
"Tentu saja sudah. Tiga bulan lalu. Terimakasih sudah menjaga dia."
Joelin mengangguk pelan, sebuah senyum terbit di wajahnya.
~kruk..kruk~
"kamu lapar?" tanya Joelin sambil melepaskan tangan suaminya itu.
"hmmm... hehehehe.." Mickey tertawa malu-malu, tentu saja dia lapar bahkan bisa disebut sangat lapar setelah melewatkan jam makan siang dan sarapan tadi pagi.
"Tunggu di sini." ujar Joelin lembut sambil berlalu ke dapur umum untuk memasak sesuatu dengan secepatnya.
Sepeninggalan Joelin, Mickey kembali mengamati kamar kecil itu. Mickey menebak Joelin menyewa kamar ini. Banyak pertanyaan kini tengah bersarang di kepalanya. Tentang kabar Joelin, tentang bagaimana wanitanya bisa berakhir di tempat ini, apa yang selama ini di lakukan gadis itu, terlebih lagi tentang jumlah uang di rekening nya. Ya, Mickey ingin bertanya kenapa ada begitu banyak uang dalam rekening tabungan Mickey, sementara selama mereka menikah Joelin lag yang memegang ATM nya, lagipula bagaimana mereka bisa bertahan hidup selama ini? Apakah mereka hidup dari uang Joelin? Bagaimana semua itu bisa cukup? Atau dengan kata lain, dari mana Joelin mendapatkan uang untuk biaya hidup mereka selama ini?
Mickey meremas rambutnya pelan. Pria itu sadar, bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk semua pertanyaan pertanyaan nya. Biarlah dia menikmati momen melepas rindu dulu bersama wanitanya itu. Ada hal lebih penting yang harus dia lakukan sekarang, memastikan hati Joelin sembuh dari kesalahpahaman diantara mereka.
Mickey merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran sedang itu. Dia menghela nafas panjang. Tiba-tiba rasa ngantuk yang telah lama hilang, menyerang pria itu. Mickey kini tengah terlelap.
Hampir tiga puluh berlalu, kini Joelin sedang sibuk menata masakannya ke dalam kotak bekal. Setelah semua makanan itu tertata rapi, Joelin segera membersihkan dapur.
"Aneh, biasanya aku akan mual jika sedang mengerjakan semua ini." gumam Joelin menyadari bahwa perasaan mualnya tidak kambuh sejak tadi.
Setelah membersihkan dapur, Joelin membawa kotak bekal yang dia siapkan ke kamar. Ada lima rantang yang kini bertengger di tangannya. Berisi nasi putih, udang sambal, sayuran, dan juga buah. Saat masuk ke dalam kamar, Joelin tersenyum menyaksikan keheningan itu, sebelum akhirnya terdengar dengkuran lembut Mickey.
Setelah meletakkan semua makanan yang dia bawa di atas meja lipat kecil, Joelin langsung bergerak mendekati suaminya yang sedang tidur.
"Mickey... Hei... Mike." ucapnya sambil mengoyang lengan suaminya lembut.
....
"Mike.. Mike..." panggil Joelin kembali.
Joelin memandang wajah lelap Mickey, bagian bawah matanya terlihat gelap, sepertinya pria itu kurang tidur akhir-akhir ini. Sungguh Joelin kini jadi tidak tega mengganggu Mickey yang tengah lelap, namun dia juga tidak tega membiarkan lelaki itu tidur dalam keadaan perut kosong begini.
"Mickey... sayang... Mike" panggil Joelin sambil menepuk-nepuk wajah Mickey pelan.
Joelin masih asik menepuk wajah Mickey dan memanggil nama pria itu, namun dalam satu waktu gerakannya terhenti. Mata Mickey tiba-tiba terbuka, dan salah satu tangan pria itu kini menggenggam tangan Joelin yang tadi menepuk wajahnya.
"Kamu makan dulu ya." ujar Joelin lembut.
"Ternyata hal terbaik dalam hidupku masih sama, melihat wajahmu setiap kali bangun dari tidurku. Jangan pergi lagi ya Joelin, aku nggak bisa tidur dengan baik selama kamu pergi. Bahkan ketika aku tertidur, saat aku bangun dan tak bisa melihat wajahmu rasanya sangat menyakitkan." Mickey berkata lirih sambil menatap dalam ke manik mata Joelin.
__ADS_1
"Kamu makan dulu ya Mickey." ujar Joelin lembut, hatinya kini bergemuruh hebat mendengar pengakuan Mickey. Jujur dia juga sangat tersiksa selama berjauhan dengan pria itu.
Rindu seperti pil pahit yang harus dia telan setiap hari, menyadari keterpisahan mereka. Kini Mickey sudah ada di hadapannya, segala sesuatu rasanya jauh lebih baik. Tapi tunggu dulu, bukankah pria ini sedang lapar?
