Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Pekerjaan Mickey


__ADS_3

"Apa ini salah satu acara ngidam?" tanya Mickey dalam hati sambil menyendok makanan dari piling Joelin dan mengisi perutnya yang sudah kekenyangan.


Joelin tersenyum senang memandang Mickey mengunyah makanannya.


\*\*\*


Pagi yang cerah semakin manis oleh gerakam lembut kedua tangan Joelin yang tengah asik menyimpul dasi Mickey.


"Sudah sayang?" Mickey bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Joelin, seolah Mickey tidak pernah bosan dengan pemandangan itu.


"hmmm..." ujar Joelin yang kini beralih memasang kan Jas berwarna hitam pada Mickey.


"Tampan sekali." gumamnya pelan.


"Apa sayang?" tanya Mickey yang sempat mencuri dengar suara kecil Joelin.


"eng.... itu..." seperti penggemar rahasia yang tertangkap basah, pipi Joelin kini bersemu merah.


"Jangan malu, aku senang kok mendengar kamu bicara seperti tadi." ujar Mickey sambil mengacak puncak kepala Joelin dengan lembut dan penuh rasa.


Joelin hanya terpaku membisu dengan tindakan Mickey, akhir-akhir ini dia sering merasa malu di depan lelaki itu. Bukan tanpa alasan, Joelin mulai merasa malu setiap sadar dia bertingkah lebih agresif belakangan ini. Bukan hanya sekali, tapi malah berkali-kali dia menggoda Mickey agar mau menidurinya. Bahkan sekarang dia sudah meneguk air liurnya yang nyaris menetes saat merasakan kecupan lembut Mickey mendarat di puncak kepala dan berpindah kedahinya.


"Aku ini kan perempuan, memalukan sekali." umpatnya dalam hati.


"Kamu jaga diri ya sayang, aku berangkat kerja sekarang, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." ujar Mickey lembut menyadarkan Joelin dari lamunanya.


"Hati-hati ya sayang" ujar Joelin sambil bergerak dan memeluk Mickey.


Nah kan, dia bahkan memeluk Mickey sebelum pria itu memeluknya. Joelin merutuki dirinya yang bertindak agresif lagi.


"Kamu ingin ku bawa kan sesuatu saat pulang nanti?"


"Bawakan aku Mie Ayam."


"Apa itu?" tanya Mickey yang belum terlalu mengenal nama-nama makanan di Indonesia.


"hmmmm... yasudahlah aku beli sendiri aja sayang." ujar Joelin kemudian masih memeluk Mickey sambil memainkan jemarinya saling bertautan di balik punggung lelaki itu.


"Aku bisa menyuruh orang kantor membelinya. Akan kubawakan untukmu dan kesayangan kita." ujar Mickey sambil mengelus rambut panjang Joelin.

__ADS_1


Setelah memberi ciuman singkat dan lembut di pipi istrinya, Mickey langsung melerai pelukan mereka dan menuntun wanita itu beranjak dari kamar tidur.


Di halaman depan, sopir perusahaan sudah menunggu Mickey lengkap dengan mobil mewah yang tentu saja di sediakan perusahaan. Goedan dan Aluna, pasangan itu sungguh-sungguh memanjakan kehidupan Joelin dan Mickey. Mickey yang selama ini hidup dengan sederhana bersama Joelin yang juga berasal dari keluarga biasa saja, kini malah merasa asing dengan kemewahan yang dihadiahkan keluarga Goedan pada mereka.


Bukan hanya memberikan jabatan sebagai direktur di salah satu kantor cabang perusahaan, mereka juga menawarkan fasilitas kantor yang menurut Joelin sangat berlebihan. Setelah bernegosiasi dengan pasangan itu, akhirnya mereka pada kesepakatan bahwa Mickey akan menerima jabatan di salah satu kantor Goedan, dengan syarat tidak ada hadiah tambahan seperti mobil, rumah dan fasilitas mewah lainnya. Joelin dan Mickey merasa tidak enak menerima segala sesuatu yang bernilai berlebihan seperti itu. Mendapatkan posisi direktur saja sebenarnya sudah terbilang berlebihan, tapi Mickey dan Joelin terpaksa menerima, saat Goedan dan Aluna menyebut-nyebut istilah balas budi.


Flashback on


"Anggap saja, aku balas budi karena berkat kalian akhirnya aku bisa menemukan cinta sejati ku." begitu ujar Goedan kala itu berkunjung kerumah baru Mickey dan Joelin.


"Iya, anggap saja juga ini permohonan maaf ku atas kejadian masa lalu, antara kita dan kak Vino." ujar Aluna menambahkan.


"Tapi ini tetap masih berlebihan Bang, Na." protes Joelin. "Kami memang butuh pekerjaan sekarang, tapi tidak perlu jabatan setinggi itu, jadi karyawan biasa juga sudah cukup." ujar Jeolin menambahkan.


Bukan dia ingin memanfaatkan pertemanan mereka, Joelin hanya bersikap rasional, mengingat suaminya orang asing, dia yang sedang hamil muda dan mereka pasti butuh biaya untuk bertahan hidup.


"Jangan menolak Joe." ujar Goedan.


"Okay, anggap saja suamimu bekerja di sana sebagai balas budi pada kak Goedan, karena sudah membantu mencarimu saat kabur ke medan. Iya kan sayang?" ujar Aluna tiba-tiba.


