
"Ah, sudahlah. untuk apa terus berpikir begini? lagipula, denganmulah aku mengikat hubungan. Bukan dengannya." gumamnya lagi mencoba menerima kenyataan.
\*\*\*
Sudah dua bulan sejak perkuliahan semester baru dimulai. Musim semi hampir saja beralih menjadi musim panas. Mahasiswa sedang sibuk dengan perkuliahan dan tugas mereka masing-masing. Begitu pula dengan Vino, Amel, Joelin, Mickey, Mark, Si An, Bill di Korea, tentu saja tanpa terkecuali hal yang sama juga dialami oleh Geodan di China.
Amek masih sibuk dengan aksi detektifnya untuk mencari tau hubungan tersembunyi antara Vino dan Joelin. Sementara Vino masih mencari cara, bagaimana bisa bertemu langsung dengan Joelin dan mendekati gadis itu. Bill senior di lab Joelin kini sibuk menyelesaikan thesisnya, Mark yang terang-terangan selalu kencan di akhir pekan. Sementara Si An dan Mickey setiap akhir pekan selalu pergi ke Lab bersama Bill yang sibuk mengumpulkan data untuk thesisnya. Namun bukan berarti Mickey berhenti bertemu dengan Jee Na. Gadis itu selalu saja muncul dan semakin sering. Bahayanya setiap kali dia muncul Mickey selalu enggan untuk meladeninya, namun setelah beberapa saat seperti terhipnotis pria itu selalu tunduk dibawah pengaruh Jee Na.
Sementara Joelin, kehidupan gadis selalu diisi dengan belajar keras, keisengan Si An, aksi random Amel, candaan Mark dan Bill ditambah lagi perhatian Mickey yang sukses membuat pipinya merona seketika. Sama halnya seperti saat ini, Mickey sedang menarik tangan gadis itu meninggalkan Lab dan membawanya pergi sekedar membeli minuman ringan ke mesin otomatis di lantai 3 gedung jurusan mereka.
"Mau kemana?" tanya Joelin pelan saat mereka keluar dari lab.
"ikutin aja." jawab Mickey melepaskan genggamannya.
"Sudah baca semua materinya?" tanya Mickey memecah keheningan saat mereka sedang di dalam lift.
"Materi yang mana?" Joelin melempar pertanyaan kembali pada Mickey.
"Yang aku kirim semalam." tutur Mickey.
"Maaf Mike, kirim di mana? Aku nggak ada nerima loh." Ujar Joelin hati-hati.
"Nih." jawab Mickey singkat sambil menunjukkan layar ponselnya pada Joelin.
"Yaa ampun. Aku kan unistall aplikasi messenger dari hp. pantes aja gak dapat notif." gumam Joelin.
"Hei Girl, could you please speak in english?" protes Mickey yang mendengar Joelin bergumam dalam bahasa Indonesia.
"ehm.. Sorry Mike.. semalam.." Kalimat gadis itu terputus karena lift yang mengangkut mereka kini tiba di lantai tiga. Keduanya bergegas keluar dari lift.
"Sorry for what?" tanya Mickey iseng.
"Maaf, aku uninstall aplikasi messenger dari hp. Jadinya belum lihat pesan kamu yang semalam." jawab Joelin.
"kenapa harus uninstall?" tanya Mickey penasaran.
"Ponselku bermasalah. Entah kenapa tiba-tiba sering eror." ujar Joelin mencoba menjelaskan kondisi ponselnya yang sebenarnya kini sudah darurat.
"Sini aku check." ujar Mickey menawarkan bantuan. Mereka berdua hampir tiba di mesin automatic yang menyediakan beberapa cemilan dan minuman ringan.
__ADS_1
"Nanti ya, di lab." jawab Joelin ceria.
Setelah membeli minuman dan beberapa makanan ringan, Joelin dan Mickey kembali ke lab. Keduanya asik bercanda. Entah sejak kapan mereka menjadi begitu dekat satu dengan yang lain. Tiba-tiba saat di dalam Lift pipi Joelin kembali hangat. Gadis itu teringat awal-awal dia berteman dengan Mickey. Saat beberapa kali mereka berdua berakhir di rumah Mickey.
"Kangen rumah itu." gumam Joelin dalam hati. Pipinya kini betul-betul memerah.
"Apa kau demam?" tanya Mickey saat menyadari pipi Joelin yang kini memerah, secara repleks dia meletakkan tangannya di dahi gadis itu.
"i'm ok." jawab Joelin sambil tertunduk malu menyembunyikan wajahnya yang kian merona.
"i think so." ujar Mickey setuju menyadari bahwa suhu tubuh gadis itu terasa normal.
