Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille

Cerita Manis Di Musim Semi, Trouvaille
Mengajakmu Keluar untuk Pertama Kalinya


__ADS_3

"Kamu terlalu manis."


Seketika pipi Joelin terasa hangat. Tanpa berbicara gadis itu memutuskan berlari masuk kedalam gedung asrama, menyisakan Mickey yang tersenyum bahagia.


\*\*\*


Setelah membersihkan diri, Joelin naik ketempat tidurnya. Namun setelah berbaring sekian lama, gadis itu masih belum bisa memejamkan matanya. Dia sibuk berputar-putar diatas tempat tidur.


"Aduh, kenapa dia nyium aku sih?" gumam Joelin sambil menampar pelan kedua pipinya.


"Apa ini artinya sekarang kami pacaran?" batin Joelin lagi.


Kejadian sepanjang jalan tadi kembali terputar di memory gadis itu. Kenangan yang sukses membuat jantungnya berdebar kencang. untung saja tiba-tiba ponselnya bergetar, menyadarkan Joelin dari kegilaannya.


Apakah kamu sudah tidur?


Joelin membaca sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Dia cukup terkejut saat mengetahui pengirim pesan itu.


"Kok bukan dia sih?" gumam Joelin kesal. Sepertinya gadis itu berharap menerima pesan dari pria lain.


"Kamu sudah sampai?"


Ketik Joelin di layar ponselnya. Tentu saja dia berniat menanyakan keadaan Mickey, bukan membalas pesan Vino barusan. Joelin hampir mengirim pesan nya, namun tiba-tiba gadis itu berubah pikiran.


"Dia bahkan tidak menembak ku, tapi berani menciumku. Aku tidak boleh jadi murahan. Aku tidak akan menghubungi dia terlebih dahulu. Dia harus tahu siapa aku." batin Joelin sambil tersenyum bahagia.


Gadis itu meletakkan kembali ponselnya pada meja yang terletak di sisi tempat tidurnya.


"Joelin, ada titipan nih dari Vino."


Amel yang tiba-tiba masuk ke kamar Joelin memberikan sebungkus cokelat pada gadis itu.


"For what?"


"I don't know."


"You'll better to ask him. Jangan tanya gua."


"Oh."


"Hei, sejak kapan loe barani ber "oh" ria ke gua?"


"Sorry. Sorry Mel."


"Si Vino kayaknya naksir loe."


"ah, ngaco aja deh loe. Jangan sembarangan nuduh orang Melo."


"Gue nggak nuduh sembarangan kali Joe. Ini ke tiga kalinya tuh cowo nitipin sesuatu buat loe. Asal loe ingat aja."


"Ah. Iya juga ya." gumam Joelin setuju.


"Gua mandi dulu. Gerah nih."


Amel berlalu kekamar mandi meninggalkan Joelin.


\*\*\*


Sudah 2 bulan sejak ciuman antara Joelin dan Mickey terjadi. Namun hubungan mereka masih saja seperti dulu. Mereka selalu bersama. Mickey yang tidak menembak Joelin hingga sekarang dan gadis itu yang tidak juga mempertanyakan status mereka.


"Kamu akan pulang liburan ini?" tanya Mickey saat mereka makan siang di kantin, bersama teman-teman yang lain.


"Rencananya begitu. Aku rindu keluargaku."


"Sudah pesan tiket?"


"Belum."


"Kenapa belum?"

__ADS_1


Si An yang dari tadi sibuk dengan makannya kini angkat bicara.


"Menunggu kiriman dari orangtuaku. untuk membeli tiket."


"Kemana semua uangmu? bukankah kita dibayar untuk setiap projek?"


"Si An, aku sudahenghabiskanya untuk biaya hidupku selama ini."


"Jadi? Bukan orang tuamu yang membiaya hidupmu selama ini?" tanya Si An penasaran.


"Bukan."


Si An, Mickey, Mark dan Bill terdiam mendengar jawaban Joelin. Mereka bingung bagaimana gadis itu mampu hidup dengan nominal uang yang menurut mereka cukup kecil.


"Bill, kapan hari terakhirmu kekampus?" tanya Joelin memecah keheningan.


"Dua minggu lagi."


"Kami akan sangat merindukanmu. Eh, mungkin hanya aku, Mike dan Mark tanpa Si An."


"Kenapa Si An tidak termasuk Joe?"


"Dia terlihat tidak memiliki rasa rindu Bill."


"Jaga mulutmu Joelin. Dasar perempuan."


Si An yang tidak terima dengan ledekan Joelin akhirnya protes. Sementara Mickey dan Mark hanya bisa senyum-senyum menyaksikan kedua orang itu saling mengganggu.


