Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Curiga?


__ADS_3

Bersama gadis ini rasanya selalu berbeda, jauh lebih indah daripada saat dia di sisi perempuan-perempuan yang pernah hadir di masa lalunya. Mickey merasa penuh seutuhnya saat menyentuh Joelin.


 


\*


 


"Kau yakin akan kembali ke asrama?" tanya Mickey sambil memeluk Joelin. Keduanya masih belum beranjak dari tempat tidur.


"Iya. Maafkan aku, malam ini Amel akan tiba."


"Tapi aku akan sangat rindu Joe."


"Kita masih bisa bertemu di Lab Mike."


"Bagaimana dengan makanan? akankah semuanya kembali seperti dulu sebelum kita menikah?"


"Hanya untuk besok, kita makan di luar. Setelahnya akan kupikirkan cara untuk bisa memasak untuk kita."


"Terimakasih sayang."


"Aku hanya tidak suka jika kamu makan di luar, boros dan tidak sehat."


"Kamu ini sedang mengkhawatirkan kesehatan ku atau uangku sih?" tanya Mickey sambil mencubit pipi Joelin gemas.


"Tentu saja uangmu." ujar Joelin bercanda.


"Istriku, jangan bertindak jahat." protes Mickey.


"Tentu saja aku peduli pada kesehatanmu appa." ujar Joelin sambil tersenyum lembut.


Gadis itu sebenarnya sudah memikirkan cara agar bisa tinggal bersama Mickey tanpa dicurigai oleh Amel. Rencana Joelin pulang malam ini adalah salah satu strategi untuk mencegah kecurigaan timbul di benak teman sekamarnya itu. Joelin berharap dengan ide yang dia miliki, semua akan dapat diatur dengan baik. Bagaimanapun dia juga tidak betah jika harus berjauhan dengan Mickey, entah sejak kapan pria ini telah menjadi candu baginya. Mereka masih saling berpelukan dan bermalas-malasan di atas tempat tidur, waktu masih menunjukkan pukul 05.00 pagi.


"Apakah di sini sudah ada bayi kita?" tanya Mickey sambil mengelus lembut perut Joelin.


"Sangat tertarik dengan bayi?" tanya Joelin sambil mengeryitkan keningnya.


"Membayangkan hal itu saja aku sangat bahagia, apalagi kalau jadi kenyataan."


"Kamu sungguh ingin jadi ayah Mike?"


"Pertanyaan mu lucu." Mickey sedikit bingung dengan pertanyaan Joelin.


"Hmmmm.."


Joelin memilih menyembunyikan wajahnya dengan menempel pada dada bidang Mickey.


"Kamu tahu, tentu saja aku ingin menjadi Ayah. Membayangkan kamu dan anak-anak kita mengisi hari-hariku membuat hati ini bersemangat."


"Anak-anak?"


"Iya sayang."


"Which mean, berapa anak?"


"2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10?"


"Stop..stop.. kamu bisa melanjutkannya sampai seratus jika begitu." kini tangan Joelin membekap mulut Mickey agar pria itu berhenti bicara.


" hahaha... kamu mau berapa aku bisa buat sebanyak itu." ujar Mickey sambil bergerak lembut melepaskan tangan Joelin yang menutup mulutnya.


"Jadi gimana? Apakah ada seseorang di dalam sini?" Mickey menanyakan harapannya sekali lagi sambil mengelus perut rata milik Joelin.


"I don't know."


"Mau memeriksanya?"

__ADS_1


"Hummm... tapi aku tidak merasa memiliki tanda-tanda kehamilan Mike. Sepertinya kita tidak harus memeriksanya sekarang." Joelin mencoba memberi alasan pada suaminya itu.


"Baiklah, tenang saja aku akan bekerja keras agar kita segera membawa mereka ke dunia." ujar Mickey bersemangat.


"Aku mandi dulu." Ujar Joelin bergerak bangkit dari tempat tidur.


"Tunggu dulu sayang."


"Apa lagi Mike?" Joelin berusaha menahan diri saat Mickey tak kunjung melepaskan pelukannya.


"Nanti malam kan kamu tinggal di asrama." ujar Mickey manja layaknya anak kecil yang meminta mainan dari ibunya.


"Terus?"


"kita selesaikan misi kita pagi ini." ujar Mickey sambil mendaratkan banyak kecupan singkat di wajah Joelin. Mata, pipi, hidung dan berakhir di bibir. Pria itu selalu saja berhasil membuat tubuh Joelin seperti jelly yang kehilangan tulang. Gadis itu akhirnya hanya bisa mengikuti permainan Mickey yang selalu berhasil mengambil kendali atas perasaannya.


 


\*


 


Mickey melangkah menuju meja makan, menyusul istrinya yang sudah menunggunya sejak beberapa menit yang lalu.


"Ini bekalmu." ujar Joelin menyodorkan sekotak makanan pada Mickey.


"Thankyou."


Mereka berdua asik menyantap menu sarapan masing-masing. Di piring Mickey tersedia telur mata sapi, sandwich, dan segelas susu. Sementara Joelin asik menikmati salad buah di hadapannya. Menu sarapan mereka sehari-hari sebenarnya tidak terlalu berbeda, namun terkadang Joelin akan sarapan sesuai selera sementara Mickey wajib memakan segala sesuatu yang sudah disediakan oleh gadis itu. Untungnya masakan Joelin benar-benar bersahabat dengan lidah Mickey, kalau tidak bisa-bisa rumah tangga mereka tidak akan bertahan hingga ke umur jagung.


