
"Sekertaris? Mike makan siang dengan sekertaris nya? Apakah sekertaris Mike juga berpenampilan seksi dan menor begini?" Joelin bergumam dalam hati sambil meninggalkan tempat itu. Ada sebersit rasa khawatir yang kini timbul di dalam dadanya.
\*\*\*
Sore harinya, Mickey pulang kerumah dengan perasaan lelah. Ada beberapa masalah yang harus dia bereskan hari ini, karena kesalahan oleh bawahannya di perusahaan.
Mickey baru saja tiba di kamar, saat ponselnya berdering nyaring.
"Halo..."
.....
"Kenapa?"
.....
"Harus sekarang?"
......
"Baiklah kamu tunggu disana."
Joelin yang sedang memakaikan pakaian pada Lucy mendengar setiap perkataan Mickey tanpa tahu apa yang sedang dibicarakan oleh orang di seberang.
"Sayang, aku harus makan malam di luar." ujar Mickey pada istrinya.
"Siapa tadi?" tanya Joelin tidak menanggapi pernyataan Mickey.
"Sekertaris perusahaan. Kamu makan malam sama Lucy ya, aku hanya sebentar. Ada beberapa pekerjaan yang harus kubereskan." Mickey mengacak puncak kepala Joelin sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
\*\*\*
Joelin memandang sang suami yang sudah berdandan rapi. Tak lupa pria itu menyemprot parfum beraroma segar untuk melengkapi penampilannya.
"Lucy, Appa pergi sebentar. Kamu jangan nakal ya sama mommy." Mickey mengecup dahi bayinya.
"Mike..." Joelin menahan diri, karena ragu untuk mengatakan perasaannya.
"Apa sayang? Aku hanya pergi sebentar, kamu jaga diri baik-baik ya. Jangan lupa menghubungi ku jika ada sesuatu." ujar Mickey.
"Pak Karno sudah di depan?" tanya Joelin mengurungkan niatnya menahan kepergian sang suami.
"Aku sudah pesan taksi online, kasihan dia kalau harus ku ganggu sekarang." jawab Mickey tenang.
Joelin menatap suaminya dengan penuh selidik.
"Mike, kenapa kamu tidak ingin diantar pak Karno saat pergi menemui sekertaris itu? Bukankah tadi siang kau juga makan siang bersama?" Joelin berujar sedih dalam hati.
"Bye sayang." ujar Mickey seraya berlalu meninggalkan Joelin dan Lucy.
Tiba-tiba, Joelin merasa kehilangan Mickey yang selalu manja padanya.
"Ada apa lagi ini Mike?" gumam Joelin dalam hati.
"maaaa...aaaaaaaaa" suara tangisan kencang Lucy menarik perhatian Joelin.
"Sayang, jangan menangis. Kenapa? kamu lapar?" Joelin berusaha menenangkan Lucy.
Joelin memilih untuk bermain bersama Lucy dan mengabaikan kegelisahannya karena sang suami yang hingga kini belum kembali kerumah. Joelin melempar pandangannya ke arah jam dinding di kamar, sudah hampir jam 10 malam dan suaminya tak kunjung pulang.
"Huuuufth... untunglah Lucy sudah tidur. Aku sudah kehilangan selera untuk makan malam." Joelin mendekap Lucy yang kini terlelap dan memilih memejamkan matanya.
"Mike, pulanglah secepatnya. Jangan membuatku khawatir." batin Joelin yang akhirnya terlelap karena kelelahan menenangkan putrinya sejak beberapa jam lalu.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Mickey dan sang sekertaris berkutat dengan berkas yang menumpuk.
"Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Mickey.
"Tidak tuan." jawab sang sekertaris sambil membereskan berkas-berkas itu.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu mengganti parfume? Aroma ini mengganggu sekali." Mickey berkata jengkel.
"Maaf tuan saya sudah menggantinya."
Mickey mengabaikan kalimat sekertaris itu, dan memilih memeriksa waktu.
"Sudah lewat jam 10 malam. Mungkin Joelin dan Lucy sudah tidur."
"Kita selesaikan sampai di sini. Pulanglah dan beristirahat." ujar Mickey.
"Terimakasih tuan. Tapi, tuan...."
"Apa lagi?" tanya Mickey memandang sang sekertaris dengan perasaan tak sabar karena ingin bertemu Joelin dan Lucy.
"Anda tidak membawa mobil dan ini sudah larut malam." jawab sekertaris itu.
"Kau benar." jawab Mickey lagi.
"Kupikir aku bisa menyelesaikan masalah ini lebih cepat, tapi ini malah sudah larut. Akan susah mencari transportasi yang aman." Mickey memijit keningnya karena merasa pusing.
"Tuan, saya bisa memberi tumpangan." ujar sang sekertaris.
"Oh, terimakasih." jawab Mickey tenang.
Keduanya lalu keluar dari gedung perusahaan, dan menaiki sebuah mobil. Sang sekertaris melajukan kendaraannya membelah malam yang kian pekat.
\*\*\*
Mickey bergegas naik ke tempat tidur dan memeluk Jeolin yang memunggunginya.
\*\*\*
Pagi hari saat bangun, Joelin menemukan Mickey yang sedang bergelung dan memeluknya prosesif. Joelin memandang wajah tenang pria yang kini tidur dihadapannya.
