Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Rumah Sakit


__ADS_3

"Ah perutku..." Joelin merasa sakit di bagus perutnya sebelum tiba-tiba pandangannya menggelap.


\*\*\*


Mickey membuang nafas keras, tumpukan berkas di hadapannya seolah tidak berkurang sama sekali.


"Masih banyak dokumen yang harus diselesaikan hari ini." gumam pria itu, tujuannya memeriksa ulang semua laporan keuangan beberapa tahun terakhir adalah untuk mencaritahu dalang di balik kecurangan yang terjadi di perusahaan.


drt....drt... ponsel pria itu bergetar, mencuri perhatian Mickey.


"Hallo... Goedan?"


"Bagaimana situasi disana Mickey?"


"Kami masih berusaha melacak pelakunya."


"Baiklah, segera kabari aku jika sudah menemukan jawaban." ujar Goedan.


"Okay, tenang saja Goedan. Kami akan menangani semaksimal mungkin."


"Hahaha... cara bicaramu sudah mirip sales." Goedan tertawa mendengar penuturan Mickey.


"Kau masih bisa menertawakan ku di situasi genting begini?"


"Masalah perusahaan tetap masalah yang harus diselesaikan, tapi jangan lupa untuk hidup waras dan bahagia. Jangan bilang kau sedang di kantor saat ini.." ujar Goedan panjang lebar.


"Iya, aku memang sedang di kantor."


"Mickey, kau ini benar-benar... Apa kau lupa istrimu sedang hamil? Dia bahkan masih harus merawat Lucy."


"Aku ingat, jangan mengingatkanku tentang istriku. Kau urus istrimu saja." jawab Mickey.


"Pulanglah bro, ini hari sabtu. Nikmati waktu dengan keluargamu."


"Kau,..." Kalimat Mickey terputus seiring sambungan yang diputuskan dari pihak Goedan.


"Dasar anak ini..." Mickey mengomel sambil memperhatikan ponselnya.


"Lima panggilan dari Joelin? Ada apa?" Mickey mengeryit menyaksikan list panggilan tidak terjawab di ponselnya sambil pria itu mencoba menghubungi nomor sang istri berkali-kali.


Sudah hampir sepuluh kali Mickey menghubungi Joelin, namun sama sekali tidak ada jawaban. Pria itu menatap ponselnya dengan raut cemas. Sang sekertaris yang menyadari kegelisahan bos memilih untuk memaksa diri fokus pada laporan di hadapannya.


"drt....drt...."


My Wife memanggil..


Mickey segera mengusap tombol hijau di layar ponselnya.


"Hallo sayang... Ada apa?"

__ADS_1


"Selamat siang, apa anda suami dari nyonya Joelin?" sebuah suara asing menyapa Mickey dari seberang.


"Ya, saya sendiri."


"Tuan, mohon maaf kami dari pihak rumah sakit..."


"Apa?????" Mickey segera menyambar dompetnya dan berlari keluar dari ruangan itu.


\*\*\*


Di rumah sakit...


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" dengan tergesa-gesa Mickey menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan Joelin.


"Apa anda suami dari pasien bernama Joelin?" tanya wanita itu.


"Iya."


"Mari kita bicarakan di ruangan saya."


Jantung Mickey berdegup kencang, dia sungguh cemas akan kondisi Joelin dan bayinya. Sampai-sampai pria itu lupa untuk memeriksa keadaan Lucy sang putri.


Di ruangan sang dokter, Mickey dan wanita paruh baya itu duduk berhadapan.


"Pertama, saya akan menyampaikan kondisi putri anda. Lucy...."


"Lucy? Ada apa dengan Lucy?" tanya Mickey bingung karena sejak tadi tidk seorangpun menyebut nama Lucy.


"Apa yang terjadi dengan Lucy dan Joelin dokter?" Mickey mencoba menahan diri dan perasaannya.


"Lucy demam biasa. Hanya saja, kami curiga putri anda terkena demam berdarah. Tapi sejauh ini kita belum yakin sepenuhnya apakah diagnosa ini benar atau salah, kami akan melakukan tes selanjutnya untuk mengetahui kondisi Lucy."


"Lakukan apapun untuk kesembuhan putri saya dok.." ujar Mickey lirih.


"hhhhhmmmmh....", Sang dokter menghela nafas panjang.


"Bagaimana dengan Joelin?" tanya Mickey tak sabaran.


"Nyonya Joelin, sedang hamil. Sudah seharusnya dia tidak mendapat tekanan yang dapat membuatnya stress. Tapi sepertinya bukan hanya stress, usai pemeriksaan kami menemukan bahwa asupan gizi di tubuhnya sangat rendah. Anda harus lebih memperhatikan kondisi istri anda. Terlebih lagi di masa kehamilan gizi yang terpenuhi dengan baik penting untuk perkembangan janin. Beruntung sekali pendarahannya tidak terlalu buruk dan kami dapat menolong ibu maupun janin nya, namun kedepannya saya harap hal serupa tidak terulang kembali." ujar sang dokter panjang lebar.


