
"Jangan hanya menangis, jawab pertanyaan kami." ujar sang ayah sambil melempar sebuah testpack ke arah putrinya.
Amel memilih diam seribu bahasa, jangankan untuk mengakui siapa pelakunya, bersuara sedikit saja kini dia sudah tidak kuasa. Hanya air mata yang terus menetes dari kedua mata gadis itu.
"Gugurkan." ucap pria itu emosi, satu kata yang membuat Amel merasa bagai di campakkan ke jurang terdalam kehidupan.
"Nggak Pa. Amel nggak mau bunuh anak Amel." Gadis itu menangkupkan kedua tangannya memohon pengampunan sang ayah.
"Anak mu? Anak itu bahkan tidak punya ayah." ujar pria itu emosi.
"Pa, dia nggak salah apa-apa. Papa bisa hukum Amel, tapi tolong biarkan anakku hidup pa." masih berlutut memohon pada sang ayah.
"Pa...." sang istri, Ibu Amel merendahkan suaranya, meminta pengertian dari sang suami.
Pria yang sudah berusia lanjut itu kemudian mengusap kasar wajahnya, tak lupa dia menghela nafas dengan kasar sebelum berlalu dari ruang keluarga, tempat dimana Amel sedang meraung meratapi kesedihannya.
"Maaf ma..." Gadis itu terisak lirih.
"Setidaknya kamu beritahu kami sayang, siapa ayah bayimu. Dengan begitu semuanya akan lebih mudah."
"Maafin Amel ma...", hanya permohonan maaf yang terus terucap dari bibir gadis itu.
"Aku tahu mama kecewa. Maaf ma." batin Amel.
"Sudah berapa usianya?" tanya sang Ibu menyadari kebisuan putrinya.
"Lebih dari tiga bulan." jawab Amel lirih.
"Lebih baik kamu mengaku, siapa ayahnya? Apa kamu mau melahirkan anak tanpa seorang suami?" tanya wanita itu menahan sesak di dalam dadanya.
"Melahirkan bagimu tanpa suami akan menjadi pengalaman yang sangat berat sayang... mengakulah siapa ayah bayi itu. Mama mohon." sang ibu membatin sambil membelai lembut rambut anak gadisnya itu.
Begitulah seorang Ibu. Sebesar apa pun rasa kecewa yang diukir sang anak, ibu lebih khawatir tentang luka yang dirasakan anak-anaknya.
"Ma.... pria itu..."
\*
Korea waktu setempat
Mickey dan Joelin baru saja mencoba berbagai jenis wahana permainan di taman bermain. Keduanya tersenyum bahagia sambil berbagi satu cup ice cream. Mereka sungguh puas bermain, begitu banyak foto telah diambil untuk mengabadikan moment mereka.
"Bukankah ini mengemaskan?" tanya Joelin sambil menunjukkan layar ponselnya pada sang suami.
"Hahaha... Telinga Minnie Mouse itu sangat cocok denganmu." tawa Mickey pecah melihat foto mereka.
"Kamu juga cocok memakai bandana telinga Mickey Mouse. Eh, nama kalian sama." tawa Joelin juga pecah seketika.
"Sayang, apa kau sedang menyamakanku dengan Miki si tikus?" tanya sang suami menatap Joelin tak percaya.
__ADS_1
"Bukan begitu sayang... aaaaaa" ujar Joelin menyogok sang suami dengan menyuap sesendok ice cream.
"Hahaha... kau mau menyogokku? ini kurang mahal sayang." tawa Mickey.
"Kau mau ice cream yang lain?" menatap sang suami dengan wajah penuh tanya.
"Kau bisa menyogokku dengan dirimu." jawab Mickey tersenyum nakal.
"Setelah ini kita langsung pulang kan Mike?" tanya Joelin mengalihkan pembicaraan.
"Hmmm... rahasia." jawab Mickey menyuap sesendok ice cream pada istrinya.
Setelah puas dengan serentetan aktifitas taman bermain, Mickey membawa Joelin ke destinasi kencan selanjutnya. Kini mereka sedang jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Membeli beberapa barang yang menarik perhatian sang istri. Setelah lelah dengan aksi belanja, akhirnya Mickey membawa Joelin istirahat sambil menonton film di bioskop.
"Kau senang?" tanya Mickey setelah acara menonton usai.
"Aku merasa seperti sedang masuk ke dalam drama korea. Makasih sayang."
cup..
Joelin menghadiahkan sebuah kecupan di pipi sang suami.
"Hei, kamu sengaja menyerang ku di tempat ramai begini?" Mickey bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tentu saja ramai, toh mereka baru saja keluar dari room theater.
"Itu hadiahmu." jawab Joelin santai.
"Aku bisa mengambilnya nanti malam." Mickey menggandeng tangan sang istri, membawanya keluar dari tempat itu.
\*
"Kita kemana lagi sayang?" tanya Joelin pada sang suami yang kini fokus mengendarai mobilnya.
"Jika kamu lelah, tidurlah. Aku akan membangunkanmu saat kita tiba." ujar Mickey.
Joelin memilih menuruti perkataan sang suami, toh tidak ada gunanya dia memikirkan Lucy sekarang. Bahkan jika Joelin memaksa Mickey untuk kembali kerumah saat ini juga, pria itu pasti akan menolaknya. Akhirnya dia memutuskan untuk menikmati acara kencan mereka, dan membiarkan debar-debar di dalam dadanya semakin kencang. Sama seperti dulu saat pertama kali Mickey selalu berada di sekitarnya.
