Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Dia Yang Manis


__ADS_3

"Apa kau sekhawatir itu pada Joelin?" selidik Bill heran dengan reaksi Si An.


"Apa maksudmu? Jangan berpikir yang aneh-aneh Bill."


Entah mengapa Si An merasa terganggu dengan perkataan Bill barusan. Mencoba mengabaikan kecanggungan yang tiba-tiba tercipta, Si An memutuskan undur diri menyisakan Mark dan Bill yang kini kembali asik mengerjakan penelitian mereka.


"Arrrgh... apa hubungannya denganku kalau gadis itu mendapatkan masalah? Aku tak peduli dan aku tidak ingin terlibat. Tapi bagaimanapun, dia adalah temanku. Merepotkan sekali." Si An mengomel di dalam hatinya.


Pria itu memandang lurus kedepan. Menikmati view taman universitas dari balkon yang terletak di salah satu sisi laboratorium. Hatinya tiba-tiba merasa tidak nyaman dengan kedekatan Mickey dan Joelin. Si An takut, kedua orang itu akan melangkah kedalam masalah besar. Ditambah lagi, Si An benar-benar tahu siapa itu Jee Na.


"Ah peduli amatlah."


Si An memutuskan untuk mengabaikan mereka dan kembali masuk ke dalam Lab.


"Si An... dari mana kamu?"


"Rahasia."


"Oh.."


"Joelin, kau tidak punya kesibukan lain?"


"Ha? apa maksudmu?"


"Berhentilah menggangguku."


"Siapa yang mengganggu mu? Dasar pria aneh!!!"


"Sudahlah Joelin, jangan hiraukan dia. Anggap saja orang asing yang ketemu di jalan."


Mickey angkat suara, mencoba menenangkan Joelin yang kini sedang kesal karena Si An."


"Oh ya, kurasa itu ide yang sangat bagus." Joelin setuju.


"Hei, girl. Bukankah kamu sedang datang bulan?"


"Apa urusannya denganmu?"


"Pulanglah untuk membersihkan diri. Nanti pukul 7 kita ketemu di ruang diskusi perpustakaan."


"Untuk apa?"


"Belajar Joelin, apa kamu lupa lusa akan ada ujian?"


"oh iya. Terimakasih sudah mengingatkanku Si An."


Awalnya Joelin memang kesal dengan sikap Si An yang terkesan tidak sopan dan seenaknya saja berbicara tentang siklus bulanan nya, namun akhirnya emosi Joelin juga mereda karena perhatian tulus lelaki itu. Akhirnya Joelin memutuskan mengikuti saran Si An. Setela membereskan barang-barangnya, Joelin mohon diri pada Mickey.


"Mike, aku ke asrama bentar ya."


"Makan malam mu bagaimana?"

__ADS_1


"Nanti mampir dikantin aja."


"Kenapa harus pulang?"


"Aku harus mandi."


"Kenapa harus mandi? Nanti malam kan bisa seusai study grup."


"Kamu nggak perlu tahu alasannya. Aku pergi sekarang."


Joelin bergegas meninggalkan meja belajarnya di Laboratorium.


"Hei Joelin..!! Aku belum selesai bicara."


"Nanti aja Mike, byee byee. Bye Si An, bye Mark, bye Bill."


Joelin berlalu meninggalkan lab, tanpa menghiraukan keempat pria itu lagi.


"Mau kemana dia? bukankah hari ini jadwal study grup kalian?" seru Bill tiba-tiba.


"Dia mau mandi."


"Kenapa harus mandi Mike?"


"Akupun kurang tahu Mark."


"Dia sedang datang bulan." Si An angkat suara.


Kini Mark dan Bill sudah berlari ke arah tempat duduk Si An. Mereka menuntut penjelasan pria itu. Sementara Mickey yang duduk dikursinya memutar tubuh menghadap Si An. Menunggu penjelasan juga.


"Dasar lelaki. Penjelasan apa yang sebenarnya kalian harapkan?" tanya Si An histeris.


Lalu pria itu menjelaskan bagaimana pagi tadi Joelin menanyakan jadwal study grup mereka hari ini. Ditambah dengan gadis itu yang meminta izin untuk bolos study grup karena alasan sedang datang bulan. Namun Si An memberi saran agar Joelin kembali ke asrama terlebih dahulu sebelum study grup mereka dimulai. Mark dan Bill menyimak penjelasan Si An, dan berkali-kali mengangguk tanda mengerti. Sementara Mickey kini sedang merasa kesal pada Joelin.


