Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Sosok Kurus dan Ringkih


__ADS_3

"Apakah kau baik-baik saja Joelin?" tanya Mickey dalam hati.


 


\*


 


Medan kota yang lumayan ramai walau tak sepadat Jakarta. Di salah satu tepi jalan raya, sosok itu tengah berjalan dibawah terik matahari. Tak jarang dia menggerakkan tangannya mengusap peluh yang membanjiri wajahnya. Salah satu tangannya sibuk menentong kantong plastik yang kelihatannya berisi beberapa sayuran.


Langkah-langkah kecilnya lalu berhenti di sebuah gedung yang bagian depannya bertuliskan menerima anak kos. Sambil menghela nafas dalam-dalam dia melangkah masuk ke gedung itu.


"Kau baru pulang Joe?" tanya seorang pria berwajah cantik pada gadis itu.


"Iya nih. Loe udah berapa lama sih di sini?" tanya Joelin serius sambil memandang pria itu.


"Apa kau tanya-tanya begitu ha?"


"Bahasa mu itu, sudah mirip orang Medan asli." Joelin sedikit tersenyum.


"Ah, setidaknya gue bisa lihat senyum loe lagi. Hehehe.. Sana masuk, istirahat wajah loe kayak kelelahan banget nggak kuat gue lihatnya." ujar pria itu dengan gaya centil nya.


"Eh Dion, loe ya. Belum malam udah kambuh. Nak jangan ikut-ikut om Dion ya." ujar Joelin geli dengan tingkah temannya itu.


"Hahaha... Sudah sana masuk. Gue mau kerja nih, bentar lagi masuk." ujar Dion sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. (*kalau penasaran si Dion ini siapa, dia adalah teman kerja Joelin sebelum ke korea. Kalian bisa baca part 1.*)


Joelin menyusuri koridor gedung itu, menjauh dari tempatnya berbincang dengan Doni barusan. Dengan gerakan hati-hati dia menaiki anak tangga menuju lantai dua. Wanita itu berhenti di depan pintu yang terletak paling ujung. Setelah membuka pintu Joelin melangkah ke dalam ruangan berukuran 4 x 4 itu.


Kamar kost Joelin sangatlah sederhana, sebuah tempat tidur ukuran sedang, lemari kecil dan kamar mandi di dalam nya. Kost yang ditempati Joelin terbilang berharga cukuo murah, dalam kedung itu juga terdapat dapur umum terletak di ujung lorong setiap lantai. Gedung berlantai tiga itu di huni oleh puluhan anak kost yang sibuk sebagai mahasiswa dan pekerja. Joelin bisa tinggal disana dengan bantuan Dion.


Setelah membersihkan diri Joelin langsung duduk santai di atas tempat tidurnya. Namun tiba-tiba wanita itu berlari ke kamar mandi, dan memuntahkan cairan bening. Dengan tubuh lemah Joelin kembali ke tempat tidurnya.


"eh..eh...kek nya anak baru itu hamil deh."


"kau jangan bicara sembarang coi."


"kau nggak dengar tadi suara mual-mual dari kamarnya?"


"iya aku dengar, mungkin masuk angin lo."


"aku sering dengar dia mual-mual. Mana ada masuk angin sesreing itu. Padahal wajahnya masih muda. Apa mungkin dia ayam kampus? atau jangan-jangan dihamilin pacarnya terus ditinggal dia."


"Jangan bicara sembarangan. Cepat kau jalan sikit, udah terlambat aku ini."


Joelin menghela nafas mendengar suara itu kian menjauh.

__ADS_1


"Harusnya tadi pintunya dikunci." gumamnya sambil mengelus perutnya yang mulai kelihatan berisi.


Tak terasa air mata mengalir membasahi pipinya.


"Besok lusa mungkin akan lebih banyak orang yang menuduh kita seperti tadi, kamu jangan dengar omongan-omongan buruk seperti itu ya sayang." Joelin berbicara pelan sambil mengelus perutnya.


Masih dengan air matanya Joelin bergegas memeriksa salah satu tas tangan yang terletak di dalam lemari kecil. Joelin mengeluarkan sebuah rekening tabungan dari tas itu.


"Masih kurang, kamu yang sabar ya. Mama bakal bekerja lebih keras dan rajin, supaya kita bisa ketemu Appa." ucap Joelin dengan suara bergetar sambil memandang nominal uang di rekening bank nya.


