
"Kita cari penginapan."
"hmmm... bemalam di sini dan tinggal di dua kamar terpisah lebih baik daripada naik sepeda motor malam-malam begini. Tentu saja kami lebih aman." batin Joelin.
"Baiklah. Ayok." jawab Joelin.
Mereka lalu kembali berjalan kaki, dan mencari penginapan di dekat sana.
Setelah berjalan selama lebih dari satu jam dan keluar masuk beberapa penginapan kedua kaki Jolein terasa kaku. Namun gadis itu tetap memaksakan langkahnya.
"Apakah kakimu sakit Joe?"
"Hm.. hanya sedikit sakit."
"Naiklah ke punggung ku." Mickey kini berjongkok di depan Joelin.
"Tidak Mikcey. ayok pergi dari sini."
Spontan Joelin meraih tangan pria itu membawanya berdiri. Namun Mickey menolak untuk bangkit, dia masih berjongkok ria di sana.
"Ayok lah Joelin. Kakimu sedang sakit."
"Ayok Mike. Kamu juga sudah lelah sepanjang hari. Aku masih kuat berjalan, percayalah." Joelin mencoba meyakinkan pria itu bahwa dia baik-baik saja.
"Aku bingung kenapa tidak ada penginapan yang kosong malam ini."
"Buka tidak ada Mickey, hanya saja kita belum menemukan yang sesuai kebutuhan kita. Ayok berdiri." bujuk Joelin sekali lagi.
"Baiklah. Kita akan masuk penginapan berikutnya. Sudah banyak tempat yang kita tinggalkan karena mereka hanya memiliki satu kamar kosong. Jika di penginapan berikutnya juga hanya tersedia satu kamar kosong, aduh memikirkannya saja membuatku sedih." canda Mickey.
" Maafkan aku Mike. Haruskah kita tidur di pasir pantai?" gumam Joelin.
"Hei, itu lebih berbahaya. Bagaimana jika orang mabuk tiba-tiba menyerang kita? Atau bagaimana jika kamu masuk angin?"
Joelin terdiam mendengarkan penuturan Mickey. Bagaimanapun tidak tidur sekamar berdua dengan seorang pria adalah hal yang dia terapkan sejak dulu. Kedua orangtuanya menasihati gadis itu untuk tidak jatuh dengan sembarangan pada pelukan lelaki. Dulu dia tidak berpikir panjang saat pertama kali ikut kerumah Mickey. Adalah sebuah keberuntungan besar bahwa saat itu tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Tapi sekarang berbeda. Mickey bahkan sudah menciumnya berkali-kali dalam beberapa bulan ini. Terlebih lagi adegan panas mereka di pantai tadi.
__ADS_1
"Aku tidak ingin melangkah ke mulut singa." cuman Joelin melepaskan isi kepalanya.
"Joelin, kamu bicara apa? Aku tidak mengerti bahasamu." Mickey yang bingung mendengar Joelin bergumam dalam bahasa Indonesia.
"Bukan apa-apa. Lupakan saja Mickey."
"Itu ada penginapan!!" Seru Mickey menunjuk ke arah depan mereka.
"Thanks God." Joelin sangat bersyukur. Selama satu jam lebih berjalan menusuri pantai untuk mencari penginapan membuatnya semakin lelah. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam gedung itu. Tempatnya terkesan sederhana saat diamati dari luar, namun saat Joelin dan Mickey masuk tempat ini malah terlihat sangat mewah dan bagus.
Mickey segera menuju meja resepsionis, diikuti oleh Mickey. Pria itu berbicara sejenak dengan gadis resepsionis sebelum akhirnya menanyakan keputusan Joelin.
"Joe, kata resepsionisnya tersisa satu kamar. Gimana?"
"Iya Mike. Yasudahlah, ambil saja."
"Tapi? Kamu yakin?"
"Iya Mike."
Setelah membayar sewa kamar dan menerima kunci, Mickey membawa Joelin ke sebuah ruangan yang merupakan kamar mereka. Gedung ini hanya satu lantai, berbeda dengan penginapan lainnya yang mereka kunjungi tadi.Hanya ada sekitar 10 kamar di dalam gedung, terlihat dari pintu yang berjejer disana. Mickey membuka salah salah satu pintu.
"Masuklah." ujar Mickey pada Joelin.
"Thank you."
