
"Sampai kapan kamu akan bersikap dingin dan kasar padaku?" tanya Aluna pelan sambil duduk di kursinya. Air mata kini membasahi pipinya.
Aluna memutuskan untuk kembali berfokus pada pekerjaannya, walau kini sesak tengah memenuhi hatinya.
\*
Ruangan yang didominasi oleh warna putih dan cream itu terlihat sepi. Sang pemilik kamar tengan duduk termenung di atas ranjang. Sesekali tangannya bergerak membuka lembaran demi lembaran album di pangkuannya. Seulas senyum terukir di wajah gadis itu, matanya menangkap sosok anak lelaki berusia 7 tahunan di dalam foto.
"Kamu lucu banget waktu kecil. Apa anak ini nanti akan tumbuh jadi anak yang bahagia walau dia tidak punya Ayah di sisinya?" Amel bermonolog dalam hati. Senyuman yang tadi menghiasi wajahnya berubah menjadi kesedihan yang mendalam.
\*
Joelin sedang sibuk merapikan kamar saat sang suami membersihakn dirinya di kamar mandi. Kehamilan Joelin kini sudah semakin membuncit. Namun wanita itu masih bisa bergerak dengan cekatan saat beraktifitas sehari-hari. Hari masih pagi, si bayi kecil Lucy belum juga bangun dari tidurnya.
Usai merapikan kamar, Joelin segera bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Walau hari ini adalah hari libur, bukan berarti dia bisa bermalas-malasan. Tidak ada tanggal merah bagi ibu rumah tangga, paham yang Joelin nut sejak dia menjadi istri pria tampan bernama Mickey.
Saat keluar dari kamar mandi, Mickey mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru kamar. Karena tidak menemukan Joelin di kamar, setelah berpakaian pria itu berniat mencari sang istri ke dapur.
'drt....drrrttt...drt...'
Langkah Mickey terhenti oleh getaran ponsel. Pria itu segera memeriksa ponselnya, namun tidak mememukan pemberitahuan apa-apa.
"Ah... ponsel Joelin." gumam Mickey sambil mencari keberadaan ponsel sang istri di nakas.
"Hallo..." Mickey segera menerima sambungan saat melihat nama penelepon.
"Mickey, aku ingin bicara dengan Joelin." ujar suara di seberang sana sedikit terdengar memelas.
"Oh, sepertinya dia sedang di dapur. Maaf Aluna." ujar Mickey.
"It's Okay Mickey. Aku bisa menghubunginya lagi nanti. Terimakasih ya." Aluna menjawab sopan sebelum sambungan terputus.
Mickey memandangi ponsel Joelin, dia tersenyum memandang tampilan wallpaper sang istri. Foto saat resepsi pernikahan mereka di korea beberapa bulan lalu.
"Apakah ponsel ini juga bank foto tidurku? sama seperti ponselku yang dipenuhi foto-foto Joelin, bahkan ada banyak foto seksinya saat tidur di sana." Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benak Mickey, pria itu ingin memeriksa galeri foto Joelin.
Mickey terkekeh, tepat seperti dugaannya, terdapat beberapa foto Mickey saat terlelap. Dikamar, di ruang tamu, seketika tangan Mickey terhenti. Matanya membulat melihat tampilan layar ponsel Joelin.
"Aku dan Amel?" tanya Mickey saat melihat foto-foto di ponsel Joelin.
__ADS_1
"Foto ini diambil di supermarket?" gumam Mickey sekali lagi.
"Darimana Joelin mendapatkan foto berbahaya ini?" gumam Mickey menyadari kesalahpahaman seperti apa yang bisa muncul dari foto-foto itu.
Mickey terus menggeledah ponsel Joelin, hingga dia menemukan fotonya dan Amel mengunjungi dokter Obgyn.
"ASTAGA, APA-APAAN SEMUA INI?" Mickey berteriak pada diri sendiri sambil melempar ponsel Joelin ke atas tempat tidur.
"Tenang Mickey, kau pria. Jangan bertingkah karena dikendalikan emosi seperti wanita. Pakai logikamu." Mickey menasehati dirinya sendiri sambil kembali meraih ponsel Joelin dari atas tempat tidur.
Pria itu langsung memeriksa kotak pesan di ponsel sang istri. Sampai matanya tertuju pada sebuah nomor yang di beri kontak "Doni".
Mickey mengeryit karena tidak sepenuhnya paham kenapa nomor ini mengirim pesan yang berisi foto-foto nya dan Amel pada Joelin.
"Siapa Doni?" gumam Mickey kemudian.
Tanpa membuang waktu, Mickey memutuskan untuk segera bertanya pada sang istri tentang foto-foto itu.
"Sayang..." panggil Mickey sambil memeluk sang istri dari belakang.
