
"Joelin..." gumam Vino sambil tersenyum tipis sambil mengendarai sepedanya membelah jalan.
***
Liburan semester sudah usai, besok semester yang baru dimulai. Amel, Vino dan mahasiswa Indonesia yang lain mulai sibuk dengan persiapan untuk memasuki lembaran yang baru dalam sejarah pendidikan mereka. Berbeda dengan Joelin, gadis itu sudah memulai semester ini lebih awal seminggu lalu. Tentu saja bersama Mark, Si An dan Mickey. Bahkan di hari Minggu seperti hari ini pun tidak merusak semangat mereka.
"Lama-lama dikelilingi sama tiga mahluk ini bisa jadi jenius gue." batin Joelin yang mulai bosan dengan materi yang sedang dia baca.
"Joelin, keep reading. Jangan melamun." Tegur Mark yang menyadari perubahan tingkah laku Joelin.
"Hmm..." gumam Joelin menyetujui perkataan Mark.
"Guys, kalian enggak lapar?" tanya Si An.
"Lapar. Mau makan apa?" Mark yang sejak tadi merasakan protesan cacing-cacing di perutnya pun merespon Si An dengan antusias.
"Jajangmyon, gimana?" tanya Si An?
"call." jawab Mark setuju.
"Kamu Joe? mau pesan nggak?" tanya Si An sambil menoer kepala Joelin.
"Ya!! Han Si An. Apa perlu tanganmu ikut bicara?" protes Joelin.
"Yasudah, kalau tidak mau." ledek Si An cuek.
"Mike?" panggil Si An.
"Aku juga lapar." jawab Mickey.
"So, pesan tiga nih?" tanya Si An menggoda.
"ni anak benar-benar yah. mancing emosi gue mulu nih." batin Joelin, dari ekspresinya saat ini, bisa dipastikan bahwa rasa kesalnya sedang level up.
"Joelin, kalau lapar pesan makanan. Jangan muter-muter bola mata, emang kamu pikir kamu cantik dengan ekspresi begitu?" tegur Mark yang menyadari kekesalan Joelin.
"Ya, aku mau pesan satu. Tolong ya Si An." ujar Joelin lembut sambil menahan ledakan kekesalannya.
"Good." jawab Si An tersenyum licik sebelum akhirnya memesan dengan menggunakan ponselnya.
Setelah menu makan siang dipesan, mereka berempat kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Si An yang sedari tadi sudah bosan belajar kini memilih bermain game, disusul oleh Mickey dan Mark. Sementara Joelin malah semakin kesal. Bagaimana tidak kesal, toh ponselnya sedang di tahan ketiga mahluk tampan itu. Dengan terpaksa gadis manis itu kembali berkutat dengan buku pelajarannya.
__ADS_1
"Hallo..." Tiba-tiba Mickey pergi menjauh dari mereka sambil menjawab sebuah panggilan telepon. Mark, Si An dan Joelin memilih mengabaikannya dan tetap fokus dengan kegiatan mereka masing-masing.
"Hallo baby.." seru suara disebrang sana membalas sapaan Mickey dengan sangat antusias.
"Ada apa Jee Na?" Mickey menanyakan alasan wanita itu meneleponnya.
"Aku hanya rindu pacarku." ujar Jee Na manja.
"Hanya itu? Boleh ku tutup teleponnya? Aku sedang belajar bersama yang lain." jelas Mickey enggan mengobrol dengan Jee Na.
"Baiklah sayang, kau bisa kembali belajar aku tidak akan marah." Jawab Jee Na menyembunyikan kekesalannya.
"Ok. Terimakasih. Sampai jumpa." Mickey segera memutuskan sambungan teleponnya.
"Aku bingung, kenapa rasanya aku sangat enggan berurusan denganya? lalu bagaimana aku bisa berakhir menjadi pacar Jee Na?" batin Mickey sambil kembali bergabung dengan teman-temannya.
Sementara itu, seorang gadis dengan kecantikan khas korea kini sedang melampiaskan kekesalannya dalam sebuah ruangan mewah. Ruangan itu tentu saja kamar pribadinya. Ruangan yang didominasi dengan warna silver dengan design interior yang elegan. Jee Na mencampakkan ponselnya dengan sembarangan diatas ranjang mewahnya. Dengan kedua lengannya Jee Na menyapu semua kosmetik yang tertata di meja rias dekat kamarnya. Prang, dalam satu hentakan cermin rias antik yang terpajang di ruangan itu kini pecah berkeping-keping karena hantaman botol skincare yang sengaja dilempar oleh Jee Na.