Joelin melangkah tepat dibelakang Mickey, masuk keruangan yang masih gelap itu. Dengan bantuan flaslight dari ponsel Mickey, mereka akhirnya menemukan tombol untuk penerangan di dalam ruangan itu.
"Akhirnya terang." gumam Joelin sambil memandang sekeliling kamar.
Disana terletak sebuah ranjang king size, dengan meja kecil pada masing-masing sisi kanan dan kirinya. Diatas meja terdapat dua lampu tidur kecil. Kamar itu berukuran 3 x 4 meter. Di depan tempat tidur ada televisi ukuran 32 inchi, dilengkapi dengan sebuah rak hiasan di sisi kirinya. Rak itu dipenuhi oleh pahatan karya seni. Tembok itu di cat putih bersih, namun salah satu sisinya ditutup oleh gorden besar berwarna putih. Ada sebuah pintu di salah satu sudut kamar, dan dibalik pintu itu sudah pasti kamar mandi.
"Kamu mandi duluan. Aku akan keluar untuk mendapatkan air dan makanan." ujar Mickey menyadarkan Joelin dari aksi pengamatannya.
"Oke." Gadis itu segera patuh dan melangkah menuju pintu di salah satu sisi kamar.
__ADS_1
Seusai mandi Joelin segera mengenakan piama yang sengaja mereka beli saat mencari penginapan tadi. Saat keluar dari kamar mandi, gadis itu menemukan Mickey sudah kembali kekamar.
"Ini air dan cemilannya. Aku mandi dulu." ujar Mickey, pria itu segera masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Sepeninggalan Mickey, Joelin langsung mencari ponselnya. Dan ternyata banyak sudah sekian pesan dari Amel teman selamat nya. Joelin langsung menekan tombol panggil, menghubungi gadis itu.
"Mel, belum tidur?"
"Joe loe dimana? masih hidupkan? pesan gue kenapa blm loe balas dari tadi?" tanya Amel khawatir.
"Tenang-tenang. Gue aman. Tapi malam ini gue nggak bisa pulang. Motor Mickey rusak."
"Hati-hati loe di sana. Tapi gue lega dengar kalau loe baik-baik aja. Yaudah ya Joe, gue mau jalan nih sama anak-anak."
"Lama-lama obesitas loe Mel. Yaudah sana. Jangan bilang anak-anak gue lagi jalan ya Mel. Ntar mereka mikir macem-macem."
"Iya juga ya Joe, lo nggak diapa-apain kan sama si oppa? Gaya pacaran anak-anak di. sini kan beda sama kita Joe."
"Loe tenang aja deh."
"Oke. Gue tutup dulu Joe. Bye."
tut..tut.. Panggilan terputus, Joelin yang melihat pengering rambut di sebelah tv langsung bergegas mengeringkan rambutnya. Gadis itu terlalu lelah untuk memikirkan segala sesuatu nya sekarang. Dia bahkan belum menyadari bahwa di kamar itu tidak ada sofa sama sekali.
Mickey yang selesai membersihkan diri, segera melangkah keluar dari kamar mandi. Dia mengamati Joelin yang sedang sibuk mengeringkan rambut panjang nya. Mickey memilih duduk di sisi ranjang dan terus memandang gadis itu. Darahnya berdesir ke ubun-ubun menyaksikan setiap gerakan Joelin. Setelah rambutnya kering Joelin segera melangkah naik ke atas ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya.
"Mickey keringkan rambutmu, aku tidur duluan." Ujar Joelin pada Mickey yang masih duduk di salah satu ujung ranjang itu sambil terus mengamatinya.
Bukannya mengikuti saran Joelin, pria itu malah langsung bergegas mengecup bibir gadis itu. Posisinya sekarang berada tepat di atas Joelin, dengan salah satu tangan yang dia gunakan untuk menopang tubuhnya.
"Hei. jangan ganggu aku. Aku sangat mengantuk." gumam Joelin.
Mickey begitu tidak tega saat melihat wajah kelelahan Joelin. Akhirnya dia kembali bangkit berdiri dan langsung mengeringkan rambutnya. Setelah rambutnya kering, pria itu kembali merebahkan dirinya di sisi kanan Joelin yang kini terlelap seperti bayi. Mickey memiringkan tubuhnya kekiri, memandangi gadis itu.
"Kamu sangat berbeda dengan gadis lainnya." bisik Mickey sambil mengecup lembut kening Joelin.
__ADS_1