Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Terindentifikasi Cemburu


__ADS_3

"Apa aku menyakiti dia? Aku hanya tidak suka melihatnya dekat-dekat dengan pria lain. Apakah aku salah?" gumam Mickey dalam hati.


Rasa kesal dan campur aduk membuat Mickey tanpa sadar melajukan motornya membelah jalan dengan kecepatan tinggi. Joelin yang berada di boncengan Mickey memeluk pria itu semakin erat.


Dekapan Joelin dan tubuhnya yang bergetar karena sesenggukan akhirnya melemahkan hati Mickey. Pria itu pun mengembalikan laju motornya pada kecepatan standar. Joelin masih memeluk Mickey dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung pria itu. Resah di hatinya belum usai juga.


Sementara itu di cafe, setelah menemukan tempat duduk Goedan segera menghubungi seseorang dengan ponselnya.


"Hallo. Vin, gue sudah di cafe terdekat kampus loe. Buruan kemari, ada hal penting."


Setelah memutuskan sambungan telepon, pria itu langsung menyimpan ponselnya. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang kental.


"Joelin, apakah dia baik-baik saja?" gumam Goedan dalam hati sambil saling menakutkan jari-jari pada kedua tangannya.


\*\*\*


Aluna, dengan kaos tosca dan jeans pendek di atas lutut yang dipadankan dengan sneekers putih kini sedang adik mengawasi setiap sudut kampus Vino.


"Jadi gini doang kampus loe?"


"Ya ampun Na.. jangan menghina. Belajar muji dikit napa dek? pantes aja loe jomblo sampai karatan begini." jawab Vino yang sejak tadi setia menjadi bodyguard dan guide gadis itu.


"Loe salah kak. Gue ini jomblo karena setia nunggu pangeran gue.."


Tiba-tiba ponsel Vino berdering, pria itu lebih memilih menjawab panggilan yang masuk keponselnya daripada menanggapi Aluna.


"Dasar kakak durhaka." protes Aluna saat Vino selesai dengan percakapannya di telepon barusan.


"Loe mau di sini atau mau ketemu sama pangeran?"


"Maksud kakak?"


"Goedan. Goedan udah nungguin kita di cafe."


"Yuk kak." ajak Aluna langsung bersemangat.


Vino hanya bisa menggeleng perlahan menyadari perubahan emosi adik sepupunya itu.


"Naik sepeda ya?" tanya Aluna lagi.


"hmmm.."


"Kamu sih kak, demi style low profile mu itu aku jadi ribet begini. Kalau kakak mau pakai mobil kan Aluna nggak mesti berpanas-panasan naik sepeda kemana-mana." ujar Aluna panjang lebar sambil berdiri di sisi Vino yang sudah siap dengan sepedanya.

__ADS_1


"Mau gue tinggal sekalian?" ancam Vino dingin.


"Okay okay. Nggak usah pakai ngancam-ngacam juga dong." protes Aluna sambil duduk di boncengan Vino.


"Maksud hati traveling buat having fun. Tapi lama-lama kulit gue hancur gara-gara aksi lelaki aneh ini." Aluna mengomel dalam hati sambil menarik ujung baju Vino agar tidak jatuh dari boncengan.


Sepeda yang melaju membawa Vino dan Aluna akhirnya tiba di depan sebuah Cafe. Mereka berdua segera masuk ke dalam tempat itu dan menemukan Geodan yang duduk di sudut ruangan.


"Wajah loe kenapa Dan?" tanya Vino menyadari raut wajah Goedan yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Hari ini, loe jadi nggak ngajak Joelin keluar?" tanya Goedan serius.


"What? Joelin?? itukan gadis yang pernah diceritakan kak Vino?" gumam Aluna was-was.


"Tadi pagi, gue udah menghubungi dia kok bro. Tapi yah loe tau sendiri, Joelin si dingin itu menolak gue mentah-mentah." ujar Vino sengaja menekankan rasa tidak sukanya terhadap Joelin.


"Gue ketemu dia."


"Apaa?" ucap Aluna polos.


"Terus anaknya kemana?" tanya Vino yang berusaha menyembunyikan rasa tidak tertariknya atas percakapan ini.


"Dia dibawa pergi sama seorang pria." jawab Goedan.


"Gue nggak merasa begitu." ujar Goedan mengutarakan kegelisahannya.


"Maksud loe dia diculik? Mustahil Goedan." ujar Vino yang mulai bingung.


Goedan bingung menjelaskan bagaimana pertemuannya dengan Joelin tadi. Mata sembab, tentulah bekas menangis. Dan pria itu, pria yang membawa Joelin pergi terlihat sangat emosional. Goedan tidak tahu kondisi apa yang sedang dihadapi oleh pujaan hatinya dengan pria asing itu. Ketidaktahuan yang membuatnya semakin cemas.