Joelin yang sedang menyiapkan bumbu memilih fokus dengan kegiatannya sambil bergumam pelan.
"Siapa Doni?" tanya Mickey.
"oh... kenapa sayang?" Joelin balik bertanya.
"Ingat saat kita di kota Medan? Pria yang sering memanggilmu oppa, namanya Doni."
"Oh dia." Jawab Mickey sambil mengeratkan pelukannya. Pria itu bergidik ngeri mengingat penampilan Doni.
"Ada apa sayang?" Joelin yang sadar akan peubahan emosi Mickey bertanya dengan lembut sambil menghentikan aktifitasnya.
"Dia mengirim foto-foto yang tidak benar padamu." jawab Mickey singkat.
.....
Joelin membisu mendengar perkataan sang suami. "Apa Mickey melihat pesan dari Doni? Apakah Mickey akan menuduhku memata-matai dirinya?" Joelin bertanya dalam hati.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku sayang? Kenapa kamu tidak bertanya apa-apa saat menerima foto-foto itu?" tanya Mickey lembut.
"Apa? Dia tidak menuduhku? Apa katanya tadi? Apa itu artinya aku harus bertanya? Apa itu artinya anak itu bukan darah daging Mickey? Tapi kenapa mereka mengunjungi dokter kandungan bersama?" Joelin memejamkan matanya. Tanpa merespon pertanyaan sang suami.
"Aku tahu, di sini pasti sedang sangat berisik." Micey melepas pelukannya dan memindahkan tangannya ke puncak kepala sang istri.
Joelin menatap Mickey dengan tatapan sendu. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Dia tidak ingin mencurigai Mickey, dia ingin mempercayai suaminya itu.
"Amel hamil, tapi ayah bayi itu tidak bertanggung jawab." ujar Mickey akhirnya.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Joelin kemudian. "Apakah pria yang tidak bertanggung jawab itu kamu Mickey?"
"Aku juga tidak tahu siapa dia. Amel tidak ingin memberitahuku."
"Lalu, bagaimana kau tahu Amel hamil?" Joelin menatap suaminya tajam.
Tatapan Joelin cukup membuat Mickey terluka. Dia tidak dapat membaca pikiran wanita itu, namun dia tahu Joelin sedang kecewa padanya. Dan semua itu berasal dari kebodohan Mickey, yang tidak memberitahu masalah ini pada sang istri sejak awal.
Mickey memeluk Joelin, lalu mulai menjelaskan pertemuannya dengan Amel. Alasannya menemani gadis itu kedokter, dan juga pertemuan mereka di supermarket. Joelin membisu, menyimak setiap kata yang dituturkan oleh suaminya.
"Kasihan sekali dia Mickey." ujar Joelin akhirnya. "Aku ingin mengunjungi Amel." ujar Joelin sambil menangis sesenggukan.
"Jangan menangis Joelin. Please, kamu tahu kenapa aku tidak memberitahu semua ini padamu?"
"Kenapa?" tanya Joelin dengan suara serak.
"Karena kamu pasti akan sedih dan marah di saat bersamaan."
"Bagaiaman kamu bisa menebak perasaanku saat ini?" tanya Joelin membalas pelukan sang suami. Ya, dia benar-benar marah pada pria yang menghamili Amel, siapapun lelaki itu.
"Aku inikan suamimu." jawab Mickey santai.
"Gombal..."
"Apa itu gombal?" tanya Mickey yang belum mendengar kosa kata ini sebelumnya.
"Sejenis junkfood." ujar Joelin santai.
"Ok.. tapi sayang, kenapa kamu tidak menanyakan apapun saat menerima pesab dari Doni? Bukankah sudah lama sejak kamu melihat foto-foto itu?"
"Aku mau belajar lebih mempercayai suamiku daripada orang lain." ujar Joelin.
"Wah, Istriku.. manis sekali perkataan mu, bisa-bisa aku terkena diabetes." ujar Mickey.
"Hahahaha... jangan bercanda sembarangan tuan suami." ujar Joelin mencubit pipi suaminya gemas.
"Aaaaaa... paaaa...aapppppaaa..." sayup-sayup terdengar tangisan Lucy yang baru bangun.
Joelin dan Mickey saling bertemu pandang sebelum tersenyum penuh arti.
Mickey segera berlari kearah kamar, memeriksa putrinya. Sementara Joelin kembali dengan masakannya.
'drrrrrt...drrt...' suara getar ponsel mengusik Mickey yang baru usai mengganti popok Lucy.
Pria itu segera mencari sumber suara yang ternyata adalah ponsel Joelin.
"DONI????" gumam Mickey penuh tanda tanya saat membaca nama yang tertera di layar ponsel Joelin.
__ADS_1