Setelah menyelesaikan acara makan siang, kelima sahabat itu kembali ke laboratorium untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Tentu saja, Mickey dan Joelin kembali menempel seperti amplop dan perangko. Mereka mengerjakan penelitiannya berdua, seperti biasa. Kini mereka sedang berada di ruang kultur jaringan. Memeriksa pertumbuhan beberapa tumbuhan obat yang mereka budidayakan.


"Joelin, aku ingin membayar tiketmu."


"Jangan."


"Tolonglah. Jangan menolak."


"Kenapa? apa kau membenciku?"


"Bukan Mike, hanya saja itu uang orang tuamu. Dan mereka bekerja keras untuk mendapatkan uang itu."


"Jangan khawatir. Aku tidak ingin memberikan uang orangtuaku padamu "


"Maksudmu?"


"Itu uangku. Hasil jerih lelahku sendiri. Aku sudah mengirim sejumlah uang ke nomor rekening mu. Jangan ditolak."


"Bagaimana kau tahu nomor rekening mu?"


"Aku memeriksanya dari data-data kita di laboratorium. Sudahlah jangan banyak bertanya. Anggap saja itu kado ulang tahunmu."


"Terimakasih Mike."


Mickey tersenyum tulus membalas ucapan Joelin. Baginya melindungi, menjaga dan membantu gadis ini adalah hal terbaik yang bisa dia lakukan sekarang. Sedangkan Joelin selalu bahagia berada disekitar Mickey.


"Kamu memang belum mengungkapkan perasaanmu sampai saat ini. Bahkan setelah ciuman itu. Tapi aku bahagia memilikimu sebagai tempatku berlari setiap waktu. Cinta tidak selamanya harus selalu tentang status kan?" batin Joelin.


\*\*\*


Joelin sedang menikmati liburan akhir pekan dikamarnya, bermalas-malasan seperti biasa. Hari juga masih cukup pagi. Namun musim panas mengakibatkan gadis itu memilih menutup semua jendela kamar dan menyalakan AC. Joelin asik memainkan ponselnya, tiba-tiba saja sebuah panggilan video masuk dari nomor yang sangat akrab baginya.


"Ada apa pagi-pagi mengganggu ku?"


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apakah kamu sibuk?"


"Tidak juga. Mau kemana Mike?"


"Berjanjilah padaku terlebih dahulu."


"Janji apa?"

__ADS_1


"Berjanjilah bahwa kau tidak akan menolak tawaranku."


"Okay. Okay. I promise, everything for you."


"Berikan kelingkingmu."


Mickey mengangkat kelingkingnya ke kamera, dibalas oleh Joelin yang juga melakukan hal yang serupa.


"Kamu sudah berjanji. Sana cepat mandi." ujar Mickey.


"Aku akan menjemputmu satu jam lagi."


"Kenapa harus satu jam?"


"Aku tahu kau perempuan. Berdandannya lama."


"Hei, jangan meledekku."


"Aku tidak meledekmu. Ini kenyataan."


"Terserah kau saja. Matikan teleponnya, aku mau mandi."


"Oke. See you."


Akhirnya Joelin dan Mickey mengakhiri sambungan telepon itu. Amel yang baru masuk kedalam kamar langsung menyerang Joelin dengan banyak pertanyaan.


"Siapa Joe?"


"Teman sekelas gua."


"Yang sering nelpon loe itu?"


"Yap."


"Loe hari ini sibuk nggak?"


"Mau jalan sama anak lab. Loe dari mana Mel?"


"Sarapan. Eh, jangan bilang Loe jalan sama cowo yang nelpon barusan."


"Emang sama dia Mel."


"Gue curiga nih. Kalian pacaran?"


"Ha? belum."


"Maksud loe akan segera?"


"Belum tentu juga."


"Aduh, loe nggak jelas banget deh Joe. Ngapain main sama cowo nggak jelas gitu sih?"


"Apaan sih Mel? Toh dia teman gue juga. Nggak usah mikir yang aneh-aneh."


"Terserah loe deh. Joe, loe jadi pulang?"


"Iya, kenapa?


"Kak Vino juga mau pulang. Loe tanya dia aja deh, pakai maskapai apa. Hitung-hitung loe punya teman diperjalanan nanti."


"Ok. Makasih buat informasinya Mel. Gue mandi dulu ya."


"Sama-sama."


Joelin memilih segera masuk kekamar mandi dan bersiap-siap untuk bertemu Mickey.


\*\*\*


Joelin sudah membeli tiket pesawat kembali ke Indonesia. Dan kali ini, gadis itu memesan tiket bersama Vino. Berdasarkan info yang diberikan oleh Amel bahwa Vino juga akan pulang liburan ini. Karena tidak ingin melakukan perjalanan lintas negara sendirian, akhirnya Joelin memutuskan memesan tiket dari penerbangan yang sama dengan Vino.

__ADS_1


__ADS_2