Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Tersenyum


__ADS_3

"Iya iya. Bye." Jawab Mickey langsung memutuskan sambungan telepon mereka.


Seusai berbicara dengan Joelin, lelaki itu memutuskan langsung bergegas kembali menuju kediaman orangtuanya.


Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam dengan kereta api dan menaiki bus selama 15 menit akhirnya Mickey tiba dikampung halamannya. Yah, lelaki itu bukan anak kota metropolitan. Keluarganya tinggal dipinggiran sebuah kota. Ibu Mickey bekerja sebagai dokter di daerah itu, sementara ayahnya hanyalah tukang bangunan. Bisa dikatakan bahwa Mickey bukalah anak yang bergelimang harta seperti Jee Na, Mark, Bill dan Si An. Rumah yang ditempati Mickey selama kuliah adalah warisan dari orang tua ibunya. Mickey juga memiliki seorang adik perempuan, yang kini masih duduk di bang ku universitas. Mereka tidak begitu dekat. Adik Mickey bahkan tidak menghiraukan kedatangan Mickey, gadis itu hanya sibuk dengan dunianya sendiri dikamar.


Setiba dirumah, Mickey yang tidak bisa menemukan orang tuanya memutuskan untuk masuk kedalam kamar. Seusai membersihkan tubuhnya dikamar mandi, pria itu memutuskan untuk beristirahat didalam kamar.


Mickey tidur sangat nyenyak, hingga Ibunya datang untuk membangunkannya dan mengajak makan malam. Setelah makan malam Mikcey kedatangan tamu. Seorang pria bertubuh gendut, teman masa kecil sekaligus tetangga Mickey.


"Apa kabar?" tanya Mickey.


"Gue baik. Gimana kuliah mu?" tanya pria gemuk itu.


"Lancar, kamu mau kenalan sama temanku? Dia bukan orang Kore." kata Mickey kemudian.


"oh really? perempuan atau laki-laki?" tanya pria itu lagi.


"Perempuan." jawab Mickey.


"Cantik gak?" tanya si gendut lagi. ("author body shaming bet sih loe", protes mode on).


"Kamu nilai sendiri." Kata Mickey sambil meraih ponselnya.


"Eun Son, apa kamu punya sesuatu untuk diminum?" tanya pria itu lagi.


"No bir. kamu sudah tahu kan aku tidak bisa minum yang beralkohol, malah bertanya hal seperti itu." protes Mickey.


"Hallo Mike." suara gadis diseberang sana mengalihkan perhatian kedua pria itu.


" Hai gadis pemalas, kamu belum meninggalkan tempat tidur sejak tadi?" tanya Mickey tidak percaya dengan tampilan layar ponselnya. Bagaimana tidak, wajah Joelin dengan background bantal terpampang di sana.


"Tentu saja aku sudah bergerak ke kamar mandi, ke meja makan." jawab gadis itu lagi.


"apa yang kau lakukan selain makan dan kekamar mandi?" tanya Mickey penasaran.


"Tidurlah. kapan lagi aku bisa tidur sepanjang hari?" ujar Joelin sambil mengubah posisinya dari rebahan menjadi duduk.


"Kenapa kau meneloponku?" tanya Joelin kemudian.


"Temanku ingin berkenalan denganmu. Bolehkah kau bicara dengannya?" tanya Mickey meminta persetujuan Joelin.


"Ok." jawab gadis itu singkat.


Seketika wajah asing terpampang di layar ponsel Joelin. Seorang pria dengan wajah imut dan perawakan yang berisi.


"Hai... aku Joelin." sapa Joelin sambil tersenyum.


"Hai, namaku Kim Min Ho." jawab pria itu.


"Tuan Kim senang mengenalmu. Kenapa kamu mau berteman dengan Mickey?" tanya Joelin kemudian.


"Siapa Mickey?' tanya Min Ho polos.


"Yaelah.. bisa gila gua." omel Joelin.


"Apa artinya tadi?" Tanya Min Ho yang tidak mengerti bahasa Joelin.


"oh maaf, itu bahasa Indonesia. Tuan Kim, pemilik ponsel ini bernama Mickey. Kenapa mau berteman dengannya?" tanya Joelin.

__ADS_1


"Aku baik, tentu saja banyak teman." protes Mickey setengah berteriak karena mendengar pertanyaan Joelin.


"Aku hanya terbiasa dengannya." tambah Min Ho yang sukses membuat Joelin tertawa.


"Tuan Kim, aku setuju denganmu." ledek Joelin di sela-sela tawanya.


"Nona Joelin, panggil aku Min Ho. Dan bolehkah aku memanggilmu Joelin saja?" tanya Min Ho kemudian.


"Baiklah tuan, eh maaf.. maksudku Min Ho." jawab Joelin.


"Deal. artinya kita berteman." ujar Min Ho sambil tersenyum.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Mickey yang tiba-tiba memunculkan wajahnya dilayar ponsel Joelin.


"Apa? Mana Min Ho?" tanya Joelin.