"Selama ini loe ngawasin dia nggak?" tanya Goedan pada Vino.


"Oh.. jadi benar-benar Joelin yang itu." Aluna bergumam pada dirinya sendiri. Cemburu dan kecewa, emosi iti kini tertuang di wajahnya.


"Udah ah. bro. Lebih baik kita tidak membahas masalah ini sekarang. Ingat, tujuan loe datang kemari untuk liburan dam having fun bareng gue dan Aluna." ujar Vino yang mulai menyadari perubahan pada raut wajah Aluna.


Goedan akhirnya milih untuk tidak membantah dan tidak bersuara lagi. Bagaimanapun masih banyak rencana yang harus mereka lakukan hari ini. Dia tidak boleh bersikap egois terhadap persahabatan mereka.


Sementara Vino, pria itu semakin penasaran dengan sosok Joelin yang sukses menutup mata sahabatnya pada segala jenis perempuan. Termasuk Aluna, yang cantik ini.


"Selain dingin, gadis itu punya apa? Kenapa Goedan bisa jadi begini?" tanya Vino dalam hati.


\*\*\*

__ADS_1


Mickey membawa motornya memasuki halaman rumah, setelah Joelin membukakan pagar. Gadis itu masih menundukkan kepala, menyembunyikan air matanya. Gadis itu menyusul Mickey yang sudah masuk kerumah setelah memastikan pagar telah terkunci.


Disebrang jalan, dari dalam sebuah mobil mewah sepasang mata sedang mengawasi pasangan itu. Mata itu tidak melihat raut sedih Joelin maupun amarah yang terlukis di wajah Mickey. Yang dilihatnya hanyalah kebenaran bahwa pria itu membawa seorang perempuan masuk ke dalam rumahnya.


"Dasar perempuan murahan, berani-beraninya masuk ke rumah priaku." ujarnya emosi sebelum melajukan mobilnya membelah jalan raya.


Sementara itu di dalam rumah, Mickey langsung membuang tubuhnya duduk di sofa. Mood pria itu benar-benar berantakan. Joelin yang menemukan Mickey duduk di ruang tamu memilih mengabaikan suaminya. Dia melangkah menuju kamar dan memilih merebahkan tubuhnya di kasur.


"Apa kau menangisi pria-pria itu? Hapus air matamu itu." ujar Mickey kasar sambil melempar tissu ke arah Joelin. Dia semakin kesal saat istrinya itu memilih untuk masuk kekamar tanpa berbicara dengannya.


Tissu yang dilempar Mickey mendarat tepat di wajah Joelin. Hatinya semakin perih. Dia belum pernah melihat sisi kasar Mickey sebelumnya.


"Apa maumu?" protes Joelin mengubah posisinya jadi duduk di tempat tidur.


"Jelaskan padaku siapa pria itu."


"Dan kemudian kau akan memintaku menjelaskan hubungannya denganku?"


"Dan siapa pria yang meleponmu? Bagaimana aku bisa menerima ketika istriku di telepon oleh pria asing dan dipeluk pria asing di hadapanku?" ujar Mickey panjang lebar. Dia kini berdiri tepat dihadapan Joelin.


"Terserah kau saja. Aku lelah, jangan ganggu aku." ujar Joelin frustasi gadis itu memilih kembali merebahkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan selimut.


"Joelin, apa kamu akan terus menyembunyikan wajahmu itu? Apa susahnya menjauhi mereka?" tanya Mickey geram.


"Pergilah Mickey, jangan ganggu aku." ujar Joelin pelan. Matanya kembali terasa panas, bulir-bulir bening itu kembali mengalir.


"Kau lebih memilih membela mereka daripada aku." ujar Mickey ketus sambil berlalu dari sana.


"Sebanyak apapun aku menjelaskannya padamu, kalau kamu sudah memilih untuk tidak percaya, kamu tidak akan pernah percaya." ujar Joelin pelan.


Mickey yang sudah meninggalkan kamar tentu tidak mendengar kalimat itu lagi. Pria itu segera mengendarai motornya dan pergi meninggalkan Joelin sendirian. Moodnya benar-benar berantakan sekarang. Hatinya sakit melihat kesedihan Joelin, tapi hatinya juga tidak terima dengan kedekatan gadis itu dengan pria-pria lain.


"Tunggu dulu, apakah... Apakah aku hanya sedang cemburu buta?" batin Mickey saat mengendarai motornya membelah jalan raya.


**Pengumuman:


Readers, apakah terlalu berlebihan jika aku mengharapkan dukungan Vote dan like dari kalian?


Jika tidak, tolong bermurah hati padaku lewat memberi vote dan like pada novel ini.


thankyou


-Best**-

__ADS_1


__ADS_2