\*\*\*


Perpustakaan universitas ini sangat luas. Ditambah fasilitas canggih dan koleksi bukunya yang super lengkap. Tentu saja, Joelin berkuliah di salah satu kampus favorite di Korea. Gadis itu langsung masuk kedalam perpustakaan setelah menscan kartu pelajarnya. Dia menuju lantai 11 ruangan B1, tempat mereka biasanya mengadakan study grup.


Study grup Joelin beranggotakan 7 orang mahasiswa dari kelasnya. 4 diantaranya adalah Joelin beserta ketiga teman labnya, sementara 3 lainnya adalah merupakan Tae Ho, Dong Ja, dan seorang gadis bernama Reeny. Saat lift terbuka di lantai 11, Joelin langsung melangkah ke ruangan yang mereka pinjam. Dan tentu saja semua rekannya sudah ada disana. Kecuali Reeny.


"Hi.. Dimana Reeny?"


Setelah menyapa teman-temannya Joelin langsung duduk di kursi kosong yang terletak antara Si An dan Mickey.


"Reeny harus kerumah sakit." Si An menjawab pertanyaan Joelin.


"Siapa yang sakit?"


"Neneknya."


"I see. Kalian sudah membahas apa saja sejak tadi?"

__ADS_1


"Kami masih membaca bagian kami masing-masing. Bagaimana denganmu? apa kau sudah memahami isi bab 7?" ujar Si An pada Joelin.


"Masih sedikit paham."


Akhirnya Si An dan Joelin meneruskan percakapan mereka dengan saling berbisik. Hal itu dikarenakan 4 pria lain sedang fokus membaca buku dihadapannya masing-masing.


"Bacalah lagi. Jangan seperti Mickey." bisik Si An pada Joelin.


"Kenapa dia?"


"Dia sedang bad mood sejak tadi, mungkin karena Reeny tidak datang." Pria itu kini masih berbisik.


"Apa hubungannya dengan Reeny?"


"Katanya Reeny terlalu cantik, dia sangat ingin menciumnya."


Mata Joelin kini terbelalak lebar mendengar bisikan Si An. Sungguh dia tidak habis pikir bahwa Mickey orang yang seperti itu.


"Jangan terkejut. Dia memang begitu."


"Sudahlah, ayok kita kembali belajar. Biarkan dia urus sendiri mood nya." bisik Joelin pada Si An.


Mickey yang sedari tadi menyadari kehadiran Joelin tentu saja menyadari aksi bisik-bisik tetangga antara gadis itu dan Si An.


"Apa dia tidak bisa diam🤮?" omel Mickey dalam hati tanpa mengalihkan wajahnya dari buku dihadapannya.


Walau dia terlihat fokus pada buku, tentu saja ekor matanya sibuk mengawasi tingkah Joelin.


"Sudah berani bisik-bisik begitu. Belum lagi memberitahu Si An tentang siklus menstruasi nya. Apa jangan-jangan dia suka pada Si An? Dasar perempuan, semua sama saja. Begitu jatuh cinta pasti sibuk mengejar lelakinya. Awas saja kamu Joe." gumam Mickey kesal.


Joelin kini tengah fokus membaca buku dihadapannya. Setelah 30 menit tiba diruangan itu, akhirnya mereka mengakhiri sesi membaca dan dilanjutkan pada sesi diskusi. Meja bundar yang terletak ditengah ruangan dan juga kursi dengan posisi mengelilingi meja itu memudahkan mereka untuk lebih interaktif dalam diskusi itu.


Pukul 23.45 akhirnya pemberitahuan dari perpustakaan mengingatkan para siswa untuk meninggalkan tempat itu. Perpustakaan memang selalu tutup pukul 11 malam. Bersamaan dengan pengumuman itu, Joelin dan teman-temannya keluar dari perpustakaan. Mereka masih harus kembali ke tempat tinggal masing-masing, untuk beristirahat.


"Joe bisa pulang sendiri?"


Mark mewakili teman-temannya bertanya.


"Hmm.. sepertinya pulang sendiri juga aman. Masih banyak yang berlalu lalang di sekitar asrama." jawab gadis itu setuju.


"Jangan takut, kalau ada lelaki jahat langsung menjerit aja nanti."


"Kalau aku menjerit, akankah anda segera muncul tuan Si An?" canda Joelin.


"Tentu saja tidak." Si An kembali meledek gadis itu.


"Bahkan kalaupun kamu muncul, itu akan jauh lebih menakutkan. hahahaha."


Derai tawa Joelin tiba-tiba meledak. Entah apa yang terlintas dipikiran gadis itu. Mickey yang asik mengamati wajah Joelin dibawah bias cahaya lampu malam tiba-tiba tersenyum.


"Dia lucu. Dia memang manis. Tapi... Dia menyebalkan." gumam Mickey dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2