
"Aku tidak sudi suka padamu. Kamu bukan tipeku." jawab Si An.
"Syukurlah.." Joelin berujar sambil kembali fokus pada layar laptopnya.
"Guys, aku lapar...." rengek Si An sekali lagi..
Akhirnya karena merasa terganggu ketiga mahluk yang tengah fokus belajar itupun memilih untuk mengankan perut kosong milik Si An. Jadi, di sinilah mereka sekarang, kantin kampus untuk sekedar melepas penat dan lapar.
"Mickey, apakah kamu akan pulang ke rumah winter break nanti?" tanya Si An memecah keheningan.
"Belum tahu." jawab Mickey santai.
Joelin melirik pria itu sekilas, seingatnya sejak pernikahan mereka belum sekalipun Mickey mengunjungi keluarganya, yang artinya hampir satu semester Mickey tidak pulang. Bahkan menghubungi orangtuanya lewat saluran telepon pun sangat jarang dilakukan pria yang kini sah jadi suaminya itu. Dan hal yang paling meresahkan hati Joelin adalah, sampai kini dia belum dikenalkan pada keluarga mertuanya.
"Pernikahan apa ini?" tanpa sadar Joelin mengomel dalam bahasa Indonesia.
"Ada apa?" tanya Mickey.
"Apa masalah mu Joe? kau bicara sendiri?" selidik Si An.
"Bukan urusanmu." protes Joelin pada pria itu.
"Tapi kau mengatakan hal aneh." ucap Si An tak mau kalah.
"Bukan aneh, kau saja yang terlalu bodoh hingga tidak mengerti." Joelin kembali menyuap makanannya.
"Mickey.. tidak bisakah membelaku?" pinta Si An pada pria yang kini duduk di sisinya.
"Aku juga tidak mengerti." Ujar Mickey memandang Joelin penuh selidik.
Joelin yang duduk tepat berhadapan dengan Mickey hanya menggerakkan bahunya sambil tersenyum tipos sebagai isyarat "it's okay".
Seolah mengerti dengan sign yang dikirim istrinya, Mickey memilih kembali fokus pada makanan yang tersaji di mejanya.
"Mickey... kau malah mencueki aku." rengenk Si An.
"Han Si An, fokus pada makananmu. Kita harus kembali belajar." protes Mark tiba-tiba.
Si An memonyongkan bibirnya karena kesal akibat tak seorang pun menhawab rasa penasarannya. Pria tambun itu akhirnya memutuskan melahap makanannya penuh emosi.
"Si An, pelan-pelan." tegur Joelin.
"Apa peduli mu" protesnya.
"Jangan merajuk, kau bukan kekasihnya." ledek Mark.
"Betul sekali." tambah Mickey.
Si An betul-betul kesal dengan aksi ketiga temannya ini. Apalagi Joelin, gadis itu selalu saja tidak mau membuka diri padanya. Terlalu banyak jawaban bukan urusanmu Si An. Jujur Si An juga ingin dekat dengan gadis itu. Si An juga seperti Mickey yang selalu berhasil membuat Joelin fokus dalam banyak hal.
"Apa? kenapa aku ingin begitu? apakah aku tertarik pada Joelin?" gumam Si An dalam hati.
Dengan ekor matanya, diawasinya gadis asing itu. Dia mengunyah makanannya perlahan, menyelesaikan semua menu dengan rapi hingga wadah makananya bersih. Setelah meneguk air, sebuah senyum terukir di bibirnya yang berwarna pink segar. Lalu matanya yang bulat berkedip perlahan.
Deg...deg...deg... tiba-tiba Si An merasa jantungnya seperti habis berlari kencang.
"Ah... apa aku menelan terlalu cepat? Kenapa jantungku berdetak kencang begini?" tanya Si An dalam hati.
__ADS_1
Pria itu lalu memilih mengunyah makanannya perlahan.
Setelah selesai dengan menu makan siang mereka, empat sekawan itu lalu kembali ke lab. Dan kini mereka fokus dengan aktifitas belajarnya lagi.
"Si An..." panggil Joelin tiba-tiba.
"Iya?"
"Boleh pinjam USB sebentar? aku ingin menyalin data dari komputer Mickey." pinta Joelin sambil menadahkan tangannya dan memasang wajah memelas.
"Ini." Si An menyerahkan USB itu ke tangan Joelin.
Ujung jari Si An tanpa sengaja memyentuh kulit telapak tangan gadis itu. Deg..deg..deg... Jantungnya kembali terpacu.
"Ah... ada apa dengan jantungku?" batinnya lagi sembari kembali menatap layar laptopnya.
"Mickey... Pindahin file-nya dong." pinta Joelin sambil memutar arah duduknya menghadap Mickey.
"Sebentar ya."
"Maunya sekarang."
"Sebentar Joelin."
