Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Pulang (Final Part)


__ADS_3

"JOELIN...!!!" Mickey yang berada tak jauh dari sana menjerit histeris sambil berlari ke arah tubuh sang istri yang tergeletak di lantai.


 


\\*


 


Mickey menghela napas berat, matanya mengawasi Joelin yang kini tengah terbaring di ranjang rumah sakit.


"Lu..cy.." sebuah suara mengusik pendengaran pria itu.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Mickey menguatkan genggamannya pada tangan Joelin.


Joelin berusaha membuka matanya, namun tubuhnya terasa sangat lemah.


"Sayang jangan khawatir, Lucy sudah membaik." ujar Mickey berusaha menenangkan Joelin.


Joelin mengangguk lemah, banyak hal yang kini berkelebat mengisi kepalanya. Walau dia sedang enggan untuk berpikir namun ingatan tentang Mickey yang lebih menghabiskan waktu dengan pekerjaan dan sang sekertaris dibanding keluarganya masih membuat hati Joelin terasa nyeri.


"Istirahatlah kembali, aku akan menemanimu di sini." ujar Mickey lembut.


Joelin kembali memejamkan matanya dan mengusir segala keresahan baik dari otak maupun hatinya. Wanita itu sedang tidak berdaya untuk memikirkan semua hal yang baru saja mereka alami.


 


\\*


 


Sudah dua hari Joelin dirawat di ruangan ini. Sekarang wanita itu sudah merasa lebih baik. Selama dua hari juga, Mickey menemaninya dan merawatnya dengan baik. Sama seperti saat ini, Mickey sedang menyuapi Joelin menyantap sarapannya. Walau Joelin bersikap dingin dan memainkan aksi mogok bicara selama di rumah sakit, Mickey sama sekali tidak tersinggung maupun mengurangi perhatiaanya pada wanita itu.


Dengan sabar dan penuh kasih sayang, Mickey merawat Joelin. Sesekali pria itu juga pergi menjenguk Lucy yang kini sudah semakin sehat. Pria itu bahkan meninggalkan urusan pekerjaan untuk sementara waktu hanya agar bisa menemaniJoelin dan Lucy di rumah sakit.


"Sayang, satu suap lagi ya. Aaaaaa" ujar Mickey mendekatkan sendok ke bibir Joelin.


Tanpa suara maupun ekspresi Joelin menyantap suapan dari Mickey.


'ceklek' pintu kamar rawat yang ditempati Joelin terbuka. Seorang pria tampan dan bertubuh atletis muncul dari balik pintu. Wajahnya terlihat sangat cool dan santai. Sementara dalam gendongannya ada bayi Lucy yang sedang bergumam-gumam sambil menggapai-gapai kearah Mickey dan Joelin.


"Lucy???" Seru Joelin yang bingung bagaimana pria asing itu bisa menggendong putrinya.


"Wah, gadis kecil Appa sudah datang. Sini sama Mommy." Mickey tersenyum pada Lucy dan pria itu.


"Siapa pria ini? Kenapa dia bisa membawa Lucy?" Joelin bergumam dalam hati.


"Sayang, dia sekertaris yang membantu pekerjaanku di kantor. Namanya Jimmy." Mickey menyimpan anak rambut kebelakang telinga Joelin.


"Jimmy, perkenalkan istri saya, Joelin." ujar Mickey tersenyum pada pria itu.


"Jadi sekertaris yang selama ini bersama Mickey adalah pria ini? Astaga, bod*h sekali pemikiran ku selama ini." Joelin menatap sang suami dan pria tadi secara bergantian.


"Selamat siang Nona. Maaf tadi saya meminjam Lucy dari tuan Mickey." ujar pria itu sopan.


"Jimm, jangan bicara sembarangan. Justru tadi sayalah yang minta bantuan kamu untuk menemani Lucy bermain sebentar." ujar Mickey.


"Selamat siang Jimmy, terimakasih sudah menemani Lucy." ujar Joelin sambil tersenyum tulus.


"Maaf ya Mike aku selalu mencurigaimu." ujar Joelin dalam hati.


"Apa aku boleh menggendong Lucy?" tanya Joelin pelan.


"Kamu masih lemah sayang, biar aku aja yang gendong Lucy. Okay?" Mickey bertanya sambil menatap dalam ke manik.


Joelin mengangguk tanda setuju. Mickey mengambil alih sang putri dari gendongan sekretarisnya. Joelin kini asik mencium pipi bayi itu, sementara Mickey dan Jimmy tenggelam dalam pembicaraan bertema pekerjaan.

