
"Tunggu dulu, apakah... Apakah aku hanya sedang cemburu buta?" batin Mickey saat mengendarai motornya membelah jalan raya.
Perasaan tidak nyaman kini memenuhi hati Mickey, diam-diam rasa bersalah hinggap di hatinya. Pria itu langsung memutar motornya pulang kerumah.
Joelin yang sedari tadi menumpahkan kesedihannya di atas bantal masih setia dengan aksi menangis nya. Setelah suaminya meninggalkan kamar gadis itu makin larut dalam kesedihannya.
"Apakah aku mengambil keputusan terlalu cepat? Walaupun kami sudah berteman selama satu tahun ini, tapi usia berpacaran kami sangat singkat. Apakah aku membuat kesalahan saat menerima lamaran pria ini?" hati Joelin kini dipenuhi banyak tanya. Bagaimanapun, sikap kasar Mickey kali ini merupakan hal yang membuatnya sangat terkejut dan ketakutan.
Sudah hampir setengah jam sejak Mickey meninggalkan kamar. Joelin enggan untuk turun dari tempat tidur bahkan sekedar untuk mencari lelaki itu.
"Mickey jahat. Dasar lelaki bod*h. Aku akan memberimu pelajaran." racaunya sambil memukuli bantal.
"huuu..uuu... padahal kan aku hanya cinta padamu Mickey. Kenapa kamu jahat sekali." ujar Joelin diantara isak tangisnya.
Seperti dihantam oleh batu, sakit menghampiri hati Mickey saat mendengar kalimat di sela-sela tangisan Joelin. Pria yang sedari tadi sudah berdiri di ambang pintu kamar itu melangkah hati-hati menghampiri punggung Joelin yang terguncang karena menangis.
"Maafkan aku." Bisik Mickey sambil memeluk Joelin dengan tangan kanannya.
Pria itu kini memposisikan diri tepat dipunggung Joelin yang sedang berbaring.
satu menit.. dua menit.. tiga menit.. Joelin sama sekali tidak buka suara, seolah dia tidak mendengar permohonan maaf Mickey. Hanya isakannya yang masih sesekali terdengar oleh pria itu.
"Sayang maaf, aku egois." ujar Mickey lagi.
Merasa sedih karena tidak ada respon dari Joelin, akhirnya Mickey memutuskan menarik tubuh Joelin dan memposisikan gadis itu tepat menghadap nya.
"Aku ini suami yang tidak berguna. Bagaimana bisa aku menebus setiap tetes air matamu yang jatuh ini? Sayang, jangan menangis lagi. Kekayaanmu tidak akan pernah cukup untuk membayar air matamu yang berharga ini." ujar Mickey sambil menyeka air mata Joelin.
"Gombal." jawab Joelin kesal.
"Akhirnya kamu berbicara padaku. Rasanya lega sekali." Mickey menarik kepala Joelin dan membiarkan wajah gadis itu mendarat nyaman di dadanya.
Joelin merasakan detak jantung Mickey yang berdebar kencang. Detak jantung yang sebulan ini menjadi suara favorit nya. Joelin menarik nafas dalam menghirup aroma Mickey. Perasaannya berangsur-angsur membaik. Walau masih memilih untuk berdiam diri dan mogok bicara, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya kembali lega setelah pria ini mendekapnya penuh cinta.
"Tunggu dulu. Mana boleh begini? Pria ini harus dihukum." gumam Joelin dalam hati sambil mengangkat kepalanya dari dada Mickey.
"Kenapa?" tanya Mickey menatap dalam pada manik mata Joelin.
Joelin membalas tatapan Mickey tanpa ekspresi.
"Joelin maafkan aku. Aku.. aku tahu kesalahanku. Tapi kamu mau kan memaafkan ku?"
"Please Joe. Kami jangan hanya berdiam diri begini. Aku betul-betul merasa sangat buruk."
"Sayang.. please.."
Mickey terus mencoba membujuk Joelin, namun hasilnya nihil.
"Aku, memang bodoh. Aku memang jahat, tidak seharusnya aku memarahimu. Maafkan aku Joelin, silahkan hukum aku. Asal kamu mau memaafkan ku hukuman apapun akan kuterima. Tapi tolong jangan berdiam diri begini. Kumohon.." ujar Mickey sedih.
"Katamu hukuman apapun akan kau terima, tapi malah memaksaku untuk berbicara padamu. Tidak bolehkah aku menghukum mu dengan berdiam diri?" tanya Joelin.
__ADS_1
"Wah.. akhirnya istriku bicara." ujar Mickey bahagia sambil merapikan anak rambut yang berserakan di wajah Joelin.
Joelin memilih kembali berdiam diri, kini dia menemukan sebuah ide cemerlang untuk menghukum Mickey.
"Jadi aku sudah di maafkan?" tanya Mickey.
"Tergantung."
"Tergantung apa sayang?"
"Tergantung bagaimana kamu bisa menyelesaikan hukuman yang akan kamu terima." ujar Joelin mantap.