"Setelah semua orang meninggalkan Lab, kamu bisa menyerahkan kotaknya padaku agar aku bisa membersihkannya." ujar Joelin memecah keheningan.


"Jangan khawatir, aku bisa mencuci kotak ini nyonya."


"Okay."


"Kita berdua?"


"Aku juga ingin begitu, tapi kali ini bagaimana jika kita bergabung bersama Si An dan Mark?"


"Oh ya, aku sampai lupa. Sudah beberapa minggu kita tidak makan malam bersama mereka. Apakah mereka curiga?"


"Kurasa tidak. Mereka terlalu sibuk untuk menyadari hal-hal begitu."


"aku juga berharap begitu. Lanjutkan makananmu, aku akan membersihkan piring yang kotor sebelum kita berangkat." ujar Joelin.


Mickey memilih untuk berkonsentrasi pada makannya. Kalau dipikir-pikir lagi, pria itu sungguh sangat beruntung memiliki istri yang sangat pengertian dan dewasa seperti Joelin.


 


\*


 


Joelin masuk ke kamarnya yang agak pengap karena terlalu lama ditinggal tertutup. Gadis itu sengaja membuka jendela untuk memperoleh sirkulasi udara. Dengan cekatan Joelin segera membersihkan seluruh penjuru kamar itu. Usai bersih-bersih, Joelin langsung mandi dan kini gadis itu sudah duduk manis di meja belajarnya.


"Benar juga kata-kata Mickey, Si An dan Mark tidak menyadari hubungan kami." ujar Joelin dalam hati saat teringat kembali kejadian mereka makan siang tadi.


Joelin meraih sebuah tas yang terletak di meja belajar.


"Aku harus melakukannya sebelum Amel datang." ujar Joelin.


Gadis itu berjalan menuju kamar mandi, wajahnya terlihat sangat serius. Joelin menghela nafas dalam-dalam setelah beberapa detik memastikan tidak ada tanda-tanda kehamilan di testpeck yang kini dia genggam.


"Joe...Joe... Gue pulang." teriakan Amel memenuhi kamar itu.


"Iya Mel, sebentar gue di toilet." ujar Joelin.

__ADS_1


"Astaga, gue buang kemana nih? kalau tempat sampah pasti bakalan keliatan sama si Amel. oh.. gue ada ide." ujar Joelin dalam hati.


Joelin meraih beberapa tissue toilet dan membungkus alat penguji kehamilan itu di dalam tissue. Setelah membuang ketempat sampah, tah lupa dia menaruh beberapa tisue lagi untuk menutupi benda tadi.


"Hi Mel" ujar Joelin yang akhirnya keluar dari kamar mandi.


"Hi Joe.. Gue kangen banget." Amel langsung memeluk teman sekamarnya itu.


"Uhukkk... jangan kencang-kencang gue perlu udara juga kali."


"Iyakan habisnya gue semangat banget bisa ketemu lagi. Btw, Vino gimana?"


"Ha?"


"Bukannya loe berdua pulang bareng?" tanya Amel sambil melepaskan pelukannya.


"Bukan pulang bareng Amel, kita cuman kebetulan naik penerbangan yang sama."


"Bukan kebetulan tapi memang, eh tunggu dulu ini kenapa?" tanya Amel menyentuh kissmark di bawah leher Joelin.


"****** gue, salah pakai baju nih." ujar Joelin menyadari pajama yang dipakainya memiliki belahan dada yang rendah.


"Aduh Mel geli tau." ujar Joelin berusaha mengalihkan perhatian.


"Ini apa Joe?"


"Tanda lahir Mel."


"Ha???"


"Loe pikir apaan?"


"Tanda lahir kok gitu. Rasanya mirip sama..."


"Mana oleh-oleh?" ujar Joelin memotong kalimat Amel sambil melangkah menjauhi gadis itu.


"Gue nggak bawa banyak, tapi buat loe gue bawa something special."


"Apa?"


"Nih, bolu khas Medan. Loe belum pernah coba kan?" ujar Amel menyerahkan sekotak bolu pada Joelin.


"Wah thankyou Mel. Ini semua buat gue kan?"


"Asal loe bisa habisin."


"Tenang aja, ntar gua bagi sama su..." Joelin langsung membekap mulutnya.


"sama smua teman di lab gue." ujar Joelin berusaha memperbaiki kalimatnya.


"Gua pikir loe mau bilang suami tadi."


"Haaaa?" Mata Joelin membulat sempurna karena terkejut. "Gue kok bisa keceplosan sendiri sih? dasar nih mulut gue ember bocor." omel Joelin dalam hati.


"Kan anak jaman sekarang gitu Joe, naksir cowok langsung halu. pakai acara ngaku-ngaku kalau si doi itu suaminya lagi."


"What?"


"Iya, pas gue pulang adek gue aja ngaku-ngaku kalau Suga BTS itu suami dia. Gila kan? Tadi sih gue sempat mikir, siapa tau loe terjangkit penyakit yang sama."


"Hahahaha... nggak mungkinlah Mel." ujar Joelin tertawa garing.


"Setidaknya Amel nggak curiga sama gue, syukurlah." batin Joelin sambil menghela nafas panjang.


**Pengumuman


Maaf ya part "Terimakasih" bisa jadi publish 3 kali, itu karena sistem lagi eror kemarin. Btw teman-teman, novel ini sudah nggak punya penghasilan dari noveltoon. Jujur aku sedih banget. Tapi, yah mau gimana lagi, cuma bisa berharap dapat dukungan vote dan like yang banyak dari kalian sebagai moodbosterku dalam melanjutkan cerita ini. Thankyou

__ADS_1


-Best**-


__ADS_2