
Mickey mendahului sosok itu dan berjalan menuju Joelin dengan senyum manisnya, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Dia tidak ingin mempercayai pendengaran nya sekarang. Dia juga tak ingin percaya pada gerakan yang kini di tangkap oleh matanya.
"bagaimana ini?" jerit Mickey dalam hati. Tiba-tiba keadaan menjadi di luar kendali nya.
\*\*\*
"Mickey, kenapa berhenti di sana? Kau tak ingin mengenalkan kekasihmu pada Joelin?" tanya Si An.
"Aku bisa mengenalkan diriku secara langsung Si An." ujar Jee Na dengan penuh rasa percaya diri sambil menarik Mickey mengikuti langkah kakinya.
Jantung Joelin berdebar kencang sekarang, dia belum bisa mencerna kejadia di depannya namun api cemburu sudah lebih dahulu membakar dadanya.
Tanpa berpikir lebih panjang, Joelin bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Mickey.
"Iya sayang, datang kemari. Tolong selamatkan aku." batin Mickey sambil memandang Joelin, dia memasang senyum terindahnya pada istri tercintanya itu.
'Plak' sebuah tamparan kuat mendarat di pipi Mickey. "Dasar penipu, brengsek." maki Joelin. Suaranya bergetar, tubuhnya juga bergetar. Matanya terasa panas, namun dengan sekuat tenaga dia mencoba menahan diri.
Joelin segera berlari meninggalkan ruangan itu sambil menangis sesenggukan. Setelah keluar dari area sekolah dia memanggil taksi, dan menyuruh sang sopir membawanya ke rumah Mickey.
Walaupun dia sangat marah, Joelin tak ingin pulang ke asrama. Sejenak dia pikir ada baiknya mendengar penjelasan dari Mickey, walau hatinya terasa sangat sakit, bukankah tidak ada pernikahan yang sempurna?
\*\*\*
"Jee Na, lepaskan aku." pinta Mickey.
"Kau mau kemana baby?" rengek Jee Na masih memegangi tangan Mickey erat, walau Si An dan Mickey juga di sana.
"Kau gila? Tentu saja aku harus mengejar istriku." ujar Mar frustasi.
"Istri? Jadi kau sudah menikah dengan Joelin?" tanya Mark tak percaya dengan pendengaran nya.
"Iya Mark. tentu saja aku sudah menikah dengannya, jika tidak, bagaimana mungkin dia istriku?" jelas Mickey gemas.
"Omong kosong." ujar Si An dingin.
"Han Si An, kau mengacaukan segalanya. Jika sesuatu terjadi pada istriku, aku tak akan mengampunimu. Kau juga." ujar Mickey sambil mendorong tubuh Jee Na kasar. kini dia sangat marah.
Dengan berlari Mickey meninggalkan tempat itu.
"Si An, bagaimana ini? Harusnya kau tak bicara sembarangan seperti tadi." sesal Mark.
"Urus saja urusanmu." balas Si An.
Mark yang merasa prihatin dengan Mickey kemudian ikut berlari keluar, berusaha membantu menemukan gadis yang sudah dua tahun menjadi temannya itu.
"Mark bodoh, untuk apa dia membantu para penghianat itu?" gerutu Si An.
sementara Jee Na yang kesal karena dipermalukan oleh Mickey, kini sedang tidak dapat mengontrol emosinya. Dengan rasa kesal penuh, dia mengutak atik ponselnya.
"Berikan aku nomor Joelin." pinta Jee Na lirih pada Si An.
hi
__ADS_1
\*\*\*
"Ah, sedih sekali..." Joelin menangis pilu.
"Mickey, kenapa dia kekasihmu? aku kan istrimu Mickey."
"hoeek..." tiba-tiba rasa mual kembali menyerangnya.
Setelah memuntahkan isi perutnya, Joelin kembali ke kamar dengan gerakan lemas. Dia sangat lelah dan sangat sedih. Saat duduk di tempat tidur, ponselnya bergetar pelan.
Joelin memandang layar ponselnya, ada pesan dari nomor baru.
"Siapa ini?" gumam Joelin.
Perlahan dibukanya pesan itu, hingga akhirnya tangisnya kembali pecah. Tubuh Joelin bergetar hebat.
"Tidak. Aku tak butuh penjelasan apa-apa." isak Joelin.
Dengan terburu-buru di raih nya dompetnya, dan sebuah tas ransel. Joelin lalu mengisi beberapa pakaian ke dalam tas itu. Masih dengan tubuh bergetar, Joelin menghubungi sebuah nomor.
"Tolong jemput aku, di nomor yang akan kukirim ini. Aku mohon." ujar Joelin dengan suara gemetar.
Setelah mengirim pesan, Joelin berlalu dari kamar itu. Tanpa ingat akan ponselnya, maupun kejutan yang dia sediakan untuk Mickey, dia hanya terus melangkah keluar dari rumah.
