Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Keinginan Joelin


__ADS_3

" Mark berhenti, disusul oleh Joelin yang kembali ke lab untuk mengambil pena dan secarik kertas. Lalu Joelin meninggalkan tempat itu. Akan kemanakah dia? bukan rahasia lagi, semua penghuni lab tahu jawabannya. Joelin pasti akan menyusul Mickey. Hal serupa yang akan dilakukan Mickey jika kini yang diruang culture adalah Joelin.


\*\*\*


Bunga warna warni menghias jalan sepanjang taman kampus. Musim dingin kini telah berganti dengan musim semi. Joelin menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Langkah kakinya yang teratur masih saja menapaki jalan. Peluh bercucuran di kulit wajahnya semakin mendukung kecantikan Joelin memancar keluar. Penampilannya makin sempurna dengan rambut yang di biarkan tergelung tinggi. Dia sedang asik dengan rutinitas sore yang sudah beberapa minggu belakangan dia tekuni, olahraga sore.


\*\*\*


"Joelin kemana?" tanya Si An pada dua mahluk yang kini asik dengan mobile game di ponsel masing-masing, hal yang sering mereka lakukan di sore hari sebelum meninggalkan lab.


Mark menggerakkan bahunya tanda tidak tahu, sementara Mickey memilih bersikap acuh.


"Apa dia sudah pulang?" tanya Si An lagi.


"Ada apa?" tanya Mickey yang mulai kesal dengan Si An yang sibuk mencari istrinya itu.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin tahu dia di mana."


"Mungkin sedang lari sore." Jawab Mickey santai.


"Kau belum ingin pulang?" tanya Si An lagi.


"Belum."


"Kau Mark?"


"Tunggu sebentar." jawab Mark seraya mencari kunci mobilnya.


"Ayok pulang." ajak Mark pada Si An, "Kami duluan bro." ujar Mark pada Mickey yang dijawab dengan anggukan pria itu.


Sudah lebih 30 menit Mickey asik dengan ponselnya, sendirian di ruangan yang di isi oleh meja kerja kosong itu.


"Kemana mereka?" sebuah suara yang sangat familiar menyapa pendengaran nya.


"Sudah pulang."


"Istriku pasti lelah sekali." ujar Mickey sambil meraih tangan Joelin.


"Hei, jangan sembarangan kita tidak sedang di rumah."


"Di sini hanya ada kita berdua sayang."


"Mickey..." dengus Joelin kesal dengan tingkah suaminya itu.


"Lebih baik kita segera pulang." Ujar Joelin sambil meraih tas kerjanya dan melangkah meninggalkan Mickey.


"Okay.." Jawab Mickey sambil mengekor di belakang Joelin.


\*\*\*


Joelin menghela nafas dalam, matanya fokus memandang benda dalam genggamannya. Dengan wajah kecewa dia membungkus benda itu dengan tissue dan membuangnya ke dalam tempat sampah di kamar mandi. Selanjutnya Joelin membasuk wajahnya dan melangkah keluar dari tempat itu. Setelah berhasil naik ke tempat tidur, Joelin memandangi wajah Mickey dengan perasaan bersalah. Setelah puas memandang Mickey, dia memutuskan untuk bergegas ke dapur untuk memulai hari ini dengan menyiapkan sarapan dan bekal makan siang mereka.


Sepeninggalan Joelin, perlahan Mickey membuka matanya.


"Ada apa dengannya?" gumam Mickey yang mulai terusik dengan beberapa perubahan gaya hidup dan mood Joelin belakangan ini.


Tiba-tiba saja istrinya itu rutin berolah raga dan semakin memperketat menu dietnya sehari-hari.

__ADS_1


"Apa dia ingin menurunkan berat badan?" tanya Mickey sambil bergerak ke kamar mandi sebelum menyusul Joelin ke dapur.


\*\*\*


Mickey mendorong troli belanjaan dengan hati-hati, sementara Joelin sedang celinggak celingguk memeriksa beberapa jenis sayuran yang terpajang di rak supermarket.


"Kamu cari apa sih sayang?" tanya Mickey penasaran, seingatnya sudah berkali-kali mereka melewati area ini.


"eh..." jawab Joelin rendah mendengar pertanyaan Mickey. Dia sendiri tidak sadar bahwa mereka sudah melewati area ini berkali-kali, bahkan troli belanjaan yang didorong Mickey sudah berisi sayuran.


"Kamu masih ingin beli sesuatu?" tanya Mickey lembut.


"eng... enggak." jawab Joelin ragu.


"Kamu kenapa? Tidak enak badan?" tanya Mickey khawatir dengan ekspresi linglung istrinya itu.


"Aku? Ayok kita pulang." jawab Joelin mengabaikan pertanyaan Mickey.


Pria itu menyusul Joelin, sambil mengeryitkan dahinya.


"Apa yang salah? Apa aku melakukan kesalahan?" batin Mickey semakin penasaran dengan sikap Joelin.


Setelah membayar belanjaan mereka di kasir, Mickey dan Joelin meninggalkan supermarket.


Kini Joelin tengah sibuk membersihkan sayuran dan buah, serta menyimpan kedalam kulkas.


