
"Pergi dari sana Jee Na. Tinggalkan Eum Son." sebuah suara akhirnya menghentikan aksi Jee Na yang terus menghasut Mickey.
"Kau jangan ikut campur..!!" bentak Jee Na pada pria yang kini menetapnya intens.
"Kau sudah keterlaluan, kau ingin merusak rumah tangga orang?" bentak Mark tanpa mengubah tatapan tajamnya, "oh, aku salah... kau memang sedang merusak rumah tangga mereka... cih.. rendahan sekali." ujar Mark sarkas.
"Kau? Awas saja." ancam Jee Na kesal sebelum melangkah menjauh dari sana, meninggalkan Mark dan Mickey. Tak lupa gadis itu membanting pintu mobil mahalnya dengan sepenuh tenaga.
"hmmmh, kurasa dia akan memamerkan kekayaannya untuk mengacaukanku." sindir Mark pelan.
"Hei bro, apa yang kau lakukan di sini? Berhenti menangis, kita harus menemukan istrimu kan?" ujar Mark sambil berlutut di sisi Mickey.
"Thank you Mark." jawab Mickey tulus. Keduanya lalu masuk ke rumah.
\*
"Jadi selama ini kau tinggal di sini? Wah, sentuhan wanita benar-benar luar biasa." ujar Mark mengagumi rasa nyaman dan bersih di rumah Mickey.
Mickey tak menjawab ucapan Mark, pria itu hanya berjalan lunglai menuju sofa di ruang tamu.
"Jadi, apa rencanamu?" tanya Mark sambil duduk di salah satu sisi sofa.
"Aku belum tahu.." Mickey menjawab lirih, suaranya sengau karena isakan yang tertahan.
"oh man... kau membuatku merasa tidak baik. Bagaiman jika beristirahat sejenak? kau terlihat kacau, dan kurasa kau tak akan bisa menemukan Joelin dalam keadaan ini. Beristirahatlah, aku akan membantumu." ujar Mark panjang lebar.
"Baiklah. Terimakasih Maek." jawab Mickey tulus sambil menyenderkan punggungnya ke sofa.
"Jangan tidur di sini, apa kau tak punya kamar?"
"Wah, kau berisik sekali" protes Mickey sambil melangkah menuju kamar nya.
\*
Sudah 20 menit berlalu sejak Mickey meninggalkan ruang tamu. Selama itu juga Mark fokus dengan ponselnya, berusaha mencari keberadaan Joelin. Berkali-kali dia mencoba menghubungi temannya itu, namun tak di jawab sama sekali.
"ah... dimana dia?" gumam Mark, wajahnya datar tanpa ekspresi.
'bip' pintu utama terdengar berbunyi, pertanda seseorang baru saja datang.
"Siapa yang datang ke rumah Mickey?" gumam Mark.
"Mungkin Joelin." ujarnya dengan penuh semangat sambil berdiri dari posisi duduknya.
Mark berlari kecil ke arah pintu. Begitu menyaksikan siapa yang datang, ekspresi nya berubah kecewa. Ternyata yang baru saja tiba adalah orangtua Mickey.
__ADS_1
\*
tik...tok...tik..tok...tik...tok..
Ruang tamu begitu hening, hingga bunyi dentang jarum jam di dinding terdengar nyaring. Sesekali suara helaan nafas terdengar beradu dengan bunyi itu.
"Jadi maksudmu, Joelin pergi karena salahpaham pada suaminya, dan kesalahpahaman inj diakibatkan oleh Jee Na, mantan kekasih Eum Son?" tanya Ayah Mickey memecah keheningan.
"Bukan hanya Jee Na, tapi juga Han Si An pria yang mengejar-ngejar Joelin." ujar Mark memperjelas keadaan. Sudah sepuluh menit dia berusaha menjelaskan prahara rumah tangga Mickey, pada pasangan paruh baya itu.
"Jadi dimana Eum Son?" tanya ibunya.
"Aku menyarankannya istirahat sejenak, dia terlihat kacau." ujar Mark.
"Lalu bagaimana dengan Jee Na? dimana kita bisa menemukan menantu kami?" tanyanya dengan wajah khawatir.
"Tenanglah bibi, saya akan mengerahkan segala kemampuan untuk menemukannya." ujar Mickey.
"Terimakasih nak."
"tak perlu sungkan Bi, Mickey dan Joelin adalah sahabat saya. Sedih rasanya melihat mereka seperti ini." ujar Mark tulus.
\*
"Kamu pergi kemana sayang?" ujar Mickey frustasi.
Dengan gerakan tak sabar di raih nya u ponselnya, mencoba menghubungi nomor Joelin.
~drt...drt...drt...drt~
Mickey memfokuskan telinganya pada bunyi getar ponsel itu.
"Arrrrrgh...sial.." umpat Mickey menyadari keberadaan ponsel Joelin di salah satu sisi tempat tidur.