Tubuh Joelin masih bergetar, dia masih terisak, air matanya manetes deras. Pemandangan yang dia lihat di ponsel tadi, video dan foto Mickey melakukan hubungan suami istri dengan perempuan yang baru saja dikenalkan sebagai kekasih Mickey membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Kau bahkan mengenalkan nya pada orang tuamu. Mickey, kau berbohong." gumam Joelin pelan, mengingat bagaimana tadi gadis iya bergelut manja di lengan Mickey saat di sana juga ada kedua orang tua lelaki itu.
"Kau anggap apa aku Mickey? Perempuan murahan?" isak Joelin.
"Joelin, ada apa?" sosok itu memandangnya teduh, ada rasa khawatir yang tersirat di wajahnya.
"Aku... aku.. bisa bawa aku perg dari sini? kumohon." isak Joelin.
Pria itu langsung memeluk Joelin dan berusaha menenangkan nya, "ayok.. jika itu yang kamu mau." ujarnya sambil membawa Joelin masuk ke mobilnya.
\*\*\*
"Sial." umpat Mickey, menyaksikan pemandangan di depan rumahnya.
Dia memacu kecepatan motornya, namun sia-sia. Setelah memeluk istrinya, sosok itu langsung membawa Joelin dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Mickey menghela nafas sambil ikut melakukan motornya, mengejar Joelin yang dibawa oleh mobil asing tadi, semakin jauh. Tiba-tiba saja, Mickey berhenti oleh lampu merah, dan sebuah truk besar di depannya yang cukup untuk menghalangi penglihatan Mickey. Kini dia kehilangan jejak Joelin.
\*\*\*
Mickey terduduk di tepi jalan, tepat di depan rumahnya, peluhnya bercucuran bercampur dengan air matanya. Joelin pergi, kekasihnya pergi, wanitanya pergi, hidupnya terasa terhenti.
"Berhenti menangis." sebuah suara yang sangat Mickey benci kini muncul kembali mengisi telinganya.
"Pergi. Pergi brengsek." maki Mickey.
"Kau yakin ingin mengusirku?"
__ADS_1
"Kau menyakiti istriku."
"Apa kau yakin aku menyakiti istrimu?"
"Kalau bukan kau siapa lagi."
"Hei, kubwritahu padamu, jikapun benar aku menyakiti istrimu, tapi pergi meninggalkanmu itu pilihan yang dia buat sendiri, bukan aku yang memilihkan hal itu untuknya."
"Jaga omonganmu Jee Na. dasar perempuan murahan." Maki Mickey.
Gadis itu sungguh terluka, mendengar makian Mickey,. Egonya menjerit kuat.
"Berani sekali kamu menyakiti perasaan ku. Kau harus bayar setiap kesalahanmu dengan mahal Eum Son." gumam Jee Na dalam hati.
Kini gadis itu mengutak-atik ponselnya mencoba memeriksa sesuatu. Setelah menemukan yang di cari Jee Na kembali tersenyum.
"Kau masih berani berkata aku murahan setelah melihat ini?" tanya Jee Na menyerahkan ponselnya pada Mickey.
"Apa ini?"
"Kau bisa lihat sendiri Eum Son. Aku tidak sengaja melihat istrimu, oh maksudku gadis ****** itu semalam, dan aku mengabadikannya. Aku tak ingin melihatmu di hianati, tapi yah sepertinya dia pergi dengan pria ini bukan?"
Mickey menggeram kesal, air matanya yang tadi mengalir deras terhenti seketika oleh luapan marah yang tiba-tiba sampai ke ubun-ubun.
Foto-foto itu, sungguh membuatnya marah. Pakaian yang Joelin pakai semalam, mawar merah, Goedan dan tangan pria itu menyentuh bibir Joelin.
"Astaga, takdir apa ini?" batin Mickey frustasi.
Dia menangis histeris, menangis di antara marah, dan sedih.
"Berhenti menangis bodoh." maki Jee Na.
"Diam kau Jee Na."
"Masih berani menantangku? Jika dia memang cinta padamu, bagaimana mungkin dia tidak hamil? kau bisa buktikan sendiri, jika memang ****** itu tidak memakai kontrasepsi, aku yang salah. Tapi jika dia menggunakannya, artinya dia hanya memanfaatkan mu dan akhirnya kabur dengan pria yang lebih baik." ucap Jee Na santai.
"Berhenti berbicara buruk tentang istriku." jerit Mickey diantara tetes air matanya.
"Kau periksa sendiri Eum Son. Jika aku salah, aku akan membantumu menemukannya." ujar Jee Ne.
"Pergi dari sana Jee Na. Tinggalkan Eum Son." sebuah suara akhirnya menghentikan aksi Jee Na yang terus menghasut Mickey.
\*\*\*
Author POV
Wah, gimana nih guys nya part yang ini?
menurut kalau yang muncul dan ngusir Jee Na itu siapa sih? Joelin, Mark, Si An, atau orang tua Mickey?
silahkan di komen ya jawabannya.
jangan lupa buat vote, like yang banyak dan juga mampir baca novel "C.I.N.T.A PLUS MINUS".
__ADS_1
thanks
~best~