__ADS_1


 


\\*


 


Kondisi Joelin sudah sangat stabil. Sementara Lucy yang hanya menderita demam biasa, pulih lebih cepat dibanding sang ibu. Hari ini keluarga itu sudah diperkenankan meninggalkan rumah sakit. Pak Karno sang supir sudah siap untuk mengantar majikannya pulang.


Di rumah, Mickey berusaha mengurangi kesibukan Joelin dengan membantu sang istri mengerjakan banyak hal, mulai dari kebersihan, memasak maupun merawat Lucy.


"Sayang, bagaimana kalau kita cari asisten rumah tangga buat bantu kamu di rumah?" tanya Mickey yang baru saja menidurkan Lucy.


Merawat Joelin dan Lucy selama beberapa hari menyadarkan pria itu bahwa menjalani peran ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Belum lagi dengan kondisi kehamilan Joelin.


"Tapi aku masih bisa mengerjakan semuanya sayang." ujar Joelin sambil mengeringkan rambutnya.


Mickey berjalan mendekati sang istri yang duduk menghadap cermin rias.


"Tapi kamu juga harus menjaga adik kecil di sini." ujar Mickey yang kini sedang mengelus lembut perut sang istri yang mulai membuncit..


"Jangan khawatir ya Mike, sejauh ini aku masih bisa menghandle semuanya sendirian."


"Bagaimana kalau kamu sakit lagi?" tanya Mickey sedih.


"Maaf." ujar Joelin pelan, wanita itu kini menunduk dalam.


"Aku sakit karena kebodohanku sendiri Mickey, bukan karena pekerjaan rumah yang merepotkan. Aku bahkan hampir saja membahayakan keselamatan anakku sendiri." Joelin bergumam sedih di dalam hatinya.


"Hei, kenapa kamu sedih?" tanya Mickey menyadari perubahan raut wajah sang istri. "Aku tidak sedang memarahimu sayang." Mickey meraih hairdryer dari tangan Joelin dan segera menyimpannya.


"Itu, aku... aku salah Mickey. Maaf..." ujar Joelin terbata menahan tangisnya.


Perasaan bersalah karena sudah mencurigai suaminya, bahkan hampir menyakiti calon bayinya membuat Joelin tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Mickey.


"Sayang, ada apa? Kalau ada masalah, kamu cerita supaya kita bisa cari solusinya bersama-sama." ujar Mickey yang kini sedang tidak mengerti dengan sikap Joelin.


"Iya sayang. Memangnya selama ini aku pernah marah pada istriku?" tanya Mickey sambil menggendong tubuh Joelin naik ke tempat tidur.


"Pernah." jawab Joelin singkat.


"Kapan sayang? Aku tidak ingat sama sekali." Mickey berujar sambil menyelimuti tubuh istrinya.


"Waktu kamu cemburu, dulu..." jawab Joelin.


"Yang mana? Aku nggak ingat sayang." Mickey ikut merebahkan diri di sebelah istrinya.


"Ingat hukuman nggak boleh minta jatah? Masih diawal-awal kits nikah Mike. Kamu marah-marah nggak jelas karena cemburu sama bang Goedan." ujar Jeolin sambil tersenyum mengingat kejadian itu.


"Oh, yang itu. Hahahaha.... tapi aku kan cemburu begitu karena aku cinta mati sama kamu Joelin." ujar Mickey sambil mengecup puncak kepala istrinya gemas.


"Iya aku ngerti. Aku juga pernah cemburu sama kamu." ujar Joelin.


"Kapan?" tanya Mickey sok polos.


"Sudahlah jangan dibahas." Joelin berusaha menghindari pertanyaan Mickey. Dia sangat malu mengaku bahwa dia cemburu saat Mickey makan malam dengan sang sekertaris.


"Sekertaris mu kan lelaki, dan dengan bodohnya aku malah mencurigaimu." Joelin.


"Iya aku janji nggak akan marah, tapi kamu kasih tau dong, yang tadi kamu minta maaf buat apa?" tanya Mickey.


"Mike, aku sakit bukan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah." Joelin lalu menjelaskan bagaimana dia mencurigai sang suami, cemburu pada sang sekertaris, tidak berselera makan, merasa sedih dan akhirnya sakit.


"Hahahaha...." Mickey tertawa keras mendengar penuturan sang istri sambil memeluk istrinya itu.


"Kenapa kamu menertawakan ku?" tanya Joelin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Mickey.

