
"Apa jangan-jangan Mickey kena sindrom ngidam ya? masa iya sih? Bisa jadi kan?" Setelah mengawasi sang suami berhari-hari, Joelin menarik kesimpulan ini di dalam hatinya.
Aksi aneh Mickey masih berlanjut, hingga hari ini. Memasuki bulan ke tiga kehamilan sang istri, pria semakin manja dan banyak maunya. Berbeda dengan Mickey, Joelin justru tidak mengidam hal yang aneh-aneh. Kehamilan kedua wanita itu sejauh ini berjalan mulus, walau harus sambil merawat baby Lucy.
\*\*\*
Keluarga Mickey, kini sedang menghabiskan akhir pekan mereka sambil mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan di kota. Sampai tiba-tiba di kejauhan Mickey menangkap bayangan sosok yang sangat dikenalnya.
"Sayang, kamu ada kabar dari Mark?" tanya Mickey tiba-tiba.
"Belum. Kenapa Mike?"
"Aku merasa seperti baru saja melihat Mark." jawab Mickey serius.
"Mike, kita ini di Jakarta bukan di Korea sayang. Mana mungkin ada Mark di sini?" tanya Joelin sambil berjalan di sisi sang suami yang tengah menggendong bayinya.
"Okay, maksudku aku melihat seseorang yang mirip Mark." jawab pria itu dingin.
"Jangan merajuk dong. Lucy, lihat tuh appa kamu langsung merajuk." ujar Joelin sambil memandang wajah cemberut pria di sebelahnya.
....
"Appa, jangan marah. Lucy jadi nggak nyaman nih digendong Appa." Joelin menirukan suara bayi.
"Aku nggak marah." jawab Mickey sambil mempercepat langkahnya.
"Astaga, suamiku ini benar-benar bertingkah seperti ibu hamil. Ini yang hamil siapa sebenarnya? Aku atau dia sih?" gumam Joelin dalam hati menyadari perubahan mood sang suami yang begitu diluar jangkauan nya.
Dengan bediam diri mereka melanjutkan kegiatan keluar masuk toko. Membeli beberapa pakaian baru untuk baby Lucy yang sudah semakin besar dan juga beberapa pakaian baru untuk ibu hamil.
๐น๐น๐นAuthor POV on๐น๐น๐น
Dear Mickey dan Joelin, jangan marahan dong hanya karena Mark. ๐๐
Spesial untuk pada readers, kalau penasaran dengan keadaan Mark, kalian baca cerita sebelah ya. Yang judulnya "BUNGA BERMEKARAN DI MUSIM PANAS, TROUVAILLE 2"
๐น๐น๐นAuthor POV off ๐น๐น๐น
\*\*\*
Seusai berbelanja keluarga itu kembali ke rumah. Kini Joelin di sibukkan dengan urusan ibu rumah tangga. Sementara Mickey sedang menemani Lucy bermain.
"Sayang, mau makan rujak boleh?" tanya Mickey yang kini mendekati Joelin yang sedang menata barang belanjaannya.
"Udah nggak marah lagi?" tanya Joelin sambil menahan senyum.
"Aku nggak marah kok sayang." Mickey memeluk pinggang sang istri dari belakang.
"Terus kenapa dari tadi kamu diamin aku?"
"hehehe... maaf." kilah Mickey.
"Mike, tangannya.." tegur Joelin pada sang suami yang kini sudah menggerakkan tangannya kesana kemari.
"Aku nggak jadi deh makan rujak. Mau kamu aja boleh?" membenamkan wajahnya di bahu Joelin.
__ADS_1
"Tunggu Lucy tidur ya." Joelin menjawab santai.
"Lucy nggak bakal mengganggu kok sayang, toh dia juga lagi asik main sendiri di tempat tidur." ujar Mickey sambil memandang bayi berusia 7 bulan yang kini asik dengan beberapa mainan.
Tak ingin berdebat dengan suaminya, Joelin memutuskan melepaskan diri dari oelukan Mickey dan bergegas menggendong Lucy.
"Tunggu Lucy tidur ya sayang." ujar Joelin sebelum mendaratkan kecupan singkat di bibir sang suami.
Mickey yang mendapat perlakuan manis sang istri kini tengah melayang bahagia. Tanpa protes ini itu, Mickey memberi ruang pada Joelin untuk menidurkan bayi mereka.
\*\*\*
"Sayang, aku berangkat sekarang ya." Mickey mengecup Lucy dan Joelin secara bergantian.
"Bekal makan siang jangan lupa." Joelin mengingatkan sang suami.
"Beres." jawab Mickey sambil meraih box bekalnya di meja makan.
Sepeninggalan Mickey, wanita itu kembali sibuk menemani putrinya bermain di kamar.
\*\*\*
Memasuki bulan ke empat usia kehamilan Joelin, suaminya masih sama. Masih minta ini itu dan bertingkah manja plus sensitif. Joelin hanya bisa tersenyum setiap kali harus menghadapi tingkah laku Mickey. Sama seperti hari ini.
"Sayang, aku nggak mau sarapan roti." protes Mickey di meja makan.
"Kenapa?" tanya Joelin yang sedang menyuapi Lucy.
"Aku mau makan rujak sayang."
"Sama nasi goreng."
