
"Tentu saja. Kau cerdas sekali." seru Joelin.
Mickey menggeleng gemas dengan tingkah istrinya itu. Sementara Si An kini duduk kikuk sambil mengawasi tingkah lucu Joelin dengan jantungnya yang sibuk lomba lari.
Keempat sahabat itu lalu bergegas menuju kantin untuk menuntaskan perut mereka yang tengah sibuk konser rock.
\*\*\*
Joelin dan Mickey kembali sibuk dengan ritual kebersihan rumah, hal yang selalu mereka kerjakan setiap hari minggu. Liburan semester telah tiba dan akan dimulai besok, yang berarti telah satu semester mereka menjalani pernikahan keduanya. Pernikahan yang masih dirahasiakan dari teman-teman mereka.
Joelin sedang sibuk membersihkan kulkas, sebelum nanti diisi kembali dengan bahan makanan yang baru. Sementara Mickey sedang membersihkan kaca jendela.
"Mike...!!" seru Joelin memanggil pria itu kala mendengar ponsel Mickey yang tinggal di dapur berbunyi.
Merasa Mickey tak kunjung datang, Joelin memutuskan untuk memeriksa telepon genggam milik suaminya itu.
"Mama?" gumam Joelin membaca nama yang tertera di layar ponsel.
"Mike... Ada telepon..!" seru Joelin sambil melangkah mendekati suaminya di ruang tamu.
"Jawab saja." sahut Mickey santai.
"No..." Joelin terus melangkah semakin dekat.
"Why?" protes Mickey dengan wajah kesal yang dibuat-buat.
"Lihat sendiri." jawab Joelin sambil menyerahkan ponsel pria itu.
Retina Mickey membulat membaca nama kontak yang kini tertera di layar ponselnya.
"Ada apa? Bukankah semalam mama juga menelponku." gumam Mickey dalam hati.
"Hallo ma. Iya,... Belum tahu.. iya ma." ucap Mickey sebelum panggilan terputus.
"Ada apa?" tanya Joelin yang masih berdiri di samping pria itu dengan ekspresi penasaran.
Mickey tersenyum gemas melihat wajah lucu istrinya kini.
"Mike, jangan senyum-senyum.. jawab dong pertanyaan aku." rajuk Joelin.
"Mama hanya bertanya apakah aku akan pulang kerumah selama liburan."
"Kamu akan pulang?"
"Sepertinya... tidak." jawab Mickey ragu.
"Kamu harus pulang Mickey."
"Kamu mengusirku?"
"Bukan begitu. Tapi nggak ada salahnya kamu pulang. Atau, bagaimana jika aku ikut denganmu?"
Mickey terbelalak kaget mendengar pernyataan Joelin. Membawa Joelin pulang? apakah dia bisa melakukannya sekarang? Akankah keluarganya menerima kehadiran Joelin? Akankah dia dihukum karena berani menikah tanpa sepengetahuan mereka? Apa mungkin dia mengenalkan Joelin sebagai kekasihnya? Akankah itu menyakiti perasaan Joelin?
"Mike, jangan bengong." gumam Joelin menyadarkan Mickey dari pikirannya.
"maaf." jawab Mickey berusaha menyembunyikan rasa gugup dan gelisah di hatinya.
"Jadi gimana?"
"Nggak usah pulang Joe."
"Kenapa Mike?"
__ADS_1
"Kita kan masih harus ke lab walaupun libur. kamu lupa kalau semester depan kita harus tamat? kita harus segera daftar ujian seminar proposal, banyak yang harus dikerjakan di sini." dalih Mickey.
"Tapi Mickey, masih ada sabtu dan minggu. Setidaknya pulanglah saat weekend." bujuk Joelin.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Mickey.
"Maksudnya? kau khawatir jika aku ikut akan mempengaruhi penyelesaian proposal ku?" tanya Joelin.
"hmmmm..." gumam Mickey bingung.
"Apa lebih baik aku tinggal di asrama selama kamu nggak di sini? aku juga belum berani bertemu dengan keluargamu." jawab Joelin yang tiba-tiba merasa gugup membayangkan bagaimana akan berhadapan dengan keluarga Mickey.
"Baiklah... tapi aku hanya pulang sekali selama liburan ini. okay?" ujar Mickey santai.
"Kok sekali? weekend nya kan berkali-kali?"
"Mana betah aku jauh-jauh dari istriku ini?" goda Mickey sambil menarik Joelin dalam pelukannya. Diam-diam Mickey merasa lega atas keputusan Joelin yang belum siap bertemu keluarganya. Tunggu dulu, akankah dia jahat karena bersikap begini pada istrinya?
"Aku akan memikirkan cara untuk membuat mereka menerima kamu." batin Mickey sambil mengecup puncak kepala Joelin, diam-diam ada rasa bersalah yang menyelinap masuk kedalam hatinya.
"Hei... jangan peluk-peluk. Kita belum selesai berdiskusi."
"Kita bisa berdiskusi dengan posisi ini." jawab Mickey sambil mengeratkan pelukannya.
"Kamu sadar nggak sih, kita sedang kebersihan dan ini jorok Mike, kita belum mandi." protes Joelin.
"Apa kamu sedang menggodaku?" tanya Mickey sambil tersenyum kepada Joelin yang sedang mendongakkan kepalanya.
"Kita sedang dis-ku-si kalau kamu lupa." jawab Joelin dengan wajah yang diatur jadi segalak mungkin.
"okey. lanjutkan diskusinya."