"Kamu kenapa?" tanya Mickey sambil memeluk pinggang Joelin dari belakang.


"hm?" tanya Joelin bingung dengan pertanyaan Mickey.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Kamu terlihat tidak nyaman, akhir-akhir ini." ujar Mickey.


"Apakah aku begitu?" tanya Joelin.


"Iya."


"Aku baik-baik saja sayang."


"Kamu tidak baik-baik saja."


"I'm okay sayang."


Mickey memutar tubuh Joelin dan menatap mata wanitanya itu dalam-dalam.


"Matamu nggak bilang kalau kamu baik-baik aja."


"Perasaan kamu aja." kilah Joelin.


"Setidaknya beritahu aku apa yang kamu inginkan."


"itu... mmmmmm..." Joelin begitu ragu untuk memberitahu isi kepalanya.


"Ada apa?"


"Bukan apa-apa. Aku hanya merasa tubuhku terlalu gemuk." jawab Joelin. Dia malu memberitahu Mickey keinginannya saat ini.

__ADS_1


"Ya ampun sayang. Kamu kurus begini merasa gendut?"


"Iya." Joelin mengangguk sambil memasang wajah manja yang terlihat menggemaskan di mata Mickey.


"Terus?"


"Kalau aku makin gemuk, nanti aku jelek dan kamu nggak sayang lagi sama aku." ujar Joelin.


"Sayang, aku akan selalu cinta sama istriku. Mau kamu gendut, kurus, berantakan saat bangun tidur... aduh.. sakit sayang" ringis Mickey merasakan cubitan Joelin di pinggang nya.


"Berantakan saat bangun? siapa yang buat aku berantakan?"


"Aku bercanda sayang."


"Nggak lucu."


"Tapi walaupun berantakan kamu tetap seksi dimataku." goda Mickey.


Joelin melayangkan sebuah jitakan gemas di kening suaminya itu. Disusul dengan benda kenyal yang kini mendarat di bibirnya.


"Maaf ya sayang, sudah membuatmu khawatir. Aku hanya berharap bisa segera membuat kamu merasakan jadi ayah." batin Joelin.


\*\*\*


Hari ini Joelin sedang ujian meja hijau. Kepalanya terasa sedikit pusing sejak tadi pagi. Mickey dan Mark yang sudah lebih dahulu ujian skripsi seminggu lalu terlihat sibuk membantu Joelin mempersiapkan beberapa hal untuk ujiannya sebentar lagi. Sementara Si An yang juga ujian hari ini berkali-kali meremas tangannya karena gugup.


"Kau baik-baik saja?" tanya Mickey khawatir dengan wajah Joelin yang terlihat pucat.


"aku okay." jawab Joelin.


"Wajahmu terlihat kacau."


Joelin mendelik mendengar kalimat Mickey.


"Awas aja kamu ya." ancam Joelin.


"Maksudku kamu terlihat sangat pucat."


"Mungkin kerena kelelahan." jawab Joelin santai dalam hati dia berkata lain.


"Mungkin akhirnya penantianku terkabul, badanku terasa tidak enak beberapa hari ini." batin Joelin penuh harap.


"Semangat sayang." bisik Mickey pelan dan hati-hati hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua.


"Makasih sayang" jawab Joelin tak kalah pelan.


Wanita itu berusaha menangkan diri agar dapat menghadapi para penguji. Jantung Joelin yang tengah berdegup kencang akhirnya menemukan titik terang, kini gilirannya untuk diuji. Gadis itu menyajikan thesisnya dengan cekatan, dan menjawab pertanyaan para penguji dengan hati-hati. Seperti dugaan saat pengumuman tiba, Joelin dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan, 91 untuk thesis nya.


Si An dan Joelin secara bergantian menerima ucapan selamat dari teman sekelas dan panitia ujian. Joelin menghela nafas lega sambil meraih ponselnya dan mengirim kabar pada keluarganya di Indonesia, menyatakan bahwa dirinya dan Mickey sudah lulus ujian akhir. Tinggal menunggu wisuda hingga mereka bisa bertemu lagi.


\*\*\*


Joelin menghela nafas panjang. Matanya menatap sendu alat tes kehamilan yang kini dia genggam. Berbulan-bulan sudah dia berjuang, dan berharap. Namun hasilnya tetap sama, belum ada tanda-tanda kehamilan. Sementara hari kelulusan sudah semakin dekat dan Joelin sangat ingin memberi kado spesial pada Mickey di hari kelulusan mereka. Dia ingin kehamilannya jadi kado untuk Mickey, namun hingga hari ini hasilnya sama saja, negatif.


Andai dia tahu sesusah ini untuk membuatnya hamil, mungkin sejak dulu dia tidak akan mengkonsumsi pill kontrasepsi. Setelah membungkus alat tes kehamilan ditangannya dengan tissue dan membuang ketempat sampah, Joelin bergegas mencuci wajahnya.


**Pengumuman

__ADS_1


Makasih ya readers sudah setia baca sampai sekarang. Tetap vote, komen dan like yang banyak ya, kasih semangat buat author.


~best**~


__ADS_2