
Joelin menekan keningnya menggunakan jari tengah dan telunjuk dengan perlahan. Memikirkan keluarga Mickey membuat kepalanya kembali terasa sakit. Rasa sakit yang beberapa hari ini sering mengganggu aktifitasnya.
"Aku harus pulang lebih dulu." ujar Joelin pada Si An dan Mark karena merasa tidak nyaman dengan pusing di kepalanya. Dia bergegas meninggalkan laboratorium setelah mengirim pesan kepada Mickey.
"Ini masih sangat pagi." jawab Mark.
"Aku merasa tidak sehat." ujar Joelin pelan.
Si An memandang punggung Joelin yang semakin menjauh.
\*
Mickey mengakhiri pembicaraan di telepon bersama ibu nya. Sejenak dia menatap ponselnya dan mengeryit membaca pesan dari Joelin sebelum akhirnya mendial nomor istrinya itu.
"Kamu baik-baik saja?"
....
"Sudah sampai di asrama?"
....
" Aku kesana sekarang."
....
"Apa? Kamu yakin?"
....
" Baiklah, sampai jumpa nanti sore. Jangan lewatkan makan siang mu." ujar Mickey sebelum mengakhiri percakapan itu.
Dia menghela nafas sambil kembali ke laboratorium. Bagaimanapun dia sangat khawatir dengan kondisi Joelin saat ini, namun istrinya itu bersikeras untuk istirahat di asrama siang ini dan berkata bahwa Mickey tidak perlu khawatir karena dia bisa bersantai dengan Amel.
"Joelin pulang." ujar Si An menyambut kedatangan Mickey.
Mickey mengangguk santai mendengar informasi Si An.
"Kau tidak ingin tahu dia kenapa?" tanya Si An lagi.
"Hmmmm... aku harus mengantar berkas ini ke kantor administrasi." ujar Mickey menghindari pertanyaan Si An.
Si An dan Mark hanya memandang kepergian Mickey. Si An yang tidak peka kembali menikmati aktifitas membaca nya. Sedangkan Mark menggeleng pelan, dia merasa ada sesuatu yang harus dia ketahui, tapi dia tidak yakin hal apa yang sebenarnya sedang ingin dia cari tahu itu.
\*
"Loe kenapa?" tanya Amel bingung menyaksikan Joelin yang tiba-tiba masuk kamar asrama. Dia hampir saja menumpahkan minuman ke atas laptopnya jika tidak segera berhati-hati.
"Gue lagi pusing. Gue istirahat disini bentar ya Mel."
"Yaelah Joe, ini juga kamar loe kali..."
"Oh iya, gue lupa." ujar Joelin langsung merebahkan tubuhnya dia atas tempat tidur.
__ADS_1
"Loe ngidam?" tanya Amel penasaran.
"Gimana mau ngidam? Hamil aja belum."
"Apa???" tanya Amel tak kuasa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Jangan bilang loe masih pakai obat pencegah kehamilan itu."
"Nggak Mel. Gue udah nggak pakai lagi. Gue udah coba berbagai upaya buat bisa hamil, ternyata hasil testnya selalu sama. Negatif." curhat Joelin.
"Loe yang sabar ya Joe... Masalah rejeki dapat anak, sudah diatur sama Tuhan."
"Gue cuman berharap bisa ngasih kehamilan gue sebagai kado untuk acara wisuda nanti." gumam Joelin lirih.
Dalam hati dia juga berharap kehamilannya dapat meluluhkan hati keluarga Mickey saat mereka bertemu nanti. Joelin tidak sanggup jika di acara wisuda dia harus berpura-pura jadi teman di depan orang tua Mickey. Bagaimanapun orang tua Mickey adalah orang tuanya juga, dia tidak ingin berbohong dihadapan mereka. Jika dia bisa hamil sekarang juga, dia akan meminta Mickey segera mengenalkannya pada keluarga Mickey.
"Loe mikirin apa sih?" tanya Amel melihat sorot mata Joelin yang begitu gamang.
"Nggak apa-apa, gue lagi pusing doang."
"Yaudah, loe istirahat gih." ujar Amel.
Joelin yang sedang memejamkan matanya kini terusik dengan getaran di ponselnya.
"Hallo..." ujar Joelin pelan.
"Joe.. Loe apa kabar? ini gue, Aluna." ujar suara di seberang riang.
"Gue baik Na. Loe apa kabar?" tanya Joelin tanpa membuka matanya.
