
"Anggap saja kita sedang bulan madu." ujar Mickey lembut sambil mengusap pipi Joelin sebelum akhirnya gadis itu jatuh ke alam mimpi.
\*\*\*
Sudah dua hari sejak Mickey tiba di Korea, yang berarti ini merupakan hari ke tiga Joelin. Keduanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing di kamar, Joelin tengah memilah pakaian bersih yang baru saja di keringkan, sementara Mickey sedang merapikan buku-bukunya yang berserakan di meja belajar. Hari masih pagi, tapi keduanya sudah sangat aktif bergerak kesana kemari.
"Mickey, apa kamu belum selesai?" tanya Joelin sambil memasukkan beberapa pakaian ke dalam lemari.
"Hampir, kenapa?"
"Aku akan segera membersihkan ruang tamu sekarang, kamu langsung mandi saja."
Joelin meninggalkan Mickey di kamar, gadis itu langsung melanjutkan aksinya menyedot debu-debu nakal di ruang tamu. Setelah selesai merapikan meja belajar, Mickey memutuskan untuk langsung membersihkan kamar. Pria itu tidak ingin membiarkan istrinya membersihkan rumah sendirian. Keringat mulai menetes membasahi dahi Joelin, rumah Mickey yang berukuran sedang berhasil menguras tenaga gadis itu.
Usai membersihkan kamar, Mickey melangkah keluar dan menemukan Joelin yang masih asik dengan kegiatan bersih h bersih nya. Melihat peluh yang menetes di wajah gadis itu, dia merasa tidak tega. Lalu dengan hati-hati Mickey langsung membersihkan dapur. Piring kotor, sampah dan lantai, semuanya sudah kembali kinclong di dapur. Joelin yang baru selesai dengan aktivitasnya di ruang tamu langsung menuju dapur. Dia tersenyum manis menyadari tempat itu kini sudah bersih.
Joelin kembali ke kamar dan menemukan Mickey yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Cepat pakai bajumu Mickey." pipi Joelin berubah hangat melihat penampakan suaminya yang hanya mengenakan handuk.
"Bukankah kamu suka melihatku begini?" goda Mickey sambil melangkah mendekati gadis itu.
"Jangan dekat-dekat, aku belum mandi dan masih lelah."
Joelin menerobos masuk ke kamar mandi. Dia segera membasuh seluruh tubuhnya hingga bersih. Setelah selesai dengan ritual mandinya, Joelib baru sadar bahwa dia tidak membawa handuk mandi dan pakaian bersih saat memasuki kamar mandi tadi.
"Aduh.. gimana dong?" gumam Joelin.
"Kok kayak de javu gini ya? Atau gue panggil Mickey aja?" gumamnya lagi.
"Mike... Mike...!!" gadis itu berteriak memanggil suaminya.
Mickey yang sedang mengeringkan rambut tidak sadar dengan panggilan Joelin.
Dengan pasrah gadis itu lalu mendekati pintu kamar mandi dan membukanya sedikit. Dia mengeluarkan kepalanya lewat pintu itu.
"MIKE..."
"ah... apa?" Mike terbelalak menatap kepala Joelin yang menyembul keluar pintu kamar mandi.
"Kenapa mau dibantuin mandi?" tanya Mickey santai.
"Bukan begitu. Aku lupa bawa handuk." ujar Joelin malu.
"haish... apa dia masih sempat berpikiran mesum di saat seperti ini?" batin Joelin.
"Yaudah Joe, langsung ke sini aja. Toh bagian tubuhmu udah aku lihat semua kok." Mickey berbicara santai.
Wajah Joelin langsung memanas. "ah pria ini, kenapa bisa sesantai ini. Jantungku saja sudah lomba lari."
"Mickey please. Dingin nih."
"Please apa sayang? Kamu butuh kehangatan ya?"
__ADS_1
"Mickey.. yasudah kalau kamu nggak mau ngantar handuknya biar aku berendam di air seharian." Joelin merajuk kesal dengan tingkah suaminya itu.
"Terserah kamu saja."
Mickey hanya tidak habis pikir kenapa Joelin tidak memutuskan keluar dari kamar mandi, menurutnya bukankah mereka sudah saling melihat satu sama lain? Kenapa harus malu-malu?
Sementara Joelin berdiri di kamar mandi dengan perasaan kesalnya. Krukk...krukkk. . perut gadis itu mulai protes minta di isi.
"Pakai acara lapar lagi, bisa masuk angin nih lama-lama di sini." gumam Joelin sedih.
"Mickey..." dia kembali mengintip dari dalam kamar mandi.
Pria itu sedang rebahan di atas tempat tidur mereka. Joelin semakin kesal menyaksikan tingkah Mickey sekarang.
"MIKE....!!!"
"Jangan teriak-teriak Joelin, aku terkejut."
"Mana handuknya."
"Maaf lupa."
"Dalam hitungan ketiga nggak kamu antar, nggak ada jatah selama sebulan." ancam Joelin.
Spontan Mickey melompat dari tempat tidur dan meraih handuk bersih dari kamar mandi. Dengan berlari pria itu bergerak menuju kamar mandi.
