Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
S2. a secret


__ADS_3

Author note 🌹🌹🌹


😊😊😊


Hi...hi... hi semuanya.


Makasih untuk kesetiaan kalian sampai part ini. Untuk visual tokoh, akan segera meluncur.


Special note buat para pembaca, silahkan masuk grup chat author ya. Author sedang mengadakan event berhadiah menarik. Door prize nya lumayan loh, jadi tunggu apa lagi? mampir yok 🤩🤩🤩


Back to story 🌹🌹🌹


"Kenapa aku bisa lupa jadwal pemeriksaan? Tapi, aku senang Mickey ingat hari ini. Berarti keputusanku benar kan? Aku tidak boleh mencurigai suamiku sendiri. Bagaimanapun dia mencintaiku." Joelin melangkah santai menuju kamar sammbil bergumam dalam hati.


\*\*\*


Mickey menggandeng tangan Joelin sambil menggendong Lucy dengan tangannya yang lain. Saat ini, pria itu sedang menemani istri dan anaknya mengunjungi dokter.


"Joelin?" seorang wanita yang tengah berdiri di salah satu titik koridor rumah sakit menatap keluarga itu penuh arti.


"Ah, gue pengen banget nyapa loe. Tapi, bagaimana gue bisa melakukannya." Sambil mengelus perutnya yang kini membuncit wanita itu bermonolog tanpa membuang tatapannya dari keluarga Joelin.


Gerakan-gerakan halus mengusik perutnya, tendangan dan gerakan sang bayi kini makin terasa.


"Loe sangat beruntung Joe, mendapatkan cinta dari suami loe." ujarnya lirih sebelum memutuskan menjauh dari sana.


Senyum bahagia Joelin, tatapan lembut Mickey, dan bayi kecil yang lucu di pangkuan pria itu menjadi pemandangan indah yang menggores hatinya.


"Gue baru tahu kalau Joelin hamil lagi. Pasti pengalaman mengidam cewe sebijik itu lucu-lucu kayak di novel-novel." Sebuah senyum terbit di bibir Amel yang sedang bergegas keluar dari rumah sakit sambil sibuk memikirkan Joelin.


"Beda banget sama gue..." seketika senyuman gadis itu lenyap menguap entah kemana. meninggalkan gedung rumah sakit, Amel masuk ke dalam mobil dan tenggelam dalam pikirannya.


🌹🌹🌹Flashback On 🌹🌹🌹


"Amel... Mel... sayang.. bangun nak." seorang wanita menepuk pipi Amel yang kini tidur di atas ranjangnya.


"hmmm..." Perlahan mata Amel terbuka.


"Kamu bangun nak, terus sarapan ya. Mami tinggal bentar, ada arisan." ujar wanita yang dibalut dengan penampilan sosialita itu.


"Bau apa ini? Ah... Gue pengen muntah." batin Amel sambil menatap wanita itu.


"Kamu ini, diajak ngomong sama orang tua malah diam aja. Mami pergi ya, jangan lupa sarapan. Vitaminmu juga diminum ya nak." ujar wanita itu lagi.


"Iya mi." Amel menjawab cepat berjuang menahan isi perutnya yang kini ingin dimuntahkan.


Saat wanita itu meninggalkan kamarnya, Amel langsung memuntahkan seluruh isi perutnya di kamar mandi.


\*\*\*

__ADS_1


Amel menatap bayangan yang kini dipantulkan oleh cermin. Perutnya belum membuncit, namun tubuhnya terlihat lebih padat. Tak lupa gadis itu mengamati wajahnya yang kini pucat.


"Kamu mau kemana nak? Kok rapi banget?" tanya wanita yang dia panggil sebagai Mami.


"Hari ini Amel nginap di rumah Mama ya Mi, please." pinta Amel dengan wajah memohon.


"Yasudah, kamu jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi mami Clara." berkata sambil meletakkan tangan dekat telinganya membuat gesture menelepon.


"Siap Mi." ujar Amel sambil tersenyum pada wanita itu.


Mami Clara adalah ibu dari pria yang telah menghamili Amel. Walau pernikahan tidak sampai mengikat mereka, namun mami Clara sangat bertanggungjawab dengan membawa Amel ke rumahnya. Dan memperkenalkan Amel sebagai istri putranya pada orang di kompleks mereka.


Rumah orang tua Amel sendiri, hanya berjarak 3 rumah dari kediaman Mami Clara. Jadi Amel dan ayah dari anaknya merupakan tetangga. Namun sekarang pria itu entah dimana, Amel tidak tahu dan tidak mau tahu. Sejak pria itu menolak untuk menerima dia dan anaknya, bagi Amel pria itu sudah lenyap di telan bumi.


\*\*\*


Berbeda dengan hari biasa, sekarang Amel sedang berada di kediaman orang tua nya. Dan sedang nongkrong sambil jongkok di depan pintu kulkas yang terbuka. Sambil mengunyah buah kedondong yang telah dipotong kecil-kecil dan dicampur irisan cabe rawit.


"Astaga, rasanya beda jauh banget sih sama rujak. Kesel gue." Amel mengomel dalam hati sambil mengunyah kedodong asam pedas itu.


"Untung aja loe ada kulkas, bisa membantu menurunkan panas di hati gue. Gini kan adem..." Ternyata Amel sangat menikmati suhu dingin yang mengalir dari kulkas.