__ADS_1


"Istriku cemburu pada Jimmy. Sayang, apa kau pikir suamimu ini penyuka sesama jenis? Kejam sekali kamu ya." canda Mickey di akhir tawanya.


"Kan aku tidak tahu sekertaris mu itu pria atau wanita." jawab Joelin menuntut.


"Tapi aku merasa sedikit sedih, bagaimana istriku bisa tidak mempercayai ku." ujar Mickey kemudian.


"Aku cemburu Mickey. Dan kecemburuan itu membuatku jadi bodoh." jawab Joelin memandang wajah sang suami.


Keduanya kini berbaring dengan posisi saling berhadapan, sementara tangan Mickey masih memeluk pinggang Joelin. Mickey menggerakkan tangannya, membawa kepala sang istri mendarat di dadanya.


"Bisa kamu dengarkan detak jantungku?" tanya Mickey.


"Iya." jawab Joelin.


"Selalu berdebar lebih kencang setiap kali aku bersamamu, mengingat mu, memikirkan mu. Aku sangat mencintaimu sayang, jadi jangan cemburu pada apapun di luar sana. Mereka tidak akan pernah bisa membuat jantungku berdebar seperti ini. Hanya kamu yang bisa." ujar Mickey lembut.


"Hmmm... apakah sang suami sedang merayuku saat ini?" tanya Joelin sambil tersenyum bahagia.


"Aku tidak merayumu Joe, itu kenyataannya."


"Makasih sayang." Joelin menggerakkan tangannya memeluk sang suami.


Keduanya lalu berpelukan dan saling menyalurkan perasaan mereka.


"Mike..."


"ya..."


"Kamu adalah rumahku. Bagiku pulang adalah kembali padamu. Dimasa aku akan belajar untuk tidak tersesat dan mencurigai rumahku sendiri." Joelin bergumam dalam hati.


"Kamu adalah rumahku, pulang bermakna kembali padamu. Joelin, tetaplah jadi arah untukku berlari, dan percayalah aku tidak akan tersesat jika itu tentangmu." ujar Mickey lembut.


Joelin mengangguk sambil tersenyum haru, bahkan suaminya memiliki pemikiran yang sama dengannya.


 


\\*


 


'drt..drt...' suara getar ponsel menyadarkan Joelin dari tidurnya. Wanita itu melirik jam yang masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Dengan gerakan hati-hati Joelin membuka sebuah pesan dari kontak pengirim bernama Doni.


"Amel dan Mickey?" Joelin mengeryit memandang foto-foto sang suami dan Amel yang sedang berada di supermarket. Dia juga sedikit mengeryit melihat kondisi perut Amel yang sedang membuncit layaknya orang hamil.


Joelin mengusap layar ponselnya, dan dia seketika menyadari pesan terdahulu yang belum sempat dia periksa.


"Mickey dan Amel mengunjungi dokter Obgyn? Dan Amel sedang hamil?" Joelin berkata dalam hati.


"Bagaimana Joe, bukankah kamu tidak ingin suamimu dimiliki orang lain?" sebuah pesan baru dari Doni.


"Suamiku memang tidak dimiliki orang lain. Dia hanya suamiku. Jangan mengganggu ku dengan hal tidak penting seperti ini." Joelin membalas pesan itu dan langsung mematikan ponselnya.


"Sayang, aku percaya padamu. Kamu tidak mungkin menghianatiku dengan Amel. Aku sudah mencurigai mu berkali-kali dan semua kecurigaanku salah. Aku tidak akan bertindak dan berpikir bodoh lagi." Joelin bergumam dalam hati sambil memeluk Mickey yang tengah lelap di alam mimpi.


.....**sampai ketemu di season selanjutnya 🌹...


Author Note:


Ada yang penasaran dengan kehamilan Amel?


Bagaimana dengan Doni yang berusaha membuat Joelin salah paham dengan Mickey?


Ada yang ingin tahu bagaimana kehidupan pernikahan Goedan dan Aluna? Penasaran nggak kenapa akhirnya mereka bisa menikah? Lalu bagaimana dengan Mark? Apakah Vino sudah sembuh dari gangguan bipolar?


Teman-teman penasaran nggak? Kalau penasaran yuk jangan lupa vote yang banyak. Komen seberapa penasaran nya kalian dan beri like yang banyak juga ya. Kalau punya koin, boleh juga bersedekah dengan memberi tips. Thankyou.

__ADS_1


-best**-


__ADS_2