Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
S2. Sebuah Kesalahan


__ADS_3

Amel menatap Joelin lekat-lekat, bibirnya kini tergerak. Perlahan kisah itu mulai dituturkan. Dan Joelin duduk tenang, memasang telinga sambil menggenggam tangan sahabatnya, berusaha memberi kekuatan.


🌹🌹🌹 Flashback on 🌹🌹🌹


Gadis itu memutar tubuhnya di depan cermin, tersenyum mengagumi mahakarya designer terkenal yang kini membalut tubuhnya yang indah. Polesan riasan yang sangat tipis dan natural membingkai wajah, membuat penampilannya terlihat sempurna.


"Anak mama cantik banget.." ujar seorang wanita paruh baya yang baru memasuki kamar gadis itu.


"Siapa dulu dong mamanya?" tersenyum memandang ke arah sang Ibu.


"Jadi kamu mau berangkat sendiri atau satu mobil sama papa dan mama?" Bertanya sambil merapikan tataan rambut putrinya.


"Sendiri aja ya ma. Pleaseee..."


"Kamu yakin nyetir sendiri?"


"Iya ma.."


"Ok, tapi pulangnya jangan telat ya." pesan sang Ibu.


"Siap ibu ratu." menjawab sambil membungkuk sopan.


"hehehe.... Anak gadis mama bisa aja." terkekeh pelan sambil menyusun langkah keluar dari kamar putri semata wayangnya.


Baru saja wanita itu sampai di pintu kamar, namun seolah teringat akan sesuatu dia berhenti dan kembali menatap sang putri yang asik memandangi penampilannya di cermin.


"Amel.." panggil wanita itu lirih.


"Iya ma?"


"Udah cantik kok, pasti Vino bakal jatuh cinta dengan penampilan kamu." ujarnya santai.


"Maaa... apaan sih ma?" Gadis itu langsung memasang wajah cemberut, bersikap tidak terima dengan penuturan sang ibu.


"Kamu ini anak mama. Mama tahu dong isi hati kamu." ujar wanita itu sembari tersenyum.


Dia tertegun lagi, memandang sang anak yang sedang memasang ekspresi berubah-ubah karena sedang shy-shy cat alias malu-malu kucing.


"Kenapa perasaanku begitu tidak nyaman?" wanita itu bergumam dalam hati sambil mengawasi wajah putri cantiknya.


"Ma... are you okay?" pertanyaan Amel, mengusik sang ibu.


"i'm okay. Sampai ketemu di sana ya sayang. Kamu hati-hati di jalan." sang ibu berpesan sambil mencoba meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja.


"ok.." jawab Amel singkat sebelum ibunya berlalu.

__ADS_1


\*\*\*


Amel memasuki ballroom hotel yang kini sudah cukup ramai. Suasana pesta yang mewah, gemerlap penampilan sosialita memenuhi ruangan itu.


Amel melangkah santai, sudah hal yang biasa baginya menghadiri pesta mewah seperti ini karena terlahir sebagai puteri tunggal pengusaha di kota Jakarta.


Hari ini, Amel dan keluarganya menghadiri undangan pesta pernikahan putri dari rekan kerja sang ayah.


Amel sangat bersemangat untuk menghadiri acara kali ini, karena dia tahu bahwa mempelai wanitanya adalah kerabat Vino, cints monyetnya, cinta pertamanya.


Amel melangkah se anggun mungkin, sambil mengedarkan pandangan mencari sosok Vino si tetangga yang dikaguminya sejak lama.


Di ruang bride, Aluna sedang beristirahat sejenak, setelah kelelahan menyapa para tamu undangan. Gadis itu duduk di sofa.


"Kamu kenapa lagi kak?" tanya Aluna pads pria yang sejak tadi sudah duduk di sana dengan wajah masam.


....


"Tolonglah kak, apa aku harus melihat wajah kusutmu dihari pernikahanku?" protes Aluna kemudian.


....


"Terserah kau saja." Karena terus diabaikan, Aluna memilih berlalu dari sana, "Dokter, mungkin dia butuh sesi konsultasi lagi." Aluna berbicara pada seorang gadis yang sejak tadi diam di ruangan itu menemani Vino.


"Kau berhasil mendapatkan cintamu, tapi tidak denganku." Vino berkata lirih dan pelan saat Aluna pergi dari ruangan itu.


"Saya baik-baik saja dok, saya butuh waktu sendiri. Silahkan anda nikmati acaranya." ujar Vino kemudian.