"Ah... masa berlaku Min Ho sudah habis. Sekarang adalah waktuku untuk berbicara." Jawab Mickey.


"Oke. berbicaralah." Jawab Joelin.


"Lanjutkan saja tidurmu." Mickey yang mati kutu memilih menyerah pada Joelin. Lelaki itu bingung harus mengatakan apa saat ini.


"Untung peka." Jawab Joelin sambil tersenyum manis.


Senyuman yang selalu memberi sensasi berbeda di hati Mickey.


"Jadi, aku tutup nih teleponnya?" tanya Mickey.


"Boleh." jawab Joelin.


"Okay. good night." ujar Mickey.


"Siapa Joe?" tanya Amel yang sudah penasaran sejak awal menyaksikan Joelin menjawab telepon dalam bahasa inggris.


"Teman sekelas gua" jawab Joelin.


"Gebetan?" tanya Amel.


"bukan." Jawab Joelin.


"PDKT-an?" tanya Amel lagi


"Apaan sih loe? ya bukanlah." ujar Joelin.


"Loe gak merasa aneh ditelepon sama cowo?" selidik Amel.


"Aneh apaan? Lagian udah biasa mah dia nelpon gua." jawab Joelin santai.


"Artinya dia sering nelepon loe saat kalian gak ada kelas?" tanya Amel penasaran.


"Iyaaaaaaa Amel." Jawab Joelib polos.


"Apa loe gak peka Joe? Jangan-Jangan itu cowo naksir sama Loe." kata-kata Amel sukses membuat Joelin tersenyum.


"Gak ah. Dia tadi cuman pengen ngenalin gua sama teman dia." Jawab Joelin berjuang untuk tidak baper.


"Itu mah alasan dia aja. Tujuan utama dia ya pengen liat loe." jelas Amel.


"Hmmm.. udah ah. Jangan diterusin." pinta Joelin.

__ADS_1


"Yo wes. Keluar yok jajan. Loe jangan membusuk di kamar seharian." Ajak Amel.


"Yok." Ujar Joelin sambil beranjak dari tempat tidur.


Keduanya akhirnya keluar dari asrama. Sementara itu di rumah Mickey sesaat setelah sambungan telepon diputuskan.


"Gimana menurut kamu?" Tanya Mickey pada Min Ho.


"Imut banget anaknya." Jawab Min Ho yang terpesona dengan wajah Joelin.


"Dia dari eropa atau amerika?" Tanya Min Ho lagi.


"Dari Indonesia." Jawab Mickey.


"Is she Asian?" Tanya Min Ho tidak percaya mengingat rambut keemasan milik Joelin dan matanya yang abu-abu.


"Iya, Dia asia. Awalnya aku juga berpikir dia bukan orang Asia. Tapi coba perhatikan warna kulitnya." Jelas Mickey mengingat warna kulit Joelib yang kuning langsat.


"Iya betul, tidak terlalu putih dan hitam. Dia punya kulit Asia." Jawab Min Ho.


"Mungkin dia blasteran Asia-Eropa, atau Asia-Amerika." tebak Min Ho kemudian.


"Bisa jadi." ujar Mickey setuju.


"Btw, Eun Son, kenapa dia menyebutmu Mickey?" tanya Min Ho penasaran.


"oh, itu nama inggris ku. Di Lab kami menggunakan nama dalam bahasa inggris untuk memudahkan Joelin memanggil nama kami." Jelas Mickey.


"kamu benar, bahasa korea nya masih sangat kasar." Ujar Min Ho setuju.


"Apa alamat facebook dia tadi?" Tanya Min Ho.


"Itu tidak penting." jawab Mickey.


"possessif." Ledek Min Ho.


Mickey hanya tersenyum. Ada perasaan yang tidak dapat dia artikan menyusup masuk ke hatinya. Perasaan yang terus saja hadir setiap kali dia harus berurusan dengan seseorang bernama Joelin.


Kedua pria masih melanjutkan obrolan mereka sambil bermain game dikamar Mickey. Akhirnya setelah lelah keduanya memutuskan untuk tidur di kamar Mickey. Hal yang sering mereka lakukan sejak masa kecil mereka adalah berbagi tempat tidur.


"Apakah setelah berkeluarga nanti kita masih memiliki kesempatan untuk berbagi tempat tidur begini?" tanya Min Ho yang kini merebahkan tubuhnya di sisi kanan Mickey sambil tersenyum geli.


"We never know." jawab Mickey yang sukses membuat keduanya terkekeh lucu.


"Sudah ah. Tidur sana, jangan berisik dan jangan sentuh-sentuh aku." Omel Mickey.


"Ok. Jangan sentuh-sentuh aku juga." pinta Min Ho.


Lalu keduanya membisu. Dan beberapa menit kemudian, kedua pria itu tenggelam dalam mimpi masing-masing.


Pengumuman


Hai readers, dukung terus ya cerita ini.


Kalian boleh like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya.


Btw, author juga rindu membaca saran kalian.


-Best-

__ADS_1


__ADS_2