
Sementara Joelin hanya menerima setiap perlakuan suaminya itu dengan jantung yang nyaris melompat keluar dari tempat nya karena bahagia. Mickey selalu berhasil membuatnya merasa sangat dicintai.
\*\*\*
"Mike, nggak usah dianter kedalam. Aku bisa sendiri kok." ujar Joelin sambil menatap suaminya serius.
"Jangan protes sayang." Dave membuka pintu mobil dan segera turun. Setengah berlari pria itu segera membukakan pintu untuk istrinya.
"Pak tunggu sebentar, saya antar Joelin ke dalam." ujar Mickey pada sang supi, kemampuan berbahasa Indonesia lelaki ini sudah jauh lebih baik.
Sambil menuntun istrinya dan melangkah hati-hati, Mickey mengantar Joelin hingga tiba di kamar mereka.
"Kamu istirahat ya." ujar Mickey sambil mendudukkan Joelin di atas tempat tidur.
"Mickey..." protes Joelin frustasi karena sikap over protektif suaminya itu.
"Hi baby.. Appa kerja dulu ya, tolong jaga Mommy. Okay?" tanya Mickey sambil mengelus perut Joelin dengan lembut.
"Dokter bilang juga boleh kok Mickey beraktifitas seperti biasa. Lagian aku nggak mungkin lahiran hari ini."
"Sayang, kamu jangan protes terus dong." pinta Mickey sambil menatap khawatir pada wajah istrinya yang kini sudah hamil tua.
Mickey segera meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor.
"Pak, bapak bisa istirahat hari ini. Saya dirumah aja nemenin Joelin." ujar Mickey sebelum memutuskan sambungan telepon.
"Mickey?" Joelin kembali protes saat mendengar keputusan suaminya.
"Usia kandungan kamu udah hampir sembilan bulan sayang. Aku nggak mau ngambil resiko."
"Tapi Mickey, masih hampir sembilan bulan. Artinya belum akan lahiran kan?" tanya Joelin mengingat bagaimana petunjuk sang dokter yang mereka kunjungi tadi pagi.
"Tapi dokter sudah mengingatkan kita untuk aware kan sayang? walau belum sembilan bulan, bisa aja kan si baby lahir hari ini? Dua hari lagi juga sembilan bulan." ujar Mickey sambil memeluk tubuh istrinya.
"Kamu keras kepala banget tau nggak sih."
"Ya maaf." sambil mengecup puncak kepala Joelin. Kecupan itu tidak berhenti di sana malah turun menuju kening dan seluruh wajah Joelin hingga akhirnya mendarat di bibir wanita hamil itu.
Seperti orang yang kehilangan akal sehatnya, Joelin malah bergairah karena perlakuan lembut dan kasih sayang suaminya. Dan kembalilah, Joelin yang agresif pada Mickey. Entah sejak kapan tubuh keduanya sudah tidak dibungkus oleh sehelai benang.
\*\*\*
Mickey mendekap tubuh Joelin yang berkeringat karena kelelahan. Wanita itu mebciba mengatur kembali irama nafasnya yang masih terdengar memburu, seperti habis lomba lari.
"aaaargh..." pekik Joelin tiba-tiba.
"Kenapa? tanya Mickey khawatir."
"Terkejut. Dia nendang-nendang, aktif banget." jawab Joelin sambil membenamkan wajahnya di dada Mickey yang sedang polos tanpa busana.
"Kamu ini, bikin suami takut aja." keluh Mickey sambil mengelus sayang kepala Joelin.
"Kenapa? kamu pikir aku tiba-tiba melahirkan? Mana boleh begitu sih Mickey." goda Joelin.
__ADS_1
"Iya-iya terserah kamu. Sana mandi biar bisa pakai baju." saran Mickey yang khawatir istrinya akan masuk angin jika kelamaan dibiarkan hanya berbalut selimut.
"Aku ngantuk." tolak Joelin.
Mickey mengalah dan membiarkan sang istri memasuki alam mimpi. Tak lupa pria itu membungkus istrinya dengan selimut dan mendekap erat seolah takut sedikit angin saja menyakiti tubuh Joelin.
Setelah puas memandang wajah istrinya berlama-lama, Mickey juga ikut terlelap. Sambil memeluk Joelin. Ternyata aksi bolos kerjanya hari ini tidak sia-sia, setidaknya dia bisa memanjakan Joelin sepanjang hari.
\*\*\*
"Mike... Mike... Bangun sayang.." panggil Joelin sambil mengguncang tubuh suaminya itu perlahan.
....
Mickey hanya menggeliat pelan tanpa membuka mata sedikitpun.
"Mickey... bangun nggak?" Setengah berteriak sambil mennoyang tubuh Mickey dengan kedua tangannya.
"Gempa? Gempa bumi?" Seru Mickey tiba-tiba bangun karena merasa tubuhnya berguncang hebat.
"Sayang, ada gempa..." ujar Mickey sambil menarik Joelin dalam pelukannya berusaha melindungi sang istri. Sepertinya pria itu belum sadar sepenuhnya.
Joelin malah memutar mata karena geli dengan tingkah suaminya itu.