"Gue baik. Kak Vino juga baik, kondisi mentalnya sudah semakin pulih." jelas Aluna terdengar antusias.
"Wah... senang gue, bisa dengar kabar baik dari loe." jawab Joelin.
"Ada kabar yang buat loe bakal lebih senang lagi Joe.. Gue bakal nikah, bulan depan. Loe bisa datang kan ke acara gue?"
"Makasih Joe. Gue tunggu kedatangan loe dan suami."
"Akhirnya loe nikah juga, lelaki yang jadi suami loe pasti beruntung banget."
"Makasih Joe.. orang beruntung itu adalah..."
bip, tiba-tiba sambungan terputus.
Joelin memandang ponselnya yang mati mendadak, dia lupa mengisi daya ponselnya.
"Gue boleh pinjam carger?" tanya Joelin pada Amel, kemudian.
"Ini." ujar Amel menyerahkan sebuah carger ponsel pada Joelin.
Setelah menyalakan ponselnya Joelib segera berkirim pesan dengan Aluna, menjelaskan ponselnya yang sedang lowbet.
"apa?" gumam Joelin tak percaya saat membaca balasan dari Aluna, hatinya bersorak senang mengetahui kabar gembira itu.
\*
"Joe... Joe..." dengan gerakan lembut Amel mengguncang tubuh teman sekamarnya itu.
"hmmmh..." Joelin menggeliat pelan sebelum membuka mata sepenuhnya.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Makan siang yuk. Gue udah beli nih." ujar Amel menawarkan.
"Makasih Mel.."
Keduanya lalu asik menyantap makan siang sambil bercerita tentang banyak hal.
\*
Si An membanting ponselnya ke atas tempat tidur. Dua hari lagi adalah acara wisuda, namun tak sekalipun dia berhasil mengajak Joelin keluar. Gadis itu selalu punya jawaban bagus untuk menolak ajakannya. Berbagai upaya Si An kerahkan, mulai dari menawarkan menonton, jalan-jalan, makan malam, belanja ke mall, dan banyak tawaran lainnya. Namun semua tawaran itu selalu berakhir dengan penolakan dari Joelin.
Diam-diam, Si An juga memendam rasa kesal dan cemburu pada Mickey. Terlepas dari semua penolakan Joelin, gadis itu selalu menempel di sekitar Mickey setiap harinya. Jika Mickey ingin membeli sesuatu, Joelin pasti menemaninya. Saat Mickey mengurus hal-hal administrasi, Joelin pasti turut serta. Dimata Si An, tiba-tiba kedua sosok itu berubah menjadi seperti amplop dan perangko. Namun Si An tidak ingin menyimpulkan hubungan tertentu dengan kedekatan kedua insan itu. Entah dia tidak ingin, atau dia terlalu tidak berani.
\*
"Ingin pulang?" Tanya Mickey pada Joelin.
"Iya."
"Tunggu aku." Mickey langsung mengekor di belakang Joelin, meninggalkan Si An dan Mark yang saling memandang penuh tanya.
"Kau mau cari masalah?" tanya Joelin setengah berbisik.
"Apa salahnya sayang?" tanya Mickey yang kini menyamakan langkahnya dengan Joelin.
"Si An dan Mark pasti sedang kebingungan."
"Besok juga acara wisuda. Besok kita jawab rasa bingung mereka."
"Terserah kau saja."
"Sayang, jangan marah.".
"Aku tidak marah." jawab Joelin santai.
\*
Langit sore berarak jingga kemerahan, begitu indah membingkai pemandangan di hadapan Joelin dan Mickey. Joelin memeluk erat tubuh suaminya itu, dan Mickey melajukan motornya perlahan membelah kebisingan kota. Kini Mickey makin menurunkan kecepatan motornya sebelum berhenti di depan pagar rumahnya. Keduanya lalu masuk ke halaman di akhiri Joelin yang segera mengunci pagar.
Di jalan raya, tepatnya di sebrang rumah Joelin sebuah mobil mewah edisi terbatas parkir dengan leluasa. Sepasang mata memicing mengawasi kedua insan itu.
"Tak kubiarkan kalian tertawa lebih lama lagi." dia menggeram kesal sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Amarah, cemburu dan rasa ingin memiliki kini tengah memperdaya hatinya.
**Pengumuman
Makasih sudah setia membaca cerita ini. Selamat memberi dukungan berupa vote, Like dan komen sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Terimakasih
~best**~