"Eum Son, kamu pikir kamu siapa?" maki Jee Na.
"Brengsek, apa hak mu mengabaikan ku? Apa karena gadis kampung itu, ha? Eum Son, kauenantangku? Kau kira kau akan menang melawanku?" gadis itu kini berteriak teriak tanpa henti, bulir bening menetes mebasahi pipinya. Air mata itu kini lolos begitu saja. Namun ada yang aneh dengan Jee Na. Aneh karena dia seolah tidak merasakan tetesan itu.
Jee Na yang sedang emosi meraih dompet, ponsel dan kunci mobilnya. Dengan amarah gadis itu pergi meninggalkan kamar yang kini jauh dari keadaan rapi.
"Kenapa lagi kamu? tanya seorang wanita tua yang muncul tiba-tiba, wanita itu adalah nenek Jee Na.
"Bukan urusanmu." jawab Jee Na berlalu meninggalkan wanita itu.
Kini Jee Na sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya. Tiba-tiba sebuah ide cemerlang mengembalikan senyum gadis itu. Akhirnya Jee Na memutuskan singgah di sebuah rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaan keluarganya. Setelah urusannya di rumah sakit itu selesai, Jee Na kini melakukan mobilnya dengan penuh rasa kemenangan menuju rumah Mickey.
\*\*\*
Sudah lima belas menit setelah Jee Na tiba di rumah Mickey. Namun gadis itu masih menunggu diluar.
"Bukankah ini sudah malam? mengapa dia belum pulang?" tanya Jee Na pada dirinya sendiri.
Gadis itu kini mulai bosan, namun cahaya dari lampu sepeda motor di depan sana membuatnya tersenyum.
"Kau datang juga." gumam Jee Na tersenyum.
Gadis itu segera turun dari mobilnya, sambil menenteng tas berisi kudapan dan wine yang tadi sempat dia beli dari supermarket. Jee Na memilih berdiri tepat di gerbang rumah Mickey.
__ADS_1
"Jee Na?" Mickey yang baru saja tiba di rumah terkejut dengan apa yang ada di hadapannya kini.
"Eum Son-aaa" jawab Jee Na manja langsung memeluk Mickey.
"Ada apa malam-malam begini?" tanya Mickey.
"Ingin dinner bersamamu." jawab Jee Na sambil menunjukkan barang bawaannya.
"Aku sudah makan dengan Si An dan yang lain sebelum pulang tadi." ujar Mickey dingin.
"Setidaknya temani aku. Pleaseeee." rengek Jee Na manja.
Tiba-tiba Mickey merasa kasihan, menyadari bahwa mungkin gadis ini belum makan malam.
"Baiklah. Mari masuk." ajak Mickey mempersilahkan tamunya itu untuk masuk kedalam rumah.
Jee Na mengikuti Mickey masuk kedalam rumah. Kemudian gadis itu segera menuju ke dapur menyiapkan masakannya.
"Apa kamu bisa memasak?" tanya Mickey tiba-tiba.
"hmmm... sebenarnya tidak. Makanya aku hanya membeli ramen." jawab Jee Na santai.
"Tuan puteri mana yang perlu sibuk-sibuk memasak?" batin Jee Na.
"Aku akan memasak ramennya untukmu." ujar Mickey kemudian.
"Terimakasih Eum Son." jawab Jee Na bahagia.
Lalu Mickey bergegas ke meja memasak. Memilah bebearapa bumbu dan mengeluarkan ramen dari barang belanjaan Jee Na. Sementara Jee Na duduk di sebuah kursi, mengamati Mickey dengan tatapan terpesona.
"Kau berencana mabuk malam ini?" tanya Mickey mengeluarkan botol wine dari barang belanjaan Jee Na.
"Kau harus menemaniku." jawab Jee Na tersenyum.
"Aku tidak bisa minum alkohol. Tubuhku sangat sensitif dengan alkohol." Ujar Mickey jujur.
"aku baru tahu hal itu. Eum Son, kenapa kau menyimpan banyak rahasia dariku?" protes Jee Na.
"Aku tidak merahasiakannya." Jawab Mickey santai.
Jee Na terdiam mendengar jawaban Mickey. Gadis itu memilih bungkam sambil menyusun rencananya untuk malam ini.
__ADS_1
"Bohong. Dasar pembohong. Tunggu saja sebentar lagi, kau akan bertekuk lutut padaku." batin Jee Na. Kini gadis itu memandangi Mickey dengan senyum kemenangan.