
Aluna tersenyum lebar mendengar penuturan gadis yang dulu dibencinya. Joelin, orang asing yang pada pertemuan pertama telah menyelamatkannya. Joelin, gadis yang membuatnya iri habis-habisan karena hati pangeran yang Aluna cintai sudah penuh sesak oleh gadis ini. Joelin, yang juga menghibur Aluna di puncak patah hatinya. Tiba-tiba Aluna merasa sangat beruntung bahwa dalam satu fase hidup, kisah mereka saling bersinggungan.
\*\*\*
Pria itu duduk termenung di salah satu kursi taman. Satu persatu daun musim gugur jatuh dan menari di udara bersama angin yang menerpanya. Pemandangan dengan warna warni autumn yang begitu seksi tak mampu mencuri perhatiannya. Banyak mahasiswa seperti dirinya yang berlalu lalang di sana, bersenda gurau dalam bahasa mandarin.
Goedan menarik nafas dalam-dalam, ada bagian dalam dirinya yang menyesali takdir antara dia dan gadis yang selama ini menjadi pujaan hatinya. Sesal akan masa lalu, saat mereka berada di kota yang sama namun dia memilih menyembunyikan perasaannya.
"Jika aku berjuang dari dulu, akankah keadaannya berbeda?" batin pria itu.
drt..drt... Goedan tersadar dari lamunannya oleh getaran ponsel dalam saku celana jeans yang memeluk kakinya. Sebuah pesan elektronik dari jurusan tiba di e-mail pria itu. Pemberitahuan ujian tengah semester. Tersadar akan tuntutan hidup yang menunggunya di depan sana, Goedan memilih untuk bangkit berdiri, dia berjalan gontai menuju area parkir. Pria itu memutuskan kembali ke apartemen dan memilih fokus untuk masa depannya.
\*\*\*
Gadis itu sedang menikmati yoga dengan alunan musik yang sangat menenangkan di taman belakang rumah. Wajahnya terlihat lebih berseri, dihiasi peluh yang menetes mengukir keindahan unik di sana.
"Dek... pinjam ponsel dong." Seorang pria muncul membuyarkan lamunan nya.
"Buat apa kak?"
"Bosen nih. Sampai kapan kamu mau nahan semua alat elektronik kakak dan ngurung kakak di sini Na?"
"Sttt... jangan berisik. Daripada kakak protes mending sini olahraga sama Aluna."
Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dua minggu sejak dia kehilangan akal dan mencelakai Joelin. Kesalahan fatal yang mengakibatkan dia harus di DO dan masuk daftar blacklist pengunjung Korea. Vino tidak sebesar apa kekayaan yang dimiliki Joelin hingga gadis itu bisa membereskan kasus ini dengan rapi dan bersih, tanpa skandal untuk dinikmati publik sama sekali.
Selama dua minggu di sinilah Vino. Salah satu villa keluarganya di pulau Lombok. Bukan liburan, lebih terasa seperti Aluna sedang memenjarakan pria itu. Tanpa ponsel, tanpa komputer, tanpa mobil, motor, ATM, bahkan credit card. Vino sendiri bingung darimana Aluna bisa mendapatkan keberanian untuk menyita dan menyembunyikan semua miliknya. Tidak sampai disitu, sekarang di villa mereka juga tinggal seorang dokter psikologi, yang siap menemani Vino 24 jam perhari.
"Kak Vino, jangan bengong aja.. olahraga kek apa kek, ntar kesambet tahu rasa lo." omel Aluna saat menyadari pria yang masih berdiri dengan tatapan kosong ke arahnya.
"Na, boleh nggak Allea jangan tinggal sama kita?"
"Ada apa lagi sih kak? Dia itu dokter pribadi kakak. Kakak nggak mau sembuh?"
"Tapi kan Na, terapi ke klinik juga bisa. nggak mesti meminta dia tinggal bersama kita." protes Vino.
Aluna menghela nafas berat. Selama dua minggu ini pertama kalinya Vino mau berdiskusi dengannya. Yang berarti keberadaan Allea di rumah mereka sangat membantu kesehatan mental kakaknya itu. Masih segar dalam ingatan Aluna, sosok Vino yang depresi, histeris dan tidak terkontrol pasca ditahan polisi. Aluna hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kesehatan kakaknya.
Sebagai penderita bipolar, membiarkan kakaknya didampingi oleh seorang dokter rasanya merupakan keputusan terbaik. Ditambah lagi, ada secercah keinginan di hati Aluna, berharap Vino dan Allea akan saling cinta lokasi. Sebagaimana cinta bisa menghancurkan seseorang, Aluna yakin cinta juga bisa memulihkan.
"Pokoknya kakak nggak mau, dia harus keluar dari rumah ini." protes Vino emosi, nada suaranya meninggi.
"Kakak nggak boleh tawar menawar." Jawab gadis itu tegas. "Mau ikut Aluna nggak?" tanyanya mencoba mengalihkan perhatian.
__ADS_1
"Na... tolonglah." ujar Vino sedih.
Aluna memijit pelipisnya. Kepala gadis itu terasa nyeri. Emosi pria dihadapannya sungguh labil. Benar-benar berhasil membuat Aluna pusing tujuh keliling.
"Kak, lima belas tahun lalu.. ingat Dokter yang merawat kakak di Jerman?" tanya Aluna lembut.
