
Begitulah percakapan diantara lelaki yang menemani keseharian Joelin berakhir. Mickey kini sudah tidak sabar ingin bertemu istrinya dan menceritakan semua yang dia tahu tentang Si An dan rencana pria itu. dan tentu saja, Mickey akan menghentikan usaha pdkt Si An nantinya. Suami mana yang ingin istrinya didekati pria lain?
\*
Joelin baru saja tiba di rumah, tentu saja bersama Mickey yang langsung menjemput wanitanya itu ke asrama begitu meninggalkan laboratorium. Setelah membersihkan diri dia segera menuju dapur, menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
"Sayang, ada telepon dari Si An." seru Mickey yang kini ikut menyusul Joelin ke dapur.
"Ada apa dia menelepon tiba-tiba begini?" tanya Joelin penasaran seraya langsung meraih ponselnya.
"Hallo Si An.. ada apa? oh... begitu? belum pasti, kita lihat nanti saja. Selamat malam." Wajah Joelin terlihat bingung sepanjang menjawab telepon dari temannya itu.
"Dia bilang apa?" tanya Mickey.
"Seputar apa yang akan kulakukan weekend nanti." jawab Joelin santai.
"Apa dia mengajakmu kencan?"
"Astaga Mickey.. mana mungkin?" seru Joelin tak habis pikir dengan ide suaminya ini.
"Ingin ku cerita kan sesuatu?" tanya Mickey.
"Yah, ceritakan saja. Akan kudengarkan." ujar Joelin sambil mencuci tangannya dan kemudian melanjutkan masakannya yang sempat tertunda.
Semantara itu Mickey mulai bercerita tentang pengakuan Si An sore tadi. Tentang perasaannya pada Joelin.
Berkali-kali mata Joelin terbelalak mendengar penuturan suaminya itu.
"Lalu apa kamu kesal padanya?" tanya Joelin polos setelah Mickey mengakhiri ceritanya.
"Tentu saja. Berani sekali dia menyukai istriku."
"Maaf ya Mickey, karena kita menutupi pernikahan ini dari mereka kamu jadi tidak nyaman begini."
"Bukan salah kamu sayang. Si An terlalu tidak peka. Apa dia tidak menyadari kedekatan kita selama ini?"
"Bukan kesalahan dia sepenuhnya sayang."
"Lalu gimana? kita beritahu dia tentang hubungan ini?"
"hmmm... bagaimana jika kita mengaku di acara wisuda nanti?"
"Tapi dia akan terus mendekatimu sebelum hari itu."
__ADS_1
"Bukankah aku bisa menolak memberi kesempatan padanya?"
"Jangan sampai aku memukulnya." protes Mickey yang mulai cemburu.
"Tenang saja Mike."
Sementara itu ditempat lain Si An sedang memandangi ponselnya sambil menghisap dalam-dalam rokok yang tersemat diantara jari telunjuk dan jari manisnya. Suasana apartementnya begitu hening, hanya diisi oleh helaan nafas panjang dari Si An dan degup jantungnya yang tak kunjung normal. Padahal dia hanya menelpon Joelin untuk sejenak namun jantungnya sudah berpacu seolah baru ikut perlombaan lari.
Seusai membuang sisa puntung rokoknya Si An kembali meraih ponsel dan mengetik beberapa kata di pencarian internet.
'cara menjadi romantis'
'menaklukkan hati wanita'
'kencan romantis'
dan sederat kalimat lain, guna mencari informasi bagaimana memenangkan hati Joelin.
\*
"Selamat pagi.." sapa Joelin pada Mark yang sudah terlebih dahulu tiba di laboratorium.
Kening Mark mengeryit kencang, dia lupa kapan terakhir kali menyaksikan Joelin dan Mickey tidak muncul bersama.
"Apakah mereka tinggal bersama?" tanya Mark dalam hati. Namun pria itu memilih memendam sendiri semua isi kepalanya.
"Kalian sudah di sini?" tanya Si An yang muncul dengan mode ngos-ngosan seperti biasa.
Joelin, Mark dan Mickey kompak menoleh kearah sumber suara. Seketika Joelin merasa sedikit canggung mengingat semua cerita suaminya tentang Si An. Sedang Si An, pria itu terlihat bersemangat. Setelah menyalakan komputernya dia segera mendekat ke arah meja Joelin.
"Joelin, aku punya dua tiket nonton sore nanti. apa kau ingin bergabung?" tanya Si An antusias sambil mengibaskan dua lembar tiket ke udara.