"Gempa atau modus?" tanya Joelin sambil mencubit perut Mickey.
Setelah melonggarkan pelukan, Mickey segera menoleh kearah perutnya yang tadi di cubit Joelin.
"Nggak ada gempa Mike, udah ah peluk-peluknya dilanjut nanti aja. Kamu mandi sana." ujar Joelin sambil mencubit pipi Mickey karena gemas.
"Oh... okay." jawab Mickey menyadari keadaan.
Pria itu lalu beranjak menuju kamar mandi, sementara Joelin memilih menunggu Mickey sambil mengeringkan rambutnya. Sesekali Joelin tersenyum senang, mengingat wajah khawatir Mickey saat menduga terjadi gempa.
Dikamar mandi, Mickey bergerak dengan ekstra hati-hati dan ekstra cepat. Entah mengapa, tiba-tiba perasaannya sangat tidak nyaman, seperti akan ada hal buruk yang terjadi. Sambil menggosok tubuhnya dengan sabun, Mickey berusaha membuang resah dalam hati.
Setelah mandi Mickey segera keluar kamar dan mengenakan pakaiannya. Pria itu menyadari keberadaan sang istri yang sedang sibuk mengeringkan rambut.
"Sini aku bantu." ujar Mickey sambil meraih hairdryer dari tangan Joelin.
Mickey lalu membantu Joelin dengan urusan mengeringkan rambut, sambil berkali-kali mengecup puncak kepala sang istri.
"Makasih sayang." ucap Joelin setelah rambutnya kering dan selesai disisir oleh Mickey.
"Sekarang gantian ya." Joelin lalu bangkit berdiri dan menyuruh Mickey dududk berganti posisi dengannya.
Kini kedua tangan Joelin sedang sibuk mengeringkan rambut di kepala Mickey, sementara si pria hanya duduk sambil senyum senyum bahagia mendapat perlakuan manis dari sang istri.
Acara mengeringkan rambut sudah selesai. Joelin mengembalikan hairdryer pada tempatnya, sementara Mickey naik ke atas tempat tidur dan meraih ponselnya. Pria itu masih merasa ada yang mengganjal di hatinya, namun karena tidak tahu tentang perasaan itu Mickey memilih mengabaikannya.
"Sudah ada kabar dari Mark?" tanya Joelin sambil menyusul Mickey ke atas tempat tidur.
"Belum sayang. Bagaimana denganmu? Apakah ada respon untuk pesan-peaan yang kamu kirim?"
__ADS_1
"Hanya di read." jawab Joelin.
"Sama, aku juga."
"Semoga Mark baik-baik saja."
"Iya, sayang. Tapi kamu yakin yang kita lihat di TV kemarin itu Mark?" tanya Mickey sambil menatap Joelin ragu-ragu.
"Kalau bukan Mark, siapa lagi yang punya wajah begitu?" tanya Joelin.
"Yah, aku nggak tahu sayang."
"Masalahnya kenapa wajah mirip Mark ada di Indo, itu yang buat aku makin penasaran." gumam Joelin.
"Kamu benar. Mark kemana sih, tumben anak ini nggak balas apa-apa." ujar Mickey khawatir.
Author POV (Mark ada di cerita sebelah Mickey, Joelin. Kalian baca aja novel yang judulnya "Bunga Bermekaran di Musim Panas, Trouvaille 2" supaya bisa ketemu jejak Mark.)
'kruk...kruk...' perut Joelin berbunyi.
"Kamu lapar?" tanya Mickey.
"Iya."
"Mau makan apa?"
"Sereal aja sayang. Ada kok di kulkas."
"Aku buatin ya." Mickey beranjak dari posisinya.
"Thankyou." Menatap sang suami yang sudah berjalan meninggalkan tempat tidur.
\*\*\*
Mickey membawa nampan berisi mangkok dengan sereal dan gelas penuh susu hangat. Dia memasang senyum manis, siap untuk menyapa sang istri. Baru saja Mickey tiba di pintu kamar, saat pandangannya terganggu oleh posisi Joelin.
"JOELIN..." jerit Mickey sambil setengah berlari menghampiri istrinya yang tergeletak di lantai sambil merintih kesakitan. Mickey meletakkan makanan yang tadi dibawanya dengan sembarangan.
"Mike... sakit." isak Joelin tertahan.
"Tahan ya sayang. Tahan sebentar.." pinta Mickey sambil berlari meraih ponselnya.
"Pak.. tolong kerumah sekarang. Bantu saya membawa Joelin ke rumah sakit." ujar Mickey tergesa pada seseorang di seberang sana.
Dengan sigap, Mickey segera mengendong tubuh Joelin. Setengah berlari pria itu membawa sang istri keluar dari kamar. Sementara Joelin masih merintih menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang sekujur tubuhnya.
....author POV
tolong dukung dengan vote dan like yang banyak, plus beri komentar tentang pendapat kalian akan novel ini. Author berencana segera menamatkan Novel ini, tapi jika kalian merasa ingin Novel ini berlanjut silahkan komen di bawah ya.
thankyou
-best-...
__ADS_1