"AMEL!!!!???.... NGAPAIN KAMU??" Bu Dewi, mama dari Amel tertegun menyaksikan anaknya yang kini terlihat seolah ditelan oleh kulkas.


"Hi Ma..." jawab Amel santai.


"Makan apa sih nak? Duh... kamu ini ada-ada aja deh." Sang ibu hanya bisa geleng-geleng gemas saat melihat isi box buah di tangan Amel.


Pertanyaan itu hanya dijawab dengan gelengan kepala sang ibu.


"Mama sama Papa mau keluar, kamu mau nitip sesuatu nggak?"


Tanpa beranjak dari posisi awalnya Amel menjawab santai, boleh ma.. "Bakso mas ujang ya." gadis itu menyebut nama penjual bakso yang selalu hits tak jauh dari are kompleks perumahan mereka.


"Oke..." sang ibu berlalu meninggalkan Amel.


"Sebenarnya sih pengen bakso buatan dia. Ah b*doh, buat apa gue pengen sesuatu dari dia? Amit-amit dah." Amel mengoceh bersamaan dengan bayangan sosok pria kini melintas di pikirannya.


"Uh... Amel.. Loe jangan inget-inget dia lagi. Cowok itu udah hilang ditelan bumi. lupain Mel.. lupain." Gadis itu menggeleng sambil mengetuk-ngetuk jidat dengan salah satu tinjunya.


Sorenya, saat kedua orangtuanya kembali bersama dengan bakso pesanan Amel gadis itu segera menyambut dengan wajah sumringah.


Tanpa basa-basi, Amel melahap bakso di meja makan. Pada suapan pertama, secara mendadak, Amel merasa sesak di dalam hatinya. Ada kesedihan menyergap. Gadis itu akhirnya menikmati bakso disertai cucuran air mata.


"Kamu nangis?" tanya Mama Dewi yang tiba-tiba muncul di dapur.


"Nggak Ma... pedes. Amel kepedesan ma... shhhh..." ujar Amel berbohong.


"Oh... begitu?? yaudah, buang aja nak kalau pedas." saran Mama Dewi sambil mengambil segelas air putih dari dispenser.

__ADS_1


"Tapi Amel suka ma." jawabnya berbohong.


"Yasudah, terserah kamu saja." Mama Dewi berlalu, sepertinya wanita itu kembali ke ruang keluarga.


Hari-hari berikutnya acara mengidam Amel, selalu berteman air mata. Setiap dia ingin makan sesuatu atau melakukan sesuatu, Amel berusaha memenuhi keinginannya sendiri. Sayangnya, ada satu hal yang dia tidak bisa lakukan.


Dia ingin semuanya yang berasal dari pria itu. Nasi goreng buatan lelaki itu, sambal balado masakan pria itu, mangga muda yang dipetik langsung oleh pria itu, dan banyak keinginan-keinginan yang harus dilakukan oleh ayah dari anaknya.


Dari sekian banyak acara mengidam yang dilalui Amel, tak satupun terkabul. Biarlah kisah mengidam menjadi sebuah rahasia besar yang akan selalu dia kenang di kemudian hari.


🌹🌹🌹Flash back off 🌹🌹🌹


"Non Amel... kita sudah tiba di rumah." sebuah suara menarik Amel kembali dari lamunan panjang.


"eh.." pandangan gadis itu beredar keluar menembus kaca jendela mobil.


"Makasih pak." jawabnya pada sang supir sambil bergegas turun.


\*\*\*


Sementara itu di tempat lain, ruangan CEO dua insan sedang beradu pandang dengan tatapan dingin.


"Apa masalah kamu sebenarnya? Mengerjakan hal begini saja tidak bisa, ha?" sang pria mencampakkan kertas ditangannya hingga berhamburan di lantai.


"Mas..." ujar perempuan. Dia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya.


"Mas? Siapa yang kamu panggil mas? Di sini saya bos kamu." pria itu berujar ketus.


"Iya bos.. iya. tapi kan cuman salah pemberian tanggal. Lagipula bisa di ulangi kan?" tak mau kalah, sambil membalas tatapan dingin sang suami dia menjawab sarkas.


"Aluna, ini kontrak penting. Dan kamu harusnya sadar betapa vatal kesalahan pemberian tanggal pada kontrak. Beruntung belum ada tandatangan di sana. Kalau tidak bisa bekerja lebih bail kamu berhenti saja."


....


Aluna memilih membisu, tak ingin menjawab kalimat jahat dari sang suami yang jelas-jelas sudah menyakiti perasaannya.


"Kamu pikir, sekertaris mana yang akan bertingkah ceroboh seperti kamu? Sudahlah, tinggal dirumah saja mulai besok. Biar saya cari sekertaris baru."


"Bos mau cari sekertaris baru? Yang lebih cantik, seksi dan bohay???? Oh... silahkan." jawab Aluna ketus sebelum membalik badannya dan keluar dari ruangan pria itu.


"Aluna..."


Tanpa menghiraukan panggilan sang suami, dia langsung membanting pintu ruangan Ceo dan kembali ke mejanya.


Goedan memijit dahinya dengan jari. Bukan karena dia ingin mencari sekertaris cantik dan seksi apalagi bohai, tapi masalahnya Aluna mermang sedikit ceroboh dalam bekerja.


......to be continued....


Jangan lupa vote ya guys... 💕💕💕💕

__ADS_1


-best-


__ADS_2