakan Mi Young semuanya benar." Kesimpulan yang akhirnya dibuat oleh Joelin saat melihat perilaku So Ran.
"Minuman ini baik-baik saja. O Sol tidak perlu khawatir begitu. Selamat menikmati pesta." ujar Joelin masih tak mau melepaskan gelasnya.
"Kakak ipar, kumohon percayalah." O Sol mulai meninggikan suaranya hingga menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.
"Ada apa sayang?" tanya Mickey yang kini mendekati Joelin.
"Oppa, Mi Young ingin menjebak kakak ipar." So Ran bicara dengan lugas dsn percaya diri.
"Menjebak bagaimana?" tanya Joelin. "Jelas-Jelas kamu yang tidak menyukai pernikahan ini." bergumam dalam hati.
"So Ran, jangan memfitnahku. Kau tidak punya bukti." tuduh Mi Young seolah berada di atas angin.
"Kalaupun dia tidak meminum jus itu, setidaknya aku bisa memancing emosi gadis jelek ini hingga dia mempermalukan dirinya sendiri." Mi Young bergumam licik di dalam hatinya.
"Kau butuh bukti? Minum sendiri Jus ini, dan buktikan pada kami bahwa kau tidak merencanakan sesuatu." kehabisan kesabarannya So Ran menarik gelas di tangan Joelin dan menyodorkannya pada Mi Young.
"A... aku.. aku tidak haus." ujar Mi Young terkejut dengan serangan tidak terduga dari So Ran.
"Minumlah. Bukan kah aku sudah memperingatkan mu agar tidak membuat keributan? buktikan jika memang kau tidak berniat jahat pada istriku." kalimat Mickey mendukung So Ran.
"Bahkan Mickey sungguh berada di pihak gadis ini. Aku sebenarnya siapa diantara kalian? Apa aku tidak terlihat?" Joelin yang larut dalam prasangka pun memasang wajah sedih.
"Sial*n, ini namanya senjata makan tuan." Mi Young mengumpat dalam hati.
Demi harga diri, gadis itu langsung meneguk habis jus yang tadi sudah dia bubuhi obat merangsang dengan dosis tinggi.
"Puas? Aku sudah meminumnya. Apakah aku selalu terlihat jahat di matamu So Ran? Permisi..." Mi Young segera meninggalkan tempat itu, sebelum obat yang dia gunakan tadi beraksi.
__ADS_1
"Min Ho-aaa, tolong ikuti dia. Awasi dan rekam apa yang dia lakukan selanjutnya." ujar Mickey pada Min Ho yang sejak tadi sudah bergabung dengan mereka.
"Oke.." pria itu berlalu.
"Sayang, ini adalah hari pernikahan kita. Maaf jika membuatmu kesal." ujar Mickey saat menyadari raut tidak nyaman di wajah Joelin.
"Siapa dia?" tanya Joelin sambil menatap So Ran dingin.
"Jangan mencurigainya, pengacau yang sesungguhnya sudah pergi. Ayok menyapa para tamu. Percaya padaku, aku akan menjelaskan semuanya nanti." ujar Mickey menggandeng Joelin dengan tangan kanannya. Sementara lengan kirinya mendekap Lucy yang sedang lelap.
"Aku sedang merasa bingung. Apa aku bisa percaya kata-katamu Mickey? Apa benar gadis itu bukan pengganggu? Kenapa kau membelanya? Apa kau sengaja ingin menyingkirkan gadis yang berpihak padaku untuk melindungi gadis itu?" kepala Joelin dipenuhi berbagai pertanyaan.
Acara resepsi pernikahan berjalan lancar walau Joelin hanya memasang senyum palsu.
\*
"Sayang, apa kau masih memikirkan Mi Young?" Mickey yang sedang mengeringkan rambut Joelin membuka suara.
"Kau sengaja menjauhkannya dari acara kita?"
"Tentu saja."
"Kenapa Mickey? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
"So Ran dan Mi Young tumbuh bersama. Dulu kami tinggal di daerah yang sama."
Seolah paham akan isi kepala Joelin saat ini, Mickey memilih menjelaskan semuanya pada sang istri. Seluk beluk hubungannya dengan So Ran dan Mi Young, juga sikap licik Mi Young. Joelin hanya diam, tak menanggapi sedikitpun bahkan saat Mickey selesai bercerita.
drttt...drtt...
ponsel Mickey berdering, pria itu segera memeriksa ponselnya.
"Yes, dengan begini masalah akan beres. Terimakasih Min Ho." Mickey bersyukur dalam hati.
