Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Kamu Terlalu Manis


__ADS_3

"Dia lucu. Dia memang manis. Tapi... Dia menyebalkan." gumam Mickey dalam hati.


"Jadi gimana? yakin pulang sendiri? jangan ketawa aja Joe."


Mark mencoba menghentikan Joelin dari tawanya yang kini semakin mengundang perhatian siswa yang keluar dari perpustakaan.


"Sudah diperhatikan malah tidak tahu diri. Sudah sana pergi sendiri, nggak sudi aku nganter kamu."


Si An yang merasa kesal sendiri dengan tawa Joelin akhirnya mengusir gadis itu. Sementara teman mereka yang lain hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah Si An dan Joelin. Kedua manusia itu selalu saja bertengkar dan saling mengganggu.


"Nggak berharap kamu anterin juga. Aku duluan ya guys." ujar Joelin sambil berlalu meninggalkan mereka.


Mickey memandang kepergian Joelin.


"Ayok Mike."


Si An menarik tangan Mickey yang kini sibuk mengawasi Joelin yang semakin menjauh.


"Aku nemani dia aja. Sampai jumpa besok guys."


Mickey berlari mengejar Joelin, menyisakan Si An dan Mark beserta dua pria lainnya dalam kebingungan.


"Apa mereka pacaran?" tanya Tae Ho tiba-tiba.


"Tidak." jawab Si An tegas.


Sementara Mark memilih untuk mengabaikan kejadian ini. Dia yakin Mickey tidak akan membawa Joelin ke dalam masalah. Terlihat dari bagaimana pria itu selalu melindungi Joelin selama ini. Akhirnya mereka berempat memutuskan untuk meninggalkan area perpustakaan.


"Kalau jalan dimalam hari jangan pakai earphone."


Mickey melepaskan earphone dari telinga Joelin sambil mengomel.


"Aaaaa...?" gadis itu menjerit ketakutan.


"Hei.. jangan berisik."


Mickey yang terkejut dengan reaksi Joelin akhirnya hanya bisa membekap bibir gadis itu dengan tangannya. Namun tiba-tiba dia malah membawa Joelin kedalam pelukan.


"Apaan sih Mickey?" protes gadis itu.


"Kalau kamu teriak seperti tadi, orang-orang bakal ngeroyok aku."


"Lah, terus kok pakai peluk-peluk gini?"


"Kalau aku nggak meluk kamu, pasti mereka bakal makin curiga kalau aku ini orang jahat."


"Kok bisa?"


"Karena tadi aku harus mendiamkan mulut seseorang secara paksa."


"Oh.."


"Mike.."


"Apa?"


"Udah kali peluk-peluknya."


"Sebentar. Anggap aja ini hukuman."


"Hukuman apaan sih Mickey?"

__ADS_1


"Hukuman karena kamu seenaknya aja ngasih tahu Si An tentang jadwal bulananmu."


"Hei, apa-apaan itu?"


"Diamlah, atau kamu ingin hukuman yang lebih berat dari ini?"


"Terserah terserah terserah."


Joelin kini merasa kesal dengan Mickey yang memeluknya secara paksa ditempat yang cukup ramai begitu.


"Kenapa kamu bisa kesini?"


"Sekalian lewat aja, toh tadi aku juga parkir di sekitar asramamu."


"baiklah."


Mickey tersenyum menyadari betapa polosnya Joelin. Gadis itu sungguh percaya kata-katanya. Padahal kebenarannya dia sengaja mengikuti gadis itu karena khawatir. Sedangkan sepeda motornya terparkir di dekat gedung jurusan mereka.


"Apa kita bisa pulang sekarang?"


"kita? kau bermaksud pulang denganku?"


Mickey kini menggoda Joelin yang masih berada dalam pelukannya. Pria itu bisa merasakan debar jantung Joelin yang kian kencang. Entah kenapa sensasi bahagia kini memenuhi rongga dada Mickey. Sensasi yang belum pernah dia rasakan selama ini.


"Mickey, mau peluk sampai kapan? Ayok lah. mereka tidak akan mencurigaimu sebagai pria jahat lagi."


"Apa kamu sangat keberatan dengan pelukanku?"


"Bukan.. maksudku.."


"oh, berarti kamu sangat menyukainya. Yasudah nikmati saja, toh aku tidak melakukannya setiap saat."


"Aku malu, banyak orang melihat."


"Yaudah ayok pulang."


Mickey melepaskan pelukannya ketika suasana sudah sangat sepi dan melangkah ke arah yang berlawanan dengan asrama Joelin.


"Kau mau kemana?"


"Pulang."


"Bukankah arahnya berbeda?"


"Aku lupa, motorku di area parkiran jurusan."


"MIKE..!!"


"Maafkan aku."


"Tapi, aku tidak berani pulang sendiri, lihatlah jalanan sudah sepi."


