
"Joelin, loe makin misterius aja." gumam Vino sambil tersenyum tipis.
Amel, Vino dan yang lain kembali asik menikmati kebersamaan mereka.
Sementara itu Joelin masih bergelut malas di bawah selimutnya. Setelah menelepon Amel, ponselnya diletakkan begitu saja pada meja kecil di sisi tempat tidurnya. Setelah beberapa menit berguling-guling dengan selimutnya, gadis itu terlihat mulai bosan.
"Amel mah, lama bener." gumam Joelin. Dia menggerakkan tangannya meraih ponselnya kembali.
"Apa gua susul aja kali ya?" batinnya sambil fokus mengamati ponselnya, namun tiba-tiba sebuah nama yang tertera di layar ponselnya membuatnya tertegun.
"Kamu apa kabar?"
Joelin membaca pesan singkat yang dikirim oleh Goedan.
"Aku baik. Kamu sendiri gimana?" balasnya kemudian.
"Akhirnya muncul juga kamu, lama amat balesnya. Buat khawatir aja."
Joelin mengernyitkan keningnya saat membaca balasan Goedan, entah apa yang dipikirkan gadis itu kini.
"Maaf bang, baru check hp." balas Joelin.
"Santai aja, gpp."
Joelin memilih tidak membalas pesan Goedan. Entah kenapa dia merasa enggan akan percakapan itu. Gadis itu akhirnya kembali tenggelam dalam dunia sendiri, tentu saja fokus ponselnya.
"Ini pesanan loe." ujar Amel yang muncul tiba-tiba sambil meletakkan sebuah kantong plastik di hadapan Joelin.
"Mesti loe bawa ketempat tidur Mel?" tanya Joelin.
"Yaelah loe, bukannya makasih malah protesan mulu." keluh Amel.
"Berapaan Mel?" Joelin turun dari tempat tidur untuk menemukan dompetnya dan membayar belanjaannya pada Amel.
"Ditraktir, jadi loe makan gratisan noh." jawab Amel santai.
"duh, makasih ya roommate gua." ujar Joelin dan memberi kecupan singkat di pipi Amel.
"Makasih noh sama kak Vino. Itu semua dia yang traktir." jelas Amel.
"Dalam rangka apaan Mel?" tanya Joelin yang sudah kembali asik dengan kantong cemilannya.
"PDKT ama loe lah. Pakai nanya lagi, heran gua sama isi kepala loe Joe, lemot banget sama urusan cowok." ujar Amel yang berlalu memasuki kamar mandi.
__ADS_1
"PDKT apaan sih?" teriak Joelin. "Peduli amat ah, yang penting makanan." tambahnya acuh.
Joelin membuka plastik yang membungkus cemilannya. Kini dia sudah standby untuk kembali menikmati film dengan laptop dan cemilannya.
"Yaelah, ni anak. nonton makan, nonton makan. apa kagak ada kegiatan lain yang bisa loe kerjain?" tanya Amel yang baru keluar dari kamar mandi sambil menggelengkan kepala.
"Loe berisik sih, kayak Emak gua aja." protes Joelin.
"Jangan lembur loe. Besok berangkat pagi sama anak-anak."pesan Amel yang beranjak naik ke tempat tidurnya.
"Oh iya gua lupa." jawab Joelin sambil menggigit bibirnya pelan.
"Kalau gua cancel aja, gimana Mel?" tanya Joelin ragu.
"What?" tanya Amek yang gak habis pikir dengan kelabilan temannya ini.
"Malas banget bangun pagi-pagi." rengek Joelin manja.
"Terserah loe deh Joe. Terserah loe. Mau lembur sampai jam berapa, gua nggak peduli. Yang pasti kalau besok pagi loe nggak bangun, gua seret loe." protes Amel kesal.
"Gua mau tidur, jangan berisik lagi." pinta Amel mengakhiri percakapan mereka.
Joelin yang menyadari kekesalan Amel memutuskan untuk menyerah dengan rencana menonton dan bermalas-malasan yang susun untuk malam ini dan besok. Gadis itu membereskan cemilannya, mematikan laptop dan beranjak ke kamar mandi. Selepas mencuci wajah, gadis itu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang terletak berseberangan dengan tempat tidur Amel. Dia memutuskan untuk tidur lebih awal malam ini.
"Lagian gua belum pernah ikut jalan sama mereka." batin Joelin sebelum akhirnya terlelap dalam mimpi.