"ehm.." Mickey berdehem mencoba menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang.
Tiba-tiba suasana di dalam lift itu berubah canggung. Joelin yang masih menyembunyikan wajahnya dan Mickey yang mencoba menenangkan jantungnya. Untung saja lift nya segera terbuka dan keduanya berjalan keluar meninggalkan lift. Mickey membiarkan Joelin melangkah lebih cepat, dan pria itu mengikutinya dari belakang.
"Jangan lupa tunjukan ponselmu padaku." ucap Mickey mengingatkan.
"Iya." jawab Joelin tanpa menoleh kebelakang.
Saat keduanya kini duduk di kursi masing-masing, Joelin segera memberikan ponselnya pada Mickey. Tentu saja terlebih dahulu di unlock.
"sini." Ujar Joelin sambil meraih ponselnya dan mengembalikannya pada Mickey. Namun anehnya pria itu kembali menekan tombol tertentu untuk mengunci layar ponsel Joelin.
"Tunjukkan padaku polanya." pinta Mickey.
"No.!!" protes Joelin tidak setuju.
"Baiklah." jawab Mickey memasang wajah kecewa.
Tiba-tiba saja Joelin merasa tidak nyaman dengan wajah kecewa pria itu. Entah sejak kapan dia peduli dengan perasaan Mickey.
"Begini." ujar Joelin sambil menyentuh pola di layar ponselnya tepat dihadapan Mickey.
"Jangan diganti lagi." pinta Mickey sambil tersenyum.
Joelin mengangguk setuju. Dia merasa bahagia menyaksikan wajah keweca milik Mickey tiba-tiba berubah bahagia. Sementara Mickey kini sibuk memeriksa ponsel Joelin selama beberapa menit.
"Yah, aku khawatir ponselmu tidak akan bertahan lama." kata Mickey jujur.
__ADS_1
"Apakah separah itu?" tanya Joelin.
"Iya. Lagipula sepertinya ponselmu sudah sangat tua. Kenapa tidak menggantinya dengan yang baru?"
"Aku tidak punya uang." jawab Joelin jujur.
"Kenapa tidak minta pada orangtuamu untuk membelikannya?" tanya Mickey lagi.
"Aku tidak ingin menyusahkan mereka." ujar Joelin, dia sadar meminta dikirimkan sejumlah uang untuk membeli ponsel adalah sebuah kemewahan baginya.
"Lalu bagaimana kalau ponselmu mati total? bagaimana caranya menghubungi keluargamu?" Mickey menyuarakan rasa khawatirnya.
"Lagipula hp nya masih bisa digunakan. Tenang saja." tutur Joelin mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukanlah masalah besar.
Mickey memilih berhenti bertanya pada Joelin. Dia sadar bahwa gadis ini sedang tidak punya kesempatan untuk menghamburkan uang. Namun hatinya juga mulai gelisah memikirkan hari ketika ponsel Joelin benar-benar tidak berfungsi, sementara gadis itu sangat jauh dari rumah. Mickey beralih ke ponselnya. Mencoba mencari harga terkini dari ponsel.
"Andai saja aku terlahir dengan suapan sendok emas." gumam Mickey dalam hati.
"Mike, apa yang kamu lakukan?" tanya Joelin kemudian.
"Lagi nyari informasi tentang harga ponsel." jawabnya jujur.
"Buat apa?" tanya Joelin.
"Buatmu dong. Buat siapa lagi?" ujar Mickey kembali bertanya.
"Sudahlah, jangan buang-buang waktu. Aku nggak punya uang. Meminta pada orangtuaku jauh lebih mustahil. Mereka juga sedang kesusahan. Lebih baik kita belajar buat ujian minggu depan." jelas Joelin panjang lebar.
"Yasudahlah kalau kamu ingin belajar, kita belajar aja." jawab Mickey menuruti keinginan Joelin.
Joelin dan Mickey akhirnya saling melemparkan pertanyaan dan saling memberi jawaban seputar materi yang sudah mereka pelajari selama dua bulan ini. Keduanya belajar sambil sesekali tertawa dan bercanda. Sesekali mereka juga menemukan kondisi yang lucu untuk dijadikan ilustrasi untuk pemahaman masing-masing.
"Mark, apakah Joelin sudah tahu tentang Jee Na?" tanya Bill yang merasa berbeda saat mengamati gesture tubuh Mickey dan Joelin sejak tadi.
"Kurasa belum." jawab Mark.
"Sebenarnya apa-apaan rencana Mickey?" gumam Si An yang juga bergabung dengan mereka, ada nada kesal dalam suaranya.
"Apa kau sekhawatir itu pada Joelin?" selidik Bill heran dengan reaksi Si An.
__ADS_1