
"Dia nggak mungkin geger otak kan?" tanya Joelin dalam hati sambil mencoba menenangkan Aluna.
Akhirnya gadis dalam pelukan Joelin berhenti menangis. Setelah berpisah dengan Aluna dan membeli rinso yang dia butuhkan Joelin kembali kerumah untuk melanjutkan acara beres-beresnya.
\*
Aluna yang baru saja bertemu Joelin menghempaskan tubuhnya di atas sofa di kamar hotel dengan perasaan campur aduk. Dia enggan membersihkan tubuh dan memilih bergelung malas di sofa itu. Tiba-tiba bel kamarnya berbunyi, dengan malas Aluna bergegas ke arah pintu.
"Baru bangun?" tanya pria yang kini mengekor di belakang Aluna.
"Nggak."
"Kok matanya masih merah. Coba sini kakak lihat." ujar Vino sambil menggerakkan kedua tangannya untuk memutar tubuh Aluna menghadap padanya.
"Apaan sih kak?"
"Kamu nangis Na?"
Hening, Aluna memilih tidak menjawab pertanyaan Vino.
"Ada masalah apa Na?" tanya Vino lembut.
"Kak, boleh Aluna melihat foto Joelin yang selalu kalian perbincangkan itu?" tanya Aluna kesal.
"Ok." ujar Vino.
Perasaan bersalah kini menyiksa kepala dan dada pria itu. Benar sepanjang liburan dirinya dan Goedan selalu membicarakan Aluna. Bukan karena Vino senang dengan topik pembicaraan itu, hanya saja Goedan memang sepertinya tidak memiliki ketertarikan lain selain pada Joelin.
"Kakak.. mana fotonya?" rengek Aluna manja menyadarkan Vino dari lamunannya.
"Sebentar.."
Vino lalu mengeluarkan ponselnya dan mencari akun media sosial milik Joelin dan menyerahkan ponselnya pada Aluna.
Aluna mengamati wajah yang tertera di layar ponsel Vino. Dia mengernyitkan keningnya kesal.
"Bercandamu nggak lucu kak." ujar Aluna ketus sambil memilih duduk di sofa setelah mengembalikan ponsel Vino dengan kasar.
Vino yang bingung dengan kemarahan Aluna memutuskan untuk memeriksa kembali layar ponselnya.
"Astaga.. ini mah bukan Jolein yang aku maksud." ujar Vino sambil menatap ngeri pada foto banci yang kini menghiasi layar ponselnya.
"Maaf dek, yang tadi salah. Ini nih, yang ini beneran Joelin." ujar Vino yang kini menyusul duduk bersama Aluna.
"yah.. kakak.. tahu nggak sih, Aluna sempat mikir kalau kak Goedan suka yang begituan." ringis Aluna.
"Astagfirullah Na... jangan sembarangan loh kamu dek."
"Habis kakak sih ngasih foto yang berlebihan gitu imutnya."
__ADS_1
"Nah.. ini nih si Joelin." ujar Vino menyerahkan ponsel pada Aluna.
Aluna meraih ponsel itu, raut wajahnya kini tidak terbaca. Aluna tidak tahu, harus kesal, marah, sedih atau merasa tersaingi saat melihat foto Joelin di ponsel Vino.
"Udah lihat kan?" tanya Vino santai.
"Ternyata memang dia." gumam Aluna mengabaikan kalimat Vino.
"Maksud kamu apa dek? Kamu kenal dengan dia?"
"Yang Aluna tahu Joelin bukan seperti yang kakak tahu. Dia bukan gadis dingin kak, wajar kak Goedan tergila-gila padanya." ujar Aluna.
"Sok tahu kamu. Baru juga lihat foto doang, langsung ambil kesimpulan seolah kamu kenal Joelin."
"Ya terserah kakak aja, tapi jangan halangi Aluna lagi kak. Aku juga mau berjuang buat dapetin hati kak Goedan."
"Aluna.. kamu jangan bertindak gegabah dek." protes Vino dengan suara bernada tinggi.
"Kenapa lagi sih kak?" Aluna balas meneriaki kakaknya.
"Kita harus hati-hati Na. Jangan sampai masalah ini merusak hubungan kita dengan Goedan. Kamu tahu kan resikonya apa?"
Aluna terdiam mendengar perkataan Vino. Semua yang diucapkan pria itu benar adanya, kalau sampai mereka tidak berhati-hati, bukan hanya Aluna yang mustahil mendapatkan hati Goedan. Masalah itu pasti akan berimbas pada kerjasama bisnis kedua keluarga itu.
"Pokoknya Aluna nggak mau tahu. Secepatnya kakak harus selesaikan masalah Joelin." ujar Aluna tegas sambil berjalan menuju kamar mandi.
Vino yang menyaksikan punggung Aluna menghilang di balik pintu, kini sedang sibuk berpikir keras. Bagaimanapun dia tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Pria itu langsung menghubungi sebuah nomor.
"Temui aku jam 7 sore di tempat biasa." ujar Vino memerintah.