"Mau pulang bersamaku?"


"Yasudahlah, toh tidak ada pilihan lain."


Mickey tersenyum penuh kemenangan. Dia sengaja mengulur waktu melepaskan pelukannya tadi. Tujuannya jelas, hanya ingin menikmati lebih banyak waktu bersama gadis itu.


"Untung aku sudah memutuskan Jee Na minggu lalu. Kalau tidak mana berani aku menikmati kebahagiaan ini." batin Mickey.


Mickey dan Joelin berjalan beriringan. Mickey yang sedang tersenyum bahagia dan Joelin yang masih saja kewalahan mengatur ritme jantungnya yang semakin berdebar tidak karuan.

__ADS_1


"Kenapa kau berjalan sambil mendengarkan musik?" ujar Mickey memecah keheningan.


"Aku hanya menyukainya."


"Kau bahkan mendengarkan musik sambil belajar, siapapun akan tahu bahwa kamu menyukainya. Maksudku disini, apakah kamu sadar betapa berbahayanya diluar saat di malam hari?"


"Tidak nyambung sama sekali."


"Jangan melawan. Kau mau kuhukum lagi?"


"Mickey, bukankah Reeny sangat cantik?"


"Jawab pertanyaan ku. Apa kau mau kuhukum lagi?"


"Hukum saja kalau kau bi.."


Kalimat Joelin terpotong. Gadis itu merasakan sesuatu yang hangat dan lembut kini menepel di bibirnya. Joelin memejamkan matanya dan menikmati debaran jantungnya yang berlari makin kencang.


Dengan lembut Mickey akhirnya menaklukkan bibir Joelin. Membawanya ke dunia impian semua para gadis. Lama mereka saling memagut. Diawali dengan Joelin yang hanya menerima permainan Mickey, namun setelah beberapa lama akhirnya gadis itu membalas setiap perlakuan pria yang sedang mendekapnya.


"Maaf." ujar Mickey saat akhirnya ciuman mereka berhenti. Tiba-tiba saja dia khawatir telah menakuti gadis itu. Ditambah lagi respon Joelin yang kini tertundunk menyembunyikan wajahnya. Mickey sungguh merasa bersalah karena tidak dapat menahan diri dan khawatir telah membuat gadis itu ketakutan.


"Kenapa kau harus minta maaf?"


Joelin bertanya sedih. Dia berpikir bahwa Mickey merasa menciumnya adalah sebuah kesalahan.


"Maaf aku tidak seharusnya melakukannya padamu. Aku..."


"Lalu kenapa kau melakukannya kalau kau tahu bahwa tidak seharusnya melakukan hal seperti itu?"


"Maaf Joe."


"Apa kau tahu? itu ciuman pertamaku dan aku menjaganya untuk suamiku."


Joelin kini merasa sedih dengan sikap Mickey. Dia takut bahwa Mickey menciumnya tanpa perasaan apa-apa. Sementara Mickey, pria itu kini merasa sangat bahagia karena berhasil mendapatkan ciuman pertama gadis ini. Namun Mickey yang menyadari kesedihan Joelin semakin merasa bersalah.


"Kenapa aku tidak bisa menahan diri? harusnya aku menciumnya setelah menikahinya." batin Mickey.


Namun tiba-tiba pria itu menggelengkan kepalanya karena prustasi.


"Apa yang baru saja kupikirkan? Bagaimana mungkin aku berpikir untuk menikahinya bahkan sebelum aku berpacaran dengannya?" batin Mickey.


Akhirnya kedua orang itu tiba diparkiran. Mickey membonceng Joelin menjauh dari gedung jurusan mereka, menuju ke arah asrama. Setelah berkendara sekita beberapa menit mereka tiba di area parkir asrama. Dan mereka berdua melangkah menuju gedung yang ditinggali oleh Joelin.


"Joelin, apa kamu masih marah?" tanya Mickey tulus.


"Sudahlah Mickey, sudah larut malam. Aku ingin istirahat."


"Masuklah, tapi bolehkah aku memelukmu?"


Joelin belum menjawab pertanyaan Mickey, namun tiba-tiba pria itu kini telah membawamu kembali dalam pelukan.


"Tidur yang nyenyak. Kita baik-baik saja." ujar Mickey setelah memberi kecupan singkat di bibir gadis itu.


Joelin yang tadi sedang galau dengan semua perlakuan Mickey hari ini tiba-tiba merasa bahagia. Entah mengapa, hatinya tidak ingin menolak perlakuan pria itu.


"Masuklah sebelum aku menculikmu."


"Kenapa ingin menculikku?"


"Kamu terlalu manis."

__ADS_1


Seketika pipi Joelin terasa hangat. Tanpa berbicara gadis itu memutuskan berlari masuk kedalam gedung asrama, menyisakan Mickey yang tersenyum bahagia."


__ADS_2