Joelin menyimpan kembali buku tabungan dan tas itu, kemudian meraih sebuah buku kecil dan membawa ke ranjangnya. Gadis itu akhirnya sibuk menulis sesuatu.


*Bagiku pulang adalah kembali bersamamu, tanpa peduli harus berapa banyak kehilangan yang harus kulalui.


Gadis miskin sepertiku memang tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengejar mu, ongkos menuju kediamanmu punya, lagi skill untuk memenangkan hatimu.


But, Appa i miss you. Aku hanya ingin menemui mu dan tetap bersamamu.


Love,


Joelin*


 


Setelah menumpahkan isi hatinya Joelin terlelap dengan wajah sembab akibat menangis.


\*


 


"Mr. tolong menyetir dengan pelan." pinta Mickey pada supir taksi itu.


Sang supir lalu menurunkan laju mobil yang dia kendarai.


"dari mana?" tanya sang supir basa-basi.


"Hotel"


"I mean, negara kamu."


"Saya dari korea."


"Sedang liburan?"


Mickey hanya menjawab pertanyaan itu dengan menggeleng, sambil tersenyum getir.

__ADS_1


"Apapun masalah kamu, saya harap semua bisa segera selesai dengan baik." gumam san supir.


Mickey yang tidak begitu mengerti arti kalimat yang baru saja di dengar nya hanya bisa mengangguk sambil mengedarkan pamdamgamnya keluar menembus kaca mobil itu, berharap dia dapat menemukan jejak Joelin. Namun sesaat konsentrasinya teralihkan oleh sebuah panggilan.


Goedan calling,


Mickey menatap ponselnya singkat, lalu segera menjawab panggilan itu.


"Mickey aku menemukan alamatnya." ujar suara di seberang sana terdengar lega.


"Kau yakin, segera kirim padaku." jawab Mickey tak sabar.


"Dimana posisiku sekarang?"


"Aku kurang tahu sedang naik taksi."


"Baiklah, aku akan kirim alamatnya. Tunjukkan pada sopir taksimu. oke?"


"Terimakasih Goedan."


Mickey langsung memutuskan panggilan telepon itu. Dalam hitungan detik, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


"Sir, antar saya ke alamat ini." pinta Mickey.


Sang supir mengangguk paham, dan dengan gerakan pasti dia mengendarai mobilnya, membawa Mickey ke alamat yang tertuju di ponselnya.


Taksi yang di kendarai oleh Mickey akhirnya berhenti di depan sebuah gedung bercat cream dan berpagar besi. Setelah turun dari taksi dan membayar ongkosnya, Mickey memandangi gedung itu.


"Apakah sembarangan orang boleh masuk?" gumamnya dalam hati.


"Hi oppa..." beberapa gadis yang berlalu lalalng keluar masuk gedung itu menyapanya. Mickey sedikit risih, apa semua gadis-gadis di sini sungguh bisa mengetahui dia dari korea hanya dengan melihat wajahnya saja.


Sudah hampir setengah jam, Mickey masih berdiri di depan gedung itu dan berjalan ke sana kemari. Dia ingin masuk, namun sangat ragu apakah langsung menerobos masuk adalah hal yang baik atau tidak. Dia ingin bertanya, namun terlampau takut dengan pandangan orang-orang yang tajam seolah mengulitinya, ditambah lagi sikap terlalu ramah beberapa orang yang langsung menyapanya oppa membuat perasaan Mickey tidak nyaman.


"Bagaimana ini?" tanya Mickey pada diri sendiri. Dia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


-kreeeek- terdengar pagi besi itu kembali berbunyi bising, tanda seseorang sedang membukanya dari dalam.


Mickey sedikit menunduk, takut jika nanti dia di sapa oppa lagi. Namun dengan ujung matanya dia masih mengawasi sosok yang sedang berjuang membuka pintu itu.


Pagar besi terbuka sedikit, dari dalam menyembul sebuah kepala, di susul oleh tubuh yang terlihat kurus dan ringkih. Salah satu tangannya menenteng kantong plastik. Dengan langkah panjang Mickey menghampiri sosok itu dan segera memeluknya erat, sebelum air matanya tumpah.


Pengumuman


**Hai, bagaimana nih part ini? Kalian suka nggak?

__ADS_1


tolong tetap support cerita ini dengan memberi like, komen dan vote yang banyak ya. Thanks.


~best**~


__ADS_2