"Mickey..." rengek gadis itu manja sambil mendorong kursi Mickey menjauh dari laptopnya.
Dengan satu gerakan cepat Mickey segera menekan keyboard dan mengunci layar laptopnya.
"Ih... jahat." protes Joelin.
"Sudah dibilang sebentar."
"Bercanda Joe..." Mickey yang diliputi rasa bersalah lalu meraih kursi Joelin dan menarik kursi gadis itu mendekat ke meja kerjanya.
"ini paswordnya" ujar Mickey lembut.
Joelin tersenyum tipis, sebenarnya dia tahu pasword laptop Mickey. Dia hanya sedikit kesal karena tadi suaminya itu berlagak seolah tidak ingin diganggu.
"Katanya nggak boleh." rajuk Joelin.
"Bercanda."
"Nggak lucu."
"Iya tahu. maaf ya." pinta Mickey lembut.
Si An mengamati pertengkaran kedua teman Lab nya itu. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Entah bagaimana di mata Si An sekarang, Joelin dan Mickey terlihat seperti sepasang manusia yang punya ikatan tertentu.
"Astaga... pemikiran apa itu?" maki Si An dalam hati.
Si An segera mengendalikan dirinya dengan kembali fokus pada pelajarannya. Sementara di salah satu sisi Lab, Mark sedang asik mengamati gerak gerik Mickey dan Joelin. Sampai pada satu saat, Mark terbelalak melihat tangan Mickey dan Joelin yang menyatu sejenak.
"Mereka... Mereka... ah, biarlah itu jadi urusan mereka berdua." batin Mark akhirnya.
Joelin masih cemberut. Sekarang dia sedang memindahkan beberapa file dari komputer Mickey sambil merajuk. Mickey yang sadar akan mood istrinya itu, akhirnya tidak punya pilihan lain. Dia segera menggerakkan tangan kananannya, menggenggam salah satu tangan Joelin.
"Sorry." ujar Mickey singkat.
__ADS_1
Joelin yang sadar bahwa mereka sedang di Lab lalu memilih menggangguk perlahan. Dan Mickey segera melepaskan genggamannya. Mereka tidak ingin kepergok oleh Si An dan Mark.
Setelah dimaafkan oleh istrinya Mickey memilih berdiri di sisi Joelin yang tengah sibuk mengkopi file.
"Selesai. Makasih Mike." ujar Joelin ceria sambil melepaskan USB dari komputer Mickey.
"Sama-sama." ujar Mickey.
Joelin segera memindahkan data-data itu kw komputernya dan segera mengembalikan Flash disk Si An. Sekarang gadis itu kembali fokus belajar.
\*
Akhirnya ujian akhir semester ke tiga sudah selesai. Si An melangkah meninggalkan kelas, menyusul Mickey dan Mark.
"Bagaimana ujian kalian?" serang Si An pada kedua temannya.
"Aman." jawab mereka serentak.
"Joelin masih di dalam?" Tanya Mickey pada Si An.
Mendengar nama Joelin, dada Si An kembali bergemuruh. Dan entah mengapa kali ini pipinya ikut terasa hangat.
"Si An apa kau baik-baik saja?" tanya Mark.
"Ya..." ujar Si An bingung.
"Wajahmu merah sekali, aku khawatir kau demam." selidik Mark.
"Oh. mungkin aku butuh istirahat." kilah Si An, pria tambun itu langsung duduk.
"Guys..." suara berisik yang khas memenuhi ruangan itu.
deg...deg..deg..deg... Jantung Si An kini berdetak semakin kencang saat mendengar suara gadis itu. Terlebih lagi saat mendengar langkah kakinya yang kian mendekat.
"Joelin, kamu lama sekali. Apakah lembar ujian telah berubah hadi kanvas?" Goda Mark pada gadis itu.
"Rencanaku sih begitu." canda Joelin.
"Lalu?" tanya Mickey bergabung dalam candaan itu.
"Sayangnya ide yang terlintas di wajahku hanya wajah Mark, kalau aku melukis dia... aku khawatir dia tidak sudi membayar ku walau dengan seporsi jatah makan siang. Sementara perutku tengah kelaparan."
"Lalu kau putuskan mengumpulkan lembar ujian mu agar kita bisa makan siang, right?" selidik Mark.
"Tentu saja. Kay cerdas sekali." seru Joelin.
Mickey menggeleng gemas dengan tingkah istrinya itu. Sementara Si An kini duduk kikuk sambil mengawasi tingkah lucu Joelin dengan jantungnya yang sibuk lomba lari.
**Pengumuman
Silahkan di vote, komen dan like ya teman-teman. Soon akan ada new conflik dalam hubungan Joelin dan Mickey. Coba ketik di kolom komentar, tebakan kalian "kira-kira masalah apa yang akn dihadapi Joelin dan Mickey?"
thankyou
__ADS_1
-Best**-