
Pasangan itu saling pandang dengan penuh tanya. Mengapa Mark bisa ada di Indonesia? Lebih tepatnya mengapa Mark bisa diliput oleh acara infotainment dari negeri kolam susu ini?
Setelah melihat wajah Mark di televisi, Joelin dan Mickey sibuk menghubungi nomor ponsel pria itu. Namun sayangnya tidak ada jawaban.
"Kamu yakin itu Mark kan?" tanya Joelin sedikit gusar.
"Itu wajah Mark sayang. Kecuali ada dua manusia berwajah identik di dunia ini." masih fokus dengan ponselnya.
"Ada sayang. Kembar identik." jawab Joelin santai.
"Ah... itu kasus pengecualian sayangku. Kita sama-sam tahu kan kalau Mark itu anak tunggal?"
"Yah, kamu benar Mike. Bagaimana dengan email? Coba kirim pesan ke email Mark." saran Joelin.
"Yah, kamu betul dan sosial media juga. Makasih sayang, kamu memang the best."
"Kalau itu memang Mark, kuharap kita bisa bertemu dengannya." ujar Joelin.
"Dan kuharap dia baik-baik saja." Mickey seperti mengutarakan isi hati Joelin. Karena mereka memang sangat berharap Mark sedang baik-baik saja.
\*
Besok rumah kediaman Mickey akan rame oleh acara tujuh bulanan nya Joelin. Kedua orang tua Joelin sudah tiba Jakarta sejak dua hari lalu. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk berbagi cerita dan melepas rindu. Begitupun Mickey, pria itu berusaha untuk lebih banyak berkomunikasi dengan keluarga istrinya.
Hari ini, Mickey tidak masuk kerja. Pria itu izin untuk mengurus acara syukuran tujuh bulan kehamilan istri kesayangannya. Tentu saja, Mickey sangat antusias untuk mempersiapkan semua keperluan acara. Dia senang bisa mempelajari budaya Joelin, kehidupan Joelin.
Di ruang tamu Joelin dan kedua orangtuanya sedang asik mengobrol. Sementara Mickey, sejak beberapa jam lalu pamit keluar bersama pak Karno sang supir. Katanya mereka ingin menjemput beberapa kelengkapan untuk acara besok.
"Selamat sore...!" suara Mickey berkumandang dari arah pintu utama. Artinya pria itu sudah kembali.
"Sudah pulang?" Sambil bertanya pelan Joelin melangkah pelan menuju pintu utama.
Kedua orangtua Joelin hanya menggeleng pelan dengan tingkah putrinya yang langsung menyambut kepulangan Mickey. Selama di rumah ini mereka tak henti-hentinya tersenyum akan tingkah Joelin dan Mickey yang terus mengumbar cinta di sana-sini. Walau mereka tidak saling mengucapkan perasaannya di depan orangtua Joelin, namun pasangan paruh baya itu tidak kurang peka saat membaca setiap gesture anak dan menantunya. Mengingatkan mereka akan masa muda mereka dulu, saat cinta bersemi dan mekar dengan indahnya.
"Mickey?" seru Joelin sedikit menjerit karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"Hi Joelin." wanita paruh baya yang berdiri di sisi Mickey menyapa Joelin dengan lembut.
....
Hening, Joelin bahkan kehilangan kata-kata sampai tidak dapat membalas sapaan wanita itu.
"Menantuku memang cantik. Boleh aku memelukmu?" wanita itu kembali bertanya dalam bahasa Korea.
Joelin tidak menjawab, dia hanya mengangguk antusias sambil membuka kedua tangannya dan menabrak tubuh wanita itu.
Kedua wanita yang dicintai Mickey sedang berpelukan sambil meneteskan air mata haru. Pelukan yang penuh penerimaan dan ketulusan itu akhirnya terhenti oleh sebuah suara berat.
__ADS_1
"Ehmmm... Apa aku sudah boleh menyapa menantuku?"
Joelin langsung menjabat tangan ayah mertuanya itu. Tak lupa juga dia sungkem pada ayah Mickey.
"Kamu sungguh wanita yang baik dan sopan. Saya senang Mickey bisa menikahi wanita sebaik kamu." puji ayah mertuanya itu.
Joelin tersenyum haru kepada Mickey. Suaminya itu juga tak kalah terharunya, sampai-sampai sejak tadi dua terpaku membisu. Seperti dihipnotis oleh kegiatan Joelin dan orangtuanya. Memang benar, ini rencana Mickey, mengundang orangtuanya saat acara 7 bulanan Joelin.
\*
Hari masih sore, acara tujuh bulanan Joelin sekaligus baby shower sudah usai sejak beberapa jam lalu. Kini Joelin, Mickey dan keluarga dari korea sedang duduk sambil mengobrol santai di ruang tamu. Sementara keluarga dari pihak Joelin memilih istirahat sejenak, karena malam nanti mereka harus kembali ke rumah masing-masing.
"Jadi bagaimana rencana resepsi kalian?" tanya Ibu Mickey.
