
Dengan acuh, Joelin menyimpan ponselnya dan kembali menyantap makanan dihadapannya. Sementara Mickey masih terus mengawasi setiap gerak gerik Joelin.
\*\*\*
Goedan melangkah santai sambil mendorong kopernya. Baru saja dia tiba di salah satu bandara internasional Korea. Hatinya berdegup kencang dan terasa penuh, perasaan yang sama setiap kali Goedan melangkahkan kaki mendekat titik berdiam Joelin. Gadis itu sungguh berhasil menguasai seluruh hatinya. Bahkan long weekend karena libur nasional di China pun kini dia manfaatkan untuk berkunjung ke Korea. Tentu saja dia masih menjadikan pertemuan bisnis dengan sahabatnya, Vino sebagai alasan untuk bertandang ke negara ini.
"Dia memang selalu jual mahal setiap aku ke korea. Tapi, dia yang mahal begitu membuatku berdebar." gumam Goedan dalam hati.
Pria itu tersenyum lebar, kenangan bersama Joelin di kebun strawberry kembali menyeruak dalam kepalanya. Langkahnya semakin cepat keluar dari bandara. setelah mendapatkan taksi pria itu kini sedang bergerak mendekati area kampus Joelin.
\*\*\*
"Gue lapar.. gue lapar... ayok buruan." rengek gadis cantik yang kini berjalan malas di sisi Vino.
Dres merah maroon yang membalut kulit putihnya membuat gadis itu terlihat bercahaya. Hells senada dengan tinggi 15 menambah sempurna pempilan gadis itu. Rambutnya yang panjang dan hitam kini terikat dengan kuncir ekor kuda. Sementara salah satu tangannya sibuk memegang payung berwarna putih, untuk melindungi kulitnya dari panas terik mentari awal autumn.
"Aluna, kenapa harus pakai payung?" tanya Vino.
"PANAS kakak."
"Ini udah autumn, nggak mungkin panas yang ada dingin kali. lihat itu pakaian kamu juga kurang bahan begitu."
"Setidaknya pakai payung buat melindungi kulit Aluna dari sinar UV kak."
"Pantes aja Goedan nggak mau sama loe. centil dan ribet banget."
"Kalau kakak sendiri nggak support, gimana Aluna bisa menang kak?"
"Menang? emangnya kamu lagi bertarung?"
"Iya tuh sama cewe kampungan bernama Joelin."
__ADS_1
"Tenang aja Na... urusan ini biar kakak yang selesaikan."
Keduanya lalu melangkah menyusuri trotoar dalam kebisuan. Mereka memilih untuk sibuk dengan pikiran masing-masing. Aluna sedang kesal pada Joelin yang tidak mau mengakui pernikahannya pada Goedan, padahal sebulan lalu saat gadis itu menghubunginya melalui DM IG, terlihat seolah Joelin akan membantunya mendekati Goedan.
"Dasar perempuan serakah, gue pikir lo itu orang baik. Ternyata gue salah." batin Aluna.
Kembali terputar di memori Aluna saat Joelin dan dirinya melakukan video call by IG, di sana Joelin berusaha mengenalkan suaminya pada Aluna dan meyakinkan Aluna bahwa gadis itu harus mengejar cintanya.
"Jangan melamun Na, ntar kesandung tahu rasa kamu." suara Vino menarik Aluna kembali dari kenangannya.
"eh..." gumam Aluna.
"Dek, kalau kakak jahat, kamu masih mau nggak jadi adik ku?"
"Ya ampun kak, itu pertanyaan apa sih?"
"Gue serius nih."
"Mau kakak pembunuh sekali pun, kakak tetap kakaknya Aluna. bahkan kalaupun kakak kena AIDS, itu nggak akan mengubah apa-apa kak."
"Btw, jangan aneh-aneh deh. Inget, kakak lagi di negara orang loh." ujar Aluna, sebuah kenangan masa lalu membuatnya bergidik ngeri.
"Kalau kakak kayak dulu lagi?"
"Jangan sampai kak. tapi kalau itu jadi keharusan, Aluna tetap sayang kakak. Cuman Aluna bakalan sedih karena nggak punya kekuatan apa-apa buat melindungi kakak."
"Melindungi itu tugas kakak Na, bukan kamu." ujar Vino lirih.
Kehidupan Aluna dan Vino terlihat begitu sempurna dimata orang lain, namun tidak bagi keduanya. Terlahir sebagai saudara kandung, namun terpisah saat mereka diadopsi dari panti asuhan. Syukurnya kerabat dari orang tua angkat Aluna kebetulan mengadopsi Vino, begitulah status kedua kakak beradik itu menjadi saudara sepupu secara hukum.