"Mike, aku sempat meragukan mu lagi. Maaf. Tapi setiap aku melihatmu begini, aku semakin merasa bersalah setiap ragu padamu. Kau adalah rumahku, kau adalah arah untuk aku berlari. Tolong jangan macem-macem di luar sana Mickey, atau aku akan tersesat." Joelin bergumam lirih dalam hati sambil menyentuh perlahan wajah sang suami.
Sadar bahwa dia sedang tidak memeluk Lucy, dengan gerakan hati-hati Joelin berusaha melepaskan diri dari pria itu. Saat Joelin bangkit dari posisi tidurnya, dia menemukan sang putri yang sedang terlelap di box bayi.
"Kau bahkan merawat Lucy dengan baik, kenapa aku masih meragukan mu. Aku memang jahat. Maaf sayang." Joelin bergumam dalam hati sambil mengecup lembut kening Mickey.
Joelin tahu jam berjaga Lucy setiap malam. Dan semalaman dia tidur lelap, artinya Mickeylah yang telah menemani Lucy. Bahkan pria itu tidak membangunkannya, saat dia kembali maupun saat Lucy terjaga. Joelin tersentuh dengan perhatian sang suami.
\*\*\*
Joelin sedang fokus menata makanan di meja makan, saat Mickey muncul dengan penampilan rapi sambil menggendong Lucy yang baru bangun.
"Lucy, katakan Appa." Mickey asik mengajak putrinya berbicara.
"Aaaaa..."
"Ap....pa..."
"Maaaaaa...."
"Appa bukan Mama..."
"aaaaaaaa"
__ADS_1
Mickey mencium gemas sang putri yang hanya bergumam-gumam tidak jelas di dalam gendongannya.
Joelin tersenyum memandang sang suami yang sedang bermain dengan putri semata wayang nya itu.
"Good morning mommy." Mickey menirukan suara anak kecil saat melangkah mendekati Joelin.
'cup'
Sebuah kecupan jangan mendarat di bibir wanita itu.
"Good morning Lucy." Joelin menjawab sapaan Mickey dan beralih mengecup sang putri.
"aaaaaaaaaa" Lucy menangis keras sambil menggapai-gapai kearah Ibunya. membuat Joelin memutuskan untuk menggendong bayi itu.
"Kau mau kemana Mike?" Joelin menatap sang suami yang sudah berpakaian rapi.
"Kantor sayang." jawab Mickey tenang sambil duduk dan mulai menyantap sarapannya.
"Ini kan hari sabtu?"
"Ada yang harus kuselesaikan." jawab Mickey di sela kunyahannya.
"Dengan siapa? Dengan sekertaris itu lagi?"
"Tentu saja sayang, dia kan yang harus membantu pekerjaanku."
"Oh..." jawab Joelin dingin.
Mickey yang sedang banyak pikiran karena masalah di perusahaan, menjadi tidak peka dengan raut wajah sang istri. Dengan terburu-buru Mickey menyelesaikan makanannya. Lalu berangkat ke kantor, setelah memberi kecupan sayang pada kedua perempuan itu.
Joelin hanya menatap kepergian Mickey dengan gundah yang kembali mendera hatinya.
"Setelah makan malam yang panjang, sekarang bahkan menghabiskan akhir pekan bersama. Apa lagi ini Mike?" Joelin bergumam pelan.
"aaaaaaa ma....aaaap..." Lucy kembali menangis kencang.
\*\*\*
Siang harinya, Joelin baru sadar dia belum makan apa-apa sejak semalam karena Lucy yang rewel sepanjang hari.
Setelah memandang Lucy yang terlelap di box bayi, Joelin menghela nafas dalam-dalam.
"Lucy, kenapa kamu rewel sepanjang hari sayang?" ujar Joelin pelan.
Karena lapar sudah menyerangnya, Joelin memutuskan ke dapur sejenak untuk mengisi perutnya. Wanita itu masih di pintu kamar, saat tangisan Lucy kembali pecah.
Joelin membuang nafas kasar, sebelum akhirnya menggendong sang bayi.
"Lucy... Badanmu panas sekali sayang." Joelin bergumam frustasi.
Tanpa pikir panjang Joelin segera maraih ponselnya dan menghubungi Mickey. Namun pria itu sama sekali tidak menjawab, dan Lucy masih terus menangis.
Dengan tergesa Joelin menggendong Lucy keluar rumah dan menyetop sebuah taksi.
"Pak rumah sakit." Ujar Joelin sambil mendekap Lucy yang masih menangis.
Taksi itu lalu bergerak menuju rumah sakit terdekat. Setibanya di rumah sakit, Joelin berlari membawa putrinya kepada dokter. Perutnya terasa sakit, namun Joelin mengabaikan perasaan itu. Pikirannya kini dipenuhi oleh tangis kesakitan dari Lucy.
Saat Joelin menyerahkan Lucy pada dokter, dia merasakan sesuatu yang dingin mengalir di kakinya. Joelin menunduk dan melihat darah menetes sampai ke pergelangan kaki kanannya.
"Ah perutku..." Joelin merasa sakit di bagus perutnya sebelum tiba-tiba pandangannya menggelap.
....to be continued...🌹🌹
__ADS_1
Author POV
Minta vote nya dong, kasih aku suplay semangat.