"Sayang, lihat ini." Mickey menyerahkan ponselnya pada Joelin yang masih duduk menghadap cermin rias.
Joelin mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang kini ada ditangannya.
"Kenapa dia?" wanita itu akhirnya buka suara.
"Maksudmu Mi Young?"
"Ya.."
"Dia sedang kepanasan."
"Aku tahu Mike, tapi kenapa dia kepanasan?"
"Karena minuman yang dia berikan padamu sudah dicampur dengan obat perangsang sayang. Jika kamu meminumnya, acara kita akan kacau. Itulah yang diinginkan Mi Young."
"Lalu So Ran?" tanya Joelin masih tidak seutuhnya percaya pada kalimat Mickey.
"Apa yang membuatmu begitu meragukan So Ran?"
__ADS_1
"Mi Young mengatakan padaku, bahwa kau pernah berjanji untuk menikahinya."
"Hahahaha... Dan kau percaya pada gadis licik ini?" Tawa Mickey menggema mengisi kamar.
"Jangan berisik, Lucy bisa bangun."
"Hei, kau sefrustasi itu sampai tidak sadar putrimu sejak tadi sudah dilarikan neneknya?"
"oh..."
"Tentang So Ran, aku berkata begitu hanya untuk membalas kejahatan Mi Young. Dulu gadis itu selalu menyakiti So Ran."
"Apa aku bisa mempercayai mu?"
"Tentu saja, aku ini suamimu." Mickey melebarkan tangannya, memberi kode pada Joelin agar sang istri datang dalam pelukannya.
"Kenapa ada begitu banyak wanita di sekitarmu Mike? Kau tahu, aku sangat kesal karena mereka masih saja muncul walau kau sudah jadi suamiku. Apa hubungan kita tidak berpengaruh apa-apa?" Secara terang-terangan Joelin menyampaikan rasa cemburunya.
"Aku senang, istriku sedang cemburu. Kemari lah.." Mickey lalu memeluk Joelin sambil berdiri di dekat cermin rias.
"Maaf sudah tidak percaya padamu. Jelas-jelas wanita itu yang licik, tapi aku malah meragukan cintamu. Apapun yang terjadi kedepannya aku akan selalu percaya padamu Mickey, kau adalah rumahku. Bagiku pulang adalah kembali padamu."
"Jangan melamun, apa kau akan melamun di malam pernikahan kita?" tanya Mickey yang kini sudah menyentuh dagu Joelin agar menghadap ke wajahnya.
"Tentu saja aku akan tidur malam ini. Ayok kita ambil Lucy dari ibu mertua.."
"stttt... biarkan Lucy dengan mereka." ujar Mickey sambil meletakkan salah satu jarinya di bibir Joelin.
"Apa maksudmu?"
"Ini malam pengantin kita sayang, ayok merayakannya." ujar Mickey penuh arti.
"Kita sudah mengadakan perayaan sepanjang hari Mickey."
"Kita masih memiliki bagian penutup yang tersisa." jawab Mickey santai sambil menggendong sang istri pindah ke atas tempat tidur.
"Apa maksudmu?"
"Kau paham maksudku sayang. Jangan berpura-pura." Mickey mulai mengecup kening Joelin.
"Mickey, aku sedang kehabisan pill pencegah kehamilan. Jika kita melakukannya sekarang, aku bisa saja hamil." Joelin berusaha menghentikan Mickey.
"Tidak, tidak akan hamil sayang, hanya sekali kan? peluangnya sangat kecil. Percaya padaku." Mickey mulai membujuk.
"hmmmm..." Joelin menatap sang suami ragu. Dia tidak tega menolak Mickey, namun dia juga belum siap hamil di usia Lucy yang masih menjajaki bulan ke empat.
"Baiklah..."
Bagian penutup acara pernikahan pun dimulai. Sepasang mempelai yang sudah lama sah hidup sebagai suami istri itu pun bergelut dengan malam yang kini sudah berganti hari. Keduanya sibuk merayakan sesuatu yang disebut cinta.
**Author POV
Hi semuanya, makasih ya sudah stay.
Mohon maaf kalau belum bisa nulis sesuatu yang buat kalian gregetan, gemas dan suka..
Mungkin itu alasannya novel ini sepi vote dan like. Walaupun saya sangat berharap dukungan vote yang banyak, saya juga tidak bisa memaksa readers di sini. kalian masih bertahan membaca sejauh ini, saya sangat berterima kasih.
__ADS_1
-best**-