"Iya."
"Allea adalah salah satu murid terbaiknya."
"Apa nggak ada murid terbaik lain? yang pria misalnya."
"Ada, anak kandung dari dokter itu. Tapi..." kata Aluna.
"Tapi apa Na?"
"Lebih baik dokter Allea kak. Dia orang Indonesia, bayaran dokter asing pasti lebih mahal." kilah Aluna berbohong.
"Maaf ya kak, sebenarnya Aluna juga baru tahu hubungan dokter itu dengan Joelin. " batin Aluna.
"Pelit."
"Yee... biarin aja. Mau ikutan nggak?" tawar Aluna sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kemana?" tanya Vino sambil mengekor dibelakang adiknya.
"Kakak boleh ke pantai?" tanya Vino.
"Boleh dong, selama ada Aluna dan dr. Allea tentunya." jawab Aluna santai.
Vino terdiam tanpa ekspresi. Bagaimanapun dia tidak akan bisa kalah melawan keinginan Aluna. Bahkan jika harus sakit sekalipun Vino rela, selama adik kesayangannya itu bisa bahagia.
Aluna melangkah menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Setibanya di kamar, gadis itu langsung memeriksa ponselnya.
'bagaimana Vino?'
bunyi sebuah pesan yang dikirim oleh contac bernama Goedan.
'Dia membaik. thanks'
Aluna membalas singkat pesan itu. Jika dulu, Goedan mengirim pesan begitu Aluna pasti sudah melompat kegirangan. Tapi lain halnya dengan kini. Gadis itu harus belajar menerima kenyataan bahwa Goedan belum mencintainya. Perihal perasaan Aluna pada lelaki itu, biarlah waktu yang membawanya mengalir. Entah pada akhirnya akan menguap tanpa bekas, atau akan berkumpul dalam lautan yang dalam dan tepat. Aluna belajar merelakannya.
\*\*\*
__ADS_1
Seorang gadis kini tengah fokus pada layar laptopnya. Hal serupa berlaku untuk ketiga pria yang duduk sejajar dengannya. Mickey, Joelin, Si An dan Mark sedang fokus memahami materi. Mereka tidak ingin kehilangan satu point pun di ujian semester nanti.
"Lapar..." keluh Si An memecah keheningan, namun tidak satupun temannya merespon.
Si An memutar otaknya, mencari cara untuk menarik perhatian teman-temannya itu. Sebuah ide cemerlang terlintas di kepalanya. Seulas senyum terbit di wajahnya, disusul kalimat, "Joelin, Mickey kenapa kalian absen bersama dua minggu lalu? Apakah kalian membolos untuk berkencan?"
Merasa namanya disebut Joelin dan Mickey serentak menoleh ke arah Si An.
"What? Kalian bersama?" tanya Si An histeris mendapati Mickey yang sedang mengangguk.
"Apa?" tanya Mickey tak kalah histeris, tadi dia mengangguk tanpa berpikir panjang. Pria itu terlalu fokus belajar, hingga lupa bahwa pertanyaan Si An harusnya tidak direspon.
Joelin menoleh ke arah Mickey dengan tatapan memohon. "please selamatin kita." batin Joelin.
"Aku bukan ngangguk buat pertanyaan mu, anggukan itu aku alamatkan untuk materi yang baru saja ku mengerti." kilah Mickey berusaha terlihat setenang mungkin.
"Ah... topik yang mana Mike? Bagi sama kami dong.." refleks Joelin berusaha membantu Mickey meyakinkan Si An.
"Kalian terlihat mencurigakan." selidik Si An.
Sementara Mark memilih menjadi penonton setia yang menyaksikan pertikaian ketiga orang itu. Si An dan Joelin selalu bertingkah layaknya kucing dan anjing, tidak pernah akur. Sedangkan Joelin dan Mickey lebih seperti sepasang sepatu, yang jika kaki kananmu melangkah, kaki kirimu akan mengikutinya. Kening Mark seketika berkerut, kalau dipikir-pikir lagi Joelin dan Mickey sungguh terlihat seperti pasangan. Tapi, sepertinya dia hanya berhalusinasi.
"Mark, apa kau percaya?" tanya Si An menyadarkan pria itu.
"Aku lebih curiga padamu." ujar Mark.
"Apa maksudmu?" Si An terlihat kebingungan.
"Kau terlalu banyak mengganggu Joelin, apakah kau tertarik pada satu-satunya wanita diantara kita?".
"Ha...?" tanya Si An tidak percaya dengan pendengarannya.
"Kalau kau menyukai aku, kau akan menyesal." ledek Joelin.
"Aky tidak sudi suka padamu. Kamu bukan tipeku." jawab Si An.
"Syukurlah.." Joelin berujar sambil kembali fokus pada layar laptopnya.
"Guys, aku lapar...." rengek Si An sekali lagi..
**Pengumuman
Gais makasih buat support kalian. Jangan sampai keinggalan, yok join di grup chat author. Akan ada pembagian kotak hadiah setiap hari.
__ADS_1
Dan juga tetap vote cerita ini, karena cerita ini ikut kontes. Sebenarnya kalau author tamatin juga jumlah part-nya udah sesuai kriteria kontes, tapi demi readers tersayang author panjangin deh. Maka dari itu, tetap vote, like dan komen sebanyak-banyaknya yaaa.
-love**-