Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Pria Asing


__ADS_3

"Aluna, rencana apa lagi sih?" gumam Vino dalam hati. Pria itu kembali berbalik menuju kamar Goedan.


Vino menerobos masuk ke kamar sahabatnya itu, dengan wajah yang sulit di deskripsikan.


"Loe masih di sini bro?"


"hm.." Vino memutuskan menyusul Goedan berbaring di atas tempat tidur.


"Nggak jadi pulang?"


"hmmm.."


"Loe kenapa Vin? hmmm hemm hmmm? Ada masalah?"


"hmmmm.."


"malas gue, hmmm hmmm aja terus sampai cicak beranak buaya.".


"Berisik amat sih loe."


Vino yang sedang kesal kini melempar guling ke wajah Goedan.


"Rese loe, wajah gue masih dipakai Vin." protes Goedan. "Jadi ada apa? kenapa loe masih di kamar gue?"


"Ntar juga loe tahu bro. Jangan ganggu gue."


Vino dan Goedan memutuskan untuk saling berdiam diri, keduanya tengah sibuk dengan isi kepala masing-masing sambil memandangi langit-langit kamar.


\*\*\*


Joelin memilih sayuran yang paling segar, tomat, selada, wortel dan beberapa sayuran lain kini sudah mengisi troli belanjaannya. Sementara Mickey sibuk mengekor, seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya. Mata pria itu melekat mengawasi setiap gerakan Joelin.


"Mau cokelat nggak?" tanya Mickey sambil menyodorkan sekotak cokelat ada Joelin.


"Kalau mau ambil aja Mike."


"Kamu mau nggak?"


"Yaudah sini, sini." Joelin meraih box cokelat itu dan memasukkannya ke dalam troli.


Setelah membeli semua bahan makanan yang mereka perlukan, pasangan itu langsung menuju kasir. Seusai membayar Mickey langsung membawa kantong belanja sambil menggandeng Joelin. Seusai berbelanja, mereka kembali ke rumah.


Sudah setengah jam sejak mereka tiba di rumah. Mickey mengawasi Joelin yang sibuk membersihkan bahan makanan sebelum menyimpannya di kulkas.


"Aku beruntung menikahi gadis ini." gumam Mickey dalam hati. Diam-diam dia menyadari betapa telatennya Joelin mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


Dengan tatapan kagum, sambil duduk di meja makan pria itu fokus pada setiap pergerakan Joelin di dapur.


"Appa..." gumam Joelin perlahan.


"Iya sayang?"


"Apa matamu tidak lelah memandangi ku begitu sejak tadi? Lama-lama mereka bisa lari mengejar ku."


Joelin yang menyadari aksi Mickey sejak tadi akhirnya mencoba bercanda pada pria itu. Tangan-tangan lembut gadis itu asik menata buah yang sudah di cuci bersih ke dalam kulkas.

__ADS_1


"Putriku hebat sekali." Mickey tersenyum menyampaikan kalimatnya.


"Why?"


"Gadis-gadis sekarang, asik belajar dan mengejar karier. Kebanyakan dari mereka sampai lupa caranya mengurus rumah. Tapi aku sangat beruntung bisa menikahimu."


"So, kalau aku nggak tahu cara mengerjakan pekerjaan rumah tangga apakah yang mulia akan menyesal telah menikahiku?" tanya Joelin sambil menghentikan kegiatannya, kini dia memandang ke arah Mickey.


"Bahkan jika kamu nggak bisa mengerjakan semua ini, aku tetap beruntung karena kamu mencintaiku."


"yaelah, gombal aja loe." umpat Joelin dalam bahasa Indonesia, jujur hatinya tertawa geli dengan gombalan Mickey.


"Darling, tolong ajari aku terlebih dahulu sebelum kamu menggunakan bahasa Indonesia."


"Hmmmm..." Joelin kembali melanjutkan aktifitasnya.


"What is hmm? Joelin, saat suami bicara jangan dicuekin."


"Iya Mike, jadi kapan kita akan belajar?"


"Anytime."


"Anytime?" ujar Joelin yang kini melangkah mendekat kearah Mickey. Gadis itu memberikan tatapan menggoda pada suaminya.


Mickey terperanjat menyadari tingkah gadisnya itu. Tak biasanya Joelin menggodanya seperti ini.


"Apakah aku melakukan kesalahan?" batinnya.


"Kamu bilang anytime, jadi kenapa beberapa hari ini kita nggak berhasil membuka buku setiap malam? Bisa kamu jelaskan sayang?" tanya Joelin yang kini langsung duduk dipangkuan Mickey.


"Mau ngomong apa?" tanya Joelin sambil mellnggerakkan jari-jarinya menggelitik leher belakang Mickey.


Pertahan Mickey kini rutuh, dengan rakus langsung disergapnya bibir Joelin. Mereka saling menerkam di meja makan, sampai akhirnya pagi yang panas di musim panas itu pun berlalu dengan aksi panas mereka. Setelah berkali-kali mencapai puncaknya akhirnya keduanya memutuskan untuk membersihkan diri dan beristirahat di kamar.


Mickey terbangun dengan perut yang lapar, dia memandangi Joelin yang terlelap manis berbantalkan lengan kanannya. Sementara tangannya yang satu lagi sedang memeluk erat pinggang gadis itu. Mickey mendaratkan kecupan-kecupan singkat berkali-kali di wajah istrinya. Dahi, mata, hidung, bibir dan pipi dikecupnnya dengan lembut dan gemas.