"hmmm..." gumam Joelin sambil mencuri pandang ke arah Mickey.
"Bagaimana?" tanya Si An tanpa mengurangi semangat di wajahnya.
"Terimakasih, tapi maaf sore ini aku sudah punya janji." ujar Joelin langsung melangkah keluar dari sana.
Si An memandang tangannya yang kini masih melayang di udara, tentu saja bukan tangan kosong. Ada tiket bioskop di sana.
"Semangat bro. Masih ada kesempatan lain." ujar Mark sambil menepuk bahu Si An. "iya kan Mickey?" sambung Mark.
"eh...oh... Iya." jawab Mickey singkat. Perasaan pria itu kini tengah campur aduk, antara rasa kesal, merasa bersalah dan senang
__ADS_1
"Mickey, apa kau baik-baik saja?" tanya Mark yang menyadari kajanggalan di suara temannya.
"Aku? aku baik-baik saja" ujar Mickey bingung.
"Jadi bagaimana dengan tiketmu?" tanya Mark beralih fokus pada Si An.
"Kau bisa mengambilnya jika kau mau." ujar Si An sambil meletakkan kertas itu ke meja Joelin.
"Terimakasih Si An." ujar Mark santai.
"Mark, jangan tunjukkan wajah senangmu. Dasar tidak setia kawan." protes Si An saat Mark mengambil tiket dari meja Joelin.
'deg...' sesuatu terasa mencubit dada Mickey. ucapan tidak setia kawan, tiba-tiba membuatnya kian merasa bersalah.
Sementara itu, di rest room Joelin menatap wajahnya di cermin. Ada rasa tidak nyaman yang mengisi hatinya saat ini.
"Bertahanlah Joelin, seminggu lagi." batinnya sambil menatap wajahnya.
Joelin segera membilas kedua tangannya dam bergegas meninggalkan toilet.
"Mau kemana?" tanya Joelin tanpa suara saat berpapasan dengan Mickey di koridor yang menghubungkan rest room dan ruang laboratorium.
"ya omma." jawab Mickey sambil menunjuk ponselnya pada Joelin.
Joelin langsung mengerti bahwa suaminya itu sedang menerima telepon dari ibunya. Joelin berlalu dari sana dengan keresahan yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Resah karena sampai saat ini dia belum pernah berkenalan dengan keluarga Mickey. Ada rasa takut yang tiba-tiba menghantuinya, takut jika keluarga Mickey tidak mau menerima hubungan mereka. Joelin masuk kedalam laboratorium dengan kegamangan hatinya. Mark yang melihat perubahan di wajah Joelin ikut penasaran.
"Ada apa dengannya?" tanya Mark dalam hati. Karena merasa tidak nyaman dengan rasa ingin tahu Mark akhirnya memutuskan keluar dari tempat itu, menyisakan Joelin dan Si An. Mark memacu langkah kakinya ke arah rest room, sayup-sayup dia mendengar seseorang yang sedang berbicara di sana.
"Terimakasih ma, istriku pasti akan sangat senang. Apakah kalian akan menginap?" tanya suara itu.
"Mickey?" gumam Mark pelan, dia mengenal suara itu, suara milik Mickey.
Mark menggelengkan kepalanya dan memutar arah kembali ke Laboratorium. "Istrinya? Mickey punya istri? apa itu artinya dia sudah menikah dengan Jee Na?" tanya Mark dalam hati.
"Ah sudahlah, kalau tiba waktunya Mickey pasti akan memberitahu kami." batin Mark tak mau ambil pusing.
Sementara itu, di dalam laboratorium Si An sedang mengawasi gerak-gerik Joelin dengan ekor matanya. Berkali-kali Joelin menghela nafas panjang berusaha melepas sesak dalam dada dan pikirannya, hal yang tentu saja menyita perhatian Si An.
Diam-diam Si An terus mengawasi raut muka Joelin yang terlihat begitu jelas menggambarkan rada frustasi dalam dirinya.
"Ada apa denganmu?" batin Si An, dia sungguh ingin bertanya namun berusaha menahan diri.
Joelin menekan keningnya menggunakan jari tengah dan telunjuk dengan perlahan. Memikirkan keluarga Mickey membuat kepalanya kembali terasa sakit. Rasa sakit yang beberapa hari ini sering mengganggu aktifitasnya.
**Pengumuman
Hi readers, makasih masih hadir membaca. tolong mampir di novel berjudul "C.I.N.T.A Plus Minus". terimakasih
__ADS_1
~best**~