"Apa maksud anda dengan gizi buruk?" Mickey yang merasa istrinya tidak kekurangan asupan makanan ternyata tidak terima dengan pernyataan sang dokter.


"Mungkin pola makan nyonya Joelin untuk beberapa waktu belakangan tidak teratur." jawab sang dokter membuat sebuah kesimpulan.


"Aku tahu, Joelin tipe orang yang sangat peduli dengan kesehatan. Ada apa sebenarnya?" Mickey bertanya lirih dalam hati.


"Untuk sementara pasien akan dirawat dirumah sakit selama beberapa hari. Anda bisa mengurus prosedur rawat inapnya." ujar sang dokter mempersilahkan Mickey keluar dari ruangannya.


Mickey meninggalkan ruangan sang dokter dengan perasaan yang campur aduk. Seperti sudah jatuh ditimpa tangga pula, begitulah perasaannya saat ini. Belum selesai dengan urusan kantor, disaat bersamaan Joelin dan Lucy masuk rumah sakit. Mickey merasa kepalanya sangat sakit memikirkan semua keadaan sekarang.

__ADS_1


\*\*\*


Mickey sedang menemani sang istri yang belum bangun dari tidurnya sejak tadi. Hasil tes Lucy sudah keluar, dan kabar baiknya cukup melegakan. Bayi kecil itu hanya demam biasa, jadi Mickey bisa sedikit bernafas lega.


Joelin membuka matanya dengan gerakan perlahan, cahaya kini memenuhi retina matanya.


"Sayang, kamu sudah bangun?" suara Mickey menyapa telinga Joelin.


"Oh, kau sudah disini? Kemana kamu sejak aku menghubungi mu? bukankah pekerjaan dan sekertaris mu itu lebih penting?" Joelin bertanya dalam hati, dia enggan berbicara pada Mickey.


"Hei, kenapa sayang? kamu kenapa diam begitu sambil melotot padaku?" Mickey yang tidak tahu duduk persoalannya dibuat kebingungan dengan aksi mogok bicara sang istri.


"Kamu makan ya, tadi aku sudah beli beberapa buah dan makanan. Kamu mau makan apa sayang?"


Joelin masih berdiam diri, tangannya bergerak untuk meraba bagian perut.


"Ah, syukurlah. Bayiku masih di sini." gumam Joelin menyadari perutnya yang masih membuncit.


"Kata dokter kamu harus makan dengan teratur dan baik. Dokter ini ada-ada saja, dia nggak tahu kamu paling hebat untuk urusan gini yang masuk ke tubuhmu." Mickey masih mengoceh sambil mengupas buah untuk Joelin.


"Ah, aku lupa belum makan malam dan terlambat sarapan di pagi hari karena harus mengurus Lucy." gumam Joelin dalam hati.


"Lucy...?!!" seolah ingat sesuatu Joelin berseru kuat sambil mencoba bangkit dari tempat tidur.


"Arrrrgh..." rasa sakit menyerangnya saat jarum infus yang menempel di tangan wanita itu tertarik sembarangan.


"Sayang, tenang... Jangan khawatir Lucy baik-baik saja." Mickey yang melihat sang istri bergerak panik langsung memeluk tubuh Joelin.


"Lucy... Mike. Lucy sakit..." Joelin terisak sedih, sejenak dia lupa kemarahannya pada sang suami.


"Lucy baik-baik saja. Dia sedang istirahat. Sekarang kamu fokus untuk kesembuhan mu ya." pinta Mickey masih memeluk tubuh sang istri.


"Aku tidak mau. Aku ingin melihat Lucy.." Joelin berteriak protes pada Mickey sambil terisak.


"Okay.. okay. Aku akan ambil kursi roda. Kamu sabar ya sayang. Tunggu di sini." ujar Mickey langsung berlari keluar dari ruang perawatan Joelin.


Joelin yang sedang kesal pada Mickey ditambah khawatir pada Lucy memilih mengabaikan permintaan pria itu untuk menunggu diatas ranjang pasien.


Joelin mencabut jarum infus yang menusuk pembuluh nadinya. Walau kepalanya terasa masih berat, wanita itu tak peduli. Dia hanya ingin memeluk Lucy dan memastikan gadis kecil itu aman. Joelin turun dari ranjang pasien. Dengan langkah terhuyung dia berjalan menuju pintu ruangan itu. Setelah hampir sepuluh langkah meninggalkan ruangannya, kegelapan kembali menyerang Joelin.


"JOELIN...!!!" Mickey yang berada tak jauh dari sana menjerit histeris sambil berlari ke arah tubuh sang istri yang tergeletak di lantai.


...to be continued...


**Author note:


Tersisa satu part lagi untuk novel ini. Besok akan jadi bagian terakhir. Teman-teman terimakasih sudah setia membaca sampai pada hari ini. Makasih buat Vote, Like dan komentar kalian.


tetap vote yang banyak ya.

__ADS_1


-best**-


__ADS_2