~cling~
Baru saja Mickey menggenggam ponsel istrinya itu, namun tiba-tiba benda pintar di tangannya padam karena kehabisan baterai. Dengan gerakan lemah dan tanpa semangat, pria itu bangkit dari tempat tidur mencoba menemukan carger ponsel Joelin.
meja di samping tempat tidur dan laci di meja belajar kini diacak-acak olehnya demi menemukan kabel pengisi daya. Mickey tak juga menemukan di sana, hingga dia beralih ke meja belajar. Dengan pelan, Mickey memindahkan kertas yang terlihat berserakan di atas meja.
"Bingkisan kado?" ujarnya dengan kening mengeryit. Mickey menggerakkan tangannya mendekati kotak itu.
~tok...tok..tok~ seseorang mengetuk pintu kamarnya, bunyi itu sukses menghentikan gerakan tangan Mickey.
"Omma?" seru Mickey begitu membuka pintu, dia menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Apa kau ingin makan sesuatu? akan Omma siapkan." wanita itu berusaha menyembunyikan raut khawatir di wajahnya.
"Terserah Omma saja."
"oke." ujarnya sambil berlalu dari sana.
Sepeninggalan ibunya, Mickey kembali mencari carger ponsel Joelin. Kini pria itu beralih ke meja rias di dekat lemari pakaian. Satu persatu di bukanya laci meja itu. Mickey tersenyum kecut begitu membuka laci paling atas, Joelin sungguh perempuan hebat. Bukan hanya rumah ini jadi bersih sejak ada wanita itu, tapi seisi rumah juga ditata rapi dab baik. Termasuk hati Mickey, dan tentu saja isi laci yang kini dibuka oleh Mickey disusun dengan sangat rapi.
"Di sini tidak ada, coba kita lihat laci berikutnya. Ah... tidak ada juga." ujar Mickey kecewa saat membuka laci ke dua.
Tersisa satu laci yang belum di buka olehnya. Mickey memandang meja berwarna putih gading itu dengan tatapan ragu, haruskah dia membuka laci terakhir? Mickey menggerakkan tangannya pelan, dan menarik laci itu perlahan.
"ini kan..." suara Mickey tertahan. Entah rasa apa yang harus dia rasakan sekarang. Sedih ataukah marah, dia sungguh sangat kebingungan.
"Joelin, apa ini kejutan yang kamu maksud?" tanya Mickey lirih sambil menggenggam erat benda di tangannya. Air mata mengalir di pipi pria itu. Sementara tangannya mengepal gemetar, ingin rasanya dia memaki sekarang.
"Aku merasa tertipu." ujarnya pelan sambil menggenggam erat benda yang sudah menghancurkan hatinya itu, berharap benda itu bisa hancur di tangannya juga.
\*
Wanita itu menatap kertas di tangannya. Wajahnya yang masih sembap tentu saja hasil karena menangis sepanjang waktu.
"Kamu berkata ingin memberi kejutan padaku, jadi ini kejutan yang kamu maksud Mickey?" gumam Joelin lirih, sambil meremas kertas di tangannya. Bayangan video syur yang berisi Mickey dan Jee Na kembali menari di benaknya, meremas hati Joelin, memanaskan kedua bola matanya.
"Joelin, kamu yakin dengan keputusanmu?" sebuah suara menyadarkan wanita itu.
"Aku yakin bang." ucapnya sambil menahan air mata yang hampir menetes.
"Joelin, ada baiknya tidak memutuskan sesuatu saat kamu kesal. Jangan khawatir berapa biaya tiketnya, kalau kamu ingin dibatalkan, saya tidak akan marah." ujar pria itu sungguh-sungguh.
"Saya yakin bang. Tapi maaf, mungkin saya tidak dapat hadir di acara pernikahan abang."
"Kamu takut bertemu suamimu di sana? Sekali lagi, saya mohon pertimbangkan baik-baik keputusanmu."
"Terimakasih bang Goedan, untuk bantuan ini." ujar Joelin menatap pria itu sambil menahan air matang yang kini semakin dekat.
Goedan menatap Joelin dengan tatapan intens. Gadis yang dulu meluluhkan hatinya karena tutur sapa dan sopan santun, karena kebaikan dan perjuangannya kini sedang memandangnya dengan tatapan memohon. Memohon agar dibiarkan pergi dari luka. Mata Joelin berkaca-kaca. Dia pasti menahan keras agar tak menangis sekarang.
"Pergilah, sampai bertemu di masa depan saat hidup ini sudah berdamai denganmu. Tapi, berjanjilah satu hal padaku. Kau harus membiarkan air matamu mengalir, menangislah Joelin, menangislah sepuasmu." ujar Goedan lirih, sambil memutar tubuhnya meninggalkan Joelin.
Joelin menatap punggung yang kian menjauh, meninggalkannya di tengah keramaian bandara internasional di kota seoul. Pria itu bahkan tak menoleh sekalipun padanya, seolah berkata "aku tak akan melihatmu, menangislah sepuasmu Joelin."
**Pengumuman
Gimana-gimana?
di part ini feel kalian gimana? marah, kesal, sedih atau senang**?
**oh iya guys, tetap vote yaaaa.
__ADS_1
thanks
~best**~