"Apa hukumannya? Selain kehilangan dirimu, hukuman apapun aku berani menerimanya." jawab Mickey penuh percaya diri.
"Hukumannya adalah..." Joelin mendekatkan bibirnya ke telinga Mickey dan membisikkan sesuatu.
"APA?" tanya Mickey yang tidak dapat mempercayai pendengaran nya.
"Kenapa? nggak sanggup?" tanya Joelin.
"Sayang, apa tidak ada pilihan lain?"
"Yasudah kalau mau pilih-pilih, aku tidak akan memaafkanmu."
"Oke.. oke. aku setuju." ujar Mickey buru-buru. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah fokus untuk dapat dimaafkan oleh gadis kesayangannya itu.
"hehehe.. Padahal aku tidak tega menghukum mu, tapi nggak apa-apa kan ngerjain suami sendiri. Biar Mickey nggak bertindak kasar lagi di masa depan. Kasihan anak-anakku nanti kalau papa nya galak dan menakutkan." Gumam Joelin dalam hati.
"Begini tidak masuk salah satu larangan dalam hukuman kan?" ujar Mickey sambil memeluk Joelin erat.
\*
Goedan, Aluna dan Vino tengah menyantap menu makan siang mereka si salah satu restoran siap saji.
"Setelah ini kita kemana?" tanya Goedan memecah keheningan.
"Sungai Han." jawab Vino.
"Tapi, bukankah itu artinya kita akan pulang malam?" tanya Goedan lagi mengingat mereka tidak memiliki kendaraan pribadi.
"Tidak sejauh itu Dan. Lagipula kalau naik kereta, perjalananan akan lebih singkat." ujar Vino santai.
"Toh kita juga akan menginap di sana kak." ujar Aluna menimpali pernyataan Vino.
"Lah, gue belum ada bawa persiapan apa-apa guys." protes Goedan.
"Dasar pria perfectionist, loe bisa pulang ke hotel untuk persiapan sebentar." Vino memberi saran.
__ADS_1
"Ide bagus. Ngomong-ngomong gue izin ke toilet sebentar." Goedan langsung kabur meninggalkan kedua kakak beradik itu.
"Kak, Joelin yang tadi?" tanya Aluna ragu.
"Iya. Kamu jangan khawatir Na. Kakak akan mengurus hal ini."
"Tapi.."
"Kamu tidak percaya? kamu perhatikan baik-baik bagaimana kakak akan menyelesaikan ini." ujar Vino sambil mengeluarkan ponselnya.
"Foto yang barusan ku kirim, namanya Joelin. Mahasiswa di universitas yang sama denganku. Awasi gadis itu 24 jam dalam sehari." perintah Vino pada seseorang lewat ponselnya.
"Beres kan?" tanya Vino pada Aluna setelah menyimpan kembali ponselnya.
"Kak, kirim foto wanita itu padaku."
"Buat apa Na?"
"Cuman ingin melihat wajahnya." ujar Aluna berbohong.
"Baiklah." Vino kembali meraih ponselnya dan mengirim beberapa file kepada Aluna.
Gadis itu langsung memeriksa ponselnya dan mengamati foto yang baru saja dikirim oleh Vino, sepupunya itu. Kini dia memandang pada wajah sorang gadis cantik berambut pirang yang tersenyum manis di ponselnya.
"Dia memang cantik. Aku tidak boleh meremehkan gadis ini. Aku harus segera melakukan sesuatu sebelum terlambat." gumam Aluna dalam hati.
"Kalian masih makan?" tanya Goedan yang baru saja kembali dari toilet.
"Gue udah bro. Nggak tahu nih si Aluna."
"Sayang makanannya nggak dihabisin. Kak Vino bantu habisin ya." ujar Aluna menimpali.
"Gue.. Gue punya kabar buruk buat kita." ujar Goedan tiba-tiba, keringat mulai menetes dari pelipisnya.
"Loe kenapa Dan?"
"Kak.. Kak Goedan!!!" seru Aluna yang kini menyaksikan tubuh Goedan ambruk di lantai.
Aluna dan Vino segera menghampiri tubuh Goedan yang kini tak berdaya dan segera melarikan pria itu kerumah sakit terdekat.
"Kak, dia baik-baik aja kan?" tanya Aluna khawatir.
"Jangan khawatir Aluna." ujar Vino mencoba menenangkan Aluna.
Kelemahan Vino adalah melihat Aluna tak berdaya seperti saat ini. Bagi gadis itu Goedan adalah cinta dan hidupnya. Bagaimana mungkin Vino bisa merelakan perempuan lain merusak kebahagiaan Aluna?Aluna yang rapuh saat Goedan sakit tentulah akan menjadi Aluna yang lebih rapuh jika pria ini memilih gadis lain.
"Joelin, aku akan memberikan hukuman yang setimpal jika kamu berani mendekati Goedan. Awas saja kamu." gumam Vino dalam hati sambil memeluk Aluna yang kini terisak karena khawatir pada Goedan.
****Pengumuman
Guys, terimakasih sudah Vote ya. Terus dukung novel ini dengan memberi like dan vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
thankyou
-Best**-