Rahang pria itu mengeras menandakan emosinya yang tengah tersulut. Seusai menelepon Vino mengacak rambutnya kasar. Wajahnya terlihat frustasi.
"Arrrgh... Aluna tidak boleh melihatku begini" gumamnya sambil melangkah keluar dari ruangan itu.
Dengan langkah tergesa-gesa, Vino meninggalkan kamar Aluna. Dia ingin segera pergi dari sana dan menyembunyikan wajahnya saat ini dari Aluna dan Goedan. 'Bruk..' tanpa sengaja Vino yang tergesa-gesa menabrak seseorang.
"Ah.. sorry." ujar Pria berambut pirang itu.
"Brengsek." maki Vino sambil berlari dari sana. Emosinya kini nyaris meledak, dan kenapa harus ada orang yang menabraknya. Vino menjauh dari sana sambil mengepalkan tangannya.
"Ah... kenapa pasien itu berkeliaran di sini?" gumam pria berambut pirang itu sambil menarik kopernya yang tadi terlempar agak jauh saat bertabrakan dengan Vino.
\*
Joelin dan Mickey baru saja menyelesaikan aktivitas bersih-bersih di rumah. Setelah membersihkan tubuh masing-masing dan menyantap makan siang, pasangan itu kini sedang beristirahat di kamar.
"Joelin, please.." pinta Mickey merengek.
"Ya ampun Mickey, apa kamu anak kecil?" ujar Joelin frustasi mendengar rengekan suaminya itu.
__ADS_1
"Sudah lima hari, hukumannya dikasih diskon dong." pinta Mickey yang sudah tidak bisa menahan diri dari acara puasanya lagi.
"hmmm.. gimana ya?" tanya Joelin sambil memutar posisi tidurnya menghadap Mickey.
"Yaudah deh peluk aja." Mickey menarik Joelin mendekat padanya.
"kamu bisa rasain dia nggak?" tanya Mickey sambi menggoyang pinggangnya sedikit, mencoba menggesek adik kecilnya pada Joelin.
Joelin paham dengan pertanyaan Mickey. Dia sungguh merasakan sesuatu yang hangat kini menekan area bawah perutnya.
"Terimakasih appa." ujar Joelin tulus.
"Buat apa sayang?"
"Terimakasih sudah menahan diri karena hukuman itu. Dan terimakasih sudah bersedia menjalani hukuman." ujar Joelin.
"Hmmm... Lain kali, kita harus waspada dengan salah paham ya sayang."
"Iya, lain kali kamu jangan langsung marah-marah. Tunggu penjelasan istri dulu. Masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin." ujar Joelin yang kini mendaratkan wajahnya di dada bidang Mickey.
"Siap tuan putri. Saya akan ingat pesan anda."
"Jadi mau nggak?" tanya Joelin menyembunyikan wajahnya.
"Mau apa sayang?" ujar Mickey sambil menyentuh kepala Joelin dan mengubah posisinya agar menatap wajahnya.
"hmmmm itu loh..." ujar Joelin gelagapan, wajahnya kini terasa sangat panas.
"Itu apa sayang? kamu kalau bicara yang jelas, jangan buat aku salah paham begini.".
"Diskon." ujar Joelin singkat dan dalam gerakan secepat kilat dia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Mickey.
Mickey tersenyum geli dengan tingkah malu-malu istrinya itu. "Akhirnya hukumanku berakhir. Yes.." sorak Mickey dalam hati.
Ternyata rencananya berhasil. Membantu istri menyelesaikan pekerjaan rumah, merupakan salah satu cara ampuh untuk memenangkan hatinya. Buktinya hukuman Mickey di beri diskon dua hari. Padahal sejak kemarin-kemarin dengan tegas istrinya itu masih bersikukuh untuk menghukumnya selama seminggu penuh tanpa hubungan suami istri.
"Jadi sekarang kamu cium aku dong." goda Mickey pada Joelin yang masih bersembunyi.
Joelin menjawab permintaan Mickey dengan menggeleng. Gesekan wajah Joelin di dadanya membuat pria itu semakin bersemangat. Mickey yang tidak sanggup menahan diri langsung menggeser posisi Joelin dan menindih tubuh gadis itu. Dalam hitungan detik benda hangat yang empuk itu akhirnya mendarat di bibir Joelin. Hari semakin hangat, sementara Mickey telah berhasil menyelesaikan hukumannya, tentu saja dengan diskon.
"Terimakasih sudah menghukumku, lain kali kamu yang akan merindukan permainan ku seperti tadi." ujar Mickey sebelumJoelin terlelap karena kelelahan.
Mickey tersenyum penuh kebahagiaan. Gadis yang kini dalam dekapannya adalah istrinya sendiri. Bersama gadis ini rasanya selalu berbeda, jauh lebih indah daripada saat dia di sisi perempuan-perempuan yang pernah hadir di masa lalunya. Mickey merasa penuh seutuhnya saat menyentuh Joelin.
****Pengumuman
Jawaban soal di part terdahulu belum keluar di sini ya, jawabannya akan kita temukan setelah beberapa part.
Btw, tetap dukung dengan vote ya teman-teman.
thankyou.
-best**-
__ADS_1