Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Bersama Lucy


__ADS_3

Bagian penutup acara pernikahan pun dimulai. Sepasang mempelai yang sudah lama sah hidup sebagai suami istri itu pun bergelut dengan malam yang kini sudah berganti hari. Keduanya sibuk merayakan sesuatu yang disebut cinta.


\*\*\*


Seminggu sudah keluarga Mickey berada di korea. Hari ini pasangan itu berencana membawa Lucy bermain keluar.


"Mickey sudah selesai belum?" tanya Joelin yang baru saja memoles wajahnya dengan riasaan tipis.


"Sudah sayang." jawab Mickey yang sedang memakaikan rok mungil pada Lucy.


"Anak mommy cantik banget." Gemas dengan penampilan sang putri, wanita itu langsung memeluk sang buah hari.


"Ayok berangkat." ajak Mickey membawa sebuah tas yang berisi semua perlengkapan Lucy.


Mereka bergegas ke meninggalkan kamar, setelah berpamitan pada keluarga Mickey, ketiganya segera meninggalkan rumah.


"Lucy... jangan tidur." Joelin mengajak bayinya bercerita sementara Mickey fokus dengan jalan raya.


"Apakah putri appa sedang ngantuk?" Meckey bertanya tanpa menoleh ke arah Joelin.


"Iya appa." Joelin menirukan suara bayi.


"Jangan mengantuk sayang kasihan mommy kamu tuh jadi sendirian." ujar Mickey tiba-tiba menggunakan bahasa Indonesia.


"Wah, appa bisa pakai bahasa Indonesia ya sekarang?" Joelin masih acting jadi Lucy.


"Iya dong. Kan mommy kamu lebih betah di Indonesia, jadi Appa harus bisa belajar semua hal tentang negara itu."


"Sayang, apa aku pernah mengatakan hal itu?" tanya Joelin yang tidak percaya dengan kalimat Mickey.


"hmmm.. Kamu memang tidak pernah berkata begitu. Tapi, setelah aku tiba di negaramu, aku paham kesulitanmu selama ada di sini." ujar Mickey mengingat bagaimana selama satu tahun ini dia berjuang beradaptasi dengan lingkungan Joelin.


"Aku baik-baik saja jika kita harus menatap di sini." jawab Joelin.


"Aku juga baik-baik saja jika kita harus menetap di sana."


"Tapi Mickey..." Joelin sedikit resah mengingat posisinya sebagai istri, sudah seharusnya dia tinggal di sini bersama Mickey dan keluarga pria itu.


"Tidak ada tapi-tapian sayang. Lagipula pekerjaanku di sana bukan di sini." jawab Mickey santai.


Joelin terdiam mendengar keputusan Mickey. Jujur dia memang lebih nyaman tinggal di Jakarta. Mengingat begitu banyak wanita di hidup Mickey jika mereka tinggal di Korea. Tapi di sisi lain Joelin juga merasa bersalah. Saat mereka selesai berbicara, Lucy sudah terlelap dalam pangkuan Joelin.


"Lucy, kamu malah tidur." ujar Joelin gemas.

__ADS_1


"Hahahaha... Sepertinya lebih baik tadi kita kencan berdua. Lucy memang hobby tidur sayang." jawab Mickey.


"Dasar si bayi. Diajak diskusi malah tidur." Joelin senyum-senyum sendiri memandang wajah polos bayinya yang sedang lelap.


Sepanjang jalan, keduanya sibuk bercerita tentang banyak hal dalam hidup mereka. Sesekali Mickey melucu membuat Joelin tertawa bahagia. Sementara Lucy berkali-kali ikut terganggu dari tidurnya karena derai tawa Joelin. Tapi bayi mungil itu kembali lelap setelah beberapa menit terbangun.


\*\*\*


Setelah perjalanan panjang, akhirnya Joelin dan Mickey tiba di sebuah rumah yang menyimpan banyak kenangan.


"Sayang, kita kemari?" tanya Joelin ragu saat turun dari mobil.


"Iya, kita akan menghabiskan liburan kita di sini." Mickey membuka pintu dan mempersilahkan sang istri masuk.


"Tidak boleh begitu. Kita harus menghabiskan banyak waktu dengan keluargamu."


"Baiklah... baiklah yang mulia. Kita akan menghabiskan waktu dengan keluargaku. Tapi kita harus menginap di sini dua malam. Ok?" Mickey berusaha bernegosiasi sambil membawa istrinya masuk kerumah mereka. Dalam hati Mickey bersyukur menyadari sikap Joelin yang sangat menghargai perasaan keluarganya.


"Kamu memang wanita istimewa. Aku sangat beruntung memilikimu dalam hidupku." ujar Mickey dalam hati sambil menngekor di balik punggung Joelin.


Joelin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Kenangan tentang masa-masa awal pernikahan mereka kembali menari di kepalanya. Dada wanita itu kini bergemuruh, seolah kenangan itu baru terjadi kemarin.


"Mickey, kamu selalu berhasil membuatku jatuh cinta berkali-kali. Apakah ini alasan wanita-wanita itu sangat kesulitan untuk melepaskan mu? Karena kau sungguh pintar dalam menaklukkan hati. Tapi aku sudah berjanji untuk percaya padamu. Aku akan terus mempercayai mu." Joelin tersenyum kecil sambil melangkah menuju kamar utama di rumah itu.