"Lepasin Mike."
mata Joelin mendelik mendengar kata-kata Mickey, tiba-tiba dadanya bergemuruh. membayangkan Mickey memeluk perempuan lain, membuat amarahnya naik hingga ke ubun-ubun. Dengan kesal Joelin mencubit pinggang pria itu.
"Aw... Joelin, sakit tau." protes Mickey.
"awas aja kamu kalau berani-beraninya memeluk perempuan lain. awas aja kamu kalau berani memikirkan hal begitu lagi." omel Joelin masih terus mencubit pinggang Mickey disana-sini.
"aww..." Mickey meringis kesakitan, "Kamu kalau cemburu kok jadi kasar begini?" ringis Mickey.
"Aku nggak cemburu. Siapa bilang aku cemburu?" protes Joelin berbohong.
"Nggak usah bohong kali Joe." goda Mickey yang merasa lega karena cubitan bertubi-tubi itu akhirnya berhenti.
"Aku nggak cemburu, cuman jijik aja membayangkan suamiku mikirin perempuan lain." protes Joelin lagi.
"Itu namanya cemburu sayang." ujar Mickey tersenyum senang.
"Jadi sampai dimana tadi diskusi kita?" tanya Mickey kembali menarik tubuh Joelin dalam pelukannya. Tadi dia terpaksa melepaskan gadis itu sejenak demi lolos dari cubitan panas Joelin.
"kamu pikirin aja sendiri." jawab Joelin yang masih merajuk.
"Istriku jangan galak dong." rayu Mickey.
Joelin memilih diam dalam pelukan pria itu. Memikirkannya saja membuat dadanya sesak, memikirkan jika Mickey direbut perempuan lain.
"Hei... kamu kok diam? tadi diskusi kita sampai dimana?" tanya Mickey lagi.
"Kamu nggak usah pulang ya Mickey." ujar Joelin lirih dan pelan.
"Kenapa sayang? kamu berubah pikiran? ada apa?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu malah direbut wanita lain saat kamu di sana?" jawab Joelin menyampaikan rasa khawatirnya.
"Apakah aku terlihat seperti pria yang tidak setia?" gumam Mickey bingung.
"Bukan begitu. Aku... aku hanya takut. Maaf." ujar Joelin.
"Aku hanya akan pulang 2 x selama liburan, dan hanya weekend yg berarti berangkart jumat sore dan tiba disini minggu malam." ujar Mickey lembut. Dalam pikiran Mickey dia sadar bagaimana pun dia harus pulang, setidaknya untuk meminta maaf pada keluarganya dan membujuk mereka untuk menerima Joelin.
"Bagaimana kalau nanti kamu diambil wanita lain?" rajuk Joelin.
"Aku ini suami siapa sih?" tanya Mickey gemas dengan sikap khawatir istrinya itu.
"Suamiku." jawab Joelin singkat.
"Aku yang ngejar-ngejar kamu sampai ke negaramu walau aku belum pernah kesana, hanya untuk dapetin kamu. Apa kamu nggak percaya padaku?" tanya Mickey sungguh-sungguh sambil mempererat pelukannya dan mengecup puncak kepala Joelin.
"Maaf." ujar Joelin lemah.
"Nggak apa-apa sayang. Maaf membuatmu khawatir, maaf aku bercanda berlebihan hingga membuatmu takut." ujar Mickey berusaha menenangkan Joelin.
"Jadi kapan kamu pulang?" tanya Joelin berusaha meredam egonya.
"Bagaimana dengan minggu depan?"
"Baiklah. Aku akan mengabari Amel, dia pasti senang. kami bisa tidur bersama lagi di asrama."
"Pastikan Amel selalu di dekatmu selama aku pulang. Okey?"
"Kenapa? kamu nggak percaya aku bisa jaga diri sendiri?"
"Bukan begitu Joelin. Aku hanya tidak Ingan kamu kesepian."
"Aku bisa ke lah di hari sabtu.. mungkin Si-An dan Mark juga ke lab kan?"
"Tidak boleh." perintah Mickey.
"Kenapa?" tanya Joelin bingung.
"Kamu nggak boleh dekat-dekat Si An kalau nggak ada aku sayang." jawab Mickey manja.
"Ha??? Kenapa?" Tanya Joelin.
"Dia berbahaya. Udah jangan banyak tanya. Percaya sama kata-kata suamimu ini."
"Aneh." ujar Joelin.
"Aneh-aneh gini, aku cinta mati loh sama kamu."
"pinter banget gombal nya, belajar dimana sih? Udah ah peluk-peluknya. Kita harus lanjut bersih-bersih." ujar Joelin sambil melepaskan diri dari pelukan suaminya itu.
"Apalagi aku mendeteksi signal kelaparan di sini. Kita harus bergegas cepat, perutmu minta di isi." ujar Joelin sambil berlalu dan kembali ke dapur.
"I love you" seru Mickey setengah berteriak pada Joelin yang bergerak menjauh darinya.
Joelin terus berjalan ke arah dapur, tanpa membalik tubuh dia mengangkat tangan kanannya ke udara dan membiarkan jarinya membentuk mode peace.
Mickey tersenyum membaca isyarat itu. Sign yang diartikan peace bagi banyak orang, namun bagi Mickey dan Joelin mereka menerjemahkan simbol itu sebagai "i love you too, i do love you more ✌🏻."
**Pengumuman
Hi guys, maaf lama nggak up.
Terimakasih untuk menunggu.
__ADS_1
~best**~