Dokter cantik itu menatap Vino dengan raut khawatir dan ragu. Dia merasa tidak yakin untuk meninggalkan pria itu sendiri, pun dia merasa tidak nyaman jika terus diam disana.


\*\*\*


Wajah Amel berubah suram, pesta hampir usai namun yang dirindukan tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.


"Sejak kejadian dengan Joelin, kamu benar-benar menghilang dari hidup aku juga kak." gumam Amel pelan, sambil melempar pandangan ke seluruh ruangan.


Sedih dan putus asa, Amel memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu.


"Mungkin dia tidak di sini, lebih baik aku pulang. Semoga suatu saat kita bertemu lagi." Amel berbisik dalam hati, sambil melangkah meninggalkan acara pesta.


\*\*\*


Gadis itu menunggu lift dengan kepala di tekuk. Tiba-tiba ketenanganya terusil oleh suara langkah terseret yang kian mendekat. Amel memusatkan indranya mencari sumber suara walau kini jantungnya berdegup kencang, takut jika orang jahat tengah mengincarnya.


"Kak Vino????" Kaget dengan sosok yang kini berdiri sekian centi dari dirinya, Amel memandang pria itu dalam.

__ADS_1


"Hi...." jawab Vino tersenyum walau tidak sepenuhnya sadar.


"Kakak mabuk?" tanya Amel kemudian.


"Tidak.." jawab pria itu, namun aroma alkohol yang keluar dari tubuhnya begitu tajam.


Sadar bahwa pria itu tengah mabuk, Noni segera memapahnya. Setelah memesan sebuah kamar, Noni membawa Vino yang sudah setengah sadar kesana.


"Hueeeeeeeeek..." Baru saja sampai di kamar hotel, pria itu memuntahkan seluruh isi perutnya, mengotori pakaian Noni.


Dengan sabar gadis itu memapah Vino, dan meminta seorang pelayan pria untuk membawa baju ganti serta membantu mengganti pakaian Vino.


Setelah Vino tertidur tenang, Amel memilih membersihkan diri. Karena khawatir pada lelaki itu, Noni memilih untuk istirahat sejenak di sana.


"Kalau aku tidur di tempat tidur juga tidak apa-apa kan? Toh kak Vino juga sudah lelap begini." Amel berkata dalam hati sambil masuk ke dalam selimut di sebelah Vino.


\*\*\*


Vino yang masih mabuk terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa sakit. Menyadari ada sosok yang terlelap di sampingnya, pria itu langsung menatap wajah gadis itu.


"Kamu di sini? Aku tidak sedang bermimpi? Bagaiamana kamu bisa tidur di sampingku? Apakah suamimu menyakitimu?" pria itu berbisik pelan sambil membelai wajah yang tengah terlelap.


"Aku juga ingin memilikimu, aku juga ingin bersamamu." Vino terisak pedih.


Seperti kehilangan akal, pria itu memilih mengambil kesempatan untuk mendapat keuntungan dari gadis yang tengah terlelap itu.


Tidur lelap Amel terusik seketika, perasaan tidak nyaman di seluruh tubuhnya. Gadis itu membuka mata perlahan, dan terkejut melihat tubuhnya yang hampir polos dan tengan dijamah oleh pria yang baru saja ditolongnya.


"Kak Vino, jangan kak." pinta Amel sambil mendorong tubuh pria yang kini berada di atasnya.


Seperti orang yang lepas kendali, Vino yang mabuk sama sekalu tidak mendengarkan Amel. Tanpa sepatah kata pria itu melanjutkan aksinya. Amel masih ingin protes, namun sentuhan Vino membuat tubuhnya terlena.


"Sudahlah, kita bicarakan nanti saja." ujar Amel lirih dan memilih menyerah.


Sakit dan pedih, rasa yang membekas dalam ingatan Amel saat mahkotanya direnggut oleh pria yang sudah menjadi tetangganya sejak lama. Gadis itu terjebak dalam cinta monyet yang buta, hingga dia membuat sebuah kesalahan fatal.


Sementara Vino, semakin bersemangat karena merasa berhasil membalaskan dendamnya. Seolah perjuangannya telah meraih kemenangan, tanpa sadar bahwa gadis yang sedang dia sentuh bukan perempuan yang telah membuatnya patah hati.


🌺🌺🌺to be continued🌺🌺🌺


Siapakah dia, perempuan yang dicintai oleh Vino???


 


\*

__ADS_1


 


__ADS_2