"Jangankan belajar malam, ke Lab aja tertunda. Kamu benar-benar tahu cara memberi masalah buatku." gumam Mickey sambil menyimpan anak rambut Joelin kebalik telinga gadis itu.


Joelin menggeliat pelan menyadari pergerakan di telinganya. Saat membuka kedua matanya, gadis itu menemukan wajah Mickey yang sedang asik memandangi nya.


"Ya Tuhan, aku ingin melihat wajah ini setiap kali membuka mata ini." diam-diam gadis itu melafalkan doa di dalam hati.


"Maaf membangunkanmu." ujar Mickey lembut sebelum mengecup kening Joelin.


"It's okay. Don't you hungry?"


"Lapar bangat sweety. Mau makan di luar atau di rumah aja?"


"Di rumah aja. Sudah belanja juga masih pengen makan di luar. Kamu mau buang-buang uang?" omel Joelin sambil bergegas turun dari tempat tidur meninggalkan Mickey.


"Tadi manis, sekarang galak. Ada yang tahu istriku kenapa?" protes Mickey setengah berteriak.


Joelin memilih mengabaikan kalimat Mickey. Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Setelah itu, Joelin langsung menuju dapur dan memasak untuk makan siang.


Merasa diacuhkan, Mickey memilih bermalas-malasan di kamar. Tiba-tiba pria itu mendapatkan sebuah ide cemerlang. Dia berniat membajak sosial media Joelin lagi. Merasa menemukan moodbosternya, Mickey bangkit dari tempat tidur dan bergegas mencari posel Joelin. Setelah meraih ponsel Joelin dari meja belajar, Mickey berniat langsung menggunakannya. Sayang sekali, pria itu tidak mengetahui pasword ponsel istrinya.

__ADS_1


"Joelin.. Joelin..." Mickey berteriak-teriak sambil menyusul Joelin yang sedang sibuk di dapur.


"Ada apa Mickey? kenapa harus teriak-teriak?"


"Paswordnya apa?" tanya Mickey sambil menunjukkan ponsel Joelin.


Joelin menggambar sebuah pola di udara, Mickey langsung mengikuti instruksi gadis itu.


"Aku ganti ya Joe."


"pakai apa Mickey?"


"Samain dengan password ponselku.".


Mickey kini sedang sibuk mengganti pola kunci ponsel Joelin agar sama persis dengan miliknya. Pria itu lupa tujuan awalnya tadi. Mickey sedang asik membuka galeri foto di ponsel Joelin. Lalu dia menemukan foto-foto Joelin di daerah yang menurutnya sangat familiar. Di foto itu, ada Joelin dan juga seorang pria. Keduanya sedang berada do sebuah kebun.


Entah bagaimana ada perasaan aneh yang menyelinap masuk ke hati Mickey saat melihat foto pria itu. Ada sekitar belasan foto yang menampilkan wajah pria itu. Gesture pria di dalam foto itu menunjukkan sesuatu yang membuat Mickey merasa aneh.


Mickey terus membuka galeri Joelin, sampai akhirnya pria itu menemukan foto yang berisikan Joelin, kedua orang tuanya dan pria asing tadi.


"Siapa dia?" gumam Mickey dalam hati.


Tiba-tiba ponsel Joelin bergetar karena sebuah panggilan masuk.


"Goedan?" gumam Mickey dalam hati membacap nama yang tertera di layar ponsel Joelin.


Dengan ragu-ragu Goedan menekan tombol hijau, untuk menerima panggilan itu.


"Hallo.."


\*\*\*


Goedan akhirnya memutuskan untuk setuju untuk pergi bersama Aluna dan Vino, setelah sepanjang hari mendengar ocehan dari sang mama. Entah bagaimana asal muasalnya, semua hal tentang Aluna selalu menjadi prioritas bagi Ibunya itu. Kadang Goedan merasa bingung, siapa sebenarnya anak yang dilahirkan oleh Ibunya, dialah? atau Aluna? Walaupun demikian, tak bisa dipungkiri juga bahwa Aluna sangat berarti dalam hati Goedan.


Setelah mengambil keputusan, akhirnya Goedan memberanikan diri untuk menghubungi Joelin. Pria itu sibuk mencari sebuah nomor di phonebook nya.


"Mudah-mudahan dia sudah kembali." ujar Goedan bersemangat.


Tidak perlu menunggu lama, saat panggilannya masuk ke nomor tujuan akhirnya panggilan itu terhubung.


"Hello.. Sorry, Joelin is busy now."


Goedan terdiam mendengar kalimat itu. Sebuah kalimat berbahasa inggris diucapkan oleh seorang pria. Yang berarti Joelin sedang tidak di Indonesia, dan kemungkinan lain adalah ada seorang pria yang cukup dekat dengan gadis itu hingga berani menjawab panggilan masuk di ponselnya.


"Hello... are you still in there?"


Suara itu kembali menyadarkan Goedan, dengan gerakan terburu-buru, dia memutuskan sambungan itu. Goedan memandangi ponselnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang kini saling tumpang tindih memenuhi kepalanya.


"Siapa pria asing itu?" pertanyaan utama yang kini menggema di pikiran Goedan.


**Pengumuman:


Hai sayang-sayangku. Ayuk dong bantu vote novel ini. Aku butuh suply semangat dari kalian. Terimakasih.


-Best**-

__ADS_1


__ADS_2