Pagi ini, walaupun sudah memasuki penghujung winter namun tetap saja cuaca masih lumayan dingin. Amel yang sudah bangun lebih awal memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Seusai mandi gadis itu menyadari teman sekamarnya yang juga sudah sadar dari alam mimpi. Untung saja pagi tadi tidak ada drama yang terjadi antara si Joelin dan dia. Andai Joelin tiba-tiba buat ulah lagi dengan sejuta alasannya di pagi hari, tentu mereka akan terlambat pagi ini.
Saat ini Amel dan Joelin sedang berdiri di depan gedung asrama mereka. Setelah menunggu sekitar lima menit akhirnya Vino, Kendrik, Gita, dan Anggi ikut bergabung dengan mereka. Ke enam orang itu mengenakan jaket hangat karena suhu yang masih dingin. Tidak banyak percakapan diantara mereka. Hanya sekedar salam tegur selamat pagi.
"Kita jalan ke stasiun kereta yuk, biar nggak terlalu dingin" ajak Vino yang memimpin perjalanan hari ini.
Rombongan itu sependapat dengan Vino, terlihat dari bagaimana akhirnya mereka bergerak meninggalkan area asrama universitas. Masing-masing mereka sibuk bergosip ria, tentang banyak hal. Kecuali, ya tentu saja kecuali si Joelin yang memilih menikmati apapun yang dapat dia lihat dan dengar sambil terdiam membisu. Sepertinya Si An salah memberi lable gadis berisik pada Joelin.
"Joelin, bagaimana kabar kamu?" tanya Vino memecah keheningan yang terjalin diperjalanan.
"Aman kak." jawab Joelin singkat.
"Nilai semester kamu bagaimana?" selidik Vino.
"Baik kok kak." Jawab Joelin.
"Syukurlah. Kalau ada masalah dalam perkuliahan, atau apapun jangan dipendam sendiri ya Joe. Berbagi cerita sama kami. Anak Indonesia dikampus kita hanya hitungan jari, kita ini keluarga. Jadi jangan sungkan-sungkan." jelas Vino panjang lebar.
__ADS_1
"Terimakasih kak." jawab Joelin singkat.
"Vin, loe tau nggak informasi anak baru yang bakalan masuk semester ini?" tanya Kendrik tiba-tiba mengalihkan perhatian Vino menyisakan Joelin yang kembali asik sendiri.
Setelah berjalan kaki sekitar sepuluh menit, rombongan itu tiba di statiun kereta api. Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan. Hari itu terasa sangat pangjang dan melelahkan bagi Joelin terlihat dari wajahnya yang lesu. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka terlihat puas dengan perjalanan hari ini.
Rombongan Joelin akhirnya kembali ke Universitas. Tentu saja rombongan itu menyadari sikap kaku dan dingin Joelin. Namun mereka tidak ambil pusing, karena memang begitulah sosok Joelin yang mereka kenal. Kecuali bagi Amel. Amel sadar bahwa Joelin sedang tidak nyaman dengan perjalanan ini. Setelah makan malam, akhirnya mereka bubar dan kembali ke asrama masing-masing. Setelah membersihkan diri, Joelin kembali sibuk dengan laptopnya. Tentu saja gadis itu akan kembali menonton.
"Gimana hari ini?" tanya Amel.
"Lumayanlah." jawab Joelin santai.
"Gua nggak ngerasa kalau loe berpikir perjalanan hari ini bakal lumayan." ujar Amel penuh trik.
"Sok tau ah loe." jawab Joelin.
"Eh, Joe.. Loe pernah jatuh cinta gak sih?" tanya Amel tiba-tiba.
"Jatuh cinta?" gumam Joelin menggantung.
"Apa jangan-jangan loe gak pernah jatuh cinta?" tanya Amel lagi.
"Cinta itu sebenarnya seperti apa?" tanya Joelin kemudian.
"Astaga Joelin, bisa geger otak gua ngomong sama loe." jawab Amel histeris.
"hahahaha. rasain loe." tawa Joelin dalam hati, dia sengaja bersikap iseng pada teman sekamarnya itu.
"Gua pikir dulu gua pernah jatuh cinta. Saat kehadirannya selalu berhasil membuat hati berbunga-bunga. Tapi ternyata jatuh cinta itu tidak melulu soal berbunga-bunga." batin Joelin yang kembali mengingat perasaannya pada Goedan.
**Pengumuman
Hallo readers, thank you ya untuk masih setia bersama kisah ini.
Di part sebelumnya kan disinggung, bahwa Goedan akan mengunjungi Joelin, menurut kalian bagaimana reaksi Joelin nanti?
a. Bahagia
b. Biasa aja
beritahu jawab kalian di kolom komentar ya.
Jangan lupa, like dan vote ya reader. Beri aku semangat untuk terus berjuang, maaf author lagi lebay. hahaha
__ADS_1
Anyway, thank you so much guys.
-Best**-