"Wah, rasanya benar-benar seperti kembali kerumah." Joelin berseru senang sampai membangunkan Lucy.


"Lucy, sayang.. maaf ya. cup...cup..." Joelin berusaha mendiamkan bayinya.


"Selamat datang di rumah Lucy." Mickey memeluk tuhuh Joelin dari belakang.


"Sayang, Lucy sedang menangis. Jangan begini, nanti kamu malah pengen yang lain-lain." ujar Joelin menyadari Mickey yang mulai menghirup nafas dalam-dalam.


"Memang aku pengen. Kenangan rumah ini terlalu kuat. Aku kembali mengingat aktifitas kita di setiap sudut ruangan." jawab Mickey lirih.


"Yang kamu ingat itu cuman bagus mesumnya kan? Dasar pria mesum."


"Mesum begini kamu cinta kan?" goda Mickey.


"Lucy, ayok sama Appa." Mickey kini beralih mengambil Lucy dari gendongan Joelin.


Pria itu membaringkan sang putri di tegah tempat tidur.


"Kamu kasih Lucy minum dulu ya sayang. Aku mau mandi. Gerah nih." pinta Joelin pada Mickey.

__ADS_1


"Nggak bisa sayang. Harus kamu yang ngasih." jawab Mickey yang sadar mereka tidak membawa susu sang bayi yang biasanya sudah disimpan ke kulkas oleh Joelin.


Mengerti dengan pemikiran Mickey, Joelin memutuskan untuk menyusui putrinya dengan manual. Dan Mickey masuk kamar mandi terlebih dahulu.


\*\*\*


Sore harinya setelah beristirahat , Mickey membawa kedua perempuan istimewanya itu menuju kampus. Sebenarnya yang beristirahat hanya Lucy. Sementara Joelin masih harus bekerja keras melayani keinginan suami mesumnya itu. Tempat di mana cinta mereka pernah bersemi.


"Wah, kampusnya belum berubah sama sekali." puji Joelin.


"Iya memang. Sayang, masih hampir setahun kita meninggalkan tempat ini. tentu saja masih belum terlalu banyak perubahan." Mickey menggenggam tangan Joelin dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanan pria itu tengah menggendong si mungil Lucy.


"Lucy pasti happy banget kan." tebak Joelin sambil memandang wajah putrinya yang tersenyum dengan mata berbinar.


"aaaaaaa....hmmmmmm....aaaaa...eeee" Lucy bergumam-gumam ala bayi.


"Hahahaha... Dia mau ngomong apa ya sayang? Lucu nya putri appa." Mickey tertawa bahagia.


"Katanya Mommy, appa kok mesum ya? Tiap ada kesempatan pasti minta jatah." jawab Joelin santai.


"Hahahaha... jadi kamu nggak suka kalau suamimu ini mesum?" tanya Mickey pada Joelin.


"Bukan begitu juga..."


"Artinya kamu suka. Lagipula dulu seseorang pernah menyetujui kalau dia sudah menjadi istriku, aku bebas memakannya bahkan sepuluh kali dalam sehari."


"Iya... iya... aku ingat." jawab Joelin yang mengerti arah pembicaraan sang suami.


"Jadi aku boleh sering-sering minta kan sayang?" Mickey kini melingkarkan tangan kirinya di pinggang sang istri.


"Astaga Mickey, kita lagi jalan nih." Joelin tersipu malu dengan kelakuan sang suami.


"Kan kamu istriku. Lihat tuh, mereka aja belum menikah berani berciuman di tempat umum." Mickey menunjuk ke salah satu sisi taman dengan mengangkat dagunya.


Joelin mengalihkan perhatiannya ke arah yang ditunjuk sang suami. Tepat sekali, di sebuah bangku taman kampus sepasang kekasih sedang saling memagut. Padahal sore hari begini banyak mahasiswa yang sedang berlalu lalang.


"Astaga, Lucy jangan dilihat ya sayang." Joelin segera menutup mata Lucy dengan mendekatkan telapak tangannya.


"Dari tadi kamu senyum-senyum pasti karena liat itu kan? Astaga, anak mommy kecil-kecil malah ikutan mesum kayak appa." ujar Joelin dengan wajah sedih.


"Hahaha... Sayang kamu benar-benar lucu." ujar Mickey yang gemas dengan tingkah polos sang istri.


"Maaf ya, mommy harus melindungi mata kamu dari segala jenis pencemaran." Joelin masih meletakkan tangannya di depan wajah sang putri tanpa menyentuh kulit sang bayi.

__ADS_1


"Mana mungkin bayi sekecil Lucy paham mesum-mesuman? Apa tadi? Melindungi dari pencemaran? Istriku ini memang menggemaskan." Mickey berkata dalam hati sambil menikmati pemandangan di hadapannya. Bukan pasangan yang sedang bermesraan tadi, pemandangan yang dinikmati Mickey adalah wajah khawatir Joelin yang kini sedang sibuk melindungi mata Lucy dari pencemaran.


....to be continued....


__ADS_2