"Iya nanti ya Mike." Jawab Joelin sabar.
"Aku maunya sekarang sayang." ujar Mickey menuntut.
"Kalau aku buat sekarang kamu bisa terlambat. Nanti aja. Okay?"
....
Mickey tidak menjawab dia memilih berdiam diri dengan wajah ditekuk.
"Jangan merajuk Mike, ini masih pagi. Buruan habisin sarapan kamu. Pak Karno sudah nunggu loh." Joelin mengingatkan sang suami dengan sabar.
".Aku juga mau disuapin sama kamu." ujar Mickey dengan tatapan polosnya, mengawasi sang istri yang tengah menyuapi Lucy.
"Astaga sayang, kamu ada-ada aja deh. Ini lagi ngasih makan Lucy. Gimana bisa sekalian nyuapin kamu?" tanya Joelin tak habis pikir dengan tingkah suaminya.
"Yaudah, biarin aja terlambat atau sekalian nggak usah masuk kantor." jawab Mickey dingin.
Joelin merasa kepalanya berdenyut menghadapi tingkah kekanakan suaminya yang kini makin menjadi-jadi. Namun karena tidak ingin berdebat lebih lama, Joelin meletakkan makanan Lucy di meja dan beralih menyuapi sang suami.
Mickey melahap setiap makanan yang disuap oleh sang istri dengan mata berbinar. Ekspresi yang membuat Joelin merasa bersalah karena sempat kesal dalam hati atas sikap Mickey pagi ini.
Saat sarapannya usai, Mickey berangkat ke kantor. Tidak lupa dia menghadiahi ciuman dan pelukan hangat pada kedua perempuan favorite nya itu.
__ADS_1
"Dasar bayi besar. Kamu ya bisa aja buat aku pusing tiap hari." gumam Joelin dalam hati sambil memandang punggung Mickey yang berjalan menjauh.
\*\*\*
Siang harinya, Joelin memutuskan mengantar bekal makan siang untuk Mickey, mengingat sang suami yang sepanjang pagi merengek ingin makan nasi goreng dan rujak.
Baik Joelin maupun Lucy, ini adalah hari pertama mereka mengunjungi tempat bekerja Mickey.
Joelin sengaja menggunakan jasa taksi, bukan pak Karno, karena ingin memberi kejutan pada bayi besarnya, si Mickey.
"Lucy, kita akan tiba di kantor appa. Kamu senang nggak?" Joelin mengajak bayinya berbicara saat tak yang mereka tumpangi melaju mendekati perusahaan tempat Mickey bekerja.
"hhhmmmm aaaaa eeeemmmm" Lucy yang masih berusia delapan bulan hanya bisa bergumam-gumam tidak jelas, tangannya menggapai-gapai udara.
"Pak, berhenti di sini aja. Nggak usah ke dalam." pinta Joelin pada sang supir saat mereka tiba di dekat gerbang perusahaan tempat Mickey bekerja.
Setelah membayar ongkos, Joelin turun dari taksi itu. Sambil menggendong putrinya, sementara salah satu tangan wanita itu menenteng box makan siang untuk sang suami. Joelin langsung melangkah menuju resepsionos.
"Permisi mbak." sapa Joelin ramah.
"Selamat siang ibu, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita resepsionis itu.
Joelin memandang penampilan perempuan dihadapannya. Sangat seksi dan wajahnya dipoles dengan makeup tebal.
"Ibu, ada yang bisa saya bantu?" suara resepsionis menyadarkan Joelin.
"Saya ingin bertemu dengan bapak Mickey, eh maksud saya Lee Eum Son." ujar Joelin.
"Ibu sudah ada janji sebelumnya?" tanya sang resepsionis.
"Harus buat janji ya mbak? Sebenarnya saya hanya ingin memberikan ini." Joelin mengangkat box makanan dengan tangan kanannya.
Sang resepsionis mengeryit bingung dengan jawaban Joelin.
"Saya istrinya mbak." jawab Joelin seolah membaca isi kepala sang resepsionis.
"ohhhh..." wanita itu kembali fokus memeriksa komputernya.
"Maaf bu, bapak Lee Eum Son sedang di luar. Di sini ditulis bahwa beliau sedang makan siang dengan sekertaris nya." jawab sang resepsionis.
"Oh... makasih kalau gitu." Joelin menjawab pelan, ada rasa kecewa yang kini menghantui hatinya.
Joelin melangkah menjauhi meja resepsionis. Matanya mengawasi beberapa wanita yang berlalu lalang di hadapannya. Wanita-wanita itu terlihat berpenampilan menarik. Badan yang proporsional dan juga kulit wajah yang dipoles make up. Yah, wanita yang tinggal dirumah dan mereka yang bekerja tentu punya gaya hidup berbeda hingga cara berpakaiannya pun akan berbeda.
"Sekertaris? Mike makan siang dengan sekertaris nya? Apakah sekertaris Mike juga berpenampilan seksi dan menor begini?" Joelin bergumam dalam hati sambil meninggalkan tempat itu. Ada sebersit rasa khawatir yang kini timbul di dalam dadanya.
Author POV
Teman-teman, makasih ya sudah membaca sampai ke part ini.
Tolong bantu vote novel ini agar naik kepermukaan ya.
terimakasih banyak.
-best-
__ADS_1