Bergelimang harta sejak meninggalkan panti asuhan tidak serta merta membuat hidup mereka dilimpahi kebahagiaan. Beruntung Vino diadopsi oleh keluarga yang sehat secara mental. Berbeda dengan Aluna, Ibu angkat gadis itu menderita bipolar, sering sekali Aluna disiksa. Akhirnya Aluna menjadi anak kecil pemurung. Lalu sebagai aksi memberontak atas kondisi Aluna, Vino pun menjadi siswa yang bertingkah nakal dan berkali-kali membuat masalah di sekolahnya. Kedua orang tua asuh Vino sampai dibuat kewalahan. Akhirnya orang tua asuh Vino membuat kesepakatan untuk membawa Aluna dari keluarga angkatnya. Sayangnya, patah hati karena kehilangan Aluna membuat ibu angkatnya semakin sakit, dan akhirnya bunuh diri. Kejadian yang membuat Vino terus menerus dirundung rasa bersalah.
__ADS_1
\*\*\*
Goedan melangkah masuk ke dalam Cafe yang kini sudah familiar baginya. Dia memilih duduk di salah satu sudut Cafe, denga posisi duduk menghadap pintu. Posisi itu membuat Goedan lebih leluasa memandang keluar masuk Cafe. Dia sedang menanti Aluna. Sebenarnya ini janji temu dengan Vino, tapi pria itu beralasan sedang sibuk, mau tidak mau Goedan harus nongkrong dengan Aluna malam ini. Goedan tidak tahu rahasia keluarga sahabatnya itu. Yang dia tahu hanyalah Aluna sepupu Vino yang diasuh oleh orang tua Vino karena ibunya yang sudah meninggal. Mereka berteman sejak awal SMP. Walau mengetahui kenakalan Vino di sekolah, Goedan tetap berteman dengan pria itu dan menjadi satu-satunya teman yang mendukung Vino saat berjuang berubah menjadi pribadi yang lebih baik
Sebuah siluet yang tidak asing masuk ke dalam retina Goedan. Gadis itu sedang melangkah kedalam cafe, gadis yang menjadi pemicu debaran jantungnya. Joelin berjalan tepat bersisian dengan seorang pria yabg terlihat tidak begitu asing. Lalu mereka memilih duduk di salah satu meja dekat pintu setelah berbicara dengan pelayan cafe. Goedab masih mengawasi kedua insan itu, sampai akhirnya seorang pelayan menyerahkan bungkusan pesanan mereka. Lalu, Joelin dan pria itu sama-sama bangkit berdiri sebelum akhirnya melangkah keluar dari cafe.
Deg... jantung Goedan terasa nyeri menyaksikan bagaimana tiba-tiba lengan pria itu melingkar possesif di pinggang Joelin. Sementara Joelin? tanpa penolakan gadis itu malah menyesuaikan langkahnya dengan pria yang kini berjalan bersisian dengannya. Pemandangan itu menjadi hal terburuk yang disaksikan Goedan hari ini.
Hatinya sakit. "Siapa pria itu? berani sekali dia?" umpat Goedan.
"Hai kak, jangan ngelantur." sebuah suara menyadarkan nya.
"Eh, Aluna. udah lama?"
"Baru sampai kak. Lagian kakaknya sibuk melamun."
"Eh... sorry. Duduk yok." ujar Goedan sambil menggaruk kepalanya yang tidak jatuh.
Tidak ada senyum yang bisa dia bagikan sekarang. Jantungnya nyeri. Hatinya patah. Siapapun pria itu, dia tidak senang melihat perlakuannya pada Joelin.
"Tadi Aluna ketemu teman kak di depan." ujar Aluna memecah keheningan.
"Teman? kamu punya teman di Korea?"
"Cuman kebetulan bertemu beberapa kali, dab kebetulan juga dia asli indo kak. tapi suaminya orang korea kok."
"oh.." ujar Goedan tidak tertarik.
"Kak Vino juga kenal dengan perempuan itu." pancing Aluna kini.
"Iyakah?"
__ADS_1
"Iya kan mahasiswa satu kampus kak Vino. Kalau nggak salah namanya... Joelin.." ujar Aluna sengaja.
Deg... sekali lagi Goedan terkejut. Joelin? nama itu, apakah dia sedang salah dengar? apakah Joelin dengan pria tadi? Bagaimana mungkin? ini pasti Joelin yang berbeda. Tiba-tiba Goedan ingin pulang, dia tidak ingin mendengar kabar apapun malam ini. Terlebih lagi jika itu tentang Joelin. Namun pria itu berjuang menahan diri untuk duduk di sana dan menikmati minumannya bersama Aluna.