"Kami berencana untuk mengadakannya setelah baby lahir nanti." jawab Mickey sambil mengelus sayang rambut Joelin yang kini tengah menyenderkan kepala di pundaknya.
"Biar kami yang mengurus persiapannya." Ayah Mickey angkat suara.
"Terimakasih Appa, tapi kami rasa cukup saya dan Joelin yang mengurus segala sesuatunya."
"Eum Son.." suara ayah Mickey terdengar menyiratkan ketidaksukaannya atas penolakan sang putra.
"Ayah, ayah dan ibu mertua pasti sibuk. Izinkanlah kami yang mengurus segala keperluannya, tapi tentu saja akan ada masa dimana kami butuh bantuan ayah dan ibu. di saat-saat genting seperti itu, tolong bimbing kami." ujar Joelin lembut dengan kosa kata yang dipilih dengan ekstra hati-hati.
Mickey dan kedua orangtuanya tersenyum hangat mendengar kalimat Joelin yang sangat sopan dan hati-hati.
"Ommani akan tetap membantu kalian. Jangan protes lagi, ok?" tanya sang ibu.
Joelin dan Mickey saling pandang mendengar kalimat yang berarti tidak boleh ditawar itu.
"Baiklah. Terimakasih." ujar Mickey mewakili istrinya.
\*\*\*
Serangkaian acara tujuh bulanan Joelin sudah usai. Orangtua dari keduabelah pihak juga sudah kembali ke kampung halaman masing-masing. Seperti biasa, Mickey kembali bekerja. Sementara Joelin menetap di rumah dengan perutnya yang sudah membesar.
Sore ini sama seperti acara weekend lainnya, Joelin sedang bermanja-manja pada Mickey. Keduanya tengah bersantai di ruang keluarga, Mickey duduk bersandar di sofa sedangkan Joelin tiduran dan meletakkan kepalanya di kaki suaminya itu.
"Apa aku terlihat gendut?" tanya Joelin sambil memandang wajah Mickey.
"Tidak, kamu terlihat imut." ujar Mickey sambil memencet hidung Joelin gemas.
"Imut darimana? jangan berbohong Mike." Joelin mulai memanyunkan bibirnya sebagai aksi protes.
"Aku serius sayang. Kamu memang terlihat imut."
"Tapi setiap aku bercermin aku merasa sangat gemuk. Lagipula sekarang tubuhku rasanya sangat berat." curhat Joelin.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku pecahkan saja semua cerminnya?" tanya Mickey sambil memasang tampang lucu berusaha menghibur Joelin.
"Tetap saja aku gemuk."
"Kamu tidak gemuk sayang. Kamu sangat imut."
"Mickey apa kamu akan berhenti mencintaiku saat nanti tubuhku berubah menjadi semakin gendut?" tanya Joelin sambil menatap suaminya itu dengan wajah khawatir.
"Mana mungkin? Aku akan selalu sayang sama kamu."
"Aku tidak percaya." Joelin memalingkan wajahnya menghadap ke arah perut Mickey.
"Apa aku diet aja? Mungkin akhir-akhir ini aku terlalu banyak makan." ujar Joelin pelan.
"Tidak boleh." protes Mickey serius.
"Kenapa? kamu sengaja ya mau buat aku gendut?" Joelin kini menatap Mickey dengan tatapan sengit.
"Kata siapa kamu gendut? Kamu nggak gendut Joelin." Mickey kini membelai rambut Joelin dengan penuh rasa sayang.
......
Joelin hanya membisu dan memasang wajah cemberut sebagai alarm bahwa dia tidak percaya dengan kata-kata Mickey.
"yasudah, yasudah.. Mulai sekarang aku akan berjuang makan yang banyak." ujar Mickey lebih terdengar seperti sedang membujuk.
"Kenapa begitu?" tanya Joelin.
"Astaga sayang, sejak kapan kamu bisa bertingkah polos dan menggemaskan begini sih?" Mickey bergumam dalam hati.
....
"Mike... jawab aku dong." setengah merengek manja.
"Kamu mau tau kenapa aku berniat makan yang banyak sejak saat ini?" tanya Mickey.
Tanpa suara Joelin mengangguk antusias, dengan mata yang berbinar bahagia.
"Supaya aku gendut. Dan aku yakin kalaupun aku gendut bahkan obesitas sekalipun kamu akan tetap cinta kan samaku." Mickey mulai menggoda Joelin.
"Jangan Mickey... Nggak boleh sampai obesitas. Kamu gimana sih? Kalau kamu sakit aku dan si baby harus bagaimana?"
"Hmmmmm..."
"Pokoknya nggak boleh sampai obesitas." protes Joelin khawatir.
Mickey tersenyum senang bercampur geli dengan tingkah manja istrinya itu.
"I love you." ujar Mickey sebelum menjatuhkan wajahnya dan menciumi Joelin dengan gemas dan tanpa henti.
Sementara Joelin hanya menerima setiap perlakuan suaminya itu dengan jantung yang nyaris melompat keluar dari tempat nya karena bahagia. Mickey selalu berhasil membuatnya merasa sangat dicintai.
__ADS_1