"Sayang... bangun.." Mickey mengguncang tubuh sang istri dengan lembut.
"hmmmmm..." Joelin bergumam sebelum membuka kedua matanya.
"Cantik sekali..." gumam Joelin masih setengah sadar menyaksikan matahari hampir terbenam dihadapannya.
"Ayok turun."
Keduanya lalu keluar dari mobil, dan menjejakkan kaki mereka di atas pasir. Angin yang berhembus memaikan rambut dan ujung dress Joelin. Sementara debur ombak seolah menjadi musik pengiring yang menemani mereka. Langit di hadapan mereka kini terlihat jingga, membingkai laut yang juga memancarkan kilau serupa.
"Kamu suka?" tanya Mickey saat menyadari raut takjub sang istri.
"Indah sekali Mike." jawab Joelin tanpa menoleh ke arah suaminya. Sunset di hadapannya mengunci pandangan gadis itu.
__ADS_1
Mickey memilih untuk memandang ke titik serupa dengan arah mata sang istri. Sambil menakutkan jemari tangan dan duduk di atas pasir yang masih hangat, keduanya menikmati detik-detik terakhir matahari menunjukkan kegagahannya di ufuk barat. Perlahan namun pasti, sinar jingga itu berubah menjadi temaram yang diperindah oleh sinar lampu-lampu di sepanjang pantai.
"Kamu ingat tempat ini?" tanya Mickey lirih.
"Tentu saja."
"Ini kan tempat yang sama dengan kencan pertama kita, bagaimana mungkin aku lupa?" gumam Joelin dalam hati.
"Maaf, jika saat itu aku bertindak tidak sopan karena sudah menyentuh mu dengan sembarangan." Mickey menarik kepala sang istri agar bersandar di dadanya.
"Hemmmm..." Joelin hanya bergumam menikmati detak jantung Mickey yang kini terdengar jelas di telinganya.
"Terimakasih, karena kamu mau menerimaku. Bahkan setelah kesalahan-kesalahan yang kubuat." Kini tangan Mickey ikut bergerak mengelus sayang kepala wanitanya itu.
"Kesalahan yang mana?" tanya Joelin.
"Aku menciummu, bahkan hampir melakukan hal yang tidak ingin kamu lakukan sebelum menikah. Aku membuatmu melewati batasan-batasan yang sudah kamu buat." ujar Mickey lirih, pikirannya melayang pada kebejatannya sendiri.
"Mike... semuanya sudah berlalu. Aku tidak marah padamu." jawab Joelin masih menikmati debaran jantung sang suami yang kini semakin berirama kencang.
"Meskipun saat itu aku hampir gila karena merasa jijik dengan diriku sendiri, tapi aku sangat bahagia karena akhirnya kamu memilihku. Karena kamu meminta ku dari orangtuaku. Cintamu sudah menjadi rumah paling nyaman untukku Mickey." Joelin bermonolog dalam hati.
"I love you. Aku sangat-sangat mencintaimu." ujar Mickey sebelum mengecup puncak kepala Joelin.
"I love you too."
Mickey teringat pertemuannya dengan Amel beberapa bulan lalu, dia sangat ingin memberitahu Joelin. Namun melihat rona bahagia di wajah sang istri, Mickey menahan diri karena tidak ingin merusak senyum itu dengan menghadirkan sebuah rasa khawatir.
"Kamu senang nggak masuk ke drama korea versi suamimu ini?" akhirnya Mickey bertamya sambil mencubit lembut pipi Joelin .
Joelin mengangguk pelan sambil melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh sang suami. Dia bisa mendengar jantung Mickey yang berdebar kencang dan kuat, sama seperti jantungnya. Sekilas kenangan mereka di tempat ini kembali bermain di kepalanya, seperti fotongan film lama yang belum usang. Ciuman pertamanya dengan Mickey dan kenangan kencan pertama mereka adalah diatas pasir hangat ini.
"Aku terlalu bahagia memilikimu Mickey, terlalu bahagia sampai-sampai aku takut suatu saat kebahagiaan ini akan berakhir. Denganmu, aku seolah hidup dalam negeri dongeng, menjadi tuan putri yang sangat dicintai. Semuanya membuatku berdebar tak karuan. Dan kadang aku takut, jika sewaktu-waktu kesedihan yang menatap iri pada kebahagiaan ini akan menemukan cara untuk menghancurkan kita." Joelin memilih menatap jauh ke laut lepas, sambil menyembunyikan ketakutannya.
\*
Sementara itu ditempat lain, Doni sedang mengawasi sebuah rumah mewah yang menjadi tempat tinggal Amel.
"Aku yakin dia sedang hamil." Doni berujar enteng.
"Dengan begini akan lebih mudah untuk mendapatkannya kan? Joelin, kamu tunggu saja." Doni tersenyum jahat di ujung kalimatnya.
Author POV
Hi teman-teman, terimakasih buat kalian yang masih setia membaca hingga part ini.
terimakasih buat komentar, like, dan vote yang kalian berikan. Dan terimakasih juga buat para silence reader.
Saya bersyukur memiliki kalian.
__ADS_1
-best-