"hmmm..." Joelin seketika merasa gusar mendengar pernyataan Aluna. Bagaimanapun mereka sudah banyak membantu sejauh ini, tapi malah masih tetap ingin membantu Joelin. Dia benar-benar tak habis pikir bahwa hubungan antara keluarganya dan Goedan bisa sampai sejauh ini.


-Cup-


Sebuah kecupan kembali mendarat di pipi Joelin, menyadarkan gadis itu dari lamunan panjangnya.


"Kamu, ini jalan sambil melamun. Kalau tadi nggak ada aku kan bisa bahaya sayang, gimana kalau kamu jatuh atau kesandung? Dasar istri nakal, membuatku khawatir saja." omel Mickey sambil mencubit gemas pipi Joelin.


Joelin memandang sekitar, rupa-rupanya kini mereka sudah di halaman depan. Di hadapan Joelin sedang berdiri seorang pria paruh baya yang tengah menahan pintu mobil agar tetap terbuka.


"Selamat pagi nona Jelin, silahkan masuk tuan." ujar pria itu.


"Selamat pagi bapak, sudah saya bilang jangan panggil saya nona pak." protes Joelin pada pria itu. Dia adalah supir yang sama dengan supir yang kala itu menjemput Mickey dan Joelin di bandara.


"Aku pergi dulu sayang... Baby, appa kerja dulu ya, jangan nakal jaga mommy baik-baik. Okey?" ujar Mickey panjang lebar sambil berlutut di hadapan Joelin dan mengelus perutnya.


Setelah mendaratkan sebuah kecupan di atas kain yang menutup kulit perut Joelin, pria itu melangkah masuk ke dalam mobil. Pintu mobil sudah di tutup, sang supir juga sudah duduk di balik kemudi, perlahan besi beroda empat itu melaju meninggalkan kediaman Joelin.


Joelin kembali masuk ke dalam rumah, dan memandang sekeliling. Bisa bosan dia ditinggal sendirian lagi, sama seperti hari-har sebelumya. Ya, sudah seminggu sejak Mickey bekerja. Dan sudah dua minggu sejak mereka tinggal di kota ini. Tak ingin berdiam diri dan menjadi bosan, Joelin memutuskan untuk membersihkan rumah, jika sempat dia akan menyempatkan diri berbelanja ke supermarket yang ada di komplek itu.

__ADS_1


\*\*\*


Mickey menatap layar ponselnya. Mie ayam yang tadi dia beli masih sangat panas, bahkan sampai membuat tangannya sedikit melepuh. Bersyukur Pak Karno, begitu sapaan sang supir, bersedia menemaninya mencari pesanan Joelin pagi tadi.


Namun perjuangan Mickey sepertinya belum cukup sampai di sini, Joelin masih menginginkan hal lain. Dia kini berjuang membacakan pesanan Joelin pada sang supir karena tak tahu harus mencarinya kemana. Nama-nama makanan ini sangat asing baginya, dan kemampuan berbahasa Indonesianya sungguh payah, pasti beginilah Joelin saat dulu datang ke negaranya, mengalami kesulitan saat berkomunikasi sungguh tidak menyenangkan. Beruntung sekali kantor cabang yang dia tempati khusus untuk urusan dengan perusahaan asing, jad dia bisa mengandalkan bahasa inggris selama bekerja.


Dia kembali membaca pesan Joelin dalam hati, sebelum memanggil pak Karno yang tengah fokus pada jalan dan berkata.


"Pak, be-te-gol- (tulis batagor), saiumei (tulis siomai), la-jek (rujak), dimana beli?" tanya Mickey frustasi karena harus mengucapkan nama-nama pesanan Joelin.


Pak Karno mengeryit bingung dengan pertanyaan bos nya yang memilih duduk di sampingnya, bukan di jok belakang seperti majikan-majikan lain.


"Tuan mau beli?" tanyanya yang sedikit paham dengan kalimat Mickey barusan.


"Ya, dimana?" jawab Mickey lega, sepertinya dia menyebut nama makanan tadi dengan benar.


"Beli apa?"


"Ha? bukankah tadi aku sudah sebutkan?" gumam Mickey dalam hati.


"Beli apa tuan?" tanya supir itu lagi, sambil fokus pada jalanan tentunya.


"be-te-gol- , saiumei , la-jek." ujar Mickey membaca pesan Joelin yang seharusnya berbunyi "batagor, siomay, rujak."


Pak Karno memelankan laju kendaraannya, dan dengan hati-hati memilih menepi sejenak dan menghentikan mobil itu. Mickey kini sedikit bingung dengan tingkah pria yang sudah berumur itu.


"Maaf, izinkan saya melihat ponsel Tuan." ujar pak Karno sambil memutar wajahnya ke arah Mickey.


Mickey yang tidak sepenuhnya mengerti kalimat pak Karno kini tengah mengeryit bingung. Tadi juga dia minta orang kantor menerjemahkan pada Pak Karno bahwa dia ingin membeli mie ayam.


"Apa?" tanya Mickey bingung.


pengumuman


**Hi semua, jangan lupa vote ya, like dan komen yang banyak ya. Btw menurut kalian part ini gimana? Semoga gak buat bosan ya..


Thanks.


~best**~

__ADS_1


__ADS_2