"Mickey, kamu bangun dong. Makan dulu terus tidur lagi." pinta Joelin lagi.
"Oke... oke... siap tuan putri." jawab Mickey sambil bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Bersamaan dengan itu, Joelin juga beranjak dari tempat tidur.
"Sini." panggil Joelin yang kini tengah duduk di atas karpet mini, di depannya tersedia makanan yang terletak di atas meja mini, tangan mungil Joelin kini bergerak aktif menyendok makanan ke dalam piring.
Mickey ikut bergabung duduk di atas karpet, berhadapan dengan wanitanya itu.
"Kamu masak semua ini?" tanya Mickey.
"Iya Mike."
"Dapurnya di mana?"
"Ada di luar." Joelin menyerahkan piring yang tadi di isinya pada Mickey.
"Terimakasih. Kamu nggak makan?"
"Kenapa?" tanya Mickey.
"Aku tidak lapar Mickey." jawab Joelin pelan. Sesungguhnya dia tidak ingin makan karena menghindari rasa mual yang timbul setiap kali dia memakan sesuatu.
"Sayang, kamu harus makan. Ingat loh, sekarang ada Mickey kecil yang harus kamu kasih makan juga." ujar Mickey sambil menyodorkan satu sendok berisi makanan ke hadapan Joelin.
Joelin menatap sedih makanan yang di sodorkan Mickey. Pria itu bahkan belum makan barang sesuap, namun kini malah berusaha menyuapinya. Karena tidak tega melihat Mickey, perlahan Joelin membuka mulutnya dan memakan suapan dari Mickey.
"Nah, gitu dong." ujar Mickey sambil tersenyum lebar.
Joelin menatap Mickey sambil mengunyah makanannya, mata pria itu terlihat berbinar.
"Makan Mike." gumam Joelin tak jelas karena kunyahannya.
"Apa? kamu jangan ngomong sayang, makanannya di kunyah dulu." pinta Mickey.
Saat Joelin menelan makanannya, Mickey kembali menyodorkan suapan baru, hingga akhirnya makanan yang tadi berada dalam piring itu ludes semua.
"Kamu masih mau nambah?" tanya Mickey.
__ADS_1
Joelin menggangguk penuh semangat dengan mata berbinar dan mulut mengunyah. Mickey tersenyum gemas memandang tingkah lucu istrinya itu.
Setelah mengisi piring, kini Mickey kembali menyodorkan suapan pada Joelin. Namun istrinya itu menggeleng pelan.
"Katanya masih mau?"
"Kamu belum makan."
"Oh, maaf sayang. Aku senang melihat kamu bisa makan dengan lahap."
"Kamu juga harus makan." ujar Joelin sambil menyodorkan sebuah suapan pada Mickey. Entah sejak kapan sendok berisi makanan itu ada di tangannya.
"Baiklah." jawab Mickey sambil menerima suapan dari Joelin.
Mereka berdua lalu makan dengan lahap, Joelin memutuskan makan sendiri, dan menyuruh Mickey berhenti menyuapinya agar pria itu bisa makan. Mickey sangat bahagia, walau hanya menerima satu suapan dari Joelin, cukup membuat hatinya kembali berbunga-bunga. Bersama wanita ini, dia selalu merasa bahagia seperti remaja yang tengah jatuh cinta.
Acara makan sore mereka akhirnya usai. Mickey mengekor Joelib yang tengah membersihkan peralatan makan di dapur umum.
"Sayang...." panggil Mickey pada Joelin yang sibuk menyuci piring-piring itu.
"Ada apa?" tanya Joelin tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Apa selama ini kamu mogok makan? Kenapa kamu kurus sekali dibanding tiga bulan lalu?"
"oh itu..." Joelin yang telah selesai mencuci peralatan makan lalu berbalik dan berjalan mendekati Mickey.
"Kita bahas di kamar aja." ujar Joelin sambil menarik tangan Mickey dan berjalan menuju kamar kontrakannya.
"Astaga, sejak kapan istriku agresif begini?" tanya Mickey sambil tersenyum bahagia.
"Oppa???" sebuah teriakan melengking tiba-tiba menghentikan langkah Joelin dan Mickey.
Mickey memandang sosok yang berteriak itu dengan tatapan risih, sementara Joelin, dia juga melakukan hal serupa. Salah... salah, bukan tatapan risih, melainkan tatapan tidak suka dan mengajak perang.
**Pengumuman
Hai guys, makasih tetap tinggal dan membaca. Mengingat Novel ini sedang dalam kontes, tolong dukung like dan vote yang banyak ya.
thankyou
-best**-
__ADS_1