"Ini." Mickey menyodorkan handuk di tangannya.
Gadis itu langsung membelit handuk di tubuhnya tanpa menutup kembali pintu kamar mandi. Mickey yang menyaksikan tubuh Joelin merasa sesuatu di bawah sana mulai bereaksi.
"Jangan di jalan. Aku mau lewat." ujar Joelin dingin sambil melangkah keluar dari kamar mandi.
Mickey yang tidak bisa menahan diri lagi langsung meraih pergelangan tangan gadis itu.
"Mickey, aku lapar. Jangan main-main, aku harus segera memasak." Joelin melepaskan tangannya.
Mendengar kalimat Joelin, pria itu sadar bahwa mereka belum sarapan sejak pagi. Sepanjang pagi keduanya asik membersihkan rumah. Mickey tiba-tiba melunak dan menjadi merasa bersalah karena memiliki niat untuk mencumbu istrinya ala wanita itu kelelahan dan kelaparan.
"Pakai bajumu, aku akan ke dapur untuk menyiapkan beberapa makanan untuk kita." ucap Mickey tulus.
"Makasih sayang." jawab Joelin tanpa memandang kearah Mickey. Dia sedang sibuk mencari pakaiannya di lemari.
Mickey melangkah keluar dari kamar, namun tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.
"Joelin.." panggil Mickey yang tiba-tiba muncul di pintu.
"Apa lagi Mickey? udah selesai masaknya? Cepat juga ya." ledek Joelin.
"Bukan.."
"Oh... jadi kenapa?" tanya Joelin sambil meletakkan pakaiannya di atas tempat tidur.
"Hmmm... masalah itu." tanya Mickey ragu.
__ADS_1
"Masalah apa?"
"Itu Joe.. yang tadi kamu bilang."
"Yang mana Mickey?"
kruukk...krukkk perut Joelin berbunyi lagi, Mickey yang sedang di ambang pintu ikut terperanjat mendengar suara itu.
"Sweety, kamu lapar?" tanya Mickey polos.
"Banget Mike.." jawab Joelin manja.
"oke tunggu sebentar." Mickey langsung bergegas menuju dapur.
Di dapur pria itu segera membuka kulkas dan menemukan beberapa jenis sayuran. Dia lalu membuat salad, Mickey sudah sangat hapal kalau istrinya lebih senang mengonsumsi protein dan serat sebagai menu sarapannya di banding karbohidrat. Sesuai menyiapkan salad sayur, Mickey bergegas meraih beberapa butir telur ayam dan menggorengnya.
"Ah... aku jadi lupa menanyakannya." gumam Mickey teringat sesuatu.
"Tadikan mau nanya Joelin, soal jatah ku sebulan kedepan. Apakah jadi dihukum atau tidak." ujarnya sambil fokus pada penggorengan.
Joelin terkikik geli mendengat kalimat suaminya itu. Sejak tadi Mickey tidak menyadari kehadiran Joelin di dapur. Pria itu sibuk berbicara sendiri dalam bahasa korea yang sudah mulai dipahami oleh Joelin. Dengan hati-hati Joelin duduk di meja makan sambil mengawasi setiap gerakan Mickey.
"Kalau nggak mesum gini kan tampan." batin Joelin.
Mickey tiba-tiba menoleh ke arah Joelin.
"Sejak kapan di sana? Tega ya menonton suami masak sendiri."
"Baru juga datang. Jadi kamu nggak ikhlas nih masakin buat aku?" tanya Joelin pura-pura merajuk.
"Pasti ikhlas dong sayang. Kan suamimu ini hanya bercanda.'
Mickey menyajikan telor dadar di meja makan. Sebelum menyantap makanan keduanya terlebih dahulu mengucap syukur untuk makanan yang boleh mereka nikmati. Waktu masih pukul 10.00 pagi, dan pasangan pengantin baru itu menyantap menu sarapan mereka dengan hati riang.
Baru tiga hari tinggal serumah, namun keduanya sudah berkali-kali saling meledek dan mengganggu. Mereka seperti dua bocah cilik yang asik bermain, padahal sesungguhnya mereka adalah pasangan kekasih yang baru saja menapaki kehidupan yang baru.
Mickey menyantap sandwich di hadapannya, sedangkan Joelin asik melahap salad dan telor dadar buatan suaminya.
"Enak nggak?" tanya Mickey memecah keheningan.
"Lumayanlah. Setidaknya aku yakin tidak akan kelaparan selama ada kamu." ujar Joelin santai.
"Ya Tuhan, kenapa kadang istriku ini berbicara seperti pria yang sedang di kejar-kejar wanita?" batin Mickey sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Mickey?" tanya Joelin khawatir.
Mickey hanya menggeleng dan tersenyum. Dia merasa lucu menyadari tingkah istrinya yang selalu sok galak, namun selalu memperhatikannya. Kehadiran Joelin sungguh mewarnai hari-hari Mickey.
**Pengumuman
Hai semua. Makasih ya masih setia menemaniku di sini. Btw aku tunggu vote